Makna Keadilan Dalam Pancasila

Makna Keadilan Dalam Pancasila

Negara adalah lembaga matematika terbesar di bumi. Sebab hampir segala urusan di dalam bernegara perlu diperhitungkan dengan ilmu pasti. Uang adalah bukti paling konkrit dan paling dekat dengan kehidupan manusia yang menunjukkan angka-angka pasti seperti lazimnya yang dipelajari dalam matematika. Semua yang dilakukan ada ukurannya, sesuatu yang bisa dijelaskan dengan angka-angka. Tidak ada hal yang tidak berhubungan dengan angka sebab segala yang dilakukan dapat dideskripsikan dengan jelas yang diiringi dengan pemberian skor sampai jumlah tertentu. Ini bukanlah pekerjaan yang sukar tetapi menjadi sangat sulit dipahami oleh orang yang baru mengetahuinya.

Pemerintah sebagai pelaksana undang-undang memiliki tanggung jawab kerja yang jelas dan diawasi oleh dewan serta seluruh masyarakat Indonesia. Tanggung jawab yang merupakan bagian penting untuk membuat negara tetap berjalan seperti yang seharusnya. Berjalan bukan hanya untuk kepentingan pemerintah belaka melainkan untuk kemaslahatan orang banyak juga. Sekalipun pemerintah yang berperan besar untuk menyokong, melindungi dan memajukan kehidupan semua orang, mereka tidak akan pernah kehabisan energi. Sebab ada banyak orang yang telah direkrut untuk menjalankan berbagai misi kemanusiaan tersebut. Kebersamaan yang terhimpun dalam skala besar membuat pekerjaannya seringan kapas.

Negara sebagai sebuah sistem yang mempersatukan semua orang tetapi tidak untuk dipuja oleh semua umat. Sebab orang-orang yang bekerja dalam pemerintahan dan yang bekerja untuk profesi lain merupakan manusia yang setara haknya di hadapan hukum. Tidak ada profesi yang lebih baik atau yang lebih mulia, oleh karena itu tidak ada yang perlu disanjung lebih sebab semua pegawai sama dihadapan negara. Tersimpan keadilan sosial yang kental di dalam sistem karena Pancasila sebagai puncak hukum-hukum telah menyebutkannya secara gamblang. Tidak cukup sampai di situ saja, Dasar Negara telah secara jelas menuliskan tentang keadilan tersebut dalam dua butir/ dua ayat. Kalau keduanya ditotalkan maka bisa dikatakan bahwa sebanyak 40% dari dasar negara hanya membicarakan tentang keadilan.

Sila ke dua yang membahas tentang kemanusiaan, menyatakan bahwa tiap-tiap orang berhak diperlakukan sama oleh negara. Perlakuan sama ini berlaku dalam berbagai bidang yang ada hubungannya dengan sarana dan prasarana yang disediakan pemerintah. Pelayanan publik di semua kantor pemerintah memberikan kontribusi yang serupa kepada setiap warga yang datang. Bukan semua penduduk yang datang ke kantor pelayanan publik, melainkan hanya orang-orang yang berkepentingan. Tidak ada tebang pilih, orang yang pertama akan dilayani lebih dulu dan orang yang terakhir akan dilayani terakhir kalinya. Tidak ada orang yang diperlakukan secara khusus, kecuali di beberapa instansi yang khusus menangani kedaruratan atau perkara yang luar biasa lainnya.

Sila ke lima yang membahas tentang kehidupan bermasyarakat, menyatakan bahwa tiap-tiap masyarakat hidup dalam kesamaan. Ada banyak masyarakat, tetapi masyarakat yang dimaksudkan dalam bagian ini adalah yang terkecil yang disebut dengan keluarga. Kesetaraan antar keluarga tidak bisa dicapai dari segi fisik manusianya, sebab masing-masing orang berbeda jenis kelamin, umur, warna kulit dan lain sebagainya. Kesejajaran dalam setiap keluarga tidak mungkin dicapai dengan menyamakan pekerjaan, sebab setiap profesi memiliki tanggung jawab berbeda. Akan tetapi, keadilan sosial bisa dicapai dengan menjaga dan menyeimbangkan suplai materi yang dipercayakan negara kepada tiap-tiap keluarga.

Suplai materi atau yang dikenal sebagai sumber daya merupakan pokok masalah yang telah terjadi sejak ribuan tahun lalu. Ketika yang cerdas-kuat mendapatkan lebih banyak; ia akan menggunakan kekuatan yang dimilikinya untuk menekan sesamanya hingga merusak lingkungan. Saat orang cerdas semakin banyak, timbullah persaingan sampai perselisihan antar kelompok yang berlangsung dari tahun ke tahun bahkan sampai beberapa generasi. Bila Ibu Pertiwi bisa mengadilkan pembagian materi, siapa lagi yang dapat berbantah! Sayangnya, tidak ada harta negara yang bisa dibagi-bagi secara rinci. Di seantero negeri yang terhampar luas, pembagian materi beresiko menimbulkan cemburuan yang kecil sampai besar.

