10 Alasan Nilai Kebaikan Lebih Kecil Dari Nilai Dosa – Penyebab Nilai Dosa Lebih Besar Daripada Nilai Kebaikan Materi – Ketika Kebaikan Kita Tidak Bisa Dilego/ Dinego Dengan Dosa Yang Diperbuat

Alasan Nilai Kebaikan Lebih Kecil Dari Nilai Dosa - Penyebab Nilai Dosa Lebih Besar Daripada Nilai Kebaikan Materi – Ketika Kebaikan Kita Tidak Bisa Dilego-Dinego Dengan Dosa Yang Diperbuat

Banyak orang di zaman yang mencengangkan begitu mengagung-agungkan kepemilikan uang. Seperti memiliki suatu dewa-dewi yang dipuja-puji manusia: demikianlah orang yang bangga karena banyak harta yang telah dikumpulkannya. Manusia pada umumnya sangat tertarik dengan fulus, bahkan saking tertariknya hal-hal tentang itu menjadi perebutan sepanjang sejarah umat edan. Orang-orang menggunakan berbagai cara untuk mencarinya, dari cara kasar sampai cara lembut dan ada juga yang menghalalkan segala cara. Namun mereka tidak melakukannya secara terbuka karena ingin terlihat benar, entah itu di mata orang lain maupun di mata Tuhan.

Orang-orang yang mendewakan uang sudah otomatis menjadikan dirinya sendiri sebagai salah satu dari antara dewa-dewi kenamaan yang tidak kalah pamornya. Tetapi, mereka ingin terlihat benar di mata orang lain karena besar rasa malunya terhadap dosa yang secara retorika merupakan suatu tindakan kebodohan. Mereka membiarkan orang lain tidak tahu menahu bahkan sesat, saat hendak mencari duit. Membuat diri mereka seolah-olah sangat sibuk dari siapa pun dan menakut-nakuti orang lain yang hendak menyamai/ mengimbangi pekerjaan mereka. Menjadikan kebohongan sebagai alat intimidasi untuk melemahkan generasi penerus yang tidak berdaya. Semoga mental dan paham-paham negatif semacam ini berlalu dari kehidupan kita. Atau sekalipun hal-hal tersebut ada, biarkan selanjutnya menjadi tantangan kehidupan yang tidak melemahkan hati. Melainkan semakin membuat kita fokus dan terus berjuang positif mengisi kehidupan selama nafas berhembus.

Bisa saja paham yang mendewakan materi ini berkembang dari orang-orang yang merasa dirinya rohani. Tetapi menggunakan cara-cara yang kurang tepat untuk menggapainya. Berpikir bahwa materi yang memesona inderanya dapat membuat Tuhan terpesona juga. Merasa bahwa kekayaan yang diimpikannya bisa pula digunakan untuk menyogok Tuhan. Padahal yang dikehendaki Tuhan adalah ketaatan dan bukan persembahan yang besar-besar. Bukan pula korban perpuluhan dari kantong yang tambun melainkan kemauan untuk mengikuti firman-Nya, seperti ada tertulis.

(Bnd. 1 Samuel 15:22b) Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik dari pada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik dari pada lemak domba-domba jantan.

(Bnd. Yesaya 1:10-20) Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

Alasan nilai kebaikan materi lebih kecil dari nilai dosa

Ada zamannya dimana masyarakat punya pemahaman bahwa nilai kebaikan mereka lebih besar daripada dosanya sehingga kejahatan terus-menerus merajalela. Sebab dengan pemahaman semacam ini, secara tidak sadar mereka telah menempatkan pencarian materi lebih penting daripada kebenaran firman Tuhan. Menjadi sah-sah saja melakukan pelanggaran karena sudah ada uang yang membuat mereka kembali merasa layak dihadapan Tuhan. Seolah persembahannya itulah yang menyucikan pikiran, perkataan dan perilakunya dari yang salah-salah. Berikut akan kami jelaskan sedikit tentang alasan mengapa kebaikan materi lebih kecil nilainya dari kejahatan yang kita lakukan.

  1. Agar tidak dipamerkan.

    Apa pernah merasa canggung saat menyombongkan kebaikan kita? Sepertinya kita tidak bisa lagi menikmati hal-hal positif yang digeluti karena sudah duluan diumbar untuk mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain. Sebab orang menganggap bahwa dosa kesombongan memang ada tetapi menyombongkan diri itu masih menyenangkan dan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebaikan materi yang sudah digalakkan kepada banyak orang. Merasa bahwa berbuat baik itu menyenangkan, demikian juga dengan menyombongkan diri. Jadi mengapa tidak dimanfaatkan selagi hal-hal tersebut masih ada? Merasa kalau ada salah-salahnya sedikit, tidak masalah karena ada banyak kebaikan lain yang akan dilakukan kelak.

