7 Akibat Gaji Tinggi – Pendapatan Dewa, Pekerjaan Juga Dewa

Akibat Gaji Tinggi – Pendapatan Dewa, Pekerjaan Juga Dewa

Orang-orang di zaman muda-mudinya, mudah sekali menginginkan pendapatan yang selangit dengan jabatan sekota (mencakup kekuasaan di satu kota). Bagaimana tidak, setiap mata telah terpana dengan berbagai-bagai iklan konsumtif yang diumpamakan oleh berbagai media. Pesona yang manis, penuh gemerlapan dan warna-warni dunia bisa membius mata siapa saja yang sengaja/ tidak sengaja melihatnya. Keinginan akan ditembakkan oleh kedagingan, menembus ke awang-awang, melebihi batas-batas kewajaran dalam fantasi yang penuh warna-warni. Perasaan yang tidak terkendali, penuh emosional dan kurang pengalaman sangat tertarik dengan yang tingginya hebat. Mereka bahkan sampai tidak bisa lagi meluruskan pikiran saat menyaksikan hal-hal tersebut sehingga menimbulkan ekspresi yang meledak-ledak.

Tidak demikian bagi orang yang sudah dewasa dan sudah paham bagaimana dunia ini berjalan. Sebab apa yang kita lihat dan dengar, tidak selalu sesuai dengan kenyataan yang dihadapi. Beberapa aspek dalam kehidupan kita, syarat dengan masalah-masalah yang hanya di temukan di zaman dahulu. Hari yang terus berganti, berangsur-angsur menambah kebijaksanaan setiap orang sehingga tanggap dan selektif terhadap informasi. Ketika kisah di berbagai karya seni manampilkan efek kapitalisme yang begitu mencolok namun tidak murni kapital. Sebab ada satu prinsip yang sangat terkenal di zaman tersebut, bahwa “pelanggan/ konsumen adalah raja.”  Akan tetapi perumpamaan yang ditampilkan oleh beberapa sandiwara malah menunjukkan bahwa “pelanggan bukan siapa-siapa.”

Jadi, bisa dikatakan bahwa tidak ada satupun hasil karya seni yang benar-benar murni menggambarkan budaya kapital. Ada pencampuran yang dilakukan, dimana kehidupan yang diangkat bertemakan kapitalis namun budaya kerja yang ditunjukkan malah bersifat sosialis. Pada bagian inilah, kita perlu rinci menyaksikan suatu karya. Agar tidak lagi terjebak dalam kesesatan dan kerancuan yang ditampilkannya. Sebagai masyarakat yang cerdas, perlulah tiap-tiap orang membedakan antara prinsip kerja yang berlaku di zaman kapital dan prinsip kerja yang berlaku di zaman bersosial. Seperti yang kami gambarkan pada judul tulisan ini maka seperti itulah sesungguhnya para dewa-dewi saat menyelesaikan pekerjaannya.

Ciri khas yang sangat kentara di zaman ketika para kapital berkuasa adalah “tingginya fokus terhadap pelanggan.” Sebab budaya yang coba dikembangkan oleh para petinggi ekonomi adalah “konsumerisme = semakin banyak pembelian, semakin tinggi perputaran uang, semakin banyak pula keuntungan.” Akibatnya orang kaya membeli sampai terbuang-buang dan tak terpakai. Sedangkan yang miskin tidak memperoleh apa-apa karena keterbatasan uang. Jadi, objek kapital dalam studi “konsumen adalah segalanya,” yaitu orang dengan ekonomi menengah ke atas saja. Kalangan inilah yang mereka eksplorasi  agar mendapatkan kepuasan maksimal dari penjualan yang dilakukan. Padahal di sisi lain berkembang nuansa kebosanan dalam diri orang-orang tajir tersebut karena haus akan kepuasan dan mencoba hal-hal baru. Akibatnya, produk yang awalnya populer tersebut berangsur-angsur ditinggalkan orang yang memicu gelombang kerugian besar.

