10 Alasan Tidak Ada Kerajaan Di Indonesia Sebelum Misionaris Dan/ Atau Petualang Eropa Sampai Di Nusantara

Alasan Tidak Ada Kerajaan Di Indonesia Sebelum Misionaris Atau Petualang Eropa Sampai Di Nusantara

Karya seni memang indah untuk dibicarakan, apalagi untuk disaksikan. Ada hiruk-pikuk yang penuh pesona di dalamnya: itulah yang membuatnya menarik bagi kebanyakan orang. Sayangnya, kita tidak boleh terbawa-bawa dengan hiperbola yang dibawakannya agar terhindar dari prasangka yang tidak berdasar. Sekalipun suatu karya seni dikatakan sebagai sesuatu yang “dibuat berdasarkan kisah nyata” namun sesungguhnya apa yang ditampilkan tidaklah benar-benar fakta. Kebanyakan yang terkandung di dalamnya justru berupa imajinasi yang menggoda. Dimana umumnya itu dilebih-lebihkan atau malah ada juga yang dikurang-kurangkan, tergantung pesanan dari atasan/ sutradara yang membuatnya.

Itulah seni yang selalu indah sebab mustahil suatu keburukan dipamerkan kepada semua orang. Sekalipun ada yang buruk-buruk, itu pasti sesuatu yang lain, yang jalan ceritanya bertentangan dengan jalan cerita utama. Di atas semuanya itu, kita sisihkan spekulasi imajiner tentang masa lalu untuk menggunakan logika berpikir positif demi menemukan fakta yang sesungguhnya. Tentu saja, sudut pandang yang kami gunakan pada tulisan ini, agak berbeda jauh dengan kisah-kisah kebesaran nenek moyang di masa lampau yang dituturkan oleh seniman lain. Sedang pilihan keputusan siapa yang anda percayai adalah di tangan anda sendiri: lebih pecaya pada sesuatu yang imajinatif atau lebih percaya pada jejak logis kehidupan.

Faktor penyebab tidak ada kerajaan sebelum orang Eropa menginjakkan kaki di nusantara

Terkadang kita terlalu bangga dengan keberadaan nenek moyang sendiri karena seolah-olah mereka adalah orang besar. Pribadi yang ditampilkan seolah-oleh lebih maju kehidupannya dari kita. Itulah karya seni yang keberadaannya bukan untuk dicatatkan dalam sejarah melainkan sekedar menghibur khalayak ramai. Di atas semua dugaan atau tebakan yang telah disajikan oleh beberapa seniman sebelumnya, kamipun hendak mengajukan diri untuk membuat telaah berdasarkan logika berpikir sehat. Semata-mata agar anda bisa mempertimbangkan, dimana kisah yang tampaknya benar dan dimana pula yang sungguh-sungguh benar. Berikut kami jelaskan sedikit tentang alasan mengapa di zaman dahulu tidak ada kerajaan sebesar kerajaan Israel dan Yehuda di Indonesia.

  1. Manusia masih primitif dan hanya bertahan dengan berburu.

    Hukum alam masih berlaku di zaman sebelum pengetahuan berkembang di seluruh negeri. Manusia tidak terpisahkan dalam sisi rantai makanan yang kompleks. Pepohonan masih tumbuh lebat dan hewan pemakan tumbuhan berkeliaran dimana-mana. Hewan pemakan daging memang ada tetapi tidak mungkin jumlahnya sama dengan pemakan tumbuhan melainkan pasti lebih kecil. Terlebih lagi keberadaan manusia di tengah lebatnya hutan, hidup dalam keterbatasan pengetahuan. Sekalipun demikian, manusia itu jauh lebih kuat dari karnivora apalagi dari herbivora. Mereka bertahan dengan berburu dan mengonsumsi dedaunan tertentu sebagai obat. Orang-orang primitif inilah yang menguasai suatu wilayah secara berkelompok yang semua anggotanya merupakan kerabat (memiliki hubungan darah).

    Suku-suku kecil hanya mengenal aktivitas memetik hasil yang segar dari alam. Mereka tidak paham cara memberdayakan pangan yang dikonsumsi, sebab tidak mengenal padi-padian atau rumput-rumputan yang bisa dikonsumsi. Tidak ada usaha untuk menanam ini atau itu, semua yang ada adalah murni hasil penyemaian alami yang dipelopori oleh air, angin, serangga, hewan dan manusia itu sendiri.

