Allah Untuk Semua Orang – Universalisme Tuhan Untuk Semua Pihak – Pemurnian SARA Mustahil Tetapi Penyatuan

Allah Untuk Semua Orang – Universalisme Tuhan Untuk Semua Pihak – Pemurnian SARA Mustahil Tetapi Penyatuan

Kristen Sejati – Semua orang yang lahir dan mati pastilah percaya akan keberadaan Sang Perancang Ajaib. Hanya manusia yang tidak punya asal usullah yang tidak mempercayai akan adanya Allah. Mereka tidak percaya, karena belum pernah dilahirkan, belum pernah tersakiti dan tidak akan mati yang berhak untuk tidak percaya keberadaan Tuhan: dalam artian mereka adalah makhluk abadi (mungkinkah ada manusia semacam itu?). Yang jelas, segala sesuatu tidak terjadi apa adanya melainkan semua berlangsung atas kehendak-Nya, yakni atas dasar kebenaran.

Bumi ini diciptakan untuk semua makhluk (jangan egois)

Apakah Tuhan tidak adil dalam membagi kasih-setia Nya? Bukan Tuhan yang tidak adil melainkan kitalah yang tidak mengerti dengan kebesaran kasih karunia-Nya bagi seluruh umat manusia. Sadarilah bahwa kita ini makhluk yang paling di sayang Tuhan diantara makhluk hidup lainnya di bumi. Manusia lebih spesial karena ciri khasnya yang “segambar dengan Allah.” Hanya kadang saja, kita berpikir kerdil lalu merasa diri sudah lebih benar dari orang lain. Sadarilah bahwa dunia ini diciptakan bukan hanya untuk segelintir orang melainkan demi kepentingan seluruh umat manusia.

Dunia ini penuh dengan dualisme, artinya penuh dengan perbedaan

Belajar dari paham dualisme, kitapun mengerti bahwa tidak baik jikalau manusia hidup nyaman terus, terkadang kita diperhadapkan oleh ketidaknyamanan oleh perbedaan. Maksud dari dualisme ini adalah hal-hal yang berbeda namun ketika menjadi satu akan saling menguntungkan satu sama lain. Jadi, bisa dikatakan bahwa secara tidak langsung Allah menerapkan paham dualisme di tengah-tengah dunia ini agar manusia saling menguji satu sama lain sehingga keluarlah pribadi yang benar-benar tahan uji, dibersihkan dari kejahatan dan hatinya benar-benar terpaut kepada Allah. Sesungguhnya ujian yang kita hadapi tidak melebihi kekuatan kita namun hal-hal berikut ini membuat pergumulan yang dialami semakin besar saja.

  1. Kebiasaan tidak suka (enggan) dicobai orang lain. Sadarilah bahwa ujian kehidupan adalah manusiawi dan normal. Bila anda bisa merendahkan hati untuk memandang kejadian ini maka bisa dikatakan bahwa ini hanyalah hal-hal kecil saja awalnya. Sayang, beberapa orang tidak mau diperhadapkan dengan hal-hal ini karena menurutnya terlalu sepela. Sikap yang enggan, selalu mengelak dan berlindung di balik harta, jabatan dan kekuasaan niscaya akan menumpuk-numpuk ujian itu pada satu titik. Sehingga suatu saat nanti akan terjadi pergumulan hidup dalam porsi besar yang akan membuat semua orang geger.
  2. Tanggapan yang berlebihan. Respon kita yang lebay terhadap ujian sosial biasanya akan semakin meningkatkan level tantangan yang akan kita hadapi.
  3. Sistem yang tidak adil. Biasanya dimana ada ketidakadilan maka disitulah ada banyak benang kusut yang semeraut, menunggu untuk diselesaikan.

Manusia diperintahkan untuk berkembang memenuhi bumi, menaklukannya dan berkuasa atasnya

Bila kita kembali membahas ke belakang dan belajar tentang sejarah umat manusia di dalam Kitab Suci niscaya akan menemukan banyak bukti tentang universalitas. Diantaranya adalah.