Tanah mustahil untuk dibagi sama persis. Sebab ada tanah pesisir, tanah datar, tanah pegunungan, tanah bukit dan lain sebagainya. Laut tidak bisa dibagi-bagi, sebab tidak ada patok yang bisa dipakukan di perairan. Demikian juga dengan udara, mustahil dibagi rata karena keberadaannya terus bergerak. Satu-satunya harta negara yang bisa dibagi rata dengan perincian yang sangat detail (akurasi tinggi) adalah “uang.” Sesuatu yang penyalurannya (dalam bentuk gaji) bisa dilakukan dengan mudah sebab memiliki bobot yang rendah alias mudah dibawa-bawa. Inilah harta ibu pertiwi yang jika diadilkan akan tercapailah kesetaraan dalam semua keluarga. Suatu cita-cita kebangsaan akan disempurnakan oleh pencapaian sila ke lima yang sebelum-sebelumnya belum disentuh oleh pemerintah (di masa lalu).

Pada awalnya, anggap saja bahwa hanya orang-orang yang tergabung dalam pemerintahanlah yang memiliki pekerjaan yang jelas. Katakan saja bahwa ini adalah masa permulaan dimana orang-orangnya menggiatkan pembangunan dimana-mana. Fokus penting mereka adalah sarana dan prasarana yang mendukung aktivititas masyarakat. Ini menjadi hari-hari yang cukup sibuk karena ada banyak proyek yang sedang dijalankan dimana-mana. Sementara instansi lainnya mengupayakan peningkatan pengetahuan dan wawasan masyarakat luas. Ketika sarana dan prasarana selesai dan masyarakat siap dengan pekerjaan yang tersistem dengan baik, maka semua orang akan menjadi bagian dari pemerintahan pada bidangnya masing-masing.

Setiap sistem kerja memiliki organisasi masing-masing yang di danai dan di topang oleh anggaran negara. Setiap profesi bertanggungjawab pada bidangnya untuk mengambil peran dalam menjalankan sistem bermasyarakat. Suatu organisasi kerja mengatur dan memberikan tugas kepada setiap pesertanya, yang tidak selalu sama dengan profesi yang lain. Sekalipun pekerjaan yang satu dan yang lain, berbeda tugas dan wilayahnya: semua mengabdi kepada negara. Pengabdian mereka bukanlah sesuatu hal yang bisa dipermainkan sebab lewat kewajiban tersebut, tiap-tiap karyawan berhak dapat pemasukan atau pendapatan di akhir masa tugas. Ada banyak nama, logo, semboyan dan bentuk perusahaan yang menampung setiap pekerja yang secara hierarki terikat dalam satu nadi, yakni negara itu sendiri.

Tidak mudah untuk mempersatukan dan menyelaraskan banyak oraganisasi yang berbeda. Seiring bertambahnya wawasan dan pengetahuan manusia tentang teknologi informasi. Dikembangkanlah sebuah jaringan terpadu yang bisa menampung semua informasi dalam berbagai bentuk (teks, gambar, suara, video dan lain-lain). Memiliki sistem informasi yang terintegrasi dari pusat ke daerah merupakan solusi ampuh untuk mencapai keselarasan antar profesi. Dengan informasi yang selalu terbarukan, aktivitas masing-masing pekerja dapat dipantau kapan pun dan dimana pun. Selama pekerja telah terdaftar dan menyelesaikan tugas-tugasnya, pendapatannya terjamin di akhir masa kerja.

Tidak ada perbedaan pendapatan yang signifikan antara pemimpin dan bawahan. Sebab pada dasarnya seorang bawahan juga akan mendapatkan gaji yang setara dengan pemimpin jika umurnya sudah setua mereka (pimpinan). Tidak ada gaji yang terlalu besar antar orang-orang dengan kinerja tinggi, sebab semuanya ada batasnya dan besarannya sekitar beberapa persen saja dengan pekerja biasa di umur yang sama. Masing-masing orang bertanggung jawab untuk dirinya sendiri dan untuk pekerjaannya. Sebab tidak ada yang suka berpangku tangan tanpa alasan dan tanpa tujuan. Budaya malas tidak ada dalam diri para pekerja karena mereka paham betul bahwa dengan bekerja hidup penuh bahagia dan umur pun lebih diperpanjang.

