7 Alasan Tidak Ada Sandiwara Dalam Kehidupan Nyata

Alasan Tidak Ada Sandiwara Dalam Kehidupan NyataDunia kita tercampur-campur dalam berbagai bentuk yang mirip-mirip satu sama lain namun sesungguhnya terdapat esensi yang sangat berbeda. Pada awalnya, tidak ada masalah tentang hal-hal tersebut namun saat kita melompati batas, mulailah hati merasa risih. Ada rasa bersalah yang tersembunyi namun tidak terasa salah di awal-awal. Hanya perjalanan waktulah yang akan menjawab ketimpangan di dalam hati. Yang mana saat itu kita diperkenalkan untuk menemukan keterhubungan peristiwa yang serupa dan tidak sama dalam penerapannya. Seolah hal-hal tersebut merupakan gambaran dari skema kehidupan yang sebaiknya diikuti. Sangat masuk akal dan tentu saja pantas untuk dikembangkan pada berbagai bidang.

Karya seni adalah dunia multi-landscape yang berisi tentang berbagai cerita. Sebagian memiliki latar belakang yang memang mengkisahkan tentang dunia nyata. Dan sebagiannya lagi memiliki latar belakang yang jauh beda dengan keadaan hidup kita di dunia nyata. Saat berbicara tentang dunia lain yang serupa namun tidak sama dengan dunia tempat hidup kita: beberapa karya seni menunjukkan pencampuran halus yang hampir tidak bisa dibedakan dengan keadaan hidup manusia di zaman sekarang. Akibatnya, beberapa orang mulai berpikiran lengah yang membawa mereka dalam penerapan yang salah karena nilai-nilai negatif karya seni menginterupsi kehidupan di dunia nyata tanpa batas.

Sandiwara yang dilakukan oleh para artis memang penuh intrik. Sekalipun cara mereka salah tetapi tujuan mereka baik, yaitu untuk mendidik masyarakat tentang nilai-nilai positif kehidupan. Hanya saja terkadang beberapa orang terbawa suasana dengan praktek-praktek pelanggaran yang terjadi. Akibatnya pelanggaran yang sama, samar-samar dilakukan di dunia nyata. Mereka berpikir bahwa apa yang dilakukan oleh para artis layar kaca bisa juga dilakonkan secara sandiwara abal-abal di dunia nyata. Padahal para artis yang melakunkan hal tersebut di dunia satu dan dua dimensi sudah dimanipulasi dengan sentuhan teknologi grafis tingkat tinggi tanpa mempengaruhi kepribadian dan identitas mereka di dunia nyata.

Mari sedikit perhatikan detail dari wajah para artis di dunia seni. Jika anda memperhatikan dengan seksama akan menemukan bahwa mereka memiliki wajah dan penampilan yang selalu berubah di sepanjang waktu saat membintangi sebuah cerita. Perbedaan yang kami maksud ini memang tidak banyak namun bila diamati dengan lebih seksama ada sedikit perbedaan antara adegan yang satu dengan yang lain. Ini adalah hasil dari sentuhan teknologi mutakhir yang bisa menampilkan seseorang sangat jauh berbeda dari dirinya yang asli. Artinya, jika anda bertemu dengan orang dengan nama asli yang sama di dunia nyata, besar kemungkinan anda tidak akan menyangka perbedaan wajah keduanya. Jelas sangat beda antara wajah yang asli dengan wajah yang ditampilkan dalam akting di dunia cermin, terlebih lagi sikap dan pemikirannya. Ini adalah bentuk perlindungan diri untuk para aktris dan aktor itu sendiri agar kehidupan di dunia akting tidak dibawa-bawa dalam dunia nyata.

Dunia kerja adalah tempat bertani tetapi setelah pulang ke rumah tangga masing-masing, perlengkapan kerja mulai dilepas dan apa yang dilakukan di tempat kerja tidaklah dilakukan di dalam kesehariannya. Akan tetapi di dalam masyarakat, ada orang-orang tertentu yang terbawa suasana dengan apa yang baru saja disaksikannya. Sepertinya orang tersebut bertindak tanpa pikir panjang, sehingga sandiwara di televisi terbawa-bawa dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini mungkin awalnya tidak begitu mengganggu orang di sekitarnya. Akan tetapi, ketika perilaku jahat pun turut dijadikan bahan peragaan di dunia nyata, keadaan inilah yang sudah mulai tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Sebab keadaan ini bisa jadi ditiru orang lain yang ikut-ikutan pura-pura melakukan kejahatan namun ujung-ujungnya berbuat jahat juga karena terdorong oleh khilaf akal sehat.

