10 Jebakan Informasi Yang Bisa Dialami Siapa Saja

Jebakan Informasi Yang Bisa Dialami Siapa Saja

Informasi adalah esensi yang dicari-cari oleh semua orang, baik itu dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Sebab pada dasarnya, panca indera manusia menerima berbagai info dari sekitarnya secara terus-menerus. Info tersebut kadang diolah oleh otak (analisis situasi) tetapi kadang juga hanya dibiarkan begitu saja (tidak perlu diolah, situasinya biasa saja). Sedang, pencarian yang dilakukan secara sengaja, terjadi seperti saat kita sedang membaca buku, koran, majalah, atau saat menonton televisi, menggunakan smartphone dan komputer jenis lainnya. Semua aktivitas ini bisa membuat hidup lebih baik, dalam arti dapat beranjak dari ketidaktahuan kepada wawasan untuk menyelesaikan berbagai masalah dan mencapai hal-hal positif seumur hidup.

Mempercayai semua info yang disimak tidak selalu berdampak positif. Sebab beberapa hal yang beredar di tengah kita syarat dengan rekayasa. Dalam pada itu, hal tersebut tidak dilakukan secara sengaja, dalam arti tidak langsung bertujuan untuk menyesatkan orang lain. Melainkan berbagai info yang tidak nyata tersebut hanya merupakan bagian dari hasil sandiwara kehidupan. Suatu usaha yang dilakukan untuk membuat manusia tetap aktif bekerja yang meramaikan bursa produktivitas hidup ke arah yang positif. Ini hanyalah upaya untuk membuat orang-orang tetap sibuk terutama mereka yang berprofesi sebagai seniman termasuk media pembawa kabar baru di tengah masyarakat.

Sayang sekali, beberapa orang yang tidak tahu-menahu tentang konspirasi manipulatif yang tersistem ini, menjadi sesat pikir. Kemudian ujung-ujungnya mempengaruhi sikapnya yang menjadi buruk, memicu konflik kecil sampai besar di dalam masyarakat. Untuk menghindari hal-hal negatif yang tidak diinginkan oleh siapa saja, anda perlu memahami berbagai pemberitaan yang terdengar lembut, halus dan kadang keras tersebut. Ketika merasa bahwa suatu berita malah mengarahkan sikap pada hal negatif, maka sejak saat itulah anda perlu mewaspadai apa yang sedang didengarkan. Bila perlu jangan terburu-buru mengambil keputusan/ mengambil tindakan saat merasa bahwa ada yang tidak beres. Berikut adalah beberapa jebakan info yang sering membuat segelintir orang terjebak dalam persepsi dan sikap yang salah.

  1. Tidak nyata (sekedar sandiwara kehidupan).

    Berita dan informasi yang diperbaharui tiap-tiap hari oleh setiap media memiliki muatan konflik. Tidak mungkin juga media terus mewartakan kesuksesan sistem menyejahterakan semua pihak. Nanti orang yang melihatnya berpikir bahwa sistem suka pamer dan menyombongkan hasil kerjanya. Lantas yang diwartakan adalah kesenjangan yang lumrah di tengah masyarakat. Padahal kesenjangan dan konflik ini tidak setiap hari terjadi, bahkan sekalikpun terjadi barang sekali saja. Lantas apa lagi yang mau diwartakan? Tanpa bersandiwara, tidak ada berita yang kita dengar. Terlebih ketika situasi di dalam masyarakat sangat kondusif, karena semua pihak memiliki Tuhan, suka memikirkan yang benar dan gemar melakukan yang baik. Termasuk berpegang dan taat pada peraturan yang adil.

