10 Kekejian Racun Orang Tua Yang Terkutuk

Kekejian Racun Orang Tua Yang Terkutuk

Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan dalam kehidupan manusia. Tidak pernah ada rancangan yang buruk dilakukannya dalam kehidupan kita. Satu-satunya yang buruk adalah sifat-sifat manusia itu sendiri yang mengekspresikan dosa selama hidupnya. Sebab pada hakekatnya, hati manusia dipenuhi dengan kedagingan yang syarat dengan kejahatan. Namun hal tersebut belum menjadi nyata selama belum diungkap lewat kata-kata dan perbuatan. Sekalipun demikian, dihadapan Allah kita masih penuh dengan dosa karena hati yang kerap kali tercemar oleh maksud-maksud yang keji, sekalipun hal tersebut belum diungkapkan kepada siapapun. Itulah sebabnya kita memerlukan darah Kristus Yesus sebagai korban untuk menebus dosa-dosa kita.

Sayangnya, kebiasaan manusia yang mengakui bahwa dirinya jahat terbawa-bawa dalam kehidupan sehari-hari. Artinya, ada-ada saja orang sinting yang memanfaatkan kejahatan tersebut untuk merusak kehidupan orang lain secara diam-diam. Walaupun kesannya kejahatan tersebut sifatnya kecil-kecil namun kenyataannya hal-hal kecil tersebut jika dilakukan terus-menerus akan menyebabkan efek yang sangat besar dalam kehidupan seseorang. Inilah yang kami sebut dengan konspirasi yang lambat laun merugikan sesama. Sebab biar bagaimana pun, setiap manusia berhak untuk hidup di dunia ini senormalnya, tidak ada seorang pun yang berhak merebut hal tersebut darinya. Tetapi bila ada orang kuat yang secara diam-diam merebut hidup normal orang lain dan korbannya tidak berdaya untuk melakukan apa-apa: “terkutuklah pelakunya!”

Kekejian racun orang tua yang terkutuk

Awalnya, kami memang berpikir bahwa racun itu sifatnya biasa saja. Setiap orang pasti bisa menanggungnya bila menghadapinya dengan ikhlas, sabar dan rendah hati. Akan tetapi, lama-kelamaan kami jadi tersadar bahwa sesungguhnya akibat berkelanjutan dari racun yang kecil-kecil tersebut menyebabkan efek domino yang dampaknya menjadi sangat besar dalam kehidupan seseorang.

  1. Orang tua tidak berhak menguji anak yang tidak tahu apa-apa.

    Kami sendiri mengetahui dan merasakan dengan pasti tentang ujian racun air yang dialami di masa lalu. Namun hal tersebut tidak kami ketahui di masa tersebut bahwa itu adalah ujian. Sehingga yang kami lakukan waktu itu adalah kurang minum air putih sehari-hari. Keadaan inilah yang jelas-jelas membuat kami dahulu pun terus sakit-sakitan.

    Inilah kekejian yang bisa saja dialami oleh siapapun-dimanapun. Jika seorang anak sudah dirancang untuk mengalaminya maka pasti hal tersebut akan dialaminya sebab dirinya pun tidak dapat memahami hal tersebut. Artinya, potensi untuk terjebak karena racun orang tua yang dialami orang yang belum paham adalah 100%. Jadi, ini bukan ujian lagi melainkan kejahatan karena 100% dampaknya pasti dirasakan oleh seorang anak yang tidak tahu apa-apa.

    Misalnya saja, ada teguran-teguran dari orang tua untuk meminum air: “apakah sudah intens dilakukan?” Orang tua yang tidak intens memperingatkan anak dan hanya sesekali menegur, maka kemungkinan untuk terjebak dalam berbagai macam penyakit semakin kuat 1000%.

  2. Tuhan Yesus Kristus menderita 3 hari dalam tiga puluh lima tahun.

    Pernahkah anda membaca Alkitab dan mempedomani kehidupan Sang Tunas yang sesungguhnya? Apakah Alkitab mencatat bahwa Guru Besar kita, Yesus Kristus menderita tiap-tiap hari atau tiap-tiap minggu? Pada kenyataannya, penderitaan Tuhan yang sesungguhnya hanya terjadi tiga hari saja selama berada di antara orang mati. Sekaligus diakhir tiga hari tersebut juga diri-Nya berhasil mengalahkan kerajaan maut dan mengikat iblis dalam kerajaannya sendiri lalu bangkit dari antara orang mati sebagai pemenang.

