Ujian Tidur: Kemalasan Dan Hawa Nafsu

Ujian Tidur, Kemalasan Dan Hawa Nafsu

Air mengalir membasahi permukaan, menambah kelembaban dan memenuhi ruang-ruang yang paling rendah. Matahari bersinar, menerangi ruang-ruang yang gelap dan mengeringkan permukaan untuk membawa uap air ke tempat yang paling tinggi di awan-awan. Demikianlah proses kehidupan dimana kadang-kadang situasinya masih kurang-kurang, kadang-kadang mencukupi dan kadang pula menjadi sangat berkelimpahan. Seperti seseorang yang hidup di zaman kapitalis yang keras, penuh persaingan: ada masa-masa surplus untung berlimpah tetapi ada juga masa dimana penghasilan datar-datar saja. Sama halnya dalam perjalanan kehidupan manusia: saat masih anak-anak ada keterbatasan; tetapi saat sudah beranjak dewasa mandiri: banyak hal yang menjadi lebih mudah.

Perjalanan kehidupan kita memang ada masa-masa sulitnya tetapi jangan pernah lupa bahwa keikhlasan, kesabaran dan kerendahan hati membuahkan hikmat dan kesejahteraan hidup yang pantas. Hanya saja, terkadang beberapa orang terkecoh dan terlena oleh situasi agak buruk yang menimpanya sehingga terkesan tidak sadar akan ketertinggalan hidupnya dari yang lain. Padahal sesungguhnya bila situasi yang agak kurang menyenangkan tersebut mampu dihadapi dengan positif, pastilah perspektifnya akan bertransformasi dari yang awalnya dianggap sebagai masalah menjadi ujian kehidupan yang wajar. Sudah pasti bahwa ujian yang dihdapi bukanlah pelarut negatif yang membuat hidup memburuk melainkan merupakan pelarut aktif yang membuat hidup lebih baik dari waktu ke waktu.

Sayangnya, kita terkadang tidak larut dalam arena positif kehidupan karena secercah benci, dendam dan amarah akibat masalah-masalah kecil yang dihadapi. Kita tidak menyukainya dan menganggap bahwa ujian yang dihadapi adalah penghambat sehingga memilih jalan yang cenderung mengarah kepada kepada keputus-asaan. Seolah ingin lepas dari situasi yang menekan aktivitas namun menyerah dan tidak mau lagi berusaha untuk melakukan yang lebih baik. Kita dihadang oleh ujian tidur yang membuat aktivitas pause sejenak. Sibukpun diri sendiri akan terhenti karena kantuk yang menidurkan raga. Menghentikan aktivitas yang sedang giat-giatnya dikerjakan. Semangat kerja yang menggebu-gebu pupus dan tenggelam seiring tertutupnya mata yang terkantuk-kantuk. Bila kita marah dan putus asa menghadapi situasi semacam ini maka ada niat untuk berhenti beraktivitas bahkan niatnya sampai dihentikan sama sekali.

Memilih untuk mengikuti jalan malas sekalian membalas dendam agar hati menjadi terpuaskan. Marah entah kepada siapa: tidak mau lagi berusaha dan malah sukanya tiduran terus-menerus dengan alasan ngantuk sekalipun sebenarnya tidak demikian. ”Kita mau malas-malasan ajalah…,” karena mata ngantuk terus dari waktu ke waktu. Seolah kita menyerah dengan keadaan dan tidak mau lagi berbuat apa-apa bahkan terkesan membiarkan diri terlalu dalam dan lama dalam zona nyaman yang beresiko juga terhadap kesehatan fisik. Menjadikan ujian ngantuk sebagai alasan untuk bermalas-malasan adalah sesuatu yang tampaknya bisa menunjukkan bentuk protes kita terhadap pihak-pihak yang memperkantuk diri ini. Namun sesungguhnya hal tersebut bisa menjadi kebiasaan buruk yang melemahkan kehidupan sendiri.