Alasan tidak ada sandiwara di dunia nyata.

Jika para artis/ aktor saja tidak membawakan sifat-sifat aneh dalam karyanya ke dalam dunia nyata, lantas mengapa orang-orang yang hanya masyarakat biasa mau juga  ikut-ikutan bersandiwara dalam hidupnya yang singkat? Mungkin sandiwara ini sah-sah saja jika dilakukan dengan diri sendiri tanpa disaksikan oleh orang lain. Atau bisa juga disaksikan oleh orang-orang yang sudah tahu/ menyadari bahwa yang terjadi adalah kepura-puraan belaka. Lain halnya dengan perilaku yang jelas-jelas jahat, masakan pula bisa diperagakan dalam kehidupan nyata? Sudah cukup peragaan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang profesional dalam dunia cermin. Jika hendak menguji orang lain seputar pengaruh jahat kehidupan, arahkan orang tersebut untuk menyaksikan televisi, memainkan game pvp, menggunakan smartphone dan lain-lain.

  1. Akting adalah profesi dan bukan untuk semua orang.

    Berakting lebih tepatnya dilakukan di depan kamera. Tidak ada orang yang berakting tanpa menggunakan kamera. Orang yang berpura-pura tanpa kamera lebih positifnya dianggap sebagai seorang yang sedang bermain-main. Aktivitas ini sebenarnya merupakan suatu profesi yang sama dengan profesi lainnya di dalam masyarakat. Sesuatu yang hanya dilakukan di tempat kerja bersama dengan orang lain pada jam-jam yang telah ditentukan. Jadi jelas bahwa aktivitas tersebut tidak bisa dilakukan oleh semua orang, kecuali oleh orang-orang yang memang dilatih bekerja untuk itu.

  2. Akting itu bohong yang beresiko berseberangan dengan kebenaran.

    Orang yang berakting sangat hati-hati. Sesungguhnya konflik yang terekam oleh kamera merupakan gabungan dari beberapa file dan sentuhan teknologi. Mereka bisa saja menunjuk-nunjuk dan memukul orang lain dalam perspektif penonton. Namun jika dilihat dibalik layar, sesungguhnya kebanyakan kejahatan yang mereka lakukan bersifat akting tunggal. Pemirsa di rumah melihat bahwa mereka berkata kasar dan berteriak di depan artis lain, padahal bila dilirik di belakang kamera aktivitas tersebut hanya dilakukan sendiri dan tidak ada siapa-siapa dihadapannya selain kamera.

    Lantas ada orang awam yang sengaja pura-pura marah kepada temannya lalu berpikir bahwa itu hanyalah akting, padahal ada orang lain di sekitarnya. Ini jelas-jelas salah sebab bisa saja dari antara orang yang mendengar hal tersebut menjadi terganggu dan tersinggung. Contohnya lagi adalah ada seorang yang sengaja berakting demi mengejek orang lain yang menganggap bahwa ia tidak serius melakukan hal tersebut cuma main-main. Padahal ada orang di sekitarnya yang menganggap hal tersebut serius dan merasa tersinggung. Sedang para artis saling meledek dalam televisi, tidak ada yang tersinggung sebab dia melakukannya di depan kamera, bukan di sekitar atau di depan orang lain. Sekalipun ada orang lain di sekitarnya, mereka sudah tahu dia akan melakukan/ berkata apa sehingga tidak ada yang terkejut (tersinggung & terganggu) dengan akting negatif tersebut karena dilakukan sangat hati-hati (aktivitas di balik layar).

  3. Merugikan orang lain.

    Misalnya saja, ada suatu produk lalu anda berkata dengan lantang bahwa produk tersebut unggulan dan sangat ampuh melakukan apa yang harus dilakukannya: menghasilkan banyak manfaat bagi pengguna. Padahal kenyataannya produk tersebut tidak bagus dan tidak bekerja sesuai dengan apa yang disampaikannya. Tetapi orang lain yang mendengar perkataannya membeli dan mencobanya namun sangat kecewa karena hal tersebut. Kepura-puraan tentang suatu produk di dunia nyata jelas-jelas berpotensi besar merugikan dan mempersalahkan pelaku penipuan tersebut.

