Tidak Perlu Menang Menghadapi Ujian Orang Tua

Tidak Perlu Menang Menghadapi Ujian Orang Tua

Apa yang dipedulikan oleh orang-orang duniawi? Apa yang membuat senang, apa yang membuat gembira dan apa yang membuat bangga. Apalagi semuanya itu, kalau bukan untuk menang? Bisa jadi, keinginan untuk memenangkan sesuatu semata-mata untuk membuat hidup senang. Padahal, kenyataannya dalam hidup ini, momen untuk menang sangat langka, sebab cukup minim kompetisi yang diadakan oleh lembaga-lembaga yang bertempat di sekitar kita. Namun, di sisi lain selalu ada kemenangan di dalam hati yang kita buat sendiri menurut persepsi pribadi. Pada momen inilah kita sering diputarbalikkan sehingga ada kemungkinan terpeleset dalam jurang persepsi negatif kehidupan.

Ada lima esensi badani yang menjadi pengkode untuk menandakan kemenangan kita. Kelima esensi tersebut sering dikenal sebagai panca indera, yang terdiri dari mata, telinga, hidung, kulit dan lidah. Biasanya suatu kemenangan diikuti dengan hal-hal besar dan lebih bernilai menurut pemandangan kelima indera. Misalnya saja penilaian tersebut berdasarkan raut wajah, sorakan, gerakan, penghargaan, hadiah, makanan, minuman dan lain sebagainya. Kesemua itu berhubungan dengan nilai yang lebih dari yang lain, sesuatu yang menurut indera berada pada taraf paling bagus. Tanpa sadar, pola semacam ini terbawa-bawa dalam kehidupan kita terutama saat menilai hal-hal yang berhubungan dengan apa yang dimiliki/ didapat/ diperoleh/ dialami.

Hal-hal yang besar menurut panca indera, lebih dekat dengan kemenangan. Sehingga kita terbawa-bawa mengklaim bahwa segala yang besar-besar itu menandakan kemenangan yang membuat hidup jadi menyenangkan. Bila dalam hidup kita mengalami hal-hal besar, mendapatkan yang besar-besar dan memiliki sesuatu yang lebih dari yang lain: inilah yang menurut persepsi kita sebagai tanda kemenangan yang menyenangkan. Akibat pandangan yang sejalan tersebut, orang-orang yang lebih fokus kepada panca inderanya menginginkan kemewahan dan kemegahan hidup yang lebih dari yang lain. Dimana dengan memiliki semuanya itu, mereka bisa merasa menang, seolah-olah sangat menikmati kesenangannya.

Saat dalam hidup kita terjadi hal-hal besar dan lebih dari yang lain, kita menganggapnya sebagai kemenangan. Sekalipun tidak ada orang yang mengakui hal tersebut dan tidak ada pula pujian yang kita terima. Melainkan ini semacam penilaian yang menandakan betapa hebatnya kita saat itu. Sayangnya, mengidentikkan hal “yang besar” dan “yang lebih” sebagai tanda kemenangan membuat kita merasa terganggu saat orang lain yang mengalaminya. Bahkan ketika muncul gejolak di sekitar, seputar sorakan kepada kawan, suara yang keras dan berbagai hal yang dilebih-lebihkan. Kita menganggap bahwa di saat seperti itu, orang-orang tersebutlah pemenangnya. Sedangkan kita adalah pihak yang kalah karena hanya menonton dan mendiamkannya saja.

Rasanya hanya dengan menonton dan mendiamkan sesuatu, membuat kita seolah-olah menjadi pihak yang dikalahkan. Sedangkan mereka yang memiliki ekspresi yang bombastis dan terkesan dilebih-lebihkan, seperti orang yang selalu senang karena terus menang. Bila kita tidak mau menerima keadaan yang sedang terjadi, maka diri sendiri pun ikut-ikutan untuk melakukan/ memiliki/ mendapatkan/ mempraktekkan yang besar-besar sama seperti yang ditunjukkan orang lain bahkan lebih lagi. Padahal dengan meniru dan mempraktekkan hal-hal yang berlebihan tersebut, kita terkesan membohongi diri sendiri. Sikap yang ditempuh selama menjalani hidup terasa tidak alami dan kurang menenangkan hati selama hal-hal tersebut dipraktekkan.