  2. Jumlah manusia tidak berkembang, maka mustahil ada kerajaan.

    Jumlah manusia yang bermukim dalam suatu kelompok tidak berkembang pesat. Keterbatasan pengetahuan membuat mereka tidak mampu bertahan dari wabah yang sewaktu-waktu dapat menyerang kelompok kecil tersebut. Sementara itu, kebutuhan sehari-hari tidak selalu terpenuhi. Sebab pada titik tertentu kelompok pemburu tidak mendapatkan apa-apa. Hari-hari kelaparan bisa berujung dengan rauangan penyakit bahkan anak-anak menjadi sangat rentan terkena penyakit yang juga menyerang anak lainnya (wabah).

    Jika kelompok terlalu besar, populasi terlalu subur, mudah terjadi perpecahan. Tidak dipungkiri bahwa bisa saja terjadi perang antar kelompok yang berujung pada aksi saling menguasai bahkan beratnya kelaparan bisa menjadi alasan untuk aksi kanibalisme. Keadaan ini turut didukung oleh kurangnya pengetahuan terhadap tumbuh-tumbuhan yang bisa dikonsumsi di masa perantara sebelum kelompok mendapat buruan yang lain..

  3. Orang-orang primitif masih saling bermusuhan antar kelompok.

    Kejahatan manusia benar-benar merajalela. Kemampuan mengendalikan emosi sangat minim, justru semakin mereka dewasa, makin mudah terpancing emosi yang bisa berubah dengan cepat menjadi perkelahian. Pemimpin kelompok adalah orang yang paling berkuasa dan paling hebat dalam bertarung dengan alat atau tanpa alat.

    Tidak ada perkembangan yang signifikan karena pikiran telah tertutup oleh minimnya wawasan tentang diri sendiri, tentang Tuhan dan tentang alam sekitarnya. Jadi, mustahil ada niat antar kelompok untuk menyatukan diri demi sebuah kerajaan.

  4. Kedatangan Misionaris Eropa.

    Selain petualang Eropa, yang dimungkinkan lagi untuk melakukan perjalanan keliling dunia menyebarkan manfaat garam sambil mengajarkan kekristenan adalah misionaris dari gereja-gereja di Eropa. Lembaga misi gerejawi yang memiliki kerinduan agar Kristus dikenal oleh semua manusia di seluruh penjuru bumi. Sembari menantikan kedatangan Tuhan yang kedua kalinya maka perintah Tuhan untuk menyebarkan injil ke seluruh dunia harus dilaksanakan.

    Tidak ada kerajaan saat mereka baru sampai di nusantara. Pengetahuan yang mereka ajarkan mencerdaskan kehidupan sehingga masyarakat sudah bisa bertani dan beternak. Masyarakat hidup dalam kemakmuran dan takut akan Tuhan selama misionaris tersebut hidup. Akan tetapi, bisa jadi setelah para misionaris tersebut meninggalkan Indonesia untuk kembali kepada gerejanya dan keluarganya di Eropa. Nusantara kembali dikuasai oleh orang-orang awam yang menyebut dirinya sebagai pemimpin, raja atau presiden.

    Sayangnya, para penguasa di zaman itu tidak setuju dengan sosialisme dan lebih memilih sistem kapitalisme. Lalu mereka menutup jejak para misionaris dan mengakhiri ajaran sosialisme dengan menyebut orang Eropa sebagai penjajah. Semata-mata agar masyarakat juga turut membenci kekristenan karena merupakan agamanya penjajah.

  5. Spekulasi lain tentang petualang Eropa yang murah hati namun dipenuhi dengan rasa kecewa.

    Tidak seperti yang diceritakan di banyak film tentang orang Eropa yang menjajah berbagai wilayah di seluruh dunia. Menurut kami, orang Eropa yang bertualang ke berbagai wilayah merupakan seseorang yang tidak puas dengan negerinya. Mungkinkah ini terjadi karena dia kurang diterima dalam masyarakat atau sempat kecewa karena cita-cita besarnya gagal terwujud. Ada kemungkinan, orang tuanya adalah konglomerat sehingga memiliki banyak sumber daya untuk membiayai seluruh petualangannya.