Terlebih ketika rasa mengantuk yang tiba-tiba muncul, terjadi di saat kita sedang giat-giatnya mengerjakan sesuatu yang menjadi hobi pribadi. Semisalnya timbul di saat sedang kerja atau mengerjakan PR atau sedang bermain game yang digemari. Bisa membuat emosian bila pekerjaan yang disukai berhenti tiba-tiba berulang-ulang kali. Membuat hati jengkel dan mudah tersinggung saat recehan-recehan lainnya mengusik berlalu-lalang tanpa kita ketahui. Memilih untuk membanting stir ke arah yang salah sehingga masuk jurang pelanggaran offside kehidupan. Kemalasan juga beresiko membuat badan sakit bila terlalu dipelihara sebagai alat untuk menjawab ujian kehidupan.

Ingatlah bahwa kemalasan bisa menjadi faktor pendukung yang membuat kehidupan di masa depan tidak setara dengan orang lain. Kalau pemerintah sudah menjadi adil maka waktu kerja yang dihabiskan bersama sistem kerja online sangat menentukan pencapaian. Bila masih anak-anak saja kita bermalas-malasan maka akan terbawa-bawa hal tersebut hingga dewasa. Maunya kerja tidak banyak-banyak padahal dilakukan di rumah untuk diri sendiri. Tugas-tugas yang semestinya sudah selesai malah sudah lewat batas deadline. Kreativitas yang awalnya menguncup, lama kelamaan menghilang karena enggan berinisiatif untuk melakukan yang lebih baik. Kehidupan kita menjadi rentan terhadap gejolak sehingga mudah sekali ketakutan dan merasa cemas oleh hal-hal kecil. Memelihara kemalasan cenderung membuat aktivitas mengarah kepada hal-hal negatif.

Mengapa tidak menghadapi saja kantuk yang kadang merong-rong tanpa henti dengan hati yang ikhlas. Agar tidak ada kesempatan bagi kebencian untuk menaburkan rumus-rumusnya di tengah situasi pelik yang dialami. Bagaimana kalau mencoba untuk berlapang dada menunggu kantuk berlalu sambil membaringkan diri di atas area yang datar dan empuk: bukankah itu mudah? Agar bisa kembali semangat untuk beraktivitas melakukan hal-hal positif sepanjang sisa hari yang masih ada. Biasakan mengambil keputusan untuk berendah hati agar sikap tetap baik kepada siapa pun yang dimungkinkan. Bila kita berjuang di jalan yang positif saat didera situasi negatif maka ada niat untuk menjauhkan diri dari upaya balas dendam dan merusak diri sendiri dengan bermalas-malasan.

Berupayalah untuk mengendalikan nafsu terhadap aktivitas tertentu. Istilah kerennya adalah “jangan terlalu mendewakan sesuatu selain Tuhan! Sebab kita tidak bisa terus-menerus mempertahankan hal-hal duniawi tetapi tidak ada yang bisa merebut Tuhan dari dalam hati kita.” Ikhlaskanlah pencapaian terhadap keinginan karena kebutuhan kita seyogianya sudah tercukupi. Jangan hanya fokus mencari kepuasan dari dunia tetapi lakukanlah aktivitas anda sambil memuliakan Allah di dalam hati agar kita bahagia menjalaninya. Bersabarlah menunggu kantuk hilang karena tidak ada ujian-masalah yang terjadi tanpa batas waktu. Pilihlah untuk merendahkan hati, menyangkal diri sendiri dan tetap berbuat baik kepada siapa pun yang dimungkinkan (bisa dimulai dari hal-hal kecil). Milikilah pengharapan bahwa hidup ini adalah siklus yang semakin baik dari waktu ke waktu.

Salam, Badan yang terkantuk-kantuk,
jangan dijadikan alasan untuk
terus bermalas-malasan
tetapi aktiflah melakukan
yang baik, benar dan adil
karena kantuk pasti berlalu
indah pada waktunya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.