+10 Perang Yang Tidak Pernah Terjadi – Tidak Mungkin Terjadi Peperangan

Perang Yang Tidak Pernah Terjadi – Tidak Mungkin Terjadi Peperangan

Apa yang awalnya disangka ada, sebenarnya tidak ada. Sesuatu yang dikira sebuah kenyataan, fakta lapangan yang hanyalah mitos. Cerita-cerita seru yang sebenarnya hanya sebuah khayalan yang melayang-layang. Semata-mata dimanfaatkan sebagai hiburan masyarakat di tengah kehidupan yang menjemukan. Karya seni menjadi pembawa kesenangan walau sesaat di masa-masa hidup yang syarat dengan pandemi. Sampai di situ saja, rasanya aman untuk untuk merasa tenang menanggapi sandiwara yang dibawakan oleh berbagai pihak. Akan tetapi, lama kelamaan menjadi sebuah pola yang justru diarahkan agar kepura-puraan tersebut dipercayai oleh masyarakat luas.

Drama tetaplah drama. Itu adalah kisah yang dihasilkan dengan cara berpikir yang istimewa dengan menggunakan sudut pandang eksentrik. Menciptakan dua kekuatan yang saling bertentangan untuk menemukan sebuah jalan baru demi mencapai tujuan yang dianggap pantas. Memosisikan dua kekuatan yang saling berseteru untuk memperebutkan sesuatu sehingga yang satu diuntungkan dan yang lain dirugikan. Mencoba menggali kepedulian penonton untuk bersimpati mendukung salah satu pihak. Memburuk-burukkan kelompok yang satu lalu mengunggulkan yang lainnya. Semua dukungan tertuju pada satu pihak, sekelompok orang yang sampai sekaran dikenal sebagai pemegang kuasa besar. Sayangnya, mitos-mitos ini kemudian diangkat para kapital untuk dijadikan fakta di tengah masyarakat.

Tidak ada yang menyangka bahwa kekuatan karya seni yang awalnya hanyalah hiburan, malah dijadikan sebagai sebuah alasan yang dimanfaatkan secara manipulatif oleh oknum tertentu. Semata-mata agar mereka terkesan/ terlihat berjasa besar atas negeri dan atas semua orang di masa lalu. Merekalah para kapital, yang hidup lebih makmur dari orang lain dan menganatongi sangat banyak fasilitas pribadi di banding rata-rata masyarakat. Cerpen/ novel/ roman yang mereka anggap sebagai bagian dari sejarah menunjukkan kemaha-hebatan peran para leluhurnya untuk mempersatukan dan memerdekakan seluruh negeri. Sebuah kisah yang tiba-tiba mereka menangkan secara ajaib tanpa membutuhkan banyak pengorbanan.

Sandiwara yang dijadikan sebagai sebuah fakta dimanfaatkan untuk membesarkan nama leluhur para petinggi negeri. Seakan-akan peran mereka sangat besar untuk memajukan kehidupan masyarakat. Padahal, dibalik peran besar dalam pembangunan tersebut ada gaji besar dan fasilitas mewah. Lantas, mengapa mereka dianggap pahlawan? Seharusnya seorang pahlawan sejati tanpa tanda jasa. Ini namanya bukan pahlawan tetapi pekerja bangunan yang mengambil gaji lebih dari yang lain. Bahkan gaji tersebut pun berlaku untuk keturunan mereka yang berikutnya yang secara hierarki sangat diperhatikan oleh sistem dan otomatis diangkat menjadi bagian dari “kelompok anak sulung pengasuh nusa indah.” Merekalah yang mengangkat diri sendiri dan keturunannya serta mereka pulalah yang menetapkan besaran gaji maha hebat yang akan diterima.

Selain menjadikan sandiwara sebagai sejarah, mereka juga gencar menyebarkan kebohongan tersebut untuk menakut-nakuti oknum cerdas idealis yang mengancam kemaha-kuasaannya. Orang kata, “agar seolah-olah dirinya dan kelompoknya terus berjaya karena menguasai sangat banyak sumber daya yang ada.” Para kapital juga memanfaatkan kisah perjuangan yang syarat dengan konflik dan kekerasan tersebut untuk menggertak oknum idealis sosial. Agar sepanjang berkuasa, kebohongannya tidak terungkap dan para idealis tersebut ketakutan sehingga tidak berani menuntut keadilan sosial. Mereka bahkan menghentikan si pembocor rahasia ini dimulai dari keluarganya. Agar maksud-maksud “adil” seolah-olah dirintangi secara lebay oleh orang tua anak.