    Kalau Tuhan Yesus Kristus disaksikan penulis Alkitab, menderita selama tiga hari dalam dunia orang mati atau tiga jam di atas kayu salib. Lantas apa dasar orang tua memberi racun penderitaan kepada anaknya setiap hari? Atau apa dasar orang tua memberi racun tiga hari dalam seminggu kepada anak? Ini ajaran sesat dari mana? Mengapa kesannya hiper alias berlebih-lebihan? Pantas saja racun orang tua ini bisa berdampak nyata dalam kehidupan anak tersebut. Sekalipun tidak nyata saat ini namun di masa depan hal tersebut bisa menimbulkan ketakutan/ kekuatiran berlebihan (dikenal juga sebagai fobia).

  3. Tuhan Yesus Kristus berpuasa 40 hari dalam tiga puluh lima tahun.

    Apakah puasa adalah penderitaan? Ya puasa memang penderitaan tetapi tidak menyebabkan rasa sakit pada badan. Sebab puasa bermakna untuk menahan diri dari kenikmatan dunia. Makan ala kadarnya, menu sederhana, tanpa lauk-pauk, tidak jalan-jalan, tidak ngemil, tidak makan-makanan mahal, tidak makan makanan populer: itu juga bisa disebut sebagai puasa. Sebab pada hakekatnya kita menahan diri untuk mengonsumsi kenikmatan dunia yang begitu “aduhai menawan” di panca indera. Tuhan Yesus sudah mengalaminya 40 hari dalam 35 tahun, bagaimana dengan anda? Kita bisa melakukan ini kapanpun menginginkan hal tersebut sebab puasa dalam arti keterbatasan makanan dan minuman tidak menyebabkan rasa sakit nyata di badan.

  4. Ujian menyebabkan penyakit menahun bahkan kecacatan.

    Tantangan hidup apa yang akibatnya berkelanjutan? Bukankah ini justru merenggut hak hidup normal seorang manusia sama seperti manusia lainnya? Apalagi kalau ada ujian racun yang sampai menyebabkan kepincangan dan kelumpuhan. Keadaan bisa memburuk karena desakan emosional yang keras maka seorang anak dapat patah kaki akibat ujian kalium yang keras. Lantas siapa yang bertanggung jawab? Bukankah orang tua? Sebab anak tersebut masih dibawah pengawasan dan dibawah asuhannya? Jadi, setiap penyakit dan kecacatan yang dialami anak, dosa-dosanya pun akan ditanggung oleh orang tua.

    Sekalipun ada alasan orang tua bahwa itu adalah kesalahannya sendiri: mengapa meracuni anak sampai pincang? Siapa yang mengajari untuk meracuni anak agar mengalami gangguan keseimbangan? Siapa yang menjebak agar anak kurang minum air putih? Bukankah semua kesalahan tersebut dimulai dan dimotori oleh konspirasi orang tua?

    Ada firman yang mengatakan bahwa tubuhmu adalah bait Roh Allah (bnd. I Korintus 6:19 ). Mengapa mengotori bait Allah dengan mencoret-coretnya dan merusaknya pula secara perlahan-lahan dengan racun ringan atau sedang? Lihat tubuh anak anda, tidak lagi seperti orang biasa yang normal adanya sebab toksin-toksin tersebut telah menoreh-noreh badannya sehingga mukanya terlihat bertato dan bagian tubuh tertentu terlihat memunculkan warna-warna yang tidak lazim akibat luka dalam dan luka luar yang terjadi. Bukankah ini suatu kekejian yang ditentang oleh Alkitab?

  5. Ujian menyebabkan ketakutan bahkan kegilaan.

    Salah satu bukti otentik yang menunjukkan bahwa ujian racun yang diberikan orang tua atau yang diberikan sistem sifatnya berlebihan adalah timbulnya ketakunan yang diikuti dengan keinginan untuk lari dari rumah sendiri. Keadaan ini jelas menunjukkan bahwa pemberian racun yang dilakukan secara diam-diam ternyata dikonspirasikan dengan berbagai hal lainnya sehingga mendorong seorang anak untuk keluar dari rumah yang adalah haknya selamanya.

    Bahkan dalam sisi-sisi tertentu kehidupan, anak bisa terkesan gila karena paranoid terhadap hal-hal tertentu. Keadaan ini disebabkan oleh karena ketakutan besar yang membuatnya merasa terancam hingga melindungi diri secara berlebihan sekaligus membenci orang-orang yang terlibat di dalamya. Sikap waspada yang membenci bahkan nekat berlaku kasar inilah yang disebut dengan paranoid yang juga kemunculannya bisa dikonspirasikan lewat racun orang tua. Bukankah dengan demikian dosa orang tua banyak sekali karena secara tidak langsung menyesatkan anaknya sendiri?