    Lantas hal ini dianggap tidak salah karena media-media juga melakukan hal sama. Padahal status media sudah jelas sebagai komponen teknologi yang menguji manusia. Sedang anda, siapa yang menetapkan anda sebagai penguji yang berpotensi merugikan orang lain?

  4. Orang lain bisa termanipulasi.

    Apa yang kita lakukan beresiko menyesatkan orang lain. Pemahaman manusia yang awalnya lurus tentang sesuatu bisa menjadi bengkok bahkan memburuk. Akting yang berpura-pura bisa membuat seseorang melakukan dan mengatakan apa yang seharusnya tidak boleh dilakukan/ dikatakan. Sedang orang lain yang menyaksikan hal tersebut dapat disesatkan sebagian atau sepenuhnya dengan kisah-kisah bohong yang diumbar. Pemahamannya tentang kehidupan dapat terselewengkan karena kata-kata orang lain yang membingungkannya.

    Lalu bagaimana dengan para politikus yang berbohong di layar kaca tentang banyak hal? Memang demikianlah pekerjaan mereka dan bisa dikatakan bahwa orang-orang yang menontonnya menyadari hal tersebut sehingga tidak terseret arus negatifnya. Lagi pula manipulasi yang mereka lakukan tidak berefek terhadap lawannya secara pribadi. Saat pulang kerja, keduanya bersalaman dan pulang dengan sukacita ke rumah masing-masing (kisah di balik layar). Sekalipun perspektif penonton yang mengikuti kisah tersebut sangat menghancurkan lawan mainnya.

  5. Sudah ada artis yang bersandiwara menguji seseorang, tidak perlu lagi melakukan hal yang sama.

    Untuk apa lagi anda berakting menguji kehidupan orang lain? Bukankah itu sudah dilakukan oleh media-media? Seharusnya kita sebagai masyarakat dengan profesi berbeda-beda, tidak lagi mengadakan praktek yang keartis-artisan karena merupakan suatu kemubaziran. Apakah ini termasuk juga dalam praktek keserakahan profesi yang menyerobot semuanya demi kepentingan pribadi yang cenderung mengarah kepada hal-hal negatif. Jadi, tugas artis serahkan kepada artis karena memang mereka sudah dipersiapkan untuk menguji sekaligus menghibur pemirsa/ penonton di rumah.

  6. Memudarkan kepercayaan orang terhadap anda.

    Orang yang baru-baru pertama berbohong masih sangat dipercayai oleh orang lain. Mereka yang menyaksikan percaya sekali dengan sikap dan keputusannya. Akan tetapi, saat orang lain menyadari sandiwara seseorang, mereka jadi waspada terhadap orang tersebut. Kehati-hatian di sini bukan karena ada rasa permusuhan tetapi terkait karena fakta-fakta bohong yang ditemukan orang tersebut sebelum-sebelumnya. Keadaan ini bisa menimbulkan rasa kurang nyaman saat menjalani hidup dalam hari-hari biasa. Masa depan semakin suram karena banyaknya kebohongan di masa lalu yang sudah dapat diidentifikasi orang lain.

    Kepercayaan orang kepada seorang artis tidak pudar di dunia nyata. Wajah, penampilan dan kepribadian yang diperankannya dalam suatu kisah tidak akan ditemukan di dunia nyata. Kepercayaan orang lain terhadap mereka tetap terjaga baik karena berlaku bersih kepada sesama di dunia nyata. Ketika seorang penonton/ pemirsa berjumpa secara tidak sengaja kepada seorang artis, penonton tersebut pasti tidak akan mengenalinya sebagai artis di film/ sinetron ini atau itu sebab banyak ketidaksamaan yang membuatnya tidak menyadari kehadiran idolanya itu.

