+10 Ketakutan Yang Membuat Manusia Jadi Kapitalis, Sangat Ingin Super Kaya

Ketakutan Yang Membuat Manusia Menjadi Kapitalis, Sangat Ingin Kaya Raya

Rasa adalah sesuatu yang sebenarnya sangat fleksibel dan mudah berubah seiring dengan gelora situasi yang bersemayam di sekitar kita. Ada dua bagian besar rasa yang kita nikmati selama hidup di dunia, yaitu rasa yang dihasikan oleh panca indera dan rasa yang dihasilkan oleh pemikiran otak. Biasanya apa yang dihasilkan oleh panca indera senyatanya bisa dinikmati oleh kebanyakan orang dengan citra yang sama. Akan tetapi ada juga rasa hati yang berasal dari pemikiran masing-masing yang bisa berbeda antara orang per orang. Sesuatu yang sifatnya berasal dari banyak pertimbangan sehingga seseorang menyimpulkan bahwa “hari ini saya senang, susah, sedih, bahagia, damai, cemas, takut dan lain sebagainya.”

Rasa yang ada di dalam hati bisa jadi sebagai sebuah kesimpulan dari berbagai situasi yang dihadapi. Ambil contoh tentang ketakutan: misalnya ada berita tentang bencana di sana-sini. Ada orang yang merasa biasa saja karena menganggap bahwa hal-hal tersebut hanyalah sandiwara belaka. Ada orang yang merasa bahwa kejadiaan naas tersebut meningkatkan ketakutannya. Tetapi ada juga yang pada awalnya merasa bahwa hal-hal tersebut biasa saja namun lama kelamaan menjadi terbawa suasana sehingga ikut-ikutan merasa ketakutan. Pemikiran yang mudah berubah dan tidak stabil karena cenderung terbawa suasana terutama dialami oleh mereka yang belum dewasa alias anak-anak.

Ketakutan yang secara tidak sengaja dipicu kapital untuk menciptakan generasi yang lebih kapitalis

Pada sisi inilah para kapital bermain-main untuk membawa pengaruh pro kaya raya terhadap anak-anak. Artinya, mereka ingin mendidik anak-anaknya untuk lebih doyan menjadi orang kaya daripada orang yang sederhana. Sepertinya mereka ingin menyampaikan secara tidak langsung bahwa “anda harus memperhatikan, memperbanyak bahkan melipat-gandakan uang selama hidup di dunia yang fana ini.” Dengan demikian anak tersebut kelak tidak ada kecenderungan untuk menjadi orang sosialis yang malu-malu kucing. Melainkan menjadi salah satu dari orang yang memiliki ketakutan pada hal-hal tertentu. Sehingga seolah-olah hal tersebut memaksa doktrin kapitalisme sejak dini dalam hidup seorang anak. Berikut ini beberapa bentuk ketakutan yang bisa berpotensi untuk membuat seorang anak doyan menjadi kaya-raya.

  1. Fobia kebersihan.

    Mereka sangat menonjolkan pihak tertentu dalam keluarga sebagai orang yang patut dicontoh. Sebab dirinya sudah sangat dewasa dan sangat menyukai kebersihan juga kerapian di lingkungan rumah. Segala sesuatu harus bersih dan rapi sesuai dengan yang diinginkannya. Dialah orang kaya raya yang patut dijadikan sebagai teladan karena menjunjung tinggi kebersihan dan kerapian dalam rumah.

    Anak yang menganggap paham ini benar akan cenderung mempraktekkan pencapaian tersebut dengan membuat/ membeli hunian yang lebih elit dengan privasi tinggi dimana tidak sembarangan orang yang keluar masuk atau lalu-lalang di sekitarnya. Nafsu untuk memiliki rumah mewah yang tertutup bisa jadi dimulai dari fobia hidup super bersih namun diperoleh dengan cara-cara yang kotor (misalnya melakukan KKN).

  2. Fobia ikan asin.

    Ikan asin dianggap sebagai makanan murahan yang kurang bernilai dibandingkan dengan ikan basah. Tentu saja dibutuhkan pekerjaan yang lebih baik, lebih bagus dan lebih berkelas dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Perlu menjadi orang kaya raya agar setiap hari bisa makan daging atau setidak-tidaknya dengan lauk ikan basah yang baru di panen. Bukannya ikan murahan yang dibuat berminggu-minggu bahkan telah disimpan berbulan-bulan yang lalu.