(Kejadian 1:28) Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

  1. Pesan untuk beranakcucu telah, sedang dan masih berlangsung sampai sekarang, bukankah jumlah manusia di sekitar kita semakin bertambah banyak?
  2. Untuk memenuhi bumi? Sepertinya keadaan ini masih belum terwujud sebab masih banyak pulau-pulau di negeri ini (di negara lain juga) yang masih belum berpenghuni.
  3. Untuk menaklukkan bumi bukan berarti manusia harus mengeksploitasi secara berlebihan hingga bumi ini hancur akibat pemborosan sumber daya yang berimbas pada pemanasan global. Justru jika dunia ini hancur, tidak ada lagi yang dikuasai sebab semuanya telah terdegradasi oleh bencana alam. Kekuasaan yang dimaksudkan disini bukan berarti menindas dan memunahkan komponen alamiah. Melainkan lebih dekat pada tujuan untuk menjaga keseimbangan Alam. Agar manusia bisa menjaga keseimbangan alamiah maka harus belajar banyak dari lingkungan sekitar sehingga kita bisa menjaga umur bumi ini tidak segera berakhir di telan bencana global.

Hawa nafsu dan keserakahan manusia telah melanggar titah Tuhan

Tuhan berfirman kepada nenek moyang kita untuk memenuhi bumi. Siapakah Adam? nenek moyang orang Islam, nenek moyang orang Hindu, nenek moyang orang Budha, nenek moyang orang Kristen, nenek moyang berbagai-bagai agama lainnya, suku, ras dan golongan. Jadi, semua orang diperintahkan Tuhan untuk hidup dan berkembang untuk memenuhi bumi ini sekaligus menaklukkannya. Ini bukan perintah untuk satu suku atau satu bangsa saja melainkan perintah untuk semua suku bangsa, agama, ras dan golongan. Akan tetapi hawa nafsu manusia telah menodai semua perintah ini dengan cara.

  1. Perbedaan ilmu pengetahuan telah membuat umat manusia secara tidak langsung saling memakan melalui praktek-praktek konspirasi.
  2. Perebutan wilayah dan kekuasaan telah menyebabkan peperangan besar yang menelan ribuan hingga jutaan korban jiwa.
  3. Demi melegalkan pengaruh ekonomi, manusia saling tipu-menipu agar memperoleh keuntungan yang besar.
  4. Sistem kapitalisme telah menindas orang-orang lemah demi kepentingan kalangan atas.
  5. Aktifitas kaum borjuis berduit tebal yang memboroskan sumber daya telah merusak lingkungan alamiah yang secara tidak langsung menyengsarakan rakyat biasa bahkan membunuh mereka (lewat bencana alam yang terjadi).
  6. Perang antar suku, agama, ras dan golongan yang sebenarnya terjadi karena kepentingan, ego (harga diri & kehormatan) dan keserakahan para pemimpin/ petingginya.
  7. Terganggunya keseimbangan alam oleh karena penggunaan energi fosil yang berlebihan dimana gejala umumnya adalah hujan yang tidak kunjung turun di suatu wilayah.
  8. Pada akhirnya, bencana kemanusiaan (peperangan) dan bencana alam yang terjadi akan menjadi alat pemusnah masal yang membunuh lebih banyak orang.

Anak Abraham akan menjadi Imam di bumi ini

Mari perhatikanlah firman Tuhan kepada bapa Abraham dahulu.

(Kejadian 12:3) Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

dan

(Kejadian 18:18) Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat?

Bisakah anda menyimak dan memahami firman ini? Dari ayat ini bisa kita katakan bahwa bukan hanya bangsa Israel, bukan hanya orang Yahudi, bukan hanya orang Islam, bukan bukan hanya orang Hindu, bukan hanya orang Budha, bukan hanya orang Kristen yang akan di tolong dan diberkati Tuhan tetapi SEMUA BANGSA/ SEMUA KAUM. Maksud dari firman ini adalah bapa Abraham, yaitu salah seorang dari antara keturunannya akan menjadi pedoman dan teladan untuk mendatangkan kedamaian dan kesejahteraan/ kemakmuran di seluruh penjuru bumi.