Kebiasaan orang-orang duiniawi yang merasa menang, selalu diselimuti dengan hal-hal besar yang kesannya lebih dari yang lain. Keadaan ini bisa jadi sangat mengganggu kehidupan kita bila belum mampu mengatasi rasa dengki di dalam diri sendiri. Sebab diri sendiri pun bisa saja menirukan hal-hal yang bombastis tersebut sehingga dimata mereka, kita tampak sebagai pemenangnya. Akan tetapi, tindakan semacam ini sama saja dengan menipu diri sendiri, karena semua yang kita umbar keluar hanyalah omong kosong yang tidak ada artinya. Keadaan ini justru akan kembali merisaukan hati kita karena bersikap tidak jujur dalam berekspresi. Dimana semuanya itu dilakukan semata-mata demi mencari muka dan perhatian dari orang lain sekaligus menegaskan bahwa kitalah pemenangnya.

Di dalam keluarga, ada banyak gejolak kehidupan yang kita hadapi termasuk menyaksikan dengan panca indera hal-hal besar dan lebih baik dari sesama anggota keluarga lainnya. Keadaan ini bisa saja membuat kita jadi mendengki lalu turut mengekspresikan sikap yang juga tampak dibesar-besarkan. Padahal dengan melakukan hal yang demikian, membuat kita terkesan sombong dan sedikit tidak tahu diri. Sebab biar bagaimana pun, kita masihlah dalam posisi sebagai seorang anak: orang yang hidupnya dibiayai oleh orang tua. Gejolak yang berputar di dalam rumah tangga sebaiknya di diamkan saja bila hal tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan diri sendiri.

Bila kita terbawa emosi dengan hal-hal besar yang berlangsung di sekitar, perasaan/ hati menjadi sangat sensitif. Hal-hal kecil yang sebenarnya bisa dikesampingkan dan tidak mempengaruhi aktivitas, justru dianggap sebagai petaka. Sesuatu yang sesungguhnya bisa kita abaikan dan tenggelamkan dalam sibuknya aktivitas fokus kepada Tuhan (bedah), menyelesaikan pekerjaan, mempelajari hal-hal tertentu, melakukan kebaikan dan menekuni hobi; justru menjadi masalah yang mengganjal hati. Pada momen ini kita tidak sengaja terbawa-bawa dengan ekspresi bombastis sebelumnya yang dibuat-buat. Sehingga kesannya seolah-olah gangguan kecil yang sedang berlangsung di sekitar tampak sangat besar hingga membuat frustasi.

Saat masih menjadi seorang anak, lebih baik banyak-banyaklah mengalah. Terutama saat menghadapi ujian dari orang tua, tidak perlu membesarkan diri untuk menunjukkan kita hebat. Seorang anak tidak perlu memenangkan pencobaan tersebut dengan mengumbar kata-kata yang menunjukkan bahwa “kita bisa mengatasinya dengan mudah.” Berhenti memiliki hasrat untuk diakui perjuangannya selama menjalani tantangan tersebut. Sebab pada dasarnya, hasrat untuk diakui muncul ketika kita merasa bahwa kesenangan hati bisa diperoleh lewat pengakuan dari pihak lain. Sadari betullah bahwa untuk menjadi bahagia tidak perlu repot-repot seperti itu (mencari pengakuan). Melainkan dengan memuliakan Tuhan (bedah), menyelesaikan pekerjaan, menyelesaikan tugas belajar, melakukan kebajikan dan menekuni hobi pun, hati sudah bahagia adanya.

Kesimpulan

Rasa-rasanya cukuplah kita menang dalam memainkan game. Hindari mencari-cari kemenangan lain dalam kehidupan nyata. Lebih baik fokus memuliakan Tuhan di dalam hati sambil melakukan berbagai hal positif lainnya. Niscaya hati yang bersenang-senang selalu ada walau sedang berdiam diri.

Tidak mudah menghadapi ujian orang tua ketika hati seorang anak dipenuhi dengan kesombongan. Suatu kemenangan yang membanggakan ketika hari dipenuhi dengan kebesaran dan kelebihan yang bisa dinikmati oleh panca indera. Orang yang masih belum mampu membersihkan hati dari dengki, cenderung benci terhadap hal-hal yang terdengar dan terlihat hebat (dihebat-hebatkan). Hati yang sombong selalu ingin mengungguli mereka yang berlagak menang tersebut dengan bersikap membohongi diri/ melakukan tindakan yang dibuat-buat demi menunjukkan bahwa dirinya pun hebat adanya. Padahal dengan melakukan semuanya itu, rasa damai berlalu dan pikiran tidak bisa fokus lagi. Karena mudah memulai kebanggaan besar tetapi susah untuk dipertahankan. Lebih baik mempertahankan kerendahan hati yang penuh ikhlas dan tetap sabar menjalani hidup sambil terus aktif melakukan hal-hal positif. Niscaya hal-hal bombastis yang bergulir di sekitar kita akan menjadi masa lalu tanpa ingatan pahit.

Salam, Tantangan yang wajar
selalu bermanfaat.
Hadapi saja sambil tetap
positif menjalani hari!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.