    Dengan kecilnya nilai kebaikan materi, orang-orang tidak lagi mencoba untuk menyombongkan diri. Karena dosa menyombongkan diri jauh lebih besar dari sedekah materi yang gencar mereka lakukan. Lebih baik mendiamkannya saja agar sekalipun nilainya kecil tetap diperhitungkan sebagai upah sorgawi dan bukannya malah mendorongnya ke dalam sengsara neraka.

  2. Merasa recehan (rendah hati).

    Tidak perlu membanggakan diri sebab kebaikan yang kita lakukan selama hidup di bumi hanyalah yang kecil-kecilnya saja. Belum lagi kalau hal-hal baik tersebut dilakukan tanpa ketulusan hati, sempat disesali dan sama sekali tidak mendapat balasan. Bila kita rendah hati dan merasa bahwa apa yang dilakukan hanyalah recehan kecil-kecil yang hampir tidak ada artinya, maka tidak ada penyesalan sekalipun niat baik kita tidak mendapat respon. Rasa sedih dan rasa sakitpun tidak ada lagi karena sejak dari awal tidak membesar-besarkan perbuatan positif tersebut di dalam hati: sehingga efeknya pun tetap rendah dan tetap minimal.

  3. Agar kita terus tekun melakukannya.

    Jika seseorang merasa bahwa belas kasih yang dilakukannya adalah tindakan yang besar maka dirinya akan jarang berbuat baik. Sebab dia merasa bahwa satu saja pasti sudah cukup untuk mengantarkannya ke pintu sorga. Akan tetapi, orang yang merasa melakukan receh-receh, pasti melakukannya dengan rajin dari waktu ke waktu. Ada semacam dorongan dari dalam hatinya untuk bertekun mengekspresikan hal tersebut dalam takaran, waktu dan tempat yang tepat. Semangat mengumpulkan receh ini bisa mendatangkan sukacita karena kita sudah terbiasa melakukannya. Sehingga walaupun ada beberapa hambatan, tidak memadamkan niat tulus yang telah digiatkan sejak berbulan-bulan atau bertahun-tahun lalu.

  4. Agar tidak dijadikan sebagai pengganti dosa.

    Sadar atau tidak: dosa adalah beban hidup. Kadangkala untuk merasa terbebas dari beban hidup ini, hati selalu mencari-cari cara untuk meredakannya. Salah satu upaya tersebut bisa saja seperti: “sudahlah tidak apa-apa, kamukan sudah banyak berbuat yang baik, masakan hanya karena satu dosa saja harus seterbeban itu?” Kalau kita mengiyakan suara hati yang sesat maka sama saja bagi kita menggantikan dosa tersebut dengan berbuat banyak-banyak bersedekah. Akibatnya, sedekah yang kita sampaikan terkesan kurang tulus hati karena ditujukan untuk menimpa kejahatan yang dilakukan sebelumnya.

  5. Agar orang merasa kaya raya tidak serta-merta bebas berbuat semena-mena dan sesuka hati.

    Jika kemurahan hati seputar materi bisa dilego dengan dosa kita, maka orang yang kaya rasa pasti berpesta pora mengetahuinya. Sebab mereka tidak perlu lagi susah-susah untuk menjaga diri jauh dari kejahatan yang kadang-kadang menurut mereka, “hal-hal tersebut menyenangkan.” Jadi, orang kaya tidak perlu khawatir tentang masa depannya kelak dan merasa bebas melakukan apa saja.

  6. Agar manusia berhenti melakukan dosa.

    Saat manusia cerdas nan tajir mengendap-endap melakukan dosa, ada kemungkinan kesalahan yang sama dilakukan di masa mendatang. Mereka tidak lagi segan dan tidak lagi takut karena merasa sudah ada alat pembersih agar mereka kembali suci di hadapan Tuhan, yaitu dengan banyak-banyak membagikan sembako kepada masyarakat. Demikianlah dosa mereka tetap berputar karena sudah ada jalan lain yang lebih mudah untuk mengobatinya tanpa harus repot minta maaf ke sana ke mari.