Bahaya gaji tinggi

Jika ada yang bertanya kepada kami, apakah anda mau memiliki gaji super besar? Kami akan menjawab, “tidak.” Sebab di balik pendapatan yang nilainya di atas rata-rata tersimpan padatnya pekerjaan yang super berat. Inilah tanggung jawab moral sejati, “orang yang menerima besar, pasti melakukan yang besar-besar pula.” Inilah tanggung jawab yang kurang bisa diterima oleh rasio kapital namun sangat masuk akal bagi seorang sosialis. Sebab para kapital mengincar yang tinggi-tinggi, maka biarkanlah mereka menunjukkan dan membuktikan perkara-perkara besar yang berhasil mereka selesaikan. Berikut beberapa dampak buruk dari kapitalisasi pendapatan terhadap pekerjaan dan kehidupan orang-orang yang bekerja sebagai dewa-dewi.

  1. Tunjukkan kebesaran pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus.

    Memiliki gaji super tinggi memang idaman semua pekerja. Namun harap diingatlah bahwa semakin tinggi pendapatan anda maka semakin banyak hal-hal luar biasa yang harus anda selesaikan. Silahkan para kapital menunjukkan apa-apa saja hal yang terus-menerus mereka lakukan untuk meningkatkan taraf hidup umat yang sangat banyak tersebut. Biarlah dengan pekerjaan tersebut, tindakan yang mereka hasilkan dinyatakan kepada publik, seorang jelata bisa menjadi kaya raya dalam sekejap mata karena usaha-usaha kapital untuk melakukan perbuatan yang pantas dibanggakan.

    Jangan sekedar bersandiwara, buktikan kekuatan super yang anda miliki dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan luar biasa. Soroti dengan kamera tajam agar semua orang bisa melihatnya sehingga pujian mengalir dan rasa bangga membesar di dalam hati. Aksi yang di atas rata-rata akan dianggap pantas sebagai kelompok pekerja yang pantas berpenghasilan tak terlampaui.

  2. Melayani dengan maksimal (banyak bekerja dan lama bekerja).

    Karena yang anda inginkan adalah uang yang banyak-banyak, maka bekerjalah sebanyak mungkin dari orang lain. Nafsu yang tinggi terhadap gaji besar otomatis membuat sekelompok orang melakukan tugasnya sampai sore bahkan sampai larut malam. Pekerja yang layak mendapatkan bayaraan besar pastilah menunjukkan hasil yang tidak tanggung-tanggung. Melainkan hasilnya maksimal dan mampu memuaskan seluruh masyarakat.

  3. Melayani dengan hormat.

    Mau gaji tinggi? Berarti anda harus mengelu-elukan pelanggan agar mereka tidak melarikan diri dari pusat pelayanan terpadu. Bagaimana caranya agar pelanggan tetap betah berlama-lama menunggdi lobi. Apakah dengan memberikan pelayanan yang ramah? Bila perlu ada penerima tamu yang menyapa orang-orang sehingga costomer masuk ke dalam dengan penuh kegembiraan. Lebih menghormati pelanggan dengan menyediakan ruang tunggu yang bisa dijadikan tempat untuk santai dengan banyak multimedia sebagai hiburan gratisl

  4. Bekerja dengan cepat.

    Tidak ada bangsawan yang mau menunggu terlalu lama hanya untuk mengurus kartu tanda izin ini-itu,. Para pelayan dengan gaji fantastis ini seharusnya sudah ada sebelum para pelanggan memenuhi ruang tunggu. Pelayanan yang diberikan bukan lagi seperti pada anak-anak yang boleh saja ditunda-tunda. Melainkan pelayanan tersebut perlu dipersingkat, bila perlu tahapan yang tidak dibutuhkan/ hal-hal yang sifatnya seremonial/ sesuatu yang sekedar embel-embel perlu ditiadakan. Agar protokol pelayanan terhadap semua pelanggan dapat dipersingkat

  5. Menjemput bola.

    Kok ngantor terus? Apa lebihmu dari orang yang bekerja di rumah seharian? Turun lapanganlah setiap hari… Gaji selangit tapi kerjanya hanya duduk-duduk santai seharian. Karena pendapatan anda melebihi siapa pun maka pekerjaan andapun haruslah luas sekali: mengunjungi pelanggan ke rumah-rumah setiap hari, menghargai mereka karena masyarakat adalah rajamu dan kamulah pelayan yang gajinya lebih tinggi dari raja.