  6. Orang tua bisa saja sewenang-wenang memberikan racun tanpa diketahui orang lain.

    Kesewenang-wenangan semacam ini bisa dilakukan oleh orang tua terhadap anak sebab anak pun tidak berdaya mengalami semuanya itu. Tidak ada yang bisa dilakukan anak selain menelan bulat-bulat penderitaan tersebut. Mau dilaporkan pun, tetap tidak bisa sebab sakit yang terjadi hanya dirinya yang merasakan. Bahkan luka yang timbul pun tidak bisa dilihat dengan mata kepala sebab terjadinya di dalam tubuh.

    Orang tua sangatlah keji karena memanfaatkan hak-haknya secara berlebihan terhadap anak. Sedangkan anak tersebut tidak berbuat apa-apa? Bahkan sepatah kata kasarpun tidak terucap karena semua didiamkan dalam hati. Bukankah dengan demikian, kejahatan orang tua sangatlah besar? Teganya menyiksa orang yang tak berdaya! Kejam sekali!

  7. Racun itu adil orang tua dan anak yang lain juga mengalaminya.

    Pahami baik-baik keadilan itu: jangan hanya berteori belaka? Apa efeknya sama kepada setiap orang, bagaimana kalau orang tersebut mengonsumsinya dalam jumlah yang lebih banyak? Bukankah dengan demikian, rasa sakitnya pun lebih besar? Jadi jelaslah bahwa “tidak ada keadilan dalam pemberian racun sebab efeknya bisa berbeda-beda untuk setiap orang.”

    Sedang di sisi lain, orang tua juga mengalaminya: mengapa dibandingkan anak dengan orang tua? Bukankah orang tua lebih banyak menikmati hidup sehingga minum racun pun tidak masalah sebab nanti ada efek casnya. Seperti mengalami kerugian untuk mendapatkan keuntungan, layaknya orang yang rela minum racun tetapi diiming-imingi dengan ganjaran hadiah sejuta rupiah: bukankah racun itu akan diminum juga? Lantas anak dapat apa dari kejadian pahit yang dialaminya? Tidak ada yang berkesan sehingga penderitaannya pun terasa semakin berat. Bukankah dengan demikian tindakan meracuni anak tersebut merupakan suatu kekejian?

  8. Tuhan Yesus tidak pernah menyuruh manusia untuk memperingati penderitaan-Nya dengan mempraktekkannya secara langsung melainkan lewat jamuan kasih.

    Kami pernah menyaksikan (karya seni) seseorang yang rela disalibkan seperti layaknya Kristus di masa lampau demi mendalami penderitaan yang dialami oleh Yesus Kristus. Lalu muncul pemikiran, bahwa kita pun zaman sekarang bisa mendalami penderitaan Yesus Kristus dengan meminum racun hingga tersakiti badan ini selama berhari-hari. Bukankah pemikiran ini terkesan berlebihan? Jelaslah bahwa memberi anak racun dengan alasan mengenang penderitaan Yesus Kristus di kayu salib adalah kekejian.

    Yesus Kristus tidak menyuruh kita untuk mengalami penderitaannya yang sangat besar itu. Kami sendiri menyebut penderitaan tersebut sebagai penderitaan dewa saking menakutkannya dicambuk duri dan disalibkan. Melainkan mengajak orang percaya untuk memperingati hal tersebut lewat upacara perjamuan kudus. Bukankah maknanya sangat melenceng dari instruksi Tuhan, ketika kita memperingati penderitaannya dengan memberi racun kepada anak-anak? Sebab yang diperintah Tuhan kepada kita adalah untuk berbagi kasih dan melakukan perjamuan (makan dan minum) sambil mengingat kembali tentang penderitaan-Nya. Sambil mengingat kembali bahwa, sadar atau tidak acara makan-minum yang kita adakan mustahil terjadi kalau Yesus Kristus tidak mengorbankan diri di atas kayu salib. Tanpa pengorbanan yang besar itu, tidak ada damai sejahtera dan kebahagiaan seperti sekarang ini!

  9. Orang Israel diajarkan untuk tidak pernah ikut menderita dalam penderitaan orang lain dengan menoreh-noreh diri sendiri: itu dosa terkutuk!

    Adalah sesat pemikiran yang berasumsi bahwa dirinya akan selamat dengan ikut-ikutan membuat diri menderita dalam penderitaan Tuhan Yesus Kristus. Ini sama saja dengan upacara penyembahan berhala seperti yang dipraktekkan oleh nabi-nabi baal. Yang menoreh-noreh dirinya dengan pedang untuk memanggil baal agar menghidupkan perapian sesembahan mereka (bnd. 1 Raja-Raja 18:28).

