Menghitung Berkat Ganti Rasa Sakit

Sakit seperti tidak bisa dihindari oleh siapa pun di dunia ini. Tapi itu dulu, kala kehidupan terlalu muda untuk dijalani dan terlalu dini untuk dipahami. Dalam masa-masa ini, yang kita alami adalah kelihaian dalam menyembunyikan rasa sakit sehingga hal-hal buruk tidak terjadi. Ejekan yang melenting kuat berusaha kita sembunyikan dampaknya agar hal tersebut tidak sampai mempengaruhi sikap. Pengabaian yang kita rasakan menggetarkan hati memicu kesal, kita redam kuat-kuat agar efeknya tidak sampai mempengaruhi perkataan dan perbuatan kepada sesama. Begitulah umumnya seorang muda mengendalikan diri terhadap berbagai kepahitan yang melanda hari-harinya.

Seiring perkembangan usia, seorang muda sudah tidak muda lagi. Mulai timbul tanda-tanda kedewasaan secara fisik dari berbagai sisi kehidupan yang manusiawi. Mulai muncul cara-cara baru yang menginspirasi untuk menangani rasa sakit yang diterima dari lingkungan, entah itu secara langsung maupun secara tidak langsung. Dunia bisa menyakiti hati tetapi balas dendam bukanlah jalan yang melegakan hati. Hidup seolah terkatung-katung tetapi mencari pelarian tidak membuka jalan keluar baru. Masalah yang datang tidak bisa dipungkiri tetapi sikap yang amburadul tidak mendatangkan keuntungan. Cara terbaik untuk menanggulangi situasi adalah memanajemen pola pikir yang dimiliki.

Ada satu kebiasaan yang cukup mengesankan untuk dijalani ketika sedang genting. Bukan karena kebetulan kebiasaan ini terbentuk tetapi karena ada tersendiri lagu-lagu yang mengsugestikan hal tersebut. Dikatakan bahwa, “menghitung berkat sebagai sebuah cara untuk bersyukur kepada Tuhan.” Sampai di sini saja memang ada benarnya. Sebab dengan menghitung berkat yang pernah kita terima maka ada ingat-ingatan terhadap kasih karunia Tuhan yang melimpah dalam kehidupan sendiri di masa-masa sebelumnya . Ingat-ingatan yang mendatangkan kesyukuran pada dasarnya bisa membuat hati bahagia. Ada kesenangan setelah menyadari betapa Tuhan  mengasihi kita lewat berbagai-bagai karunia yang kita terima dalam keseharian yang dijalani.

Cukup sampai di situ hitung-hitungan berkat yang perlu anda galakkan agar muncullah/ untuk memancing rasa syukur terhadap masa-masa yang telah berlalu. Berhati-hatilah saat menggunakan aktivitas hitung-hitungan ini untuk meredakan rasa sakit yang dialami hati. Sebab jika dua hal ini dibanding-bandingkan, ada resiko besar yang bisa kemudian bermunculan karena politik perbandingan yang tidak terarah. Di satu sisi kehidupan: terus-menerus membandingkan kebaikan dan keburukan yang diterima bisa menimbulkan rasa sombong. Sebab anda merasa bahwa sudah lebih banyak hal-hal baik yang dicicipi, sedangkan yang buruknya cuma secuil. Ada rasa bangga di dalam hati yang memunculkan kesenangan sehingga rasa sakit yang dialami sebelumnya serasa lenyap entah kemana. Mengulang-ulang praktek ini justru meningkatkan ego-bangga dalam hati yang berakibat pada sikap yang mulai sok-sok-an kepada sesama.

