Ketika Kepahlawanan Gugur Oleh Logika

Ketika Kepahlawanan Gugur Oleh Logika

Dahulu telah banyak dikabarkan kepada kita tentang nama-nama para pahlawan bangsa. Bukan hanya dalam skala bangsa, ada juga pahlawan dalam skala kecil yang berada di antara kita. Tidak lain adalah orang tua sendiri, pengasuh dan orang yang lebih tua dari kita. Tidak ada pengakuan terhadap mereka di tempat umum sekalipun jasa-jasa mereka besar. Bukan karena kita tidak mau melakukannya tetapi karena kita pernah juga tersakiti oleh mereka. Artinya, setengah dari diri kita mengatakan “ya” dan setengahnya lagi mengatakan “tidak.” Berada di antara dilema itu selama bertahun-tahun bahkan sampai puluhan tahun. Sampai orang-orang terdekat meninggalkan kita, sampai mereka tidak hidup lagi.

Betapa lembutnya rasa sakit menempatkan kita pada dilema yang tidak bisa kita tentukan jawabannya setelah lama waktu berlalu sampai orang-orang tersebut tiada. Saat mereka masih ada, kehadiran mereka seperti pengingat akan hal-hal buruk dan baik yang membuat kita bersikap netral. Tetapi, ketika mereka sudah tidak ada, barulah kenangan buruk itu berlalu sedang yang tertinggal hanyalah yang baiknya saja. Itulah kebaikan orang lain yang selalu kita kenang dalam hidup: suatu kebajikan yang melegenda setelah mereka tiada. Sebab besar kemungkinan kita menceritakan kisah hidup yang baik itu kepada orang lain sehingga menjadi legenda, setidak-tidaknya bagi orang-orang yang meyakininya.

Kepahlawanan orang tua gugur oleh rasa sakit yang mereka berikan, karena akal sehat mendeteksi inkonsisteni sikap yang nyata. Tetapi, seiring berjalannya waktu anak yang menjadi dewasa sudah mulai belajar memaafkan kesalahan sesama. Bahkan menjadi sangat mahir memaafkan kesalahan terutama yang berhubungan dengan hal-hal kecil. Kesibukan positif juga banyak sehingga tidak ada lagi waktu untuk mengingat yang negatif: kenangan buruk telah dimaafkan dan hampir terlupakan jika tidak ada kejadian baru yang serupa. Setiap orang pasti akan bercerita hal-hal baik tentang orang tuanya kepada anak-anaknya yang kemudian tanpa menceritakan keburukan mereka. Dengan demikian, orang tua kita adalah legenda di waktu yang akan datang setidaknya bagi diri sendiri dan bagi anak-anak kita kelak.

Bukan hanya bangsa lain di dunia, bangsa kita juga punya legendanya sendiri. Ada daftar pahlawan yang dikatakan setidak-tidaknya merintis sesuatu yang disebut dengan kemerdekaan. Ada yang mempelopori gerakan perjuangan untuk mengusir entah berantah yang disebut sebagai penjajah. Suatu kemenangan besar telah terjadi seiring dengan isu kejatuhan besar para penjajah. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, tiba-tiba saja pejuanglah yang menjadi pemenangnya, pahlawan negeri yang mendapatkan kemerdekaan: gratis tanpa kekerasan. Tidak ada adu kekuatan, adu senjata atau konflik yang menyita waktu, tenaga dan materi. Semuanya didapatkan hanya karena keberuntungan di waktu dan tempat yang tepat.

Belakangan diketahui bahwa sesungguhnya merupakan peristiwa yang mustahil bila Indonesia pernah di jajah oleh bangsa asing. Sekalipun “katanya” ada bukti sejarah yang ditinggalkan oleh para penjajah. Namun semua orang tahu bahwa teknologi masa kini bisa meniru hal-hal yang dianggap telah berlalu. Pembuatan bahan bernuansa klasik dengan tambahan bahan kimia tertentu dipermukaannya dapat menambah kesan “tempo dulu.” Banyak teknologi industri yang bisa menampilkan berbagai bentuk dengan kesan dramatik seperti yang kita dapat semua saksikan di film-film dan karya seni masa kini. Artinya, bukti otentik yang kasat mata bisa ditiru oleh manusia sehingga dapat membuat yang tidak ada seolah-olah ada, yang belum terjadi seolah-olah sudah terjadi.

Logikanya tidak mungkin bangsa yang jauh di sana mengarungi samudera luas hanya untuk rempah-rempah yang notabena perannya dapat digantikan oleh garam. Mustahil bangsa yang penuh damai sejahtera, beradab dan mengenal hukum; melancong ke wilayah lain dan menindas orang-orang setempat. Tidak mungkin bangsa yang hidup aman & tenteram dengan bangsa lain di sekelilingnya malah menjajah bangsa entah berantah yang jauh di sana. Mustahil biaya perjalanan yang sangat mahal bisa ditutupi dengan hasil jajahan yang tidak seberapa. Adalah sesuatu yang mengherankan jika rakyat yang jumlahnya sangat banyak tidak berani dengan penjajah yang jumlahnya hanya beberapa atau puluhan orang saja. Mustahil orang yang “katanya” diktator, kejam dan bengis melepaskan buruannya begitu saja.

