Racun Orang Tua Seperti Hantu

Racun Orang Tua Seperti Hantu

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “hubungan orang tua dengan anak seperti karibnya persahabatan.” Ada kedekatan yang saling memahami atau setidaknya berusaha mengetahui kehendak salah satu atau kedua belah pihak. Dimana di dalamnya ada rasa saling jujur satu sama lain tentang hal-hal yang dialami. Ada itikad positif untuk melakukan hal-hal baik menurut kemampuan masing-masing. Sungguh sebuah keluarga yang sangat harmonis ketika kasih sayang mengalir di dalam keluarga. Indahnya kebersamaan itu bagaikan lagu-lagu natal yang penuh kegirangan dan tak pernah berlalu sekalipun bulan desember telah berakhir. Baik orang tua maupun anak tidak bisa melupakan hari-hari penuh cinta dan akan menjadi kenangan indah ketika waktu memisahkan keduanya.

Akan tetapi, apa jadinya hidup ketika seorang anak menyadari bahwa sesungguhnya orang tuanya bukan sekedar memberi yang enak-enak saja? Bagaimana perasaan seorang anak jika memahami bahwa orang yang selama ini dipercayai bahkan dijunjung tinggi turut berperan dalam membuat dirinya menyimpang (sesat)? Pengetahuan ini terlalu dalam, tajam dan jauh ke depan: sebab kebanyakan anak memang tidak memahami hal tersebut. Kami sendiri pun dahulu masih sangat percaya dan sangat patuh kepada orang tua sampai kejadian keracunan yang begitu kuat menyakiti badan selama berhari-hari. Sesungguhnya kami tidak sesadar ini jika efeknya lemah, namun rasa sakitnya yang lama dan meluas seperti menghentakkan kami dari kebodohan semu.

Kami berpikir berulang-ulang dan merasa bahwa keadaan ini sesungguhnya sudah dialami sedari dulu-dulu. Akan tetapi, selalu ada alasan bahwa kesakitan dan keanehan yang timbul dipicu oleh penyakit ini-itu, kuman ini-itu, serangga ini-itu dan lain sebagainya. Tentunya bukan hanya kami yang mengalami keadaan tersebut, melainkan semua anak di seluruh negeri mungkin merasakan hal yang sama. Akan tetapi, saat mulai dewasa ada upaya dari orang tua untuk membuat agar anak menyadari keburukan yang selama ini dilakukannya. Entah apa tujuan dari semua konspirasi ini, mari berpikir positif dan menganggap hal tersebut sebagai upaya untuk mendewasakan manusia.

Materi kehidupan yang kita alami memang penuh dualisme. Kita tidak bisa memungkiri dualisme rasa yang dihadapi tanpa terkecuali. Sebab materi kehidupan yang sangat langka terjadi justru beresiko membuat mentalitas manusia amblas dan stres pun meradang. Dalam hidup ini, ada sukacita dan dukacita: maka kita perlu mencicipi keduanya untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Sekalipun demikian, sukacita yang mengiringi hari-hari kita tentu lebih banyak dari dukacita yang dirasakan. Mudah memahami indahnya kesenangan dan mudah bersikap positif di saat-saat gembira. Namun tetap positif di saat tantangan semacam penyakit yang menghadang: dapat diperoleh dari pengalaman latihan menghadapi kepahitan hidup yang berulang.

Bagaimana perasaan anda ketika “pertama kali” menyadari bahwa orang tua yang menyayangi ternyata turut pula menabur kontaminan dalam makanan atau minuman yang dikansumsi? Beruntunglah di gereja dan sekolah minggu, kita diajarkan bahwa dalam hidup ini ada cobaan yang perlu kita hadapi. Tidak selamanya kesenangan itu ada tetapi bukan berarti hati tidak bahagia dikala rasa sakit itu ada. Kenyataan memang memuakkan tetapi kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghindari dan mencegahnya; sebab sebagai anak, masih berada di bawah asuhan orang tua. Mau tidak mau tetap harus dijalani juga dan berusaha untuk membuang muka cemberut dan hati kesal menjalani hari yang selalu berpapasan dengan Ayah dan Ibu sendiri.

