Tidak Mengkritik Keyakinan Orang Lain – Yesus Kristus Tidak Menilai (Mengomentari) Agama Lain, Dia Fokus Memperbaiki Bangsa-Nya

Tidak Perlu Mengkritik Keyakinan Orang Lain - Yesus Kristus Tidak Menilai (Mengomentari) Agama Lain, Dia Fokus Memperbaiki Bangsa-Nya

Kristen Sejati – Sebagai tokoh utama dalam Kekristenan, Yesus Kristus adalah pedoman yang ideal bagi kehidupan umat manusia di muka bumi. Tokoh lain dalam Alkitab memang masih banyak yang memiliki potensi besar untuk dijadikan contoh, salah satu yang terbaik adalah raja Daud. Yang kami paling sukai dari raja yang satu ini adalah kebiasaannya bernyanyi dan memuji-memuliakan nama Tuhan di segala waktu. Sayang, di tengah kesuksesan kerajaan Israel, dia bisa juga terjerat kasus perzinahan.

Ajakan untuk hidup sederhana dari Kristus Yesus

Tuhan Yesus datang ke dunia dengan gaya yang lebih sederhana. Semenjak kehadiran-Nya, lahir di kandang domba, dibungkus dengan lampin dan diletakkan di atas palungan. Kami harus jujur bahwa banyak masyarakat di desa kami yang perekonomiannya menengah ke bawah tetapi tidak pernah ada anak yang dilahirkan di kandang hewan. Sudah lihat, bagaimana hinanya posisi yang Dia bawa ke dunia ini? Jelaslah bahwa Ia ingin kita belajar sesuatu dari keadaan-Nya semasa di bumi dahulu.

Kesederhanaan yang ditampilkan oleh Tuhan bukanlah suatu kebetulan. Jikalau keadaan yang hina ini dihubungkan dengan salah satu syarat untuk mengikut Yesus maka kita bisa belajar memahami tentang ajakan-Nya tentang menyangkal diri. Kami adalah orang yang sombong, keadaan ini diperparah oleh karena adanya sedikit kelebihan. Tetapi dengan menyangkal diri, menganggap bahwa “diri ini bukan siapa-siapa, sampah dan hina“. Sugesti menghancurkan hati semacam ini ternyata sangat ampuh untuk menekan rasa sombong itu.

Ajakan untuk hidup sederhana memang sangat penting di zaman sekarang. Sebab zaman sekarang manusia lebih suka berfoya-foya, mewah-mewahan dan menghambur-hamburkan uang yang dimiliki. Coba bayangkan bila kebiasaan memboroskan sumber daya semacam ini menjadi budaya hidup semua orang, bukankah bumi ini akan terbakar oleh hawa nafsu manusia itu sendiri? Kita terus bertanya-tanya tentang “mengapa dunia kita makin panas dari hari ke hari?” Sadar atau tidak hawa nafsu manusia menghanguskan dirinya sendiri, orang lain bahkan bumi inipun turut terbakar.

Yesus Kristus, sejak dari awal ajakannya jelas dalam kehidupan manusia yaitu hidup sederhana. Inilah yang sebenarnya dibutuhkan oleh dunia dan seluruh umat manusia di tengah peningkatan jumlah penduduk yang terus terjadi dari tahun ke tahun. Jumlah penduduk yang semakin meningkat ini jikalau tidak disikapi dengan memulai hidup sederhana maka yakin sama kami pemanasan global akan semakin parah saja dari tahun ke tahun. Ada baiknya jikalau kita menirukan teladan Yesus Kristus yang telah lebih dahulu memberikan contoh yang baik seputar hidup sederhana agar bumi ini tetap hijau, sejuk dan panjang umur.

