Perbedaan Antara Islam, Homoseksual Dan Sandiwara Kejahatan

Perbedaan Antara Islam, Homoseksual Dan Sandiwara Kejahatan

Ada satu yang berupaya dilazimkan oleh semua orang di dalam masyarakat. Satu yang cukup berarti walau awalnya kurang menyenangkan. Mereka hendak menganggapnya sebagai sebuah tantangan untuk dihadapi tanpa menantang pihak-pihak yang membawanya masuk. Berupaya untuk menunjukkan kualitas kepribadian yang dimiliki dengan mengambil jalan tabah, ikhlas dan berendah hati. Tanpa mau mengusik tiang-tiang kebenaran yang sudah berdiri sejak dari awal, tanpa mengganggu tiang-tiang keadilan yang telah ditetapkan sejak dari awal masa. Orang-orang menyebutnya sebagai ujian kehidupan yang biasanya dialami bukan hanya satu dua orang saja, melainkan oleh hampir seluruh elemen di dalam masyarakat.

Pada kenyataannya, tantangan yang dihadapi oleh tiap-tiap pribadi bisa datang sewaktu-waktu dan bisa juga datang pada jangka waktu tertentu (yang sudah ditetapkan oleh peraturan). Tantangan sewaktu bisa datang dari mana saja, ada yang dari kehidupan nyata dan ada pula yang berasal dari dunia media informasi yang beredar di antara masyarakat itu sendiri. Ujian dalam kehidupan nyata tidaklah banyak, sekalipun ada: itu hanya terjadi antara orang tua dan anak. Atau setidaknya sebagian besar dari tantangan tersebut hanyalah berupa kekhilafan komunikasi atau persinggungan aktivitas antar manusia (baik yang sewaktu maupun di waktu tertentu saja). Biasanya ujian yang tidak pernah habis hanyalah yang datangnya lewat media informasi yang kita nikmati.

Media adalah hiburan pribadi sekaligus alat untuk menambah wawasan kehidupan dalam diri manusia. Hanya saja, rata-rata media menampilkan keseruan yang di dalamnya terdapat konflik kecil (konflik dalam diri sendiri dan keluarga) dan konflik besar (konflik antar masyarakat, antar kelompok, antar bangsa). Mungkin tidak ada lagi orang yang mau menonton TV dan media lainnya bila kisah-kisah yang disajikan datar-datar saja. Sadar atau tidak, keseruan suatu tontonan terletak pada konflik yang terjadi di dalamnya. Tanpa suatu konflik, tanpa usaha membanding-bandingkan dan tanpa kemenangan: bisa jadi tidak ada lagi orang yang rela duduk berlama-lama menonton TV/ laptop/ smartphone miliknya. Sebab keseruan sebuah tontonan terletak pada jalan cerita dan gejolak yang menyertainya.

Di dalam dunia seni, ada pertarungan sengit antara sisi positif dan negatif kehidupan. Hanya saja kadangkala, kita tidak bisa memastikan jalur ceritanya karena beberapa tokoh mengalami inkonsistensi sikap. Sebab tokoh protogonis (good guy) tidak seratus persen benar, ada juga yang salah-salah ekspresinya walau tidak sekontras tokoh antagonis (bad guy). Pada keadaan ini, pemirsa di rumah yang menyaksikan kisah-kisah tersebut, sebaiknya tidak melakukan upaya pembenaran total terhadap tokoh-tokoh yang disukainya. Harap perhatikan baik-baik dan lakukanlah penyaringan berdasarkan standar kehidupan yang dimiliki agar tidak sesat meniru sifat-sifat jelek dari pemeran utama (protogonis) maupun pemeran antagonis.

Setiap kali anda membuka media, selalu ada potensi ujian di dalamnya. Tepat saat anda menonton televisi, ada materi-materi tertentu yang menantang pemirsa. Begitu membuka smartphone ada-ada saja konten yang menggoda nafsu di dalamnya (baik nafsu terhadap pembunuhan, perampasan, seksualitas dan keserakahan seperti dalam game). Sama halnya saat menonton televisi: ada konten yang syarat dengan kekerasan dan manipulasi kehidupan. Bisa dikatakan bahwa semua hal ini hampir tak terhindarkan karena justru hal-hal jahat tersebut ada agar bisa dikalahkan oleh sisi baik/ positif suatu kisah. Proses pemenangan sisi baik inilah yang terbilana seru dan penuh dengan drama yang menarik minat setiap pemirsa.