Ada beberapa tindakan anak yang merasa dirinya cerdas ketika menyadari perlakuan negatif Ayah-Bundanya. Mungkin anak-anak yang pintarnya gantung ini merasa setengah takut lalu berpikir untuk melarikan diri dari orang tuanya. Harap dipahami bahwa tindakan ini tidak selamanya menyelamatkan anda, sebab siapapun yang merawat kehidupan anda dalam pelarian pasti juga secara diam-diam meracunimu. Daripada disakiti oleh orang asing, lebih baik disakiti oleh keluarga sendiri agar proses pemulihan hubungan yang renggang tersebut bisa berlangsung sesegera mungkin. Sesungguhnya, tidak ada yang perlu terlalu dikhawatirkan karena tidak ada ceritanya orang tua membunuh anaknya sendiri. Dan lagipula kisah-kisah pembunuhan manusia tidak ada lagi zaman sekarang kecuali lewat karya seni yang bertebaran pada berbagai media.

Bagi seorang anak yang mengalami penderitaan, “jangan takut!” Sebab masalah anda tidak selamanya ada. Kebiasaan yang lazim di dalam masyarakat adalah pengalaman pertama yang berpotensi menimbulkan kejutan dini. Sesuatu yang mungkin saja bisa mengguncang sisi emosional ke arah yang negatif. Mungkin terjadi pelampiasan dan pelarian yang sesungguhnya bisa dicegah. Jika saja seorang anak tidak fokus pada derita yang dialaminya, maka dampak negatif dari apa yang dirasakannya bisa dihindari. Sebab fokus pada masalah menyita kebahagiaan dan seakan-akan memperberat penderitaan anda. Akan tetapi, cobalah untuk mulai belajar mengarahkan fokus bernyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati (bedah) agar tetap tenang di tengah badai.

Sulit mencari ketenangan hidup ketika kepahitan racun-racun menjalari badan. Akan tetapi, di dalam Tuhan selalu ada lumbung yang penuh damai dan kebahagiaan, tatkala jiwa terus bersorak meninggikan tahta kemuliaan-Nya. Jika rasa sakit yang dialami berada pada taraf ringan sampai menengah: tetap lakukan bedah dan/ atau sambil mengerjakan tugas-tugas (baik pekerjaan rumah maupun tugas sekolah). Namun pada taraf rasa sakit yang sangat berat: anda murni tidak bisa melakukan apa-apa. Percayakan tugas kepada orang lain dan mohon diri untuk istirahat, sampai sakitnya berlalu. Bahkan dalam masa-masa sukar ini pun, anda tidak bisa melakukan bedah. Yang anda butuhkan adalah tidur selama beberapa waktu dan berharap agar sakit yang dirasakan sudah hilang/ lebih ringan ketika nantinya anda bangun.

Satu hal yang tidak boleh terlupakan saat badan dimasuki penyusup kimiawi mikroskopik adalah meminum air putih, dua liter atau lebih (+8 sampai +10 gelas – tergantung ukuran gelas) perharinya. Semua toksin ini pada dasarnya sekedar membuat seorang anak merasa kerepotan dan perlu ekstra tenaga untuk melakukan hal-hal yang dibutuhhkannya. Masih banyak bentuk sabotase yang merepotkan lainnya yang mungkin anda rasakan saat hidup masih bergantung kepada ortu. Tidak ada rasa sakit yang terlalu lama bila mampu melupakan kepahitan di masa silam. Kesibukan positif yang digeluti merupakan alat penghiburan hati yang dapat menutupi masa lalu suram, seperti bedah, bekerja, belajar, membantu ortu, melakukan kebaikan, bermain game dan lain-lain. Tidak banyak yang bisa anda lakukan karena waktu anda belum tiba. Mau tidak mau hidup tidak lepas dari pengawasan orang tua. Pengintaian yang mungkin selalu dialami namun bisa saja tidak anda sadari.

Bila seorang anak terlalu memperdalam aksi manipulatif orang tuanya, besar kemungkinan hati dipenuhi dengan kebencian. Ada niat yang besar dalam hati untuk tidak mau lagi mendengarkan perkataan mereka. Hati yang penuh dendam, tidak bisa bebas dari rasa sakit: udah badan sakit, hatinya juga sakit maka lengkaplah sudah penderitaan anak tersebut. Pada keadaan inilah seorang putra/ putrI mengalami puncak sikap yang tak terkontrol. Sudut pandangnya menjadi aneh: penuh dengan penyesalan, sungut-sungut dan air mata. Beberapa yang memiliki keberanian untuk membalas dendam akan melakukannya secara diam-diam. Namun semua itu hanya menambah ketakutan dalam hati sehingga tidak bisa lagi membedakan mana yang penting dan tidak penting.