Yesus mengkritik “para petinggi” agama Yahudi

Sekarang, kembali kepada topik kita dari awal tentang ajaran dan khotbah Tuhan Yesus kepada saudara sebangsanya dahulu yang sangat eksklusif. Dia hanya mengkritik sembari mengkoreksi orang-orang dalam agama Yahudi saja. Katakan saja bahwa ia lebih menekankan khotbah-Nya bagi para imam, ahli taurat dan orang farisi. Bukankah mereka-mereka ini berasal dari kalangan terpelajar dan ahli dibidangnya masing-masing? Dia justru tidak pernah mengkritik orang-orang kecil dan rakyat jelata sebab dalam masyarakat mereka hanyalah korban.

Tuhan sangat tahu dengan jelas kala itu bagaimana kondisi masyarakat bawah yang terus tertindas oleh karena praktek-praktek ketidakadilan, konspirasi dan pembodohan manusia yang dilakukan oleh orang-orang intelektual. Naasnya, kejadian yang semacam ini masih terjadi pula di zaman sekarang dimana orang-orang cerdas menjadi penguasa (kapitalisme) yang secara diam-diam melemahkan masyarakat dimana semuanya itu demi uang.

Yesus tidak pernah mengkritik bahkan menilai agama lainpun tidak

Sepanjang yang kami ketahui dari semua ajaran Kristus, tidak pernah Ia sedikitpun menyinggung tentang keyakinan/ agama selain agama orang Yahudi kala itu. Ini jelas merupakan ciri khas Tuhan yang selalu fokus dengan tujuan utamanya di dunia ini. Harus kita pahami bahwa menguasai apa yang kita yakini saja belum sempurna lalu mengapa mengganggu keyakinan orang lain? Perilaku yang suka menyinggung mereka yang tidak percaya kepada Allah jelas membebani pikiran ini sehingga bisa-bisa pikiran pusing yang akan berakibat kepada sikap sehari-hari menjadi tidak karuan (menyimpang).

Ini jelas menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kehidupan orang percaya. Sikap semacam inilah yang harus kita contoh dari Tuhan, yaitu prinsip yang tidak mau menghakimi orang lain sembarangan sebab hanya Allah yang menjadi hakim antara manusia. Seperti ada tertulis:

Matius 7:1 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.

Teladan yang diberikan Yesus tentang hal ini sangatlah jelas dimana Ia sendiripun selagi menjadi manusia biasa di antara kita tidak mau menghakimi orang lain. Seperti ada tertulis:

Lukas 12:14 Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?”

Oleh karena itu, baik bagi kita untuk tidak sibuk menilai orang lain di dalam segala kesempatan yang ada. Sebab sadar atau tidak, penilaian yang kita lakukan ini sama saja dengan menghakimi sesama dengan tujuan untuk mempetak-petakkan manusia. Keadaan inilah yang membuat anda berbeda sikap memperlakukan orang, sama si ini baik dan sama si itu tidak sopan juga sama mereka berlaku buruk. Padahal pesan Allah dalam hidup kita sebagai inti ke dua dari semua kitab Musa dan kitab para nabi adalah “kasihilah sesamamu manusia SEPERTI DIRIMU SENDIRI”.

Tuhan Yesus berbagi kasih kepada orang-orang hina yang dianggap najis

Mari perhatikan sedikit tentang kisah “Percakapan dengan perempuan Samaria” (Yohanes 4:1-42). Bukankah orang-orang Samaria adalah mereka yang dianggap najis oleh orang Yahudi? Tapi lihat apa yang dilakukan Tuhan Yesus, Dia tidak menghakimi atau menyalahkan perempuan itu bahkan sekalipun Tuhan sendiri tahu bahwa wanita tersebut adalah perempuan sundal (memiliki banyak suami). Dalam percakapan tersebut Yesus juga tidak pernah ada niatan untuk mengajak perempuan tersebut percaya kepada agama Yahudi. Juga Tuhan tidak menjauhi dia tetapi ada segmen yang sangat kuat ditawarkan Yesus sehingga perempuan tersebut merasa membutuhkan-Nya, yakni HIKMAT dan KEBENARAN  yang disampaikan-NYA.

