Mitos Tidak Ada Oksigen Di Tempat Yang Tinggi

Mitos Tidak Ada Oksigen Di Tempat Yang Tinggi

Dunia ini penuh dengan mitos. Sesuatu yang dikembangkan atas dasar pemikiran yang khas namun mengandung logika yang tipis bahkan kadang tidak logis sama sekali. Perkembangan cerita imajinatif inipun semakin meningkat tatkala orang-orang yang membicarakannya merupakan mereka yang sering menjadi pusat perhatian di dalam masyarakat. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang cerdas penyuka (termasuk kami), pencipta dan penyebar karya seni yang lebih mengembangkannya lagi untuk disajikan dalam berbagai bentuk. Bila awalnya dongeng semacam ini hanya dibicarakan dari mulut ke mulut, seiring perkembangan kebudayaan, manusia mulai memetakan dan mendokumentasikan beberapa darinya terutama yang dianggap penting.

Bisa dikatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak pernah mendengar, melihat dan merasakan indahnya kisah-kisah mitos yang melegenda (seperti yang termuat dalam novel dan film terkenal). Namun sayangnya, beberapa pihak yang tidak diketahui identitasnya, mencoba memasukkan berbagai tahayul tersebut dalam golongan “ilmu pengetahuan” nyata. Sebab memang di satu sisi keberadaannya agak masuk akal walau tidak benar-benar logis. Di sisi lain, pengetahuan yang bersumber dari dongeng tersebut dimanfaatkan untuk menyebarkan ketakutan tentang keterbatasan sumber daya di alam semesta yang sesungguhnya sangat luas dan makmur. Tentu saja bagian ini menjadi kesempatan emas bagi para kapital untuk melakukan komersialisasi terhadap oksigen. Para kapital sempit yang kami maksud ini memang sudah tidak ada di zaman sekarang, walau kiprah mereka sangat luas memanipulasi sesuatu di zamannya.

Sebelum lebih jauh membahas tentang udara, terlebih dahulu kami ingin bertanya beberapa hal. Apakah anda percaya bahwa Tuhan itu ada? Apakah anda juga percaya bahwa Tuhan itu bernafas? Sebab dalam banyak keterangan firman, Tuhan berbicara dengan mulut-Nya yang tentu saja saat melakukannya sambil bernafas. Jika manusia adalah gambaran dari citra diri Allah sendiri maka sudah pasti bahwa Allah juga melakukan aktivitas bernafas. Sekalipun fungsi nafas Tuhan bisa lebih variatif dan lebih kompleks dari aktivitas bernafas seperti yang dilakukan manusia. Jika Allah di luar sana bisa bernafas maka kitapun bisa bernafas saat berada di luar sana. Artinya nafas yang kita butuhkan sesungguhnya bukan hanya ada di bumi saja, melainkan saat kita keluar bumi pun nafas ini masih berjalan aktif. Anggapan ini sedikit bertentangan dengan apa yang selama ini di yakini bahwa tidak ada udara di luar angkasa.

Demi tujuan komersialisasi udara yang ternyata sangatlah banyak di alam semesta. Para kapital lebih suka menghubung-hubungkan pembakaran mikro yang terjadi dalam tubuh dengan keberadaan oksigen. Salah satu mitos pendukung tentang dongeng tidur ini adalah kemampuan manusia bernafas berkurang di wilayah yang paling tinggi dari permukaan laut. Mereka mengangkat cerita tentang orang-orang yang mendaki ke wilayah tertinggi biasanya mengalami sesak napas saat hendak mencapai puncak ketinggian suatu gunung/ pegunungan. Padahal keadaan sesak nafas yang diceritakan ini sesungguhnya terjadi bukan karena kekurangan udara bersih. Melainkan sesak nafas tersebut terjadi akibat kelelahan. Siapapun orangnya di dunia ini pasti akan ngos-ngosan karena disuruh mendaki gunung tertinggi di negerinya atau lebih lagi: gunung tinggi di berbagai belahan dunia.

