Tidak Ada Kerajaan Dan Suku Bangsa Tanpa Pengetahuan Tentang Garam

Tidak Ada Kerajaan Dan Suku Bangsa Tanpa Pengetahuan Tentang Garam

Kita mudah sekali percaya dengan kisah yang di bawa oleh film atau sinetron di televisi. Tidak ada niat untuk mempertimbangkan sesuatu karena memang tidak memahami tentang maksud dan tujuan kisah-kisah tersebut terjadi. Itu bukan masalah, kita anggap saja sebagian dari kisah tersebut hanya berupa fiksi yang semata-mata dibuat untuk menghibur masyarakat luas. Tidak perlu mempermasalahkan karya seni yang cenderung bernuansa “diindah-indahkan” atau “diburuk-burukkan” sebab setiap orang berhak menceritakan kisahnya untuk mendidik masyarakat menjadi pribadi yang lebih baik. Pada bagian ini, kami tidak menyalahkan siapa pun, karena apa yang kami ungkapkan pun berupa spekulasi (persepsi) sekedar menambah pengetahuan anda.

Zaman dulu, tidak ada yang tahu apa yang terjadi dan tidak ada dari kita yang mengenalnya, selama hal tersebut belum didokumentasikan. Beberapa orang berusaha untuk meramal apa yang terjadi sebelum zaman dimana kita hidup tetapi kami memilih untuk memperkirakannya berdasarkan jejak materi tertentu. Ada material penting kehidupan yang mau tidak mau harus dipahami manusia agar bisa hidup dan berkembang di dunia ini. Orang-orang yang tidak paham terhadap material penting tersebut, tidak mampu berkembang dan cenderung ditelan oleh kerasnya bumi ini. Material penting yang kami maksud pada bagian ini adalah garam yang pemanfaatannya berawal dari bangsa Israel.

Bangsa Israel telah dianugerahkan Tuhan pengetahuan tentang garam secara turun temurun. Bapa Abraham bisa berumur panjang pasti mengetahui manfaat dari mineral ajaib ini (bnd. Kejadian 25:7). Yusuf anak Yakub (cucu Abraham) sangat sukses membuat lumbung besar dengan pertanian yang mengandalkan garam di tanah Mesir (bnd. Kejadian 41:48)). Sedangkan orang israel sendiri mengenal yang namanya perjanjian garam yang telah dituliskan dengan jelas di dalam Alkitab (bnd. Bilangan 18:19). Sudah pasti penyebaran informasi tentang manfaat garam di seluruh dunia dilakukan oleh orang Israel sehingga terbentuklah berbagai komunitas baru diberbagai belahan dunia. Suatu komunitas yang menguasai sistem pertanian dan peternakan dimampukan untuk hidup bersama sebagai masyarakat bahkan sampai menjadi kerajaan.

Manusia yang mengenal pertanian dan peternakan dapat hidup makmur, mereka dimungkinkan untuk hidup sebagai masyarakat dan tumbuh dalam kebersamaan hingga membentuk suatu kelompok kesukuan bahkan sampai memiliki kerajaan. Menyadari bahwa inti pertanian dan peternakan adalah garam: manusia tidak bisa mengembangkan teknik yang berhasil tanpa mengetahui manfaat mineral ajaib ini. Jadi, tanpa mengenal manfaat garam tidak ada yang namanya masyarakat, tidak ada suku bangsa dan tidak ada kerajaan. Sebab tanpa garam masing-masing manusia hanya hidup dalam keterbatasan budaya primitif. Orang primitif tidak mengembangkan/ menanam/ memelihara/ menumbuhkan sesuatu, melainkan mereka hanya memakan apa yang ada, yaitu hewan liar dan beberapa jenis buah-buahan.

Manusia yang mengenal pertanian dan peternakan dapat hidup makmur, mereka dimungkinkan untuk hidup sebagai masyarakat dan tumbuh dalam kebersamaan hingga membentuk suatu kelompok kesukuan bahkan sampai memiliki kerajaan.

Orang-orang primitif yang tidak mampu mengolah tanah tidak mampu hidup bersama dalam masyarakat. Artinya, manusia tanpa pertanian tidak memiliki kelompok dan kepala suku apalagi kerajaan. Sebab mereka hanya mengambil apa yang ada dan tidak bisa menjaga ketersediaan sumber daya. Jika menurut hukum alam: tumbuhan harus lebih banyak dari herbivora; herbivora harus lebih banyak dari karnivora maka bisa dipastikan bahwa “jumlah penduduk primitif (omnivora berada di puncak rantai makanan) tidak lebih banyak dari hewan karnivora/ herbivora.” Jika jumlah penduduk primitif yang tidak mengenal pertanian melebihi jumlah hewan liar, akan terjadi bencana kelaparan bahkan aksi pembunuhan dan kanibalisme. Satu per satu penduduk akan lebih rentan terserang penyakit bahkan wabah yang menghabiskan banyak kehidupan.