Perlu kita cermati lagi apa yang dimaksud dengan berkat? Menurut KBBI Luring, berkat adalah (1) karunia Tuhan yg membawa kebaikan dalam hidup manusia; (2) doa restu dan pengaruh baik (yang mendatangkan selamat dan bahagia) dari orang yang dihormati atau dianggap suci (keramat), spt orang tua, guru, pemuka agama; (3) makanan dan sebagainya yang dibawa pulang sehabis kenduri; (4) mendatangkan kebaikan; bermanfaat; berkah. Berarti bisa dikatakan bahwa berkah adalah segala bentuk kebaikan selama hidup di dunia ini.

Siapakah keturunan Abraham yang pantas menjadi teladan di bumi ini?

Ini adalah pertanyaan yang sangat krusial. Oleh sebab itu, kami hendak menyatakan bahwa ANDA BERHAK TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG KAMI SAMPAIKAN, melainkan silahkan ajukan argumen sendiri yang menurut anda benar. Di dalam keyakinan orang Kristen, telah datang seorang penyelamat bagi orang Israel, yaitu Yesus Kristus. Mengapa Yesus pantas menjadi Imam besar? Ini bukan saja karena Dia adalah Anak Allah (untuk di ketahui bahwa Adam, nenek moyang kita juga Anak Allah – diciptakan langsung oleh Allah). Melainkan lebih kepada ajarannya yang menekankan tentang kesederhanaan dan kesetaraan. Simak, Paham kesetaraan dalam agama Kristen

Ajarannya yang lebih dahsyat di bidang ilmu pengetahuan adalah peran garam sebagai pupuk yang langsung di dekatkan dalam kehidupan manusia dalam pesan-Nya yang mengajak kita untuk “menjadi garam dan terang bagi dunia ini.” Dalam pengembangannya, manfaat garam ini bisa dikembangkan lagi sehingga sangat berfaedah di bidang pangan (kuliner), kesehatan, kebersihan lingkungan, industri bahkan untuk pelestarian alam (meningkatkan kemampuan klorofil untuk menyerap emisi gas rumah kaca) dan lain sebagainya.

Yesus Kristus adalah figur yang ideal untuk menjadi Imam yang membawa berkat di tengah-tengah dunia yang sedang saling menekan dan melemahkan ini. Jika Tuhan Yesus adalah Imam berarti kehidupan-Nya selama di bumi ini akan menjadi pedoman bagaimana seharusnya manusia hidup. Ada tiga syarat untuk mengikut Yesus, yaitu:

  1. Menyangkal diri. Merendahkan hati bahkan merendahkan diri di tengah-tengah kelebihan yang kita miliki.
  2. Memikul salib. Mempunyai beban hidup dan siap di tekan (menderita) lewat aktivitas/ kesibukan/ pekerjaan yang ditekuni.
  3. Ikut jalan Tuhan (jalan kebenaran). Untuk kebenaran yang perlu dilakukan adalah (a) dengan hidup memuliakan Tuhan dan (b) menjadi bermanfaat bagi kehidupan orang lain (berbagi kasih kepada sesama).

Pada dasarnya, semua ajaran Tuhan menekankan agar manusia selalu fokus kepada Tuhan dan saling mengasihi. Tentu saja dimana ada kasih maka disitulah ada pengorbanan (jalan kebenaran, 3). Harus selalu siap menghadapi segala situasi saat dicela, diejek, dihina dan dipermalukan orang lain sekalipun kita sudah menjadi orang yang mendatangkan kebaikan kepada sesama (memikul salib, 2). Akan tetapi, sekalipun kebaikan yang kita datangkan besar pengaruhnya di tengah masyarakat (bermanfaat luas), janganlah sombong dan mau dipuja-puji orang lain sebab kemuliaan adalah hak-Nya Tuhan (menyangkal diri, 1).