Biasanya, masalah yang ditimbulkan orang tua hanyalah hal-hal recehan yang tidak berdampak besar. Kecuali bila anak tersebut menyimpang jauh – tapi itu tidak mungkin, karena apalah daya seorang anak yang sedang ketakutan terhadap ortunya? Perlu belajar fokus kepada Tuhan dan memohon ampun agar ketenangan hatinya kembali. Dengan demikian, kembali mampu membedakan antara mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan jahat, mana yang penting dan tidak penting. Kembali mempercayai sikap orang tua dan tidak memikirkan bahkan tidak mau peduli tentang racun dan sabotase apa yang hendak dilakukan ortunya hari ini. Apapun itu hadapi saja, tanpa kehilangan sikap-sikap baik di dalam hati, seperti tetap beramah tamah dan mengerjakan pekerjaan rumah yang diembannya.

Racun dan berbagai sabotase yang dihadapi seorang putera/ puteri tidak mendatangkan malapetaka hebat yang tidak bisa ditanggungnya. Selama ada komunikasi yang baik dengan orang tua maka jalan keluarnya bisa dibicarakan. Akan tetapi, hubungan yang kurang langgeng dengan ortu hanya menyisakan ketakutan dan penderitaan panjang. Terlebih ketika menyaksikan berbagai karya seni yang bertebaran di media tentang kejahatan seorang Ayah atau Ibu kepada anaknya. Akibatnya, aktivitas penting yang harus ditekuni malah jadi terbengkalai. Kecemasan hati berujung stres yang beresiko membuat anak tersebut melukai dirinya sendiri atau melakukan kekerasan terhadap orang lain dan lingkungan sekitarnya. Seperti berhalusinasi melihat hantu lalu mulai menggila dengan alasan yang tidak jelas.

Lain halnya ketika anda menghadapi sikap orang tua yang memberi nasehat yang tidak benar dan tidak masuk akal. Pada posisi ini, anda dituntut untuk mencari tahu sendiri apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang tidak diperlukan. Perhatikan dan dengarkan nasehat mereka sebagai orang yang lebih dewasa dari anda. Namun yang dilaksanakan adalah apa yang benar dan apa yang masuk di akal. Lakukan kewaspadaan dini seperlunya namun tidak perlu sedih apalagi berputus asa ketika racun, sabotase dan manipulasi ortu berhasil menembus kewaspadaan anda. Yang terjadi biarlah terjadi, yang terpenting anda sudah berusaha untuk hati-hati, lebih dari itu pasrahkan hidup kepada Yang Maha Kuasa. Percayalah bahwa apa yang mereka lakukan sudah sesuai dengan rekomendasi firman Tuhan dan peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Biasanya tantangan hidup semacam ini hilang timbul dan semakin mengecil seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, giatlah belajar agar kelak dapat pekerjaan yang layak dan bisa hidup mandiri sehingga benar-benar bebas dari cengkraman Ayah dan Ibu anda.

Kesimpulan

Betapa syahdunya hati menyaksikan drama yang penuh tragedi dalam manisnya hubungan antara orang tua dan anak. Bukankah sangat menyentuh hati, saat mendengar lagu-lagu tentang ucapan terimakasih kepada seorang Ibu atau Ayah lewat radio dan media lainnya yang bertebaran? Akan tetapi, seorang anak bisa menyampahi semuanya itu, saat menyadari bahwa ada sedikit keburukan di antara kebaikan yang diberikan ortu. Penderitaan anak semakin parah ketika dirinya fokus untuk mengetahui dan mencegah hal-hal tersebut. Seperti kisah kehidupan yang sangat kelam, ketika hari-hari penuh ketakutan terhadap bayang-bayang pengawasan dari orang tua sendiri. Semua itu adalah hantu yeng menjadi nyata karena si anak yakin bahwa hal tersebut buruk. Jalani saja namun abaikan derita yang timbul, waspada seperlunya dan perhatikan nasehat Ayah dan Bundamu. Sibukkan hidup dengan hal-hal positif: jalani bedah-ria, tetap baik-ramah, selesaikan pekerjaan rumah, selesaikan tugas sekolah, tekuni hobi dan nikmati hidup bersama keluarga anda. Niscaya akan merasa seperti tidak terjadi apa-apa dalam keluarga anda: seolah semuanya baik-baik saja!

Salam, Setan pintar,
dia membuatmu
sadar agar fokus dengan
racun, sabotase dan manipulasi
yang dilakukan ortu
sehingga bencimu membara.
Lupakan masalah recehan itu
lalu fokus kepada
hal-hal positif.
Niscaya hidup penuh
damai dan tetap bahagia
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.