    Setelah lama berlalu, mungkin ada konflik antara petinggi negeri dengan petualang Eropa sehingga para petinggi negeri berupaya untuk menutup jejak mereka. Agar masyarakat sama sekali melupakan orang-orang Eropa yang pertama kali mengajarkan pengetahuan dan wawasan tentang garam dan sosialisme. Bisa jadi hal ini adalah tujuan para petinggi negeri memfitnah Eropa sebagai penjajah agar masyarakat turut melupakan nilai-nilai penting tentang keadilan antar manusia.

  6. Garam diajarkan oleh para Misionaris atau petualang Eropa.

    Masih belum jelas, apakah para Misionaris atau petualang ini menetap di nusantara atau mereka hanya beberapa bulan/ beberapa tahun sebelum pergi kembali ke wilayah Eropa. Namun kebaikan mereka tidaklah biasa, mengajarkan orang pribumi tentang kehidupan bahkan memberikan pula ilmu tentang garam untuk mengembangkan pertanian. Tentu saja ini juga merupakan kesempatan baik untuk menyebarkan ajaran agama yang mereka yakini.

    Seperti yang kita telah ketahui bersama bahwa saat manfaat garam mulai diwartakan maka hal-hal lainnya tentang kehidupan ikut disebarluaskan. Misalnya tentang hubungan mineral tersebut dengan percepatan hasil pangan dan ternak. Pertanian sangat bermanfaat untuk membantu mensejahterakan semua orang. Peternakan tidak kalah pentingnya untuk menyokong kehidupan warga pada satu wilayah. Dimana tentu saja semuanya itu mereka lakukan dengan gratis.

  7. Bangsa Israel masih dalam lingkaran kebencian pada masa itu.

    Timbul pertanyaan, mengapa perkembangan ilmu pengetahuan tidak terjadi di tanah Israel? Sesungguhnya bukan tidak ada perkembangan melainkan ada tetapi rusak oleh kerasnya lingkaran kebencian. Seperti yang tertulis di dalam Alkitab, ada saling ejek antara Israel, Yehuda, Edom, Amon dan bangsa-bangsa lain di sekeliling mereka. Saat satu wilayah merasa dirinya lebih kuat maka wilayah tersebut akan menyerang wilayah di sekitarnya untuk membalaskan dendam orang tua atau dendam kakek atau dendam buyutnya.

    Jadi wilayah ini sulit berkembang karena ikatan dendam antar bangsa. Mereka mungkin baru akan bersatu ketika orang-orang seperti Yesus Kristus bangkit untuk memperjuangkan keadilan. Maksudnya adalah pemimpin-pemimpin bangsa tersebut akan menyadari bahwa sebenarnya bukan bangsa lain yang menjadi musuhnya melainkan orang dalam negerinya sendiri yang bermaksud untuk mengadilkan/ menyetarakan kemewahan dan kemegahan hidup yang selama ini dikuasai. Jadi tidak banyak hal yang berkembang, termasuk pengetahuan dan kekristenan karena diikat oleh dendam kesumat antar wilayah.

  8. Bangsa Arab tidak mungkin lebih maju dari orang Eropa.

    Arab kemungkinan besar masih tidak memiliki kemampuan untuk menjangkau negeri yang cukup jauh di seberang samudera. Sebab wilayahnya yang berada di timur tengah masih berada dalam lingkaran dendam kesumat tanpa akhir. Begitu orang-orang di sana merasa lebih kuat maka mereka akan bersiap-siap untuk adu tanding dengan bangsa di sekelilingnya. Bisa jadi, banyaknya gurun di timur tengah merupakan petunjuk nyata bahwa negeri tersebut telah mengalami berulang-ulang kali peperangan besar maupun kecil.

    Kemampuan jelajah bangsa Eropa adalah yang awal dan terbaik. Beberapa dari mereka mungkin memiliki kemauan untuk tinggal di nusantara tetapi sebagian besar memutuskan untuk pergi, kembali ke negerinya. Sedangkan di timur tengah masih belum banyak perkembangan akibat kehancuran demi kehancuran terus terjadi karena ikatan dendam persaudaraan.