Perang sandiwara yang dianggap sebagai sebuah kenyataan oleh masyarakat

Peperangan tidak dibutuhkan oleh para kapital, sebab masing-masing kapital sudah punya wilayah sendiri. Lantas, konflik ekstrim tersebut pun memakan banyak biaya, waktu dan tenaga, baik sebelum, saat sedang dan setelah peristiwa tersebut terjadi. Ini seperti menghancurkan pembangunan wilayah yang dilakukan selama puluhan tahun silam dalam waktu dua atau tiga hari saja. Sedang mereka pun sangat mengerti bahwa lawan sebenarnya bukanlah para kapital di tempat yang jauh. Melainkan anak-anak mereka sendirilah yang akan menentang ketidakadilan yang dibawakan oleh orang tuanya. Jadi para kapital tidak perlu bertarung mati-matian untuk mempertahankan kemahakuasaan dan kemahamuliaannya sebab musuhnya bukan orang asing tetapi para pemikir idealis yang berada di antara masyarakat. Berikut peperangan yang dianggap sebagai fakta padahal hanya kepura-puraan belaka.

Nasional

  1. Perang antar kerajaan besar di seantero negeri.

    Diceritakan bahwa beberapa kerajaan besar telah berdiri di sana dan di sini dimana masing-masing saling berperang untuk memperebutkan kekuasaan di daerah yang jauh. Padahal di zaman dahulu kala, tidak ada peradaban besar di seantero negeri. Tidak ada perkembangan pengetahuan yang pesat sebab pikiran manusia telah tertutup dan tidak ada tokoh yang membawa masyarakat dalam pencerahan sejati. Pengetahuan sejati berasal dari Tuhan yang dapat diikuti lewat jejak garam dari masa ke masa di mulai dari timur tengah.

    Tidak ada orang yang mengetahui cara bertahan mengelola sumber daya agar tetap ada. Sehingga sekalipun ada beberapa kelompok masyarakat jumlah mereka tidak memungkinkan untuk membantuk suatu kerajaan. Suku-suku kecil mungkin saja ada tetapi kerajaan besar (penduduk ratusan jiwa) tidak mungkin karena jumlah manusia sangat terbatas. Sebab tidak ada pertanian dimana manusia hanya memetik hasil yang disedikan oleh alam. Saat jumlah manusia di suatu wilayah menjadi terlalu banyak, maka mudah sekali terjadi pertengkaran (perang kecil-kecilan), kelaparan dan menyebarnya wabah penyakit. Semua ini terjadi karena minimnya pengetahuan sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di nusantara.

  2. Perang kerajaan melawan penjajah.

    Tidak ada kerajaan di Indonesia di saat petualang Eropa menyebarkan ajarannya. Orang-orang yang ada hanyalam masyarakat primitif yang menganggap kekuatan alam adalah horor yang bisa menelan manusia. Mereka melihat bahwa alam melakukan sihir maka mereka pun tertarik untuk melakukannya sekalipun semua itu hanyalah halusinasi belaka.

    Tidak mungkin bangsa primitif dapat bertahan melawan bangsa lain yang lebih maju darinya. Gertakan kecil saja sudah bisa mengusir manusia primitif tersebut. Lagi pula orang Eropa yang sampai di negeri bukanlah politikus melainkan hanya sejumlah petualang yang sedang menelajahi dunia baru dan mencari makna hidupannya.

  3. Perang Indonesia melawan penjajah.

    Untuk apa pula bangsa Eropa jauh-jauh ke nusantara? Apakah modal hawa nafsu besar saja sudah cukup untuk datang sejauh ribuan kilometer demi menjajah wilayah entah berantah? Tentu saja keadaan ini adalah kebohongan yang sangat mudah ditebak bahkan oleh anak sekolahan sekalipun. Sebab di Eropa sendiri ada banyak bangsa lantas mengapa mereka tidak menjajah wilayah di dekatnya? Apabila wilayah lain yang didekatnya aman-aman saja, terlebih lagi wilayah yang jauh darinya; tidak mungkin diganggu-ganggu apalagi dijajah.

  4. Peristiwa 30 September 1965.

    Peristiwa G30S PKI bukanlah suatu kenyataan melainkan hanya homor di antara pelajar. Sebab kejadian ini tidak masuk akal: bagaimana mungkin seorang bawahan bisa lebih hebat dari atasannya? Lagipula komunis adalah paham yang sudah tidak berguna lagi, bahkan hal tersebut tidak lagi digunakan di negara tempat paham tersebut lahir. Sampai para pelaku utama dan pendampingnya pun tidak disidangkan: tidak ada tokoh yang mempermasalahkan hal tersebut dan kasusnya gantung bahkan bisa dikatakan tidak jelas.