Dari kisah percakapan perempuan Samaria kita dapat mengambil suatu pedoman untuk dijadikan suatu cara agar setiap orang percaya bisa bergaul karib dengan mereka yang tidak percaya. Salah satu cara terbaik dan paling ampuh agar kita bisa bergaul karib dengan orang yang tidak percaya kepada kita adalah dengan cara MEMBAGIKAN HIKMAT dan KEBENARAN yang kita miliki kepada mereka. Yakin sama kami bahwa tidak ada satupun manusia di dunia ini (sekalipun dia bukan orang percaya) yang bisa menolak ke dua hal ini. Setelah itu, terserah mereka mau percaya kepada Yesus atau tidak, biarlah Roh Kudus bekerja di dalam kehidupan setiap manusia. Cepat atau lambat, Ia akan memanggil orang-orang yang menjadi pilihan-Nya dan mengabaikan mereka yang tidak layak untuk itu.

Tuhan tidak sedang kekurangan pemuja, Dia bukan kurang kuat membuat manusia percaya – jadilah surat-surat Kristus

Hindari sikap yang terbawa hawa nafsu apalagi memaksakan kehendak sebab Tuhan Yesus tidak pernah mengajarkan yang seperti itu. Jikalau dia mau dan berkehendak maka batu-batupun akan menjadi umat-Nya dan akan memuji dan memuliakan nama-Nya. Seperti ada tertulis.

(Matius 3:9b) Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!

Lagi kata-Nya.

(Lukas 19:40) Jawab-Nya: “Aku berkata kepadamu: Jika mereka ini diam, maka batu ini akan berteriak.”

Hikmat dan kebenaran yang kami maksudkan adalah:

Kami akan lebih rinci lagi menguraikan tentang apakah yang dimaksudkan dengan hikmat? Bagi kami ini adalah sebuah ilmu pengetahuan sejati yang tidak hanya membuat hidup manusia lebih bermakna melainkan juga menggiring semua orang untuk meraih kualitas hidup  yang maksimal. Sedangkan kebenaran yang kami maksudkan adalah saat kita mampu membagikan informasi tentang cara memuliakan Allah di segala waktu sembari hidup menyatakan kasih-Nya (memberi manfaat) kepada sesama.

Perhatikan pesan rasul Paulus berikut ini:

(II Timotius 2:16-17a) Tetapi hindarilah omongan yang kosong dan yang tak suci yang hanya menambah kefasikan. Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker.

lagi….

(II Timotius 2:23-26) Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.

Mengomentari, mengkritik dan menilai agama lain (selain Kristen) merupakan aktivitas yang tidak penting dan tidak membawa manfaat juga, malahan akan menimbulkan pertengkaran. Sebab keadaan ini justru akan membuat suasana hati menjadi keruh bahkan jengkel terhadap mereka. Alangkah lebih baik jikalau kita berpikiran positif sajalah tentang mereka, bukankah persepsi positif adalah iman yang akan membuat hati bahagia menjalani hidup melainkan juga hubungan dengan sesama menjadi langgeng. Adu argumen antar agama

Bagi kami sendiri, bukan kata-kata yang akan membuat orang lain tertarik, menyukai bahkan ingin belajar tentang kekristenan melainkan dari sikap (tutur kata dan perilaku) yang kita tunjukkan hari lepas hari. Alangkah lebih baik dalam menjalani hidup ini, kita lebih sabar, tetap ramah, berbagi ilmu, berbagi solusi dan berbagi kasih kepada semua orang (termasuk orang beragama lain). Juga tidak lupa untuk menjadi orang yang tahan uji (misalnya ketika kebaikan kita dicuekin oleh sesama). Dari sinilah orang lain mengenali bahwa kita yang kristen adalah tipe manusia berkepribadian kuat & lembut. Inilah yang mampu menggugah dan menghancurkan hati yang keras.

Salam tidak perlu mengomentari keyakinan orang lain!

(Matius 7:3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?

Iklan

2 comments

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s