Tahayul lainnya yang dikembangkan para pemodal untuk mendukung teori tentang oksigen bisa langka di bumi. Yaitu tentang penumpang yang butuh oksigen saat turbulensi pesawat. Kejadian tentang turbulensi bisa memicu sesak nafas bukan karena penumpang kekurangan oksigen. Melainkan karena tekanan mental, stres, panik, trauma dan shock: akibat guncangan di dalam pesawat yang meningkatkan kekuatiran. Siapapun orangnya pasti akan ketakutan ketika burung metal yang dinaikinya seolah-olah tidak stabil di atas ketinggian ribuan kaki. Terlebih ketika hal tersebut terjadi pertama kali: cenderung membuat penumpang histeris, stres, panik dan shock sampai membuatnya lupa untuk bernafas. Keadaan inilah yang sebenarnya membuat penumpan tersebut mengalami sesak nafas sehingga butuh udara bertekan untuk membantunya berkonsentrasi agar bisa kembali bernafas dengan normal.

Dongeng luar angkasa juga menceritakan keanehan yang lain tentang luar angkasa yang dianggap sebagai ruang hampa. Ini adalah kelanjutan cerita untuk memperkuat mitos-mitos yang sebelumnya telah dibuat. Semuanya itu hanyalah tahayul yang tidak masuk akal sebab bukan hanya di bumi ada makhluk hidup. Melainkan di setiap bintang-bintang di angkasa ada penghuninya. Bahkan di dalam matahari pun hidup makhluk tingkat tinggi, yakni Tuhan dan bala tentara  sorga. Jadi alam semesta yang tak terukur ini diisi oleh makhluk hidup yang hari-harinya dipenuhi kebaikan, kebenaran dan keadilan. Sebab tanpa kebajikan, terjadilah gangguan keseimbangan yang memicu bencana kemanusian dan bencana alam.

Semua dongeng yang dijadikan pengetahuan tidak lain ditujukan untuk meninggikan profesi tertentu dibandingkan profesi lainnya. Karena profesi ini-itu sifatnya langka dan mahal maka pendapatannya pun besar. Sedang profesi lainnya lebih hina dan hanya dikasih dedaunan saja sebagai upahnya. Mereka masih saja memberi bukti lain tentang kehebatan pekerjaannya dengan menunjukkan teori dan hasil pemeriksaan langsung dari mitos yang dimaksud. Orang-orang labolatorium melakukan skrining HB di antara penduduk yang bermukim di daerah pegunungan dengan yang bermukim di dataran rendah. Memang terbukti bahwa HB orang yang tinggal di dataran tinggi lebih rendah dibandingkan dengan HB masyarakat di dataran rendah. Akan tetapi, alasannya bukan karena perbedaan intake udara bersih, melainkan karena perbedaan asupan makanan. Sebab kehidupan masyarakat di daerah pantai perkotaan lebih makmur dibandingkan dengan kehidupan masyarakat kecil pedesaan di dataran tinggi dan pegunungan {ini terjadi pada zaman dahulu tat kala para kapital sempit yang berkuasa}.

Kesimpulan

Gejala sesak nafas tidak disebabkan oleh karena kekurangan udara melainkan penyebabnya bisa jadi karena kelelahan, stres, panik, trauma dan shock: dimana semuanya itu membuat seseorang lupa bernafas. Keadaan ini biasanya dapat diringankan dengan cara mengarahkan pasien untuk menarik dan menghembuskan nafas dalam secara sadar yang dilakukan dengan teratur, sebanyak yang dibutuhkan.

Oksigen yang bisa masuk sekolah merupakan bukti bahwa tahayul pun bisa dipreteli oleh para kapital menjadi seolah-olah sebagai ilmu pengetahuan. Padahal sesungguhnya, udara adalah komponen dengan atom terkecil di alam semesta yang keberadaannya terdapat di segala penjuru. Suatu esensi yang sangat aktif dan dapat menghasilkan energi jika saling bereaksi satu sama lain. Kita tidak bisa mengidentifikasi sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa dibaui, tidak teraba dan tidak dapat diamati oleh panca indera manusia. Dengan demikian kita juga tidak bisa membedakan dengan pasti perbedaan antara hidrogen atau oksigen. Atau jangan-jangan memang bukan keduanya, melainkan udaralah yang sesungguhnya berperan melakukan pembakaran dalam kehidupan kita. Yang terpenting adalah jauhi stres, atasi trauma, hati-hati dengan shock: sebab hal-hal inilah yang kemungkinan menyebabkan sesak nafas. Sampai tampak orang tersebut  seperti kelihatan kekurangan udara namun sesungguhnya karena lupa bernafas.

Salam, Dongeng sebelum tidur,
bisa jadi pengetahuan
dan pemahaman
kita pun menyimpang.
Akan tetapi anda tidak
seterjebak itu
jika mampu tetap
berlogika dan bersikap
positif di segala kesempatan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.