  3. Fobia ikan basah.

    Pada keadaan tertentu seorang anak yang mengalami hipertensi kalium akan merasakan hal-hal aneh saat mengonsumsi ikan dan santapan laut lainnya. Jika keadaan ini terlalu menakutkan baginya, maka anak tersebut cenderung bercita-cita untuk tidak lagi mengonsumsi lauk-pauk dari ikan-ikanan melainkan lebih memilih mengonsumsi daging merah saja (daging babi, sapi, kerbau dan lain-lain). Padahal, untuk membeli lauk-pauk dari jenis daging lebih mahal harganya dibandingkan santapan laut. Namun karena saking takutnya, maka anak tersebut cenderung mencari pekerjaan dengan penghasilan selangit yang mau tidak mau melepaskan prinsip keadilan sosial (kesetaraan sumber daya) antar profesi.

  4. Fobia makan tiga kali sehari.

    Apakah anda adalah anak yang diajari ortu untuk makan tiga kali sehari? Mungkin pernah mencoba untuk hanya sekedar makan dua kali sehari tetapi tiba-tiba malah diserang sakit perut yang parah. Lantas anak tersebut menyimpulkannya sendiri bahwa dirinya tidak bisa makan hanya dua kali sehari saja melainkan harus ikut sampai tiga kali seperti yang diajarkan oleh orang tua. Padahal sakit perut yang diderita sebenarnya karena ujian mencret yang dilancarkan orang tua. Agar anak kelak mencari uang dengan giat sehingga makan pun dengan lahapnya sampai tiga kali sehari. Pantas saja berat badannya segede gentong.

  5. Fobia kuman.

    Hati-hati virus dan bakteri dimana-mana. Makanan yang jatuh jangan dimakan kembali sekalipun lantai bersih. Terlanjur mengonsumsi makanan yang jatuh pasti jadinya sakit perut lagi kemakan terus itu kuman jahatnya. Padahal kebetulan saja orang tua mungkin sedang melancarkan ujian sakit perut. Jadinya anak yang fobia kuman, saat sudah besar bercita-cita membuat lantai rumah dari bahan keramik anti kuman. Bila perlu setiap hari dipel dengan obat anti kuman yang serupa seperti yang dipakai di rumah sakit. Diman semuanya itu butuh biaya segede gaban sehingga mau tidak mau memaksanya untuk menjadi kapitalis super kaya kelak demi mengusir kuman-kuman fiksi yang ditakutinya sejak kecil.

  6. Fobia penyakit.

    Penyakit ada banyak sekali dan yang diberitahukan kepada si anak bahwa mereka yang penyakitnya parah dan aneh-aneh berasal dari pelosok. Mereka bukan orang yang berada seperti kita yang tinggal di kota. Tentu saja hidup di kota butuh lebih banyak uang, makanya harus kerja segiat-giatnya. Padahal nyatanya pasien rumah sakit yang katanya dari kampung-kampung itu adalah orang-orang sengaja bekerja sama dengan manajemen untuk memutar ekonomi di instansi kesehatan tersebut (ekonomi sandiwara).

  7. Fobia kecelakaan.

    Orang yang sering menonton berita pasti tahu tentang ini. Di jalanan korban kecelakaan sangat banyak dan yang paling riskan dengan kecelakaan adalah yang menggunakan sepeda motor. Artinya, harus punya mobil agar dapat berjalan dengan aman di jalanan yang ganas. Belum lagi tentang pejalan kaki yang tiba-tiba diserempet oleh kendaraan sehingga dilarikan ke rumah sakit. Padahal semua berita itu sandiwara belaka dan anda pun bisa merasa lebih aman bila naik kendaraan umum seperti bus, angkot, taksi dan lain-lain.

  8. Fobia kejahatan.

    Kejahatan dimana-mana, perampok dan pembunuh bisa tinggal di sekitar anda dan tidak tahu kapan mereka akan menyerang. Anda harus punya rumah bertembok tebal, berpagar tinggi dengan duri-duri serta pintu dan jendala yang rapat. Tentu saja semakin mewah dan megah rumah tersebut maka semakin susah ditembus maling. Padahal mana anda pencuri lagi kalau negara bisa adil membagi sumber daya! Namanya juga fobia, dari ketakutan semacam inilah timbul nafsu besar untuk memiliki hunian super elit berharga miliaran rupiah.