Di atas semuanya itu, perhatikanlah baik-baik: bahwa tantangan hidup yang tidak ada putus-putusnya hanya berasal dari media dan informasi yang kita peroleh dari alat berteknologi canggih yang dimiliki. Akan tetapi, di dalam kehidupan nyata, tidak ada masalah yang berlangsung dari waktu ke waktu. Semua ujian yang terjadi ada masanya: kebanyakan terjadi antara orang tua dan anak. Sebagian lagi ujian kehidupan di dunia nyata berasal dari kekhilafan yang tidak disengaja dan tidak direncanakan sebelumnya. Tidak ada ujian hidup di dunia nyata yang berlangsung secara terus-menerus tanpa batasan waktu, kecuali saat kita menyaksikan media-media (seperti koran, majalah, televisi, laptop, smartphone dan lainnya) yang bisa selalu menantang dan menghibur saat disaksikan.

Ujian Islamisasi informasi

Tidak ada yang salah dengan masyarakat Islam sebab pada dasarnya mereka juga percaya Alkitab (sebagian) dan patuh terhadap hukum Taurat. Tidak ada ajaran Islam yang bertentangan dengan hukum yang berlaku di negeri kecuali ada orang sesat yang sengaja mengislam-islamkan teroris. Itu hanyalah sebagian dari ajaran kekerasan yang ada dalam perumpamaan Alquran. Bukankah cerita pembunuhan, pencurian dan pemerkosaan termuat dalam Alkitab? Terorisme adalah kesalahan persepsi yang sifatnya secara pribadi dan tidak berlaku untuk semua ajaran Islam. Lantas sering sekali masyarakat Islam ditampilkan dalam layar kaca yang ditonton oleh orang Kristen semata-mata untuk memperkuat iman masing-masing.

Islam bukanlah kejahatan! Sekalipun aktivitas masyarakat muslim ditampilkan dalam media yang kita tonton, apa yang ditampilkan tidak jauh-jauh dari kebaikan dan kebenaran hakiki. Demikian juga ketika kita menemui masyarakat Muslim di dunia nyata, sepatutnya sikap biasa saja. Sebab mereka pun orang-orang yang takut akan Tuhan dan menaati peraturan di dalam masyarakat. Jadi, keberadaan mereka tidak boleh sampai membuat mata hati benci agar hidup kita tetap tenang dan damai saat berbaur dalam masyarakat yang beragam. Aktivitas orang Muslim tidak mengganggu dan merugikan kita, justru mereka mungkin juga mendoakan kita dan mendoakan negeri ini agar menjadi lebih baik kedepannya.

Ujian homoseksual

Kita perlu berhati-hati tentang ujian homoseksual sebab tantangan yang satu ini dilarang keras oleh agama dan negara. Perilaku seksual yang menyimpang sekelas dengan pembunuhan, perzinahan dan pencurian yang merupakan dosa. Keadaan ini bisa berawal dari kesesatan berpikir karena seseorang masih kurang dewasa memahami dunia. Terjebak dalam politik homoseksual yang ditampilkan oleh beberapa media karena berpikir bahwa dengan menjadi gay/ lesbian bisa menyelesaikan masalah yang dialaminya. Padahal persepsi tersebut salah, justru masalah yang akan dihadapinya lebih berat dan pahit ketika seseorang menjadi homoseksual aktif/ pasif.

Media yang menampilkan aktivitas homoseksual, tidak salah karena semuanya itu tidak benar-benar terjadi. Mungkin hal tersebut hanyalah permainan kata, manipulasi alur cerita, permainan kamera dan teknologi rekayasa gambar (CGI). Sandiwara homoseksual bisa saja ditampilkan oleh media untuk membuat pemirsa belajar tidak terpengaruh dengan sisi negatif kehidupan. Tetapi, harap dibatas-batasi sebab semuanya itu hanyalah terjadi di dalam media: majalah, buku cerita, buku novel, televisi, laptop, tablet, smartphone dan yang lainnya. Hindari membawa sandiwara homoseksual ke dalam kehidupan sehari-hari, di kehidupan nyata orang tidak berpura-pura jadi homo/ lesbi sebab itu sama saja dengan kejahatan.

