8 Alasan Orang Cerdas Idealis Memilih Kaya Raya

Alasan Orang Cerdas Idealis Memilih Kaya Raya

Apa gunanya kecerdasan kalau tidak bermanfaat? Apa gunanya memanfaatkan sesuatu bila hanya untuk diri sendiri? Apa yang dapat anda lakukan jika hanya bisa hidup sendiri? Ketika egoisme menguasai diri seseorang maka sudah pasti kesombongan ikut bercokol di dalam hatinya. Apa lagi itu kalau bukan: “hanya aku, cuma aku yang bisa, aku saja yang punya, aku jauh lebih baik, yang lain bukan apa-apa.” Yang mana semua pemahaman ini terbentuk semata-mata untuk mebumbuat hati senang. Pantaskah kita melakukan ini, padahal kenyataannya diri sendiri sama saja dengan orang lain di luar sana. Hanya karena memiliki sekelumit pengetahuan dan wawasan yang unggul, sudah dianggarkan. Padahal semuanya itu bisa dipelajari dan dipraktekkan orang lain seandainya mereka mengetahuinya.

Ketika Tuhan adalah kesenanganmu maka cara-cara kotor untuk bersenang-senang akan menjauh.

Apakah semua orang cerdas bernasib sama? Tentu saja tidak, hanya orang cerdas idealislah yang cenderung lebih banyak ditantang oleh sesamanya. Ini bisa jadi oleh semua orang karena mereka bekerja sama dengan orang tuanya. Hanya idealis yang mampu bertahan tetap positiflah yang sampai mandiri dan terbebas dari semua keusilan orang lain. Mereka tidak berhak mengganggunya lagi sebab tidak ada pihak lain yang menguasai kehidupannya yang sudah berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Tentu saja untuk dapat terbebas dari asuhan orang tua, seseorang butuh pekerjaan tetap yang bisa membuatnya menafkahi diri sendiri. Suatu pekerjaan yang halal dan hampir mirip-mirip dengan pekerjaan lainnya, karena bekerja dengan gaji sangat tinggi tanpa melakukan apa-apa beresiko tinggi membuat seseorang berada di bawah perjanjian kerja objek penelitian (kelinci percobaan) kapital.

Kecerdasan yang kita miliki, sebaiknya tidak hanya digunakan untuk diri sendiri. Sebab ilmu bisa ditransfer dan keahlian bisa di latih, maka bantulah orang lain untuk belajar dan melatih dirinya sendiri agar mampu mengikuti pergerakan sistem. Jika orang lain cerdas maka beban kerja yang banyak bisa dibagikan kepada mereka. Demikian juga dengan jam kerja padat bisa dirampingkan karena banyak yang bisa melakukan apa yang kita lakukan. Bilamana kita mampu bekerja sama dengan semua orang maka akan terciptalah keadilan hidup karena semua keluarga dapat jatah sumber daya yang setara. Dan bukannya keunggulan diri dimana satu-dua orang menjadi lebih kaya raya dari yang lain. Posisi hidup yang tak terlampaui oleh sesama manusia merupakan wujud nyata mendewakan diri sendiri.

Sayang, setiap gagasan idealis tentang keadilan ditantang oleh para kapital yang sudah berjaya lebih dulu. Tetapi, mereka tidak bisa menyentuh anda yang idealis, hanya orang tua andalah yang berkuasa atas anda. Jadi, selama hidup belum mandiri hadapilah tantangan dari pihak ibu dan ayah dengan rendah hati. Ikhlaskan saja semuanya itu, sebab memang sudah demikian aturannya (tindakan yang dilakukan ortu sudah sesuai aturan). Belajarlah untuk merendahkan hati dengan tetap melaksanakan apa yang menjadi tugas-tugas yang diemban dalam keluarga. Termasuk dalam hal ini adalah keramahan dan kebaikan anda di tengah situasi yang agak aneh menunjukkan kesederhanaan hidup yang dijalani dengan bahagia. Itulah kebahagiaan ketika anda sempat berbagi kebaikan kepada siapa saja di tengah kerumitan hidup.