  9. Fobia kemiskinan.

    Hidup miskin itu susah dan menyedihkan. Anda perlu punya penghasilan yang besar agar mendapat semua yang diinginkan. Dengan demikian barulah hidup bahagia kalau keinginan terkabul semuanya. Padahal tidak butuh banyak untuk bisa bahagia: cukup dengan memenuhi kebutuhan dalam kesyukuran kepada Allah: niscaya hatipun tetap bahagia. Keinginan itu tidak harus terpenuhi tetapi kita merasa cukup karena kebutuhan kita sudah ada semuanya. Tidak bisa mencapai apa yang diinginkan bukan berarti kita miskin tetapi mungkin saja kita perlu lebih sabar menunggu sambil tetap berusaha. Atau mungkin juga ada hal lain yang lebih pantas dikejar untuk menggantikan keinginan tersebut. Orang yang takut miskin enggan hidup sederhana, sehingga secara diam-diam bekerja merampok sistem atau merampok hak orang banyak (korupsi).

  10. Fobia cuaca.

    Ketakutan terhadap cuaca mengharuskan seseorang untuk memiliki fasilitas rumah yang lebih berkelas sehingga bisa terselubung aman dibalik cuaca yang keras. Orang-orang harus memiliki mobil pribadi agar perjalanan tidak terganggu oleh cuaca yang buruk. Padahal naik kendaraan umum juga bisa hilir-mudik ke kota dengan aman. Sedang cuaca ekstrim yang digembar-gemborkan media hanya yang dibuat-buat (rekayasa) demi meramaikan ruang audio-visual alias sandiwara belaka.

  11. Fobia bencana alam.

    Alam bisa berubah sewaktu-waktu dan menelan orang-orang yang diam di dalamnya: demikianlah yang kita saksikan di film-film. Masyarakat harus punya banyak rumah agar ketika satu bencana terjadi di sini maka mereka bisa lari ke rumahnya di daerah lain. Hunian yang dimiliki harus tahan gempa, bila perlu bertingkat-tingkat dan memiliki ruang bawah tanah seperti bunker yang kuat. Dimana semuanya itu butuh dana maha besar untuk pembangunannya yang diperoleh lewat praktek kerja yang tidak adil (mendewakan pekerjaan tertentu). Padahal semua kisah yang mereka saksikan hanyalah fiksi sains yang terjadinya hanya di zaman edan yang dikuasai oleh para kapitalis jahat, kejam, egois dan serakah sumber daya. Kita di zaman damai seperti sekarang ini, tidak lagi menemukan hal-hal tersebut selain menyaksikannya lewat tontonan bergaya khas karya seni.

  12. Fobia terhadap pemimpin dan pemerintah.

    Jika anda menyaksikan berita-berita di media maka banyak sekali petinggi negeri yang melakukan kejahatan dimana-mana. Terlebih ketika andapun dalam kehidupan menyaksikan bahwa memang orang-orang tersebut bawaannya sombong. Padahal mungkin saja, itu terjadi karena anak sedang diuji oleh orang tua sendiri atau mungkin juga karena orang tersebut tidak mengenal anda. Seorang anak yang fobia terhadap pemerintah pastinya ingin membuktikan diri lebih baik dan lebih kaya raya dari orang dipemerintahan alias menjadi super kapitalis. Padahal dirinya belum paham cara kerja dunia: bahwa “semakin besar gajimu maka semakin beresiko pekerjaan yang dilakukan.”

  13. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Semua ketakutan yang ditimbulkan kapital sering kali diidentikkan dengan ujian kehidupan. Jika ada orang di luar sana masih bisa hidup normal dalam kesederhanaan maka bukan mustahil bila kitapun demikian: tetap merasa nyaman menjalani hidup yang sederhana. Semua sandiwara yang kita saksikan lebih banyak menceritakan tentang kehidupan orang-orang kaya karena memang kehidupan para konglomerat itulah yang berpotensi besar untuk mengalami destruksi zaman. Sebab popularitas dan kekayaan tidak menjamin baik buruknya sesuatu. Melainkan kebajikanlah (kebaikan, kebenaran dan keadilan) yang menentukan kelancaran alur kehidupan manusia. Sudahkah menegaskan hidup untuk melakukan yang baik, benar dan adil di segala waktu dan segala bidang kehidupan anda? Sebab tidak ada tujuan terbesar selain hal-hal tersebut yang membuat manusia mencapai puncak evolusi kehidupan. Yakni benar-benar menjadi cahaya, serupa seperti Allah di akhir zaman kelak.

Salam, Informasi bisa
menimbulkan ketakutan
atau anda bisa belajar
mengendalikan informasi
dan memanajemen
pola berpikir positif
agar ketakutan anda
menjadi lebih terkendali
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.