  7. Kepura-puraan merusak pikiran.

    Bagaimana mungkin anda bisa pura-pura melakukan kejahatan kepada orang lain padahal hati anda menyuguhkan kebenaran. Di sinilah terjadi sebuah konflik dalam diri seseorang karena hati bisa merasakan perubahan negatif yang dialami orang lain setelah kebohongan yang diumbarnya. Sekalipun keburukan itu pura-pura terjadi namun dirinya sudah mengatakan yang kotor-kotor demi sesuatu yang tidak ada artinya. Apakah kata-kata kotor yang menyinggung hati siapa saja bisa membuat hidup tenang? Tentu tidak, sebab sekecil apa pun keburukan yang kita lemparkan akan kembali kepada kita memperburuk rasa damai di hati.

    Lalu bagaimana dengan para artis yang memperburuk kehidupan orang lain? Siapa bilang artis itu membuat buruk rekan aktingnya, sekalipun dimarah-marahi gitu, rekannya malah senang dan senyum-senyum saja (kisah di balik layar). Sebab justru dia beroleh manfaat dari lawan mainnya yang membuat penghasilan mereka yang memukau bisa cair di akhir bulan.

  8. Dan lain sebagainya, silahkan cari sendiri.

Kenapa anda bersandiwara? Apakah anda adalah artis? Berhati-hatilah memilah-milah kehidupan agar keputusan yang diambil tidak salah kaprah. Karena anda melihat di media bahwa artis melakukan kejahatan namun mereka tetap dianggap benar karena hanya berpura-pura. Lantas anda pun berpura-pura menjalani hidup dan diam-diam memanipulasi seseorang. Lalu membenarkan diri atas tindakan tersebut dengan mengatakan “itu hanya sandiwara!” Padahal anda baru saja menipu seseorang dengan lagak serius semata-mata untuk menjebaknya. Harap perhatikan baik-baik, apa yang anda lakukan bukan sekedar sandiwara melainkan jelas-jelas sebagai suatu upaya penipuan. Sebab yang namanya sandiwara hanya dilakukan di depan kamera dan disadari oleh setiap orang yang melihatnya.

Sandiwara murni pekerjaan artis di depan kamera; cuma media yang bersandiwara; sandiwara ada ranahnya. Tidak ada sandiwara dalam kehidupan sehari-hari tetapi orang yang gemar bersandiwara tanpa kamera, tanpa skenario dan tanpa sutradara: melakukan semuanya itu atas kehendak sendiri yang merupakan penipuan sebagai bagian dari pelanggaran berat demi mencapai tujuan-tujuannya yang negatif. Cukuplah media yang terus-menerus menguji setiap kita yang ingin menikmati keindahannya. Jika ada hal-hal baik yang anda nikmati di dunia seni, lakukanlah itu juga di dunia nyata. Akan tetapi, jika terdapat hal-hal tidak benar dari yang anda saksikan di dunia seni, berhenti melakukan ketidakbenaran tersebut di dunia nyata.

Kesimpulan

Sebelumnya anda perlu paham bahwa ada tiga esensi praktek sandiwara di dunia cermin. Pertama ada sandiwara kejahatan yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran standar. Kedua, ada sandiwara benar yang pada dasarnya sesuai dengan nilai-nilai positif di dalam masyarakat. Sedang yang ketiga adalah sandiwara yang tidak benar dan juga tidak jahat atau praktek yang tidak masuk ranah positif dan bukan pula dalam ranah negatif. Praktek pura-pura yang sifatnya netral semacam ini tentu saja masih bisa dibawakan dalam kehidupan sehari-hari asalkan memerhatikan momen dan kesanggupan masing-masing. Hal-hal netral yang ditimbulkan oleh media bisa membawa variasi dalam kehidupan pemirsa. Sedangkan hal-hal jahat dan buruk yang ditampilkan media, sama-sekali tidap perlu kita praktekkan di dunia nyata. Jika ingin mencobai kehidupan seseorang tentang responnya terhadap pengaruh buruk dunia: lebih baik arahkan untuk menikmati hiburan yang menguji lewat televisi, smartphone, laptop dan perangkat hi-tech lainnya.

Salam, Praktek bersandiwara
selalu bertujuan membangun kehidupan
ke arah yang lebih baik.
Lantas, bila anda berpura-pura
melakukan kejahatan
bukankah itu malah
berpotensi menyebabkan
luka dalam hati
sendiri maupun orang lain
yang biar bagaimana pun
itu bisa mempersalahkan anda
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.