Pembagian uang dalam bentuk gaji yang dimonopoli oleh pemerintah dapat berlangsung dengan damai, tertib dan bebas korupsi. Dengan didukung oleh teknologi informasi yang terintegrasi dari pusat ke daerah, kebijakan yang berkeadilan berjalan dengan baik. Tidak ada lagi uang sogok, tidak ada uang yang bisa disembunyikan (uang di bawah meja), tidak ada sisa belanja yang bisa dipotong diam-diam dan lain sebagainya. Sebab setiap aktivitas keuangan di dalam masyarakat dapat dipantau dan ditinjau oleh siapa saja. Siapapun bisa melihat: dimana dia belanja, dimana dia berkunjung, dimana dia berjalan, namun tidak ada yang tahu “siapa dia?” sebab nama pemilik akun tersebut hanya disimbolkan dengan kode yang terdiri dari angka dan huruf.

Pemiliki rekening dengan jumlah tabungan yang besar akan bisa dipantau dan menjadi pusat perhatian. Mereka dengan aktivitas transaksi yang tinggi akan terpantau dan menjadi pusat perhatian. Tidak ada lagi yang tersembunyi, tidak ada uang tanpa asal-usul, tidak ada uang tanpa jejak dan tidak ada uang yang hilang dari peredaran. Apa yang diberikan sistem akan berputar di sekitar sistem (transaksi keuangan) dan akan kembali ke negara. Keluarga yang lebih muda akan mendapatkan jatah permulaan yang semakin lama semakin mantap. Sedangkan keluarga yang lebih tua telah sangat banyak mendapatkan jatah kemakmuran dari waktu-waktu sebelumnya.

Apa yang selalu ada, itu yang diperjualbelikan. Tidak ada yang namanya barang-barang langka, sebab setiap kelangkaan adalah milik museum negara. Hidup adalah proses yang bisa dilalui tanpa rebut-rebutan sebab hadiah besar telah disejajarkan untuk semua keluarga. Selain pendapatan, ada dua lagi hadiah besar yang telah disejajarkan oleh sistem, yaitu pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan yang dimaksud di sini adalah suatu wawasan penuh tentang kehidupan yang benar. Hal-hal yang menyangkut tentang kebutuhan manusia, info penting dalam situasi genting, penanganan masalah pribadi dan sosial serta informasi untuk menemukan kebahagiaan di dalam & di luar dirinya. Semuanya ini telah disediakan dalam sistem informasi yang terintegrasi secara nasional sehingga dapat diakses oleh siapa saja lewat jaringan internet menggunakan perangkat elektronik apa pun.

Kesetaraan kekuasaan antar keluarga berarti tidak ada satupun keluarga yang diperlakukan secara spesial. Sebab setiap orang yang terpilih sebagai pemimpin hanya menjalankan peraturan yang berlaku. Tidak ada tindakan pemimpin yang dilakukan berdasarkan inisiatif dari dirinya sendiri. Segala keputusan dan pilihan yang bersifat baru ditentukan melalui pengambilan suara yang terbuka (proses lambat) dan/ atau melalui undian (cepat). Pemimpin tidak memiliki pendapatan yang lebih besar dari bawahannya karena jabatannya tinggi. Satu-satunya yang membuat pemimpin memiliki gaji yang agak tinggi adalah karena umurnya lebih tua dari semua orang di kantor tersebut. Pemimpin memiliki kemampuan untuk menggunakan lebih banyak fasilitas semata-mata untuk mendukung mobilitas yang tinggi. Tentu saja semua itu, tidak ditujukan untuk urusan pribadi.

Kesimpulan

Menyamakan diri dengan orang lain adalah sifat bawaan manusia, itulah rasa di hati yang mengawali prinsip keadilan sosial. Hanya saja, tidak mungkin semuanya sama: ada hal-hal tertentu yang bisa disamakan tetapi ada pula hal-hal yang memang bagus kalau dibiarkan berbeda. Biasanya, ketidaksamaan ini bersifat recehan yang perlu dihadapi dengan sabar, penuh toleransi dan sebaiknya dijauhkan dari iri hati dan kebencian. Dalam sisi recehan inilah manusia hidup saling menguatkan satu sama lain. Akan tetapi, kesejajaran dalam hal-hal besar mutlak diperlukan. Sebab perbedaan besar beresiko memicu masalah yang lebih besar pula. Mulai dari pengetahuan umum yang dapat dimiliki oleh semua orang dan sistem penggajian yang aliran dananya dapat dipantau (transaksi keuangan transparan). Serta kekuasaan yang dijalankan berdasarkan/ oleh peraturan tanpa unsur kehendak pribadi pemimpin yang berkuasa. Itulah keadilan sosial yang hanya mencakup hal-hal besar.

Salam, Percaya atau tidak
ada esensi dalam diri
setiap orang
untuk menjadi sama
seperti orang lain
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.