Jikalau semua bangsa dan semua kaum menganut ke tiga teladan ini berarti mereka telah mengikuti pedoman Kristus dan berhak mendapatkan berkat Abraham, yakni beroleh segala kebaikan di bumi ini. Jika semua orang, semua kaum dan semua bangsa melakukan teladan ini maka bumi ini akan hidup dalam damai sejahtera. Artinya, berkat yang diterima lewat ajaran Kristus akan membawa dunia ini pada puncak kejayaan dan kemakmuran di bumi (selama/ selagi masih ada di dunia).

Akan tetapi ini hanya sebatas selamat di dunia saja namun tidak menjamin selamat di akhirat (kehidupan ke dua kelak). HANYA DENGAN PERCAYA KEPADA YESUS saja orang-orang akan beroleh hidup yang kekal dan berhak masuk sorga kelak. Bagian yang terakhir ini tidak perlu dipaksakan melainkan biarkan orang lain cukup tahu saja. Jika mereka terpanggil pasti rasa kagum + percaya bahwa Yesus Kristus sebagai jalan dan kebenaran akan menuntun mereka untuk datang sendiri mengakuinya. Ingatlah bahwa pemaksaan sama saja dengan melanggar jalan kebenaran (jalan cinta/ kasih) yang telah lebih dahulu dirintis dan diperjuangkan oleh Kristus. Sadarilah, Allah bisa menciptakan anak-anak dari batu.

Tuhan sengaja membiarkan dualisme agar masing-masing saling menguji

Mengertikah anda bahwa Tuhan sengaja membiarkan dualisme di dunia ini agar manusia benar-benar diuji hati dan imannya, apakah sudah benar murni di hadapan Tuhan. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan memanfaatkan perbedaan diantara manusia. Apabila kita mampu memiliki persepsi positif maka sudah sepantasnya hal semacam ini tidak menjadi masalah. Sebab seburuk-buruknya perbedaan itu, masih ada Pancasila, undang-undang dan hukum yang berlaku untuk mengikatnya agar tidak sampai kebablasan. Beruntunglah kita ada konstitusi yang berlaku di masyarakat sebab tanpa hal itu dosapun akan dianggap sebagai perbedaan (seperti kasus keserakahan kaum LGBT).

Berikut ini adalah ayat yang berkaitan dengan dualisme kehidupan.

Dalam Matius 13:24-30 yang berkata demikian: Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Dari bagian ini kita bisa memahami bahwa Allah sengaja membiarkan dualisme itu berlangsung diantara manusia. Jadi, tidak ada yang namanya pemurnian masyarakat sehingga semua akan menjadi satu golongan, satu agama, satu ras, satu suku, satu bangsa dan lain sebagainya. Tidak ada kejadian dimana hanya satu bangsa saja akan diberkati, berkembang dan maju. Melainkan berkat Tuhan satu untuk seluruh umat manusia.

Lebih dari pada itu, kita bertanya-tanya, mengapa gejolak sosial yang dialami begitu besar dan dampak merusaknyapun tidak tanggung-tanggung. Pada dasarnya semua itu karena diri ini belum terbiasa menghadapinya, respon yang lebay dan sistem yang tidak adil. Jika hal-hal semacam ini masih terjadi dalam kehidupan kita niscaya bencana demi bencana akan berlangsung secara masif maupun secara terbuka, cepat ataupun lambat.

Jika Sang pencipta saja sudah meng-acc-kan (menyetujui) perbedaan keyakinan/  agama, lalu mengapa kita masih belum menerima semua itu apa adanya. Inilah kenyataan yang harus dihadapi semua kaum sebab berkat Tuhan telah mengalir lewat bapa Abrahan sehingga semua bangsa/ kaum/ suku/ ras/ golongan/ agama beroleh keberkahan. Jadi tidak ada lagi yang harus diperebutkan, bukankah semuanya mendapat jatah yang sama?