  5. Perang dengan malaysia.

    Kapital versus kapital tidak berlawanan, justru masing-masing saling berkawan. Sebab tujuan mereka jelas sama, yaitu hendak memanen di masing-masing wilayah yang dikuasainya. Mereka punya mesin bioteknologi yang dapat membuat produk dari proses daur ulang alami maupun buatan. Lantas berbagai barang sudah ada di tangan para kapital, mereka tinggal menjualnya di antara rakyat. Uang yang berhasil dikoleksi akan dikumpulkan dalam perbendaharaannya dimana jumlahnya bertambah terus dari hari ke hari. Pantaslah yang kaya bertambah kaya dan yang miskin tetap miskin.

    Malaysia versus Indonesia alih-alih berperang merupakan suatu bentuk intimidasi kepada orang-orang cerdas indonesia untuk membenci segala sesuatu tentang malaysia. Bentuk kebencian ini dipupuk dengan menuduh teroris dari malaysia, pencuri budaya, pencuri kerajinan khas daerah, membeli pulau, pembantu rumah tangga dari indo dianiaya, menyerobot tanah perbatasan dan lain sebagainya. Semua ini adalah usaha agar orang indo membenci segala sesuatu tentang malaysia, entah itu produk berupa barang maupun berupa karya seni (misalnya film Upin Ipin). Semua usaha ini agar orang cerdas sibuk protes eksistensi malaysia di negeri

  6. Perang Aceh merdeka.

    Untuk apa Aceh memerdekakan diri dari Indonesia sementara mereka tidak memiliki mesin bioteknologi daur ulang yang bisa terus menghasilkan produk dan uang dari waktu ke waktu. Kapitalis nasional dan kapitalis daerah memiliki kegemaran yang sama, yaitu hendak menjual produk daur ulangnya di antara rakyat. Mereka tidak perlu saling sikut untuk bisa kaya raya sebab dengan bekerja sama justru kekayaan mereka melimpah ruah. Jadi, tidak ada yang perlu diperebutkan sebab masing-masing pihak pasti dapat jatah.

    Isu perang ini justru mereka gunakan untuk memancing sosio-idealis di daerah lain melakukan aksi teror agar tujuannya bisa tercapai. Orang cerdas yang bersikap terburu-buru, kurang memahami situasi dan kurang mengerti aturan akan terjebak dalam kekerasan yang membuatnya bisa lebih cepat diamankan dan mendekam di balik jeruji besi.

  7. Perang Papua merdeka.

    Bioteknologi daur ulang produk tidak ada di Papua, sekalipun ada itu merupakan pemberian dari pusat. Tidak ada kapital Papua yang ingin merdeka dari Indonesia sebab mereka disuntik dana tegangan tinggi oleh pemerintah pusat. Dana yang bisa buat beberapa orang kaya dalam sekejap tetapi sekaligus berakibat pada mahalnya harga-harga produk di wilayah setempat. Jika tidak maka akan terjadi inflasi yang tinggi karena penghasilan berkali-kali lipat besarnya dari kebutuhan (habisnya barang dengan cepat). Sedang budaya malas tersebar diseluruh wilayah karena kerja dikit aja sudah bisa dapat uang banyak.

    Perang papua bisa menjadi propaganda bagi orang cerdas di daerah lain untuk menyerukan pemberontakan yang sama karena merasa kurang diperhatikan oleh pusat. Kerusuhan bisa juga dijadikan sebagai alasan untuk menjadi daerah yang diisitimewakan oleh pemerintah dengan jatah APBN tinggi. Pemikiran semacam ini dapat tersirat dalam benak orang pintar hingga membuatnya sesat jika tidak kembali kepada standar kehidupannya.

    Internasional

  8. Perang salib.

    Tidak ada sumber daya yang cukup besar di timur tengah untuk melakukan perang, sebab negeri di dalamnya banyak yang menjadi tandus. Orang-orang membangun rumah dengan susah payah, para kapital membangun kediaman mewahnya dengan pengorbanan besar di tengah mahalnya bahan bangunan yang mungkin saja menjadi langka. Lantas bagaimana pula kapital ingin membuat porak-poranda sesuatu yang dibangun selama bertahun-tahun. Lagi pula kerasnya padang pasir tidak memungkinkan orang bergerombol dan berpergian ke tempat yang jauh: dari mana mereka mencari persediaan air dan makanan untuk orang banyak selama berminggu-minggu? Menggali pasir sedalam mungkin belum tentu dapat, padahal yang butuh air untuk berbagai keperluan ada ratusan bahkan ribuan tentara. Sekalipun ada perang antara Arabia dan Eropa, jumlahnya dalam skala kecil; sebab kedua belah pihak paham berperang di padang gurun tidak mati di bunuh musuh tetapi mati dehidrasi oleh teriknya sinar matahari.