    Dalam berbagai dunia, para pelanggan yang membutuhkan sesuatu, tidak usah susah-susah datangan ke kantor. Melainkan para pelayan akan masuk ke lapangan-lapangan dan mengunjungi rumah-rumah untuk membantu masyarakat dalam berbagai-bagai masalah yang dihadapinya. Bukankah semua perjuangan yang melelahkan ini setara dengan perolehan gaji super tinggi yang di dapatkan oleh seorang pelayan?

  6. Siap menghadapi keluhan pelanggan.

    Pelanggan cerewet, pelanggan ngoceh, pelanggan bawel dan pelanggan yang syarat omong kosong: tidak perlu ditegur. Sebab semua keluh-kesah ini telah satu paket bersama gaji dewa-dewi yang diterima. Anda ingin agar orang lain ikhlas melihat kelebihan harta benda anda, bahkan memutuskan untuk memberi sedikit pujian. Maka tunjukkanlah kepada orang-orang perjuangan anda dan penderitaan yang dialami selama bekerja melayani di baris depan. Tidak perlu mengeluh dan membalaskan dendam yang penuh amarah sebab semua rasa sakit mendalam yang dialami telah dibayar lunas oleh sistem, di awal atau akhir bulan.

  7. Penilaian kepuasan.

    Konsumen adalah segalanya, maka dari itu, pendapat konsumen tentang produk yang dihasilkan perlu dicari tahu. Agar dapat membidik sasaran produk yang benar-benar disukai pelanggan. Padahal selera manusia berbeda-beda dan cenderung pindah-pindah sehingga penilaian yang dilakukan mungkin tidak akurat akibat variasi keinginan dan motivasi pelanggan.

    Koreksi diri adalah bagian terpenting bagi para pelayan yang dibayar sangat mahal. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah uang negara yang dihambur-hamburkan membayar gaji para pelayan masyarakat berdampak atau tidak. Bila hasilnya positif meroket berarti mereka sudah melakukan yang terbaik. Akan tetapi, bila hasil penilaian masyarakat negatif maka diperlukan pengubahan strategi, reposisi jabatan dan peninjauan kembali terhadap topoksi yang dimiliki. Dan bila hasilnya biasa-biasa saja alias datar-datar terus: samakan saja gajinya dengan yang lain. Masakan dibayar super tinggi tetapi hasilnya sama saja dari tahun ke tahun? Semua penilaian yang berpusat kepada konsumen ditujukan agar sistem kerja bisa terus diperbaharui menjadi lebih memuaskan pelanggan yang berkunjung, dari waktu ke waktu.

  8. Dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Akal bulus kapitalis mengangkat slogan bahwa “pelanggan adalah raja.” Padahal dirinya sendiri lebih makmur berpenghasilan selangit dibandingkan rajanya. Mana ada pelayan yang lebih tinggi gajinya daripada pendapatan raja (orang yang dilayani)? Lebih baik diadilkan saja itu dan prinsip lebay semacam inipun bisa disisihkan.

Tanpa keadilan sosial, mau tidak mau pihak yang dilayani harus ditinggikan di antara para pelayan . Sebab teori klasik kapital sangat santer dibicarakan seputar hal ini tentang, “pelanggan adalah raja.” Apa yang anda inginkan: gaji yang super besar, telah ada di depan mata. Semakin besar penghasilanmu, semakin banyak pengorbanan yang anda butuhkan. Semakin bombastis pula tantangan yang dihadapi. Jika yang anda hadapi hanyalah masalah-masalah biasa, sama seperti yang dialami oleh seluruh rakyat pada umumnya, maka anda masih belum pantas memiliki penghasilan para dewa-dewi. Apa salahnya memberlakukan keadilan sosial dengan menciptakan sandiwara untuk semua orang? Daripada canggung sendiri karena pura-pura bekerja, lebih baik kepura-puraan itu diberlakukan kepada semua orang dalam bingkai keadilan sosial. Niscaya sepura-pura apapun pekerjaan anda, tidak ada orang yang akan protes terhadap hal tersebut.

Salam, Makin dewa penghasilan,
semakin besar perjuangan
dan makin besar pula
pengorbanan yang dilakukan
tiap-tiap hari (bukan
hanya kadang-kadang aja).
Itu baru adil namanya!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.