Faktor penyebab orang cerdas idealis menjadi kaya raya

Ada banyak hal yang digunakan oleh para kapital untuk membuatnya bimbang menjalani hidup. Orang yang sudah bimbang secara otomatis mempertanyakan kembali tujuan dan prinsip hidupnya: apakah semua itu benar? Apakah yang diperjuangkannya tentang keadilan dan kebenaran memang layak untuk dikejar? Jika keraguan di dalam hati dihentakkan sedikit saja oleh ketakutan, maka bisa-bisa hidup menjadi tunggang langgang, berlari terbirit-birit padahal tidak ada yang mengejar. Sikap paranoid menjadikan seseorang lemah sampai membuatnya lupa atau sengaja melupakan titik perjuangan yang pernah menjadi tujuan hidupnya. Berikut akan kami paparkan sedikit alasan mengapa orang yang pikirannya brilian malah memanfaatkan hidupnya untuk mengejar materi dan kemuliaan belaka.

  1. Keinginan yang tinggi-tinggi.

    Semakin lama hidup di dunia, semakin pandai menjalani hidup. Semakin pintar seseorang, semakin banyak pula hal-hal indah, mewah dan elegan yang disaksikannya. Terlebih ketika dirinya tidak mampu lagi membedakan antara realita dan imajinasi. Yang menganggap bahwa kisah-kisah kenamaan dalam sinetron dan film atau novel atau cerpen dapat terjadi pula di dunia nyata. Semua yang dilihatnya: diinginkannya pula sehingga hal-hal yang bernilai tinggi turut menjadi impiannya. Dia merasa bahwa hidup terus bermimpi bisa membuat hati bersenang-senang. Menjadikan impiannya yang tinggi-tinggi sebagai penyemangat hidup yang hampa. Kalau orang sepintar ini sudah berikhtiar untuk menggapai sesuatu, maka segala cara akan diusahakannya untuk memiliki semuanya itu. Sekalipun cara-cara tersebut bertentangan dengan ide-ide mendasar yang dipahaminya, namun berani ambil resiko sekedar demi bersenang-senang. Dia lupa bahwa hanya di dalam Tuhan: dalam kebenaran dan keadilan-Nya ada kesenangan abadi.

  2. Takut terorisme/ kejahatan.

    Ada pencopet, begal motor, maling, pencuri berkeliaran dimana-mana. Bahkan berita-berita menunjukkan bahwa kejahatan berkeliaran di siang bolong di tengah kota yang sangat ramai. Orang pintar yang hari-harinya terus diisi dengan informasi hoax semacam ini bisa menjadi setengah ketakutan. Dengan sedikit keangkuhan di dalam hati maka membangun hunian mewah dengan penjagaan ketat menjadi harapan sicerdas yang penakut itu. Keadaan ini membuat semuanya pupus, harapan dan tekad sederhananya di masa muda menjadi pupus karena ancaman para pembohong.

    Sadarilah bahwa televisi zaman sekarang syarat dengan sandiwara. Sedang yang diberikan dalam televisi tidak semuanya benar. Ada beberapa hal yang merupakan fakta, tetapi komedi dan hiburan imajinatif mendominasi ruang publik. Sebab manusia zaman sekarang tidak ingin mendengar hal-hal biasa melainkan sesuatu yang lain dari yang biasanya untuk bersenang-senang.

  3. Takut bencana alam/ bintang jatuh/ banjir/ air laut naik.

    Di zaman kapitalis, orang cerdas berkesempatan naik daun lebih cepat untuk meraih puncak kehidupan yang lebih baik dari yang lain. Para kapital bisa saja menempatkan si idealis ini di wilayah kerja yang melimpah ruah dengan sumber daya (baik yang halal maupun yang dicuri). Setelah memiliki cukup banyak uang dan harta benda: ia punya kebiasaan baru. Melengkapi aksesoris kehidupannya dengan berbagai-bagai persiapan yang sangat terencana. Membangun hunian super megah dan kokoh sampai ke dalam tanah. Membuat tempat persembunyian yang paling aman di dalam rumah dari berbai bencana alam seperti yang diceritakan berbagai film. Misalnya air laut naik, banjir besar, letusan gunung, gempa bumi, tsunami dan lain-lain. Padahal segala bencana yang difilmkan itu adalah cerita fiksi ilmiah belaka.

  4. Karena ketakutan diganggu terus-menerus.

    Selama masih berada dalam naungan orang tua, bisa saja hidup orang-orang pintar ini terseret terus oleh dunia yang bergelora di sekitarnya. Dia berpikir bahwa keadaan tersebut akan terus berlanjut sampai dewasa bahkan sampai berkeluarga. Padahal cobaan itu terjadi hanya selama dirinya belum mandiri dan masih dipangku oleh sumber daya dari keluarga. Setelah mandiri, tidak ada lagi orang yang merasa berhak menimbulkan gangguan kecual dirinya telah menyetujui hal tersebut dalam ikatan perjanjian yang dibayar mahal.