  2. Menyesatkan pendengar.

    Berita kadang-kadang menyesatkan pemirsa karena beberapa tidak menyadari sisi palsunya. Sedang yang dimuat di dalamnya adalah peristiwa-peristiwa yang jahat dan tidak sesuai dengan norma kehidupan yang berlaku di dalam masyarakat. Sikap percaya saja pada info tersebut yang diikuti dengan respon menirukan hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Dapat menciptakan gesekan sosial yang berpotensi merugikan berbagai pihak,

  3. Pikiran kotor.

    Ketika kita menyimak berita yang bergulir, ternyata tokoh-tokoh tertentu yang cukup populer di dalam masyarakat telah terlibat kejahatan korup. Padahal semua pihak tahu bahwa orang tersebut sikapnya baik-baik saat berhubungan dengan warga. Keadaan ini jadi membuat beberapa orang menyangka bahwa orang tersebut ternyata munafik. Padahal belum tentu berita itu benar adanya.

    Sama seperti kasus yang menimpa seorang bawahan, sudah barang tentu kejadian tersebut melibatkan pemimpinnya. Sebab tidak mungkin dana ini-itu dicairkan tanpa persetujuan pemimpin. Lantas orang yang tidak paham sandiwara media, langsung bepikiran buruk terhadap atasan pelaku yang tertangkap. Sepatutnya, kebiasaan menghubung-hubungkan sesuatu tidak diterapkan dalam kasus ini: sebab kenyataan jelas tidak berhubungan dengan sandiwara.

  4. Menuduh tanpa dasar (fitnah).

    Kemampuan manusia menghubung-hubungakan peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain perlu dibatas-batasi. Misalnya saja, saat di suatu derah dikabarkan telah terjadi bencana alam. Lantas anda menghubungkan kejadian tersebut dengan keyakinan anda, yang menyebutkan bahwa: “bencana terjadi karena dosa besar yang dilakukan orang-orang di tempat tersebut. Lalu anda membaca berita bahwa daerah A dan B telah ditimpa banjir, tanah longsor dan gempa bumi. Lalu anda berpikir bahwa daerah A dan B telah melakukan dosa besar dihadapan Tuhan. Padahal berita itu hanya bohongan atau bencana tersebut terjadinya di masa lalu pada tanggal yang sama.

  5. Menyebarkan fitnah.

    Ada orang yang gemar menyebarkan keburukan sesamanya, mungkin karena dirinya sangat iri hati terhadap orang tersebut. Jadi, apa yang dihubung-hubungkannya tentang kejelekan seseorang diwartakan kepada orang lain. Mulai dari orang yang didekatnya, kaum keluarga dan masyarakat sekitar. Penalaran yang kurang akurat ini sering dibicarakannya saat berkumpul dengan orang lain, baik di tempat pertemuan, di taman, di warung dan lain-lain. Padahal dasar yang digunakannya adalah kebohongan media yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan realitas kehidupan.

  6. Mengejek/ menghina oknum tertentu.

    Mungkin saja si kawan ini punya dendam terhadap tokoh tertentu karena tokoh tersebut pernah mengabatkannya saat mereka berpapasan. Ditambah lagi besar iri hatinya kepada tokoh yang hidupnya lebih mewah dan tak terlampaui sawilayah. Keadaan ini menjadi api yang memanaskan hatinya sehingga menyindir tokoh tersebut dalam beberapa pembicaraan yang dihadirinya. Menghina mereka yang terlihat ramah namun busuk hatinya karena semua penampilan mereka hanyalah sesuatu yang dipaksakan. Padahal berita yang didengarnya tentang korupsi bawahan tokoh tersebut hanyalah sesuatu yang dibuat-buat media agar mereka tetap sibuk meliput dan menyuguhkan berita.

  7. Hasrat yang sangat kuat (munculnya keinginan yang harus dipenuhi tanpa pertimbangan yang matang).

    Media memang sangat menawan saat mendeskripsikan sesuatu. Mereka menyusun kata-kata yang menarik dan gambar-gambar yang menggiurkan ketika sedang mempromosikan sesuatu. Seolah produk tersebut melebihi produk apa pun, sesuatu yang berada di atas rata-rata. Terlebih lagi ketika harga yang dibandrol untuk produk itu sangatlah murah. Mereka akan menyihir para pemirsa di rumah agar sesuatu yang merupakan keinginan bisa menjadi kebutuhan yang dipaksakan dengan cantik. Orang yang terhipnotis dengan iklan tersebut akan membeli barang tersebut hari ini juga. Bahkan ketika dirinya tidak memiliki uang untuk membelinya, akan diusahakan sampai dapat, bila perlu meminjam dari rentenir.