Menurut hukum alam: tumbuhan harus lebih banyak dari herbivora; herbivora harus lebih banyak dari karnivora maka bisa dipastikan bahwa “jumlah penduduk primitif (omnivora berada di puncak rantai makanan) tidak lebih banyak dari hewan liar di hutan.”

Sedang kita ketahui bahwa masyarat pertanian yang sudah tahu manfaat garam, sudah otomatis tahu pula bahwa garam sangat baik untuk kesehatan manusia itu sendiri. Akan tetapi, ada kemungkinan pemanfaatannya untuk kesehatan dilakukan secara sembunyi-sembunyi dalam ramuan-ramuan herbal atau dikenal juga sebagai jamu. Sekali pun demikian, masyarakat tetap rentan dengan penyakit tertentu sebab yang paling dibutuhkan tubuh bukanlah makanan atau garam melainkan air. Jadi, sekali pun suatu masyarakat pertanian telah berhasil membentuk dan mendirikan suku atau kerajaan bagi mereka. Tetap saja, penyakit bisa merajalela di antara penduduk, tidak peduli orang tersebut rakyat biasa atau petinggi negeri.

Masyarakat tetap rentan dengan penyakit tertentu sekalipun beberapa tabib memanfaatkan pengobatan garam sebab yang paling dibutuhkan tubuh bukanlah ramuan atau jamu atau garam melainkan AIR.

Lalu kita bertanya-tanya tentang nusantara, negeri yang permai. Pertanyaan utamanya adalah, apakah nenek moyang kita sudah mengenal pertanian? Siapa yang mewartakan tentang pertanian tersebut? Di sinilah titik kontroversial kehidupan yang simpang siur. Sebab kita diajari di bangku sekolah, bahwa nenek moyang orang Indonesia di masa lalu telah bermukim dalam masyarakat bahkan sampai memiliki kerajaan ini dan itu yang tersebar di seantero negeri. Lantas orang Israel mana yang membawa garam ke Indonesia? Faktanya, tidak ada! Jadi, sudah pasti nenek moyang orang Indonesia tidak hidup bermasyarakat dan tidak memiliki kerajaan apapun. Melainkan nenek moyang terdahulu hanyalah orang-orang primitif yang hidup dalam kelompok kecil.

Orang Israel atau orang Yahudi yang kemungkinan besar membawa manfaat garam ke nusantara adalah bangsa Eropa. Penjelajah Eropa merupakan bangsa dengan pengetahuan dan kepedulian yang tinggi. Sehingga sudah pasti mereka secara langsung atau secara tidak langsung mengajari nenek moyang kita tentang pertanian garam. Sedang menurut sejarah, orang Eropa menginjakkan kaki di Indonesia 350 tahun sebelum masa kemerdekaan. Apakakah mungkin suatu kerajaan besar dapat berkembang setelah 350 tahun? Sekalipun dimungkinkan, fakta ini mementahkan teori yang menyebutkan bahwa nenek moyang orang Indonesia hidup bermasyarakat dan memiliki kerajaan besar sebelum orang kulit putih menginjakkan kaki di pantai nusantara.

Kesimpulan

Jejak garam dibawa oleh bangsa Israel dan menyebar di timur tengah. Namun negeri mereka porak-poranda karena kebencian & dendam antar saudara yang menimbulkan peperangan, kelaparan dan penyakit sampar. Tidak banyak perkembangan di Israel dan timur tengah tetapi keturunan Israel yang menyebut dirinya orang Yahudi tersebar dimana-mana. Orang Yahudilah yang membawa informasi tentang manfaat garam di berbagai wilayah termasuk di Eropa. Selanjutnya, orang Eropalah yang mampu berlayar dan bertualang lebih jauh ke berbagai penjuru dunia untuk menyebarkan informasi tentang garam yang sangat bermanfaat, termasuk di Indonesia. Jadi, bisa dikatakan bahwa sebelum orang Eropa menginjakkan kaki di nusantara, orang lokal masih hidup primitif: tidak ada pertanian apalagi kerajaan di negeri. Artinya, sejarah tentang adanya kerajaan-kerajaan besar di masa lalu merupakan kebohongan yang tidak berdasar. Atau kita anggap saja hal tersebut adalah fiksi, semata-mata untuk hiburan masyarakat dan ajakan untuk melakukan kebaikan.

Salam, Tanpa mengetahui
manfaat garam,
manusia cenderung
berotak primitif:
tidak ada yang
namanya masyarakat
dan tidak memiliki kerajaan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.