    Perang salib ini dijadikan sebagai awal permusuhan antara Islam dan Kristen yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Apakah ada dalam Alkitab yang mengatakan bahwa ada dendam antara Ismael dan Ishak? Tidak ada! Sekalipun ada perterngkaran skala kecil karena pemukiman yang ditinggalkan orang Israel dikuasai oleh orang Arab, sebab tidak ada yang betah lama-lama hidup di tanah yang tandus. Lagi pula orang Israel yang menyebut dirinya Yahudi enggan pulang ke negerinya sebab mereka pun sudah makmur duluan di negeri orang.

  9. Perang melawan nazi (perang dunia I).

    Bagaimana mungkin nazi berani memerangi orang Yahudi? Bukankah orang Yahudi tersebar dimana-mana dan ada dari mereka yang menjadi pembesar negeri? Bahkan sangat mungkin terjadi bahwa di antara para petinggi Jerman sendiri ada orang Yahudinya. Beberapa di antara mereka bahkan menjadi tokoh intelektual yang sangat dihormati di berbagai wilayah dan di berbagai belahan bumi. Jadi tidak ada yang namanya pemusnahan masal karena tidak ada alasan untuk melakukan hal tersebut terhadap bangsa yang keberadaannya sangat berpengaruh dimana-mana.

    Faktanya mungkin hanya melibatkan perselisihan kecil yang berkepanjangan antara pemimpin tertinggi dengan beberapa orang Yahudi. Sedangkan film tentang nazi hanyalah fiksi yang dibesar-besarkan untuk menjelek-jelekkan penganut paham sosialis. Hitler adalah tokoh fiksi, bagaimana mungkin orang gila yang suka dendam jadi pemimpin tertinggi? Agar sosio-idealis mengikuti saudara seperjuangannya, komunis yang mengambil jalan kekerasan untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Suatu cara berpolitik yang sudah lama ditinggalkan di berbagai belahan bumi. Atau drama ini juga bisa digunakan oleh kapital Jerman untuk melunturkan keberanian orang Yahudi-Jerman yang sosialis memperjuangkan keadilan sosial.

  10. Perang antara Jepang dan Amerika (perang dunia II).

    Repot sekali Amerika ingin menguasai Jepang. Haruskah ia melampaui samudera yang sangat luas jika memang haus kekuasaan? Tentu saja tidak, jika ia ingin berkuasa maka negara-negara di sekitarnya seperti Kanada, Brazil dan Mexico akan diperangi. Demikian juga nafsu Jepang untuk berkuasa dibesar-besarkan. Bandingkan saja ukuran tanah Amerika dengan Jepang; dari segi jumlah penduduk saja, hasilnya sudah jelas. Berperang jauh-jauh hanya untuk kalah atau sekalipun menang kecil tetap tidak dapat apa-apa. Suatu logika perang yang mustahil untuk diwujudkan.

    Ini semacam politik iri hati yang coba diciptakan oleh kapital Amerika agar sosio-idealis setempat tidak senang dengan prodak dan warga Jepang itu sendiri. Atau agar orang cerdas yang kurang pengalaman meramalkan kejatuhan kapital lokal karena orang tua/ kakek/ buyutnya berperang dimana-mana. Sedang isu semacam ini di negeri sakura akan menjadi cipratan kebencian para idealis Jepang terhadap segala sesuatu yang berbau Amrik. Memprotes keberadaan Amrik di negeri mereka atau justru malah merekalah yang menjadi ketakutan karena kehadiran tentara Amrik di Jepang.

  11. Perang antara Rusia dan Amerika.

    Jadi, para kapital selalu ingin memancing orang sosio-idealis agar tidak menganggap kapital lokal sebagai ancaman melainkan kapital asinglah yang menjadi ancaman. Padahal kenyataannya ini hanyalah pengalih perhatian agar kesalahan mereka tidak diketahui/ tersembunyi dari mata para pemikir dalam negeri.

