10 Manusia Diperbudak Oleh Hartanya

Manusia Diperbudak Oleh Hartanya

Zaman terbalik-balik ketika manusia kehilangan tujuan esensialnya di bumi tercinta. Karena kita mencintai bumi, lantas mau-mau saja memilikinya secara ekstrim. Apalah artinya cinta bila tidak saling memiliki? Sayangnya kepemilikan yang diekspresikan oleh beberapa orang terkesan berlebihan karena menguasai lebih banyak energi kapital dibandingkan dengan masyarakat pada umumnya. Akibatnya mereka memiliki jatah bumi yang juga lebih banyak dari yang lainnya. Keadaan ini memang sebetulnya menguntungkan secara kasat mata. Sebab jatah kekayaan yang banyak bisa dibawakan menjadi kesenangan yang beranekaragam, yang belum tentu dapat dinikmati oleh orang lain. Artinya, ada rasa bangga yang tinggi karena cintanya kepada bumi terbukti sangatlah besar.

Sayang sekali, cinta yang besar, bukan tanpa resiko. Tentulah mega loving ini diiringi juga dengan tanggung jawab yang besar pula. Ketika tanggung jawab kita lebih besar dari tanggung jawab orang lain, rasa bangganya juga lebih hebat dan sudah sepatutnya kerjanya juga lebih banyak. Kecintaannya dan kepemilikannya yang tak tertandingi berakibat fatal pada banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan demi kebaikan bersama. Keadaan ini mendorong orang nan kaya raya itu membutuhkan lebih banyak tenaga, mempekerjakan lebih banyak orang agar cintanya terurus dengan rapi dan baik. Tanpa tenaga ekstra ini, maka “buah cintanya dengan dunia” jadi terbengkalai, tak terurus, dicuri orang, rusak dan sebagainya.

Defenisi – Harta memperbudak manusia karena mempekerjakan seseorang dengan bayaran di bawah UMR/ UMK lokal. Dan harta juga memperbudak kemanusiaan ketika waktu yang dibutuhkan untuk mengurus kekayaan tersebut lebih banyak daripada waktu yang dibutuhkan untuk mengurus diri sendiri pada bidang pekerjaan yang serupa.

Alasan dan contoh manusia yang diperbudak oleh harta kekayaannya sendiri.

Manusia memperbudak manusia lainnya demi mengurus buah materi hasil cinta seseorang terhadap dunia. Mereka butuh lebih banyak tenaga untuk mengurus masalah pribadinya. Seyogianya jikalau orang normal yang mengalami keadaan/ kesulitan serupa, pasti akan di atasi oleh dirinya sendiri. Akan tetapi, karena yang mengalaminya adalah konglomerat kelas kakap maka dicarinyalah lebih banyak pekerja untuk mengurus kehidupan pribadinya. Keadaan ini sama saja dengan memperbudak orang lain, karena gaji yang diberikannya untuk membayar pekerja pribadi tersebut berada di bawah standar UMK/ UMR. Berikut akan kita bahas lebih lanjut tentang contoh-contoh manusia yang diperbudak oleh hartanya sendiri.

  1. Mengurus kebun dan taman bermain pangeran.

    Coba dulu suruh orang yang punya kebun dan taman bermain luas untuk mengurus miliknya sendiri: pasti tidak mampu kan! Capek mengurus lahan seluas itu, tetapi beruntungnya pangeran dapat jatah pekerja murah korban dari pilih kasih negara yang tidak adil. Para pekerja itu pun kasihan sekali, mau-mau saja dibayar rendah di bawah UMR/ UMK setempat. Mau bagaimana lagi, kalau tidak mau jadi budak pangeran, tidak bisa makan enak: jadi terpaksa walau sesak di jiwa.