Universalisme Tuhan untuk seluruh umat manusia

Seperti yang termuat dalam firman-Nya.

(Yohanes 12:45) dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku.

Selama Tuhan Yesus hidup di dunia ini, Ia mengajar umat manusia bersikap eksklusif untuk mengkoreksi dan memperbaiki hal-hal apa saja yang masih belum layak dalam agamanya sendiri. Artinya, setiap kepercayaan seharusnya memiliki ajaran yang bersifat untuk kalangan tertentu akan tetapi kebaikan yang diekspresikan seharusnya bersifat universal. Tidak pernah sedikitpun Ia berkomentar dan mengkritik orang lain yang keyakinannya tidak sama. Padahal dalam beberapa kali kesempatan Ia pernah bertemu dan bercakap-cakap dengan mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda tetapi tidak sedikitpun ia menghakimi mereka. Justru iapun berbagi berkat dan muzizat kepada orang-orang yang tidak satu keyakinan itu.

Dalam keyakinan Kristen, Yesus Kristus adalah Allah sendiri yang telah bereinkarnasi menjadi manusia. Jika Kristus saja mau mendatangkan berkat bagi orang yang tidak satu agama/ satu keyakinan berarti demikianlah juga Allah mengasihi semua orang. Yesus datang ke dunia, fokus untuk mengajarkan kebenaran kepada orang Yahudi tetapi bukan berarti mereka yang berkeyakinan lain harus diabaikan, ditindas dan diinjak. Sebab kekayaan kasih karunia Allah adalah hak semua orang dan hak semua bangsa.

Bahkan rasul Paulus sendiri sebagai orang yang memelihara ajaran Yahudi yang sangat menekankan tentang kemurnian keturunan telah meninggalkan kebiasaan tersebut setelah mengenal Yesus Kristus. Itulah mengapa ia mengambil peran penting untuk menyebarkan ajaran Kristen kepada orang-orang bukan Yahudi. Jelaslah bahwa Allah yang kita sembah adalah Tuhan yang bersifat global untuk semua umat. Pernyataan universalisme ini tertulis jelas dalam surat Paulus kepada Timotius.

(I Timotius 2:3-4) Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Jika anda memang bersikeras beranggapan bahwa kasih karunia hanya untuk kaum/ bangsa/ golongan/ agama/ ras/ suku tertentu saja, lalu mengapa sampai sekarang mereka (orang dari  suku, agama, ras, golongan lain) masih hidup, beranak cucuk, berkembang dan maju? Tuhan Allah saja membiarkan dan memberkati mereka, lalu mengapa kita menghakimi dan menganggap mereka najis/ kafir? Seandainya mereka adalah orang-orang Sodom dan Gomora maka pantaslah mereka kita anggap kafir, bukankah mereka sudah dipunahkan Allah dari dunia ini?

Sadarilah bahwa bukan Allah kurang kuat untuk memusnahkan orang-orang kafir tetapi tidak ada orang yang benar-benar kafir. Sekalipun ada beberapa orang yang anda kenal jahat di dunia ini, masih ada kebaikan dalam dirinya. Kebaikan yang mereka miliki inilah yang membuat mereka tidak pantas dimusnahkan. Allah sendiri masih belum bertindak untuk menghakimi karena masih memberi kesempatan untuk berubah. Lalu, mengapa kita menganggap mereka kafir dan tidak pantas dijadikan teman/ sahabat/ saudara?

Tuhan mengasihi semua orang maka sudah sepatutnya kitapun bertindak sama dan berbagi kasih kepada siapapun itu dimungkinkan. Sadarilah bahwa tidak ada orang yang benar-benar terlahir jahat, psikopat dan tidak manusiawi di dunia ini. Melainkan respon/ reaksi kitalah yang berlebihan, belum terbiasa dan ketidakadilan sistem yang membuat kejahatan semakin menjadi-jadi bahkan terorismepun merajalela.

Salam generalis, salam universalisme!

Iklan

One comment

Mohon Kritik & Saran, ini hanya blog pribadi tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s