    Menciptakan kebencian dan ketakutan adalah propaganda yang ampuh untuk menekan munculnya ide-ide baru yang mengancam tahta kemahakuasaan mereka yang seolah-olah merakyat. Orang idealis lokal yang terjebak dalam lingkaran kebencian ini sibuk protes terhadap pendatang/ orang asing yang semakin berjaya di sekitarnya. Akibatnya, ide-ide mereka tidak berkembang dan keadilan sosial yang telah disembunyikan lewat politik intelektual tidak akan pernah terungkap.

  12. Perang Vietnam.

    Ada apa pula orang Amerika berperang membantu Vietnam untuk memerangi saudaranya? Ini adalah cita-cita yang kejauhan karena satu nyawa prajurit {atau lebih} dikorbankan demi gengsi gede-gedean dengan Rusia. Ini adalah sebuah perang yang mustahil di antara orang-orang yang memiliki kepercayaan tinggi kepada Tuhan.

    Lagi-lagi ini adalah usaha para kapital untuk memfitnah dirinya sendiri, sama seperti yang dilakukan kapital Indonesia saat menyebarkan hoax peristiwa G30S PKI. Penguasa ingin memancing orang-orang idealis agar meramalkan pembalasan besar yang akan diterima oleh para kapital akibat dosa hoax menjatuhkan bom napalm (gas beracun} di Vietnam dan karena membantai penduduk setempat. Sebuah image buruk yang diciptakan kapital agar mereka dibenci orang cerdas kurang pengalaman sehingga orang tersebut memiliki pemikiran yang tidak berkembang dan cenderung sesat.

  13. Perang korea utara vs Korea selatan.

    Apakah anda yakin bahwa ada permusuhan antara korea utara dan korea selatan? Atau jangan-jangan kedua negara ini adalah negara yang sama atau negara yang berbeda sejak dari awal. Para kapital hanya memanfaatkan karya seni yang dihasilkan oleh seniman korea lalu mengotak atik isinya untuk dijadikan bahan pembicaraan di dalam negeri. Lantas yang paling tidak logisnya adalah bagaimana Korea Utara bisa mengembangkan nuklir dan sejenisnya sedang perut kosong, kelaparan menyerang beberapa wilayah. Ini adalah pola perkembangan hidup dengan logika terbalik, sebab semestinya kenyang dulu, baru otak bisa jalan. Bagaimana manusia bisa cerdas mengembangkan segala teknologi nuklir sedangkan kebutuhannya kurang di sana-sini?

  14. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Semoga semua sandiwara yang kita dengar, seperti apapun bentuknya: tidak mengarahkan kita kepada hal-hal buruk melainkan semakin semangat untuk mengusahakan kebaikan, kebenaran dan keadilan.

Manusia adalah aset termahal di muka bumi bahkan nilainya melebihi pesawat tempur terhebat atau tank tempur tercanggih. Sebab untuk membuat mesin hanya butuh beberapa bulan sedang membuat seorang manusia dewasa butuh waktu puluhan tahun.

Para kapital indo memanfaatkan keterbatasan mobilitas penduduk untuk menyebarkan isu-isu negatif yang berpotensi dimaknai aneh oleh orang tertentu. Berhati-hatilah terhadap berita yang beredar di tengah masyarakat, belum tentu semuanya itu adalah fakta, kebanyakan adalah gimmick. Sama halnya tentang perang: bisa saja dikatakan sudah terjadi di sana dan di sini. Namun tidak bisa memastikan hal tersebut karena kurangnya sumber daya untuk berpergian ke lokasi. Akan tetapi, anda bisa mempertimbangkan informasi yang didapatkan dengan akal sehat dan hati nurani masing-masing agar menemukan titik terangnya. Sama halnya tentang peperangan yang menurut infonya telah terjadi di zaman dulu, faktanya belum pernah terjadi. Sebab tidak ada pemimpin yang mau menanggung dosa akibat satu prajurit yang mati demi nafsu. Peperangan membutuhkan biaya besar terutama untuk mengekstrak bom dari dalam gunung berapi. Lagi pula wilayah bekas peperangan akan menjadi tandus selama beberapa dekade seperti tempat yang menjadi bekas letusan gunung berapi. Selain itu, para kapital cenderung bersahabat dengan kapital lainnya sedang musuh bersama yang mengancam kemahakuasaan dan kemewahan hidupnya adalah sosio-idealis dari antara anak-anaknya atau dari penduduk negeri itu sendiri.

Salam, Mana ada
kapital vs kapital,
orang mereka sama-sama
pemanen di wilayahnya
masing-masing.
Yang ada itu
kapital vs sosio-idealis
karena keadilan sosial
mengancam kelimpahan
yang selama ini
dicicipi oleh
“anak sulung
pengasuh nusaindah!”

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.