  8. Perilaku tidak senonoh (salah, jahat, kejam).

    Melihat berita-berita yang dihadirkan di televisi dan media online membuat anda mengambil kesimpulan secara cepat bahwa orang-orang dalam sistem adalah bagian dari pelaku kejahatan. Sebab banyak sekali orang pemerintah yang terlibat kasus korup, mesum dan pelanggaran etika. Akibatnya, anda pun tidak lagi menghargai orang-orang tersebut saat berpapasan dengan mereka. Justru anda memaki, merendahkan dan mengejek mereka secara langsung. Terlebih ketika ada juga yang bekerja di koorporasi kaum keluarga anda. Anda seperti memperlakukan mereka dengan tidak benar dan tidak adil, Menganggap bahwa mereka pantas diperlakukan demikian karena kejahatan mereka. Padahal dasar penilaian yang digunakan tidak kuat yang hanya dikumpulkan dari hoax yang tersebar berkoar-koar.

  9. Meramal nasib seseorang.

    Anda menyaksikan film yang menampilkan bahwa orang yang suka bermewah-mewahan akan mengalami nasib sial. Lantas anda melihat bahwa media-media menampilkan kemewahan hidup para pemimpin dengan sangat luar biasa. Seolah mereka adalah raja yang selalu disambut dan dipuja-puji dimana-mana. Lantas anda mengubungkan berita palsu tersebut dengan jalan cerita film yang telah disaksikan sebelumnya. Merasa bahwa nasib para tokoh akan sama/ serupa dengan para pesinetron tersebut. Lalu anda pun menargetkan bahwa tokoh-tokoh tertentu di negeri akan segera mengalami nasib naas yang sama.

  10. Mengambil keputusan dan pilihan yang kurang baik.

    Jika anda terlalu percaya kepada media, besar kemungkinan bahwa kepercayaan anda terhadap sesama manusia menjadi turun drastis. Kabar bohong ini bisa memicu salah memutuskan dan salah memilih sikap. Anda perlu percaya kepada sesama agar tidak teledor menanggapi setiap tindakan orang lain. Percayalah bahwa tidak ada orang yang tidak benar, melainkan semuanya menjalankan tupoksinya dengan baik. Jika mereka memang hendak ingin mencapai sesuatu akan dilakukan dengan cara-cara yang adil sebab tidak ada manusia yang tidak taat dengan peraturan yang berlaku.

  11. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Percaya saja sama sistem karena keadilan sosial sudah diterapkan di seluruh negeri (cek dahulu, apa sudah ada undang-undang/ peraturannya)! Toh kalau orang-orangnya bersalah, mereka akan menanggung dosanya dihadapan Tuhan tanpa pengecualian sedikitpun. Berita yang disebarkan oleh media-media tidak bisa anda hubungkan dengan orang-orang di dunia nyata. Sebab kebanyakan media zaman sekarang hanya sekedar bersandiwara, cari-cari masalah agar ada topik yang bisa dibahas-bahas. Mereka adalah seniman yang sama seperti seniman lainnya, seperti para pembuat novel, cerpen, roman, drama dan lain-lain. “ Yang merangkai sebuah cerita dari yang tidak ada menjadi ada dan cenderung menciptakan dunianya sendiri.” Hindari menghubungkan secara ekstrim antara dunia nyata dan dunia maya. Daripada terjebak pada prasngka, fitnah, ejekan dan penghinaan serta ramalan-ramalan yang tidak jelas. Lebih baik pikirkan, ungkapkan dan lakukan hal-hal positif yang membuat orang lain bahagia luar-dalam.

Salam, Sandiwara tidak nyata
jangan hubungkan dengan
orang-orang di dunia nyata
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.