Masih banyak logika miring lainnya tentang penjajah entah berantah yang disampaikan dalam pelajaran sejarah masa lalu. Akan lebih banyak waktu yang dibutuhkan untuk membahas hal-hal tersebut. Pada dasarnya nusantara adalah negeri apa adanya yang berpotensi untuk menghasilkan banyak uang, itulah yang ada dalam pemikiran para penguasa lokal. Mereka ingin menguasainya dengan menciptakan uang dan barang dimana pemilik terbesar adalah mereka sendiri. Akibatnya, warga yang tidak tahu apa-apa merasa perlu menghormati dan menghargai mereka karena kekayaan, pengaruh dan jasa-jasa yang ditorehkan oleh mereka sendiri dan oleh nenek moyang mereka di masa lalu. Padahal semua yang mereka miliki adalah unsur kesengajaan karena ketidakadilan sistem yang mereka ciptakan sendiri.

Pemahaman yang hendak ditanamkan kapital adalah seolah-olah negeri ini telah dipindah-alihkan dari satu penguasa ke penguasa lain. Para kapital berkuasa karena merekalah pahlawannya atau setidak-tidaknya karena nenek moyang mereka yang berperan besar di dalamnya. Padahal semua cerita sejarah yang menggambarkan peran besar kapital hanyalah kepalsuan belaka. Sedangkan negeri ini dari ujung ke ujung tidak dikuasai oleh siapa pun melainkan semuanya berasal dari rakyak, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tidak ada yang lebih tinggi di antara masyarakat sebab semua manusia pada dasarnya sama satu dengan yang lainnya. Yang membedakannya adalah pekerjaan dan lamanyaa seseorang bekerja di dalam masyarakat.

Untuk apa kepahlawanan dari hasil contek mencontek? Semua yang dimiliki kapital adalah hasil klon dari teknologi yang dimiliki oleh negara lain yang lebih maju. Tidak ada yang perlu dibanggakan karena teknologi contekan yang berjalan lancar hingga sampai sukses besar. Semua teknologi yang dimiliki kapital diberikan oleh orang asing/ orang luar negeri secara gratis (tanpa dipungut biaya sepeserpun oleh orang asing/ orang luar negeri/ negara maju). Sedang pihak yang memberikannya tidak membanggakan diri atas hal tersebut, lantas mengapa orang yang diberi malah merasa lebih berhak menguasainya ketimbang masyarakat luas? Kapital hanyalah operator, mekanik dan pengedar dari teknologi biosintesis sedang pemiliknya adalah Indonesia alias seluruh masyarakat.

Untuk apa kepahlawanan jika hidup sama-sama digaji? Baik operator, mekanik, penjual, pengantar dan pembeli sama-sama memiliki hak terhadap hasil industri modern. Perannya setara dan tidak bisa dikosongkan dan juga tidak bisa digantikan oleh pihak lain. Tidak ada pihak tertentu yang bisa disebut sebagai pahlawan sebab masing-masing mendapatkan upah yang layak. Tentu saja upah yang dibayarkan setara dengan jerih lelah yang dilakukan yang semua aktivitas tersebut tercatat dalam sistem informasi yang terintegrasi dari pusat ke daerah. Tidak ada usaha yang terlalu besar karena tidak ada manusia yang kekuatannya lebih super dari yang lain. Satu-satunya hal penting yang dapat membedakan adalah jam kerja masing-masing orang.

Lupakan tentang sandiwara kapital yang jika dikritik tajam merupakan suatu usaha pembohongan masal yang telah terjadi dari zaman ke zaman. Tidak ada habisnya cerita-cerita tentang hal tersebut sebab imajinasi manusia berkembang dan karya seni baru pun terus berhamburan di antara publik. Sedang kenyataannya sekarang adalah instabilitas sistem yang tidak seimbang membuat yang kaya semakin kaya raya sedangkan yang miskin tetaplah miskin. Padahal ada kesetaraan antara produsen, distributor dan konsumen; dimana masing-masing perannya sejajar, tidak tergantikan dan tidak dapat dihilangkan dari suatu organisasi yang kompleks. Jika ada bagian-bagian yang terlalu padat kerja: buka lebih banyak lowongan kerja atau lakukan pekerjaan secara bergilir. Bila masih banyak yang tidak bekerja, rekrut semua orang dengan mempekerjakan mereka secara online dari rumah masing-masing.

Kesimpulan

Sejarah sandiwara yang katanya demi mempersatukan seluruh daerah tidak perlu dipersoalkan. Pemerintah kreatif menghasilkan banyak karya seni berupa perumpaan: menyusun kisahnya sendiri, membuat pahlawannya sendiri dan menciptakan musuhnya sendiri. Semua upaya tersebut tidak masalah bagi masyarakat asal ada keadilan sosial. Sebab produsen, distributor dan konsumen kedudukannya setara dalam sebuah sistem. Jika ada bagian yang masih belum berimbang: rekrut, latih dan pekerjakan lebih banyak keluarga; atau terapkan pekerjaan bergilir untuk semua keluarga. Sumber daya tersedia melimpah, lalu bagaimana caranya agar setiap orang mendapat jatah materi yang adil sekaligus memperkayanya secara emosional, intelektual dan spiritual? Masyarakat yang masih jauh, mendekatlah dengan sistem, mendaftar di organisasi kerja setempat. Akan tetapi, bagi yang terlalu jauh atau tidak mau jauh-jauh, akses sistem secara online menggunakan aplikasi smart sesuai bakat untuk mendapatkan curahan dana yang adil dari pusat. Tentu saja semua usaha tersebut tidak instan melainkan butuh waktu, proses dan perjuangan panjang. Dengan demikian, masing-masing manusia menjadi pahlawan bagi dirinya sendiri.

Salam, Pahlawannya dalam dunia seni
tidak selalu berhubungan
dengan dunia nyata.
Sebab tiap-tiap orang
punya pilihan sendiri-sendiri
karena ada damai sejahtera
yang berkeadilan dimana-mana
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.