  2. Unit pembersih rumah mewah raja.

    Bayangkan berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk membersihkan rumah mewah anda? Jangan-jangan waktu yang anda butuhkan untuk membersihkan material rumah lebih banyak daripada waktu yang dihabiskan untuk membersihkan diri sendiri (mandi). Bukankah ini bukti bahwa harta kita memperbudak kita karena lebih banyak waktu dihabiskan untuk mengurusnya daripada mengurus diri sendiri.

  3. Unit pembersih sempak raja.

    Sejujurnya pakaian bisa digunakan beberapa kali sebelum dicuci. Akan tetapi, berhubung karena “sang hyiang raja” adalah seorang pelahap. Sebentar saja baju itu dipakainya, baunya jadi apek menyebalkan. Mau tidak mau baju basi semacam ini perlu segera dicuci dan dicuci lagi. Bukankah aktivitas konsumsi yang berlebihan ini sangat merepotkan? Mentang-mentang sudah memperbudak orang lain, jadi suka-sukanya gonta-ganti pakaian. Coba dulu suruh dia untuk membersihkan pakaiannya sendiri: pasti tidak sanggup kan!

  4. Unit pembersih kendaraan raja.

    Kekayaan kita jelas merepotkan. Kalau bukan kita yang direpotkan maka kita akan cenderung merepotkan orang lain untuk mengurus kebersihan kendaraan yang dimiliki. Mengapa anda membeli kendaraan jika paham betul bahwa mengurus kebersihan kendaraan tersebut merepotkan. Jadinya anda terkesan merepotkan orang lain untuk membersihkan kendaraan pribadi selama berjam-jam. Coba habiskan waktu anda yang berharga untuk membersihkannya: pasti tidak mau kan! Makanya anda membebankan pembersihan tersebut kepada pekerja murah-meriah agar anda tidak tidak terkesan diperbudak oleh harta sendiri.

  5. Beli pakaian terus-menerus karena sebentar-sebentar rusak.

    Kebiasaan raja-raja yang melahap makanan begitu hebatnya, berefek pada keanehan metabolisme tubuhnya. Sari-sari makanan yang berlebihan akan diekskresi secara paksa ke daerah kulit. Akibatnya bakteri penyuka fermentasi menghasilkan bau badan yang tidak sedap. Di sisi lain, bakteri tersebut juga lama-kelamaan membuat pakaian menjadi lebih cepat rapuh dan lusuh. Akibatnya, membeli pakaian baru terus-menerus karena pakaian di badan cepat kali rusak. Manusia diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri karena barang-barang miliknya cepat sekali rusak karena kebiasaan buruk yang kurang disadari.

  6. Buat makanan lelahnya minta ampun tetapi tidak dimakan.

    Bagaimana mungkin manusia tidak diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri yang berujung sia-sia. Sebab ia memasak selama berjam-jam di dapur. Tetapi ternyata setelah semua disajikan di depan mata. Tidak selera untuk menikmatinya dan hanya memfotonya lalu membiarkannya dibuang begitu saja. Coba bayangkan betapa lelahnya menyajikan makanan sebanyak itu, tapi yang dimakan hanyalah satu-dua sendok saja. Menghabiskan waktu berjam-jam demi sesuatu yang sia-sia. Bukankah ini sangat melelahkan dan terkesan sebagai perbudakan yang sia-sia! Seperti dibuang tanpa memberi apa-apa.

  7. Lebih cepat waktu ke warung ketimbang waktu keluar-masuk kompleks rumah Ibu Suri.

    Saat anda ke warung sebelah rumah sebentar saja sudah beres. Tetapi tidak demikian saat anda hendak ke rumah para ibu suri memang megah, mewah dan luas. Rumah yang dikelilingi oleh pekarangan yang luas membuatnya jauh dari pinggir jalan besar. Perlu melalui simpang yang masuk ke dalam dan panjang. Perlu waktu sepuluh sampai lima belas menit jika anda hendak ingin jalan kaki dari pinggir jalan ke hunian raja tersebut. Bukankah ini sangat melalahkan jika dillakukan setiap saat? Seperti memperbudak diri sendiri saja karena jarak yang cukup jauh dari rumah induk menawan.