Sisi lainnya ketika kebiasaan menghitung berkat diposisikan untuk menekan rasa sakit yang diderita. Adalah timbulnya rasa kecewa yang besar sebab setelah dihitung baik-baik: masih lebih banyak keburukan yang anda cicipi ketimbang kebaikan yang dienyam. Pada titik ini, aktivitas menghitung berkat yang biasanya mendatangkan sukacita malah membuat hati susah. Anda seperti mendapatkan mayoritas perlakuan negatif dari berbagai pihak sehingga mulailah timbul rasa kecewa yang mengesalkan hati. Selain itu, beberapa orang yang memaksakan diri untuk mendapatkan hitung-hitungan yang menguntungkannya, mulai menghitung hal-hal yang tidak masuk akal sebagai bagian dari berkat-berkat yang diterimanya.

Mereka yang terjebak dalam hitung-hitungan berkat yang tidak logis menempatkan dirinya seolah-olah sebagai Tuhan. Entah mereka menerawang dari mana penilaian terhadap anomali kehidupan yang terjadi di sekitarnya. Sepertinya mereka terlalu besar kepala menilai kemampuan yang dimilikinya. Suatu tafsir yang kege-eran (GR) mereka paksakan untuk dirinya yang terbatas. Pemahaman-pemahan kotor ini mungkin saja mereka dapatkan setelah menyaksikan/ menonton/ mendengarkan beberapa karya seni yang menyesatkan. Suatu penalaran yang tidak masuk akal didesaknya sebagai identitas dirinya hanya demi memenuhi kepuasan terhadap hitung-hitungan berkat dalam rangka mengimbangi rasa sakit.

Pemahaman miring semacam ini justru menempatkan dirinya di bawah kendali pihak lain. Sebab apa yang menurutnya sebagai sebuah keuntungan menjadi kelemahan terbesar karena hal tersebut dapat dikendalikan oleh orang lain. Artinya, tebakan identitas yang tidak logis tersebut justru menjadi batu sandungan bagi dirinya sendiri. Rasa senangnya yang sudah terlanjur menjadi kebanggaan, malah dijungkir balikkan oleh pengaruh dan kekuasaan orang lain. Kehidupan pun menjadi terpontang-panting karena dirinya sibuk mengejar sesuatu yang hampa dalam kendali tarik-ulur pihak tertentu. Rasa sakit yang ditimbulkan soal-soal kehidupan tidak dapat lagi ditanggulangi karena memercayai sesuatu yang tak pasti. Sikap pun berangsur-angsur beralih menjadi negatif melulu karena pelipur lara duniawi telah menguap.

Kesimpulan

Pada mulanya, seorang muda perlu pandai-pandai menyembunyikan kepahitan hidupnya agar sikapnya tetap stabil positif di tengah situasi yang labil. Seiring pesatnya perkembangan kedewasaan pikiran: sakit hati bisa diredam bahkan lenyap terlupakan dalam aktivitas memuliakan Tuhan, pola pikiran positif dan sibuk melakukan apa yang baik, benar dan adil dari waktu ke waktu. Kebiasaan menghitung berkat sebatas mensyukuri nikmatnya anugerah Allah merupakan sesuatu yang bagus untuk ditekuni. Akan tetapi, hindari hitung-hitungan ini untuk mengimbangi rasa sakit yang diderita. Sebab sangat beresiko mendorong peningkatan rasa bangga yang awalnya menyenangkan hati. Namun lama-kelamaan menimbulkan rasa kecewa yang mendalam dan memicu timbulnya penalaran identitas yang tidak masuk akal. Ujung-ujungnya, hitung-hitungan ini bisa membuat hidup semakin terasa pahit hingga meluapkan sikap yang syarat dengan kekerasan verbal dan fisik kepada diri sendiri, sesama serta lingkungan sekitar.

Salam, Bagus untuk mengingat
berkah yang pernah anda terima.
Tetapi jangan di saat hati tersakiti.
Melainkan obati sakitmu
dalam indahnya puji-pujian
kepada Allah, bersama
manisnya pikiran positif
sambil sibuk dengan
aktivitas yang
baik, benar dan adil
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.