Di banyak media dan kehidupan nyata ada orang Muslim karena mereka orang baik, juga sama seperti orang yang taat agama lainnya. Akan tetapi, jangan berpikir bahwa di media-media ada perilaku homoseks maka di dunia nyatapun ada yang bermaksud untuk melakukan homoseks. Persepsi ini jelas salah karena melakukan aktivitas gay dan lesbi sama seperti melakukan kejahatan.

Kejahatan sandiwara

Kenapa anda bersandiwara? Apakah anda adalah artis? Berhati-hatilah memilah-milah kehidupan agar keputusan yang diambil tidak salah kaprah. Karena anda melihat di media bahwa artis melakukan kejahatan namun mereka tetap dianggap benar karena hanya berpura-pura. Lantas anda pun berpura-pura menjalani hidup dan diam-diam memanipulasi seseorang. Lalu membenarkan diri atas tindakan tersebut dengan mengatakan “itu hanya sandiwara!” Padahal anda baru saja menipu seseorang dengan lagak serius semata-mata untuk menjebaknya. Harap perhatikan baik-baik, apa yang anda lakukan bukan sekedar sandiwara melainkan jelas-jelas sebagai suatu upaya penipuan. Sebab yang namanya sandiwara hanya dilakukan di depan kamera dan disadari oleh setiap orang yang melihatnya.

Di dunia kerja, ada juga yang namanya sandiwara tetapi itu hanya sebatas dilakukan di tempat kerja. Semua pekerjaan yang disandiwarakan berlangsung di tempat kerja, menggunakan media tertentu dan terpantau oleh atasan (sutradara majemuk). Artinya, pegawai/ karyawan yang bersandiwara memiliki standar operasional kerja yang terstruktur sebagai panduan/ skenario untuk bersandiwara. Ini bukan aktivitas yang bebas dan dapat ditempuh pekerja dengan pemahamannya sendiri melainkan semuanya itu ada prosedurnya/ protapnya. Ada pemimpin dan jajaran manajemen yang merupakan sutradara lapangan. Para petinggi organisasi senantiasa memantau keberlangsungan aktivitas sandiwara yang dilakukan setiap karyawan agar tidak ada yang menyimpang dari aturan yang telah ditetapkan.

Sandiwara murni pekerjaan artis di depan kamera; cuma media yang bersandiwara; sandiwara ada ranahnya. Tidak ada sandiwara dalam kehidupan sehari-hari tetapi orang yang gemar bersandiwara tanpa kamera, tanpa skenario dan tanpa sutradara: melakukan semuanya itu atas kehendak sendiri yang merupakan penipuan sebagai bagian dari pelanggaran berat demi mencapai tujuan-tujuannya yang negatif.

Kesimpulan

Hidup manusia di muka bumi sangatlah kompleks. Terkadang ada kemiripan antara aktivitas di suatu tempat dengan aktivitas di tempat lain. Namun bukan berarti semua hal yang dilakukan di suatu tempat bisa juga dilakukan di tempat lain. Sejauh ini, Islam adalah agama yang baik (sama seperti agama lainnya) karena mereka percaya Tuhan, percaya Alkitab dan percaya hukum Taurat. Keberadaan masyarat Muslim bisa jadi menguji keteguhan hati orang Kristen: baik dalam media (dunia dua dimensi: televisi, smartphone, laptop; dan satu dimensi: buku, majalah, koran) termasuk dalam dunia nyata (tiga dimensi). Lain halnya dengan aktivitas homoseksual yang jelas-jelas merupakan suatu kejahatan. Bila media menampilkan aksi kejahatan, anda tidak bisa melakukan kejahatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari (dunia nyata). Saat media menampilkan aktivitas homoseksual, anda tidak diperbolehkan melakukan hal yang sama di dunia nyata. Pahami baik-baik bahwa yang bersandiwara hanyalah artis di depan kamera dengan skenario dan sutradara yang ahli dibidangnya. Sedang bersandiwara di dunia nyata atas keinginan sendiri merupakan aktivitas menipu yang cenderung jahat dan berpotensi memanipulasi kehidupan seseorang. Berhati-hatilah!

Salam, Sadari bahwa kita
memasuki banyak dunia.
Aturan di dunia yang satu
tidak boleh serta merta
di bawa ke dunia yang lain.
Ada hal-hal tertentu
yang hanya bisa berlangsung
di dunia yang satu
tetapi tidak boleh terjadi
yang seperti itu
di dunia yang lain.
Belajarlah memahami
hal-hal tersebut
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.