  8. Penjaga harta raja yang kerepotan 24 jam.

    Kekayaan besar perlu penjagaan yang juga besar. Seorang konglomerat cenderung menyuruh orang lain hanya demi mengamankakn asetnya selama 24 jam dalam tujuh hari. Coba kalau dirinya sendiri yang menjaga kekayaannya, pasti repot dan hal-hal penting lainnya dalam hidup menjaadi terabaikan. Siapa orang yang betah mematung jagain pintu depan rumah selama berhari-hari kalau bukan orang susah yang sedang kepepet. Coba suruh tuan raja yang melakukannya barang sehari saja, pasti dia ogah dan maki-maki orang lain karena disuruh ngerjain hal begituan.

  9. Mau panggil seseorang harus jalan mondar-mandir jauh sekali.

    Luasnya rumah datuk raja ampas membuat seseorang mudah sekali terabaikan. Dia ingin memanggil sesama anggota keluarganya untuk datang: mau dilembutkan, nggak kedengaran; mau dikeraskan malah memperburuk citra dirinya. Jika ingin berurusan dengan orang lain harus jalan jauh ke sana ke mari untuk datang ke kamar anggota keluarga yang dimaksud. Bukankah ini, sangat melelahkan dan merepotkan diri sendiri saja. Seolah kemewahan itulah yang memaksa memperbudak diri kita agar mau berlelah untuk hal-hal yang sesungguhnya bisa dipersingkat. Sebab kalau dirinya ada di rumah sederhana, berbicara seperti biasa pun sudah di dengar oleh orang lain di kamar berbeda.

  10. Total waktu mengurus harta lebih banyak daripada saat mengurus diri sendiri.

    Seandainya seluruh aset kita dibersihkan maka waktu yang kita habiskan untuk membersihkannya lebih banyak dibandingkan dengan saat kita membersihkan diri (mandi). Keadaan ini bisa membuat hidup tidak efisien dan tidak efektif karena beresiko mengganggu waktu kerja yang seharusnya. Akibatnya, kita menggaji orang dengan upah rendah untuk mengurus sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab pribadi. Bukankan dengan demikian kita sudah diperbudak oleh kepemilikan harta berlimpah. Dan beberapa yang lainnya menggeser beban hidupnya yang lebay dengan memperbudak orang lain.

  11. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Hidup sederhana lebih tenang dan santai untuk dijalani. Sedangkan hidup bak konglomerat kelas kakap lama-kelamaan merepotkan diri sendiri dan juga orang lain di sekitar kita. Orang kaya pelit mengundang orang lain untuk mengurus asetnya lalu menggajinya di bawah UMR/ UMK setempat. Orang itu sendiri enggan kalau disuruh untuk melakukan hal yang sama karena tidak mau memboroskan waktunya dan merasa gengsi. Alasan-alasan tersebut menunjukkan bahwa sesungguhnya kita telah diperbudak oleh kekayaan sendiri. Coba kalau kekayaan kita diuangkan dan dibelanjakan untuk keperluan sederhana saja. Pastilah hidup lebih terasa minimalis dan tidak terkesan memperbudak orang lain. Kesan minimalis tersebut berarti kita bisa melakukannya sendiri dan kita bisa mengurus diri sendiri. Masakan urusan yang seharusnya bersifat pribadi pun kita serahkan kepada orang lain? Oleh karena itu, uangkan atau abaikan kekayaan yang terkesan merepotkan agar hari-hari menjadi lancar dan kita bisa mengurus diri sendiri.

Salam, Kekayaan yang berlebihan
bisa merepotkan anda.
Lebiih baik simpan
di lembaga keuangan
maka nilainya
akan berkembang
seiring waktu berlalu
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.