    Informasi tentang sudah duluannya orang timur tengah sampai di nusantara sebelum datangnya orang Eropa, tidak masuk akal. Bagaimana mungkin, orang-orang yang masih terlibat perang saudara memiliki kesempatan untuk menjelajahi negeri lain? Tentu saja jika mereka memiliki sumber daya lebih untuk melakukan sesuatu, pasti hal tersebut ditujukan untuk membalaskan dendam nenek moyangnya kepada musuh-musuh yang ada di sekitarnya. Tanpa kedamaian di dalam hati manusia tidak ada perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat. Sebab kebahagiaan, kedamaian dan kemakmuran antara manusialah yang membuka pikiran untuk menemukan hal-hal baru.

  9. Lantas, mengapa orang kristen sempat tidak banyak jumlahnya (minoritas) di Indonesia.

    Timbullah pertanyaan kuat, ketika kami beranggapan bahwa orang Eropa lebih duluan sampai di nusantara. Lantas, “mengapa orang Muslim sempat lebih banyak jumlahnya dari orang Kristen?” Di zaman sebelumnya, setelah orang Eropa sampai di negeri, orang kristen pasti sangatlah banyak bahkan mayoritas. Namun teriakan keadilan dari aktivis kristen memekakkan hati para petinggi negeri sehingga melakukan islamisasi informasi di antara masyarakat untuk meminimalisir berkembangnya tokoh kristen idealis.

    Ternyata telah terjadi islamisasi informasi yang dipelopori oleh petinggi dalam negeri. Seolah-olah Islam itu banyak, besar dan hebat padahal semuanya itu hanyalah informasi bohongan (hoax). Sudah pasti tindakan islamisasi ini sangat efektif karena sumber daya yang banyak dan siap dibagi-bagikan ada di tangan tokoh yang mempeloporinya. Sebab orang kristen terlalu cepat berkembang dan memahami makna keadilan sosial, sesuatu yang sangat disembunyikan maknanya oleh para kapital. Sedangkan orang Islam tidak memiliki pengetahuan agama dan wawasan kehidupan yang berkembang sebab pemahaman mereka terpaku pada hafalan yang panjang-panjang. Jadi, pengikutnya tidak akan memahami arti keadilan sampai kapan pun (pada masa itu makna keadilan disembunyikan secara politik intelektual).

  10. Penyesatankah atau bisa jadi semuanya itu adalah ujian?

    Apakah semua kebohongan yang dilakukan kapital tentang masa lalu bahkan sampai menulis ulang sejarah adalah sandiwara yang sia-sia? Bisa jadi seperti itu ujung dari penyesatan jika masyarakat yang melaluinya, menyimpang ke jalan yang salah. Dan bisa juga fenomena penyesatan ini malah bermanfaat untuk menguatkan orang-orang percaya agar semakin teguh di dalam Tuhan. Sekarang, posisi anda dimana setelah memahami beberapa informasi sesat tentang sejarah di masa lalu? Mudah-mudahan itu tidak membuat anda berbuat hal-hal buruk sampai menjadi homo, pedofil bahkan ateis. Melainkan kiranya semua informasi yang disandiwarakan di masa lalu malah mendorong anda untuk semakin memperjuangkan kebaikan, kebenaran dan keadilan.

  11. Dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Masyarakat primitif hanya memiliki suku kecil yang bisa bertahan karena berburu hewan liar. Sudah tentu ketergantungan mereka yang sifatnya 100% terhadap hasil alam membuat kelompoknya berpindah-pindah. Sedang jumlah orang di setiap kelompok sangat dipengaruhi oleh seleksi alam. Mereka yang bertahan hanyalah orang-orang yang selamat dari serangan penyakit dan selamat dari serangan sesamanya/ serangan kelompok lain. Tidak ada yang bisa membuat masyarakat bertambah banyak karena serangan penyakit, kelaparan dan perang antar suku. Satu-satunya yang bisa membawa nusantara ke arah yang lebih baik adalah saat mereka mengenal agama, pertanian, peternakan dan kesehatan yang di bawa oleh orang-orang Eropa. Jadi, keberadaan kerajaan besar sebelum masyarakat mengenal terobosan tentang pertanian, peternakan, kesehatan dan agama adalah mustahil. Anggap saja ini dan itu sebagai masukan untuk menambah wawasan sejarah dalam benak anda!

Salam, Kuasa besar yang
mampu mempersatukan
seluruh negeri adalah
ilmu pengetahuan
dan sumber daya
yang selalu ada
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.