    Menyadari bahwa pribadi yang suka usil tidak selamanya ada adalah hal penting dalam hidup seorang idealis. Berada di sisi orang tua memang kurang enak namun keadaan tersebut sekaligus bisa mendidik seseorang untuk menjadi dewasa bahkan bijak menjalani harinya. Keusilan yang ditimbulkan beradasarkan kerja sama ortu dengan berbagai pihak tidak perlu dibawa dalam hati. Abaikan saja tetapi tetaplah ramah terhadap siapa saja yang berkomunikasi/ berhubungan dengan anda.

  5. Takut tidak dihargai/ dihormati orang.

    Ujian dimana orang-orang seolah tidak lagi menghiraukan anda merupakan sesuatu yang sangat membebani bila terlalu dipikirkan. Keadaan ini bisa membuat seseorang merasa tidak dihargai dan tidak dihormati oleh orang lain. Keadaan ini ditambah lagi dengan beban obat/ toksin yang diberikan oleh ortu terlebih jika sampai ada juga beban racun dari penyusup. Keadaannya seperti “sudah jatuh tertimpa tangga pula.” Rasanya doble-doble hingga membuat hati yang meragu menjadi putus asa.

    Saat dirinya memandang kepada orang kaya, hati menciut karena orang kaya tersebut sangat terhormat. Lantas dirinya yang polos pun turut senang karena menyukai penampakan tersebut. Tetapi hati yang mendengki sangat kecewa sekaligus menjadi takut: jangan-jangan hidupnya akan terus tidak dihargai orang bila jadi orang sederhana/ orang biasa/ masyarakat umum. Padahal semua keadaan tersebut hanyalah tantangan yang didatangkan orang tua untuk membangun kepribadiannya dengan lebih baik. Sudah barang tentu sesuatu yang ada awalnya, pastilah ada juga bagian akhirnya.

    Tidak perlu fokus pada sikap orang lain yang tidak peduli. Tetapi pedulilah kepada orang lain lewat kebaikan yang santun. Sebab kesenangan karena dihargai dan dihormati orang sifatnya putus-nyambung terbata-bata. Lebih baik bahagia dengan memuliakan Allah di dalam hati yang bisa dirasakan nikmatnya kapan saja, dimana saja dan apa saja aktivitas yang sedang digeluti. Disamping itu, jangan lupa untuk menyelesaikan apa yang menjadi tanggung jawab pribadi, bagikanlah kebaikan dan berjalanlah di jalan benar yang berkeadilan.

  6. Fobia dengan hal-hal tertentu.

    Ketakutan adalah alasan utama bagi orang untuk membuat benteng mewahnya sendiri yang jauh dari pemukiman masyarakat biasa. Ini tidak hanya dipicu oleh hal-hal nyata di sekitar kita tetapi dapat pula tersedia lewat informasi yang kita peroleh dari internet dan media sosial. Fobia terhadap hal-hal tertentu berarti suatu keadaan yang sangat takut dengan sesuatu. Takut semacam ini bukanlah takut biasa melainkan ketakutan yang mendatangkan stres dan trauma berat bagi yang bersangkutan. Keadaan ini membuatnya lebih suka membuat rumah dengan gayanya sendiri yang memiliki lingkungan sesuai dengan yang diinginkannya. Tentu saja untuk mewujudkan hal-hal tersebut dibutuhkan biaya yang sangat mahal dengan menjadi bagian dari industri kapital yang memanen di suatu wilayah.

    Ada juga jenis fobia yang disebabkan oleh karena terlalu mendewakan suatu hal. Akibatnya, ketika ada sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsipnya di berbagai media: hati jadi membenci dan tidak menyukai karya seni dimaksud. Pada bagian ini, informasi yang tersedia menimbulkan rasa jengkel di dalam hati orang tersebut. Akibatnya, sikap menjadi tidak terkendali dan cenderung menolak keras untuk menyaksikan apa yang tersaji. Bila perlu sampai berdebat dengan mereka yang ada di sekitarnya, yang membuat hari tambah pusing dan menambah sakit kepala saja. Keadaan ini membuat seseorang suka menyendiri dan menjauhkan hal-hal yang menurutnya salah: sejauh mungkin. Padahal sesungguhnya, suatu karya akan tetap di tempatnya (wilayah satu dimensi, dua dimensi) dan yang terjadi dalam kehidupan nyata tetaplah sesuai