  7. Agar firman Tuhan tidak diinjak-injak.

    Bila kebaikan kita bisa menggantikan dosa kita maka orang tidak perlu menaati perintah Tuhan agar layak masuk sorga melainkan mencari uang sebanyak-banyaknya karena itulah tiket masuk sorga. Firman Tuhan tidak dianggap lagi dan aturan benar serta adil tidak perlu diberlakukan. Sebab yang terpenting adalah mencari harta sebanyak-banyaknya agar sorga di akhir zaman terbeli dan terjamin keberadaannya.

  8. Bukti keadilan Tuhan.

    Ada orang yang bisa memberi banyak persembahan dan ada pula orang yang tidak bisa memberi banyak bahkan tidak bisa apa-apa. Tetapi kebaikan yang mereka lakukan adalah sama di mata Tuhan karena masing-masing mempersembahkan persenan (10%) dari penghasilannya. Sebab orang yang berpendapatan tinggi dan orang berpendapatan rendah sama sama-sama memberi dengan tulus hati. Menurut sudut pandang Tuhan yang menilai pemberian seseorang dengan membandingkannya dengan kekayaan total yang dimiliki orang tersebut. Seperti ada tertulis.

    (Markus 12:43) Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.

  9. Itulah salah satu tanda bahwa kita butuh “Sang Penyelamat.”

    Jika kebaikan kita bisa menutupi dosa-dosa yang telah dilakukan selama ini maka sudah pastilah bahwa kita tidak lagi membutuhkan Yesus Kristus. Terlebih lagi zaman sekarang, orang yang melakukan dosa itu jarang sekali, jadi untuk apa Yesus? Lebih baik banyak-banyak berbuat baik agar sorga menyambutnya. Padahal secara tidak sadar satu dosa yang kita lakukan terus-menerus kita lipat gandakan dengan berbagai cara (Baca juga, Satu kejahatan anda bukan berarti satu dosa).

  10. Mendatangkan bencana di bumi.

    Tahukah anda apa yang selanjutnya terjadi ketika manusia merasa bahwa kebaikan mereka bisa menutupi dosanya? Ada orang-orang tertentu yang sengaja dibuat miskin agar tiap-tiap harinya dapat jatah happy dari konglomerat kelas atas. Mereka juga malas bekerja karena sudah terbiasa disedekahin oleh banyak orang kaya di negeri. Sedang para konglomerat kelas atas berlomba-lomba untuk mencapai puncak kehidupan untuk mendapatkan hak penguasaan sumber daya yang lebih besar. Tidak masalah bagi mereka untuk melakukan manipulasi, sabotase dan pembohongan publik sebab semua dosa tersebut bisa ditebut dengan mega sedekah kepada rakyat miskin, janda, anak yatim, piatu. Semakin tinggi persaingan dan semakin boros penggunaan sumber daya yang ada sehingga tanpa mereka sadari telah merontokkan unsur-unsur naturalis dari alam sekitarnya. Akibatnya, bila keadaan ini terus berlangsung selama bertahun-tahun maka bencana alam dan bencana kemanusiaan dipastikan terjadi cepat atau pun lambat.

  11. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri

Kesimpulan

Mungkin dalam benak kita pernah terbesit tentang, bagaimana kalau dosa yang terlanjur kita perbuat bisa dilego dengan bersedekah? Seperti seorang pembeli yang sedang tawar-menawar di pasar kepada penjual barang cantik, akankah mereka mencapai titik temu? Masalah utama dengan dosa kita adalah kita tidak berurusan dengan sembarang orang tetapi urusannya kepada Allah Yang Maha Tinggi. Jadi kalau Allah mau melayakkan kita di akhir zaman untuk mencapai evolusi tertinggi umat manusia masuk sorga: itu semua karena kehendak-Nya dan bukan karena peran kita. Termasuk dalam hal ini bukan karena kebaikan kita. Sebab apa yang kita lakukan bukanlah apa-apa dimata-Nya: ada orang lain yang bisa diutus-Nya untuk melakukan pekerjaan tersebut seandainya kita tidak ada. Oleh karena itu, berterimakasihlah karena Tuhan melayakkan Anda melalui Yesus Kristus sehingga kita kelak layak mencapai puncak evolusi tertinggi orang percaya!

Salam, Baik itu memang
dibutuhkan namun
jangan bangga kali
kalau sudah banyak
berbuat baik.
Tetapi tetaplah
berendah hati agar
kita dilayakkan Tuhan
untuk mencapai
evolusi puncak
umat manusia
di akhir zaman nanti
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.