    Firman Tuhan berkata: “Kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu; janganlah kamu menoreh-noreh dirimu ataupun menggundul rambut di atas dahimu karena kematian seseorang; (bnd. Ulangan 14:1).” Meminum racun yang menyebabkan rasa sakit sama dengan melukai diri sendiri dari dalam. Jika kita merasa wajib melukai diri demi memperingati penderitaan Kristus, mengapa tidak mati saja? Bukankah ini adalah asumsi yang berlebihan di zaman damai? Tidak ada musuh dan tidak ada iblis tiba-tiba ada orang melukai diri sendiri: bukankah ini adalah suatu kebodohan? Masih banyak cara yang lebih manusiawi untuk menjadi pribadi yang tahan uji, misalnya saja dengan tetap konsisten menghadapi ujian komunikasi dari orang tua.

  10. Refleksi diri bagi anak yang mengalami kejadian serupa.

    Betapa kejinya pemberian racun kepada anak yang sudah setara dengan praktek penyembahan berhala. Sekalipun demikian, tulisan ini tidak menjamin bahwa anda yang mengalami kengerian yang sama dapat berhenti dari perlakuan tersebut. Sebab kekuasaan orang tua yang otoriter membuatnya bisa melakukan apa saja. Oleh karena itu, lebih baik mengalahkan diri dan berupaya beradaptasi dengan buruknya situasi. Doakan selalu agar praktek penyembahan berhala tersebut dapat segera berlalu dari negeri ini. Jika dalam beberapa waktu, emosi meluap akibat diracun bertubi-tubi, tidak perlu marah-marah kepada orang tua sebab bisa jadi otoritas orang tua akan semakin menekan anda. Bisa jadi mereka malah tega membuat keadaan lebih parah dengan lebih banyak racun karena anda suka marah-marah, tidak mau kerja, tidak patuh dengan hal-hal baik yang mereka instruksikan dan melakukan dosa lainnya sebagai pelarian.

    Oleh karena itu, lebih baik tetap sabar, ikhlas dan berendah hati menghadapi situasi yang buruk tersebut. Tidak lupa untuk mengingatkan anda agar sesering mungkin meminum air putih agar efek dari racun-racun yang menyebar di dalam tubuh menjadi reda dan hilang sama sekali. Jika anda mulai emosi, lebih baik mengutuk dalam hati daripada bertindak kasar terhadap lingkungan sekitar. Biarkan emosi anda lepas lewat kata-kata kutuk tersebut sehingga tidak ada lagi. Artinya, anda pun bisa beraktivitas seperti biasa dan tetaplah baik kepada orang tua anda. Belajarlah kuat dengan tabah dan konsisten menjalani ujian komunikasi sehingga mental anda menjadi tangguh dan tidak mudah sedih atas kejadian tersebut. Usir rasa sedih dalam derita dengan bernyanyi-nyanyi memuliakan nama Tuhan dalam hati sehingga ada suka cita. Sambil-sambil kerjakanlah apa yang menjadi tanggung jawab anda di rumah, kerjakan pr sekolah/ kuliah, berbuat baik/ ramah kepada semua orang dan tekuni juga hobi anda. Serta jangan lupa beribadah di gereja, membaca firman Tuhan dan mendengar khotbah sambil membandingkannya dengan standar kehidupan yang dimiliki.

  11. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Apa Tuhan Yesus Kristus Sudah memerintahkan orang tua untuk meracuni anak agar mereka dewasa? Tentu tidak, justru Tuhan menegaskan bahwa lebih baik seorang penyesat anak-anak diikatkan batu kilangan ke lehernya lalu dilemparkan ke dalam laut (bnd. Matius 18:6): saking kejinya upaya menyesatkan seorang bocah. Ini tidak hanya anak kecil melainkan semua orang yang dikategorikan sebagai anak dan dinyatakan belum mandiri oleh negara. Anak-anak yang tidak berdaya, tidak tahu apa-apa dan belum mampu berdikari merupakan sasaran empuk bagi penyesatan dengan toksin. Sudah pasti keberhasilan menyesatkan mereka adalah 100% sehingga dosa para pelakunya pun sangatlah besar. Oleh karena itu, kami secara pribadi mengutuk tindakan tersebut. Ini bukan untuk kematian tetapi kutuk agar orang yang hendak melakukannya berhenti/ kapok untuk melakukannya lagi.

Salam, Toksin yang menyakiti
bukan dia lagi,
bahkan toksin ringan pun
bisa berefek besar karena
terus-menerus dilakukan.
Semua yang kita lakukan
sekecil apapun akan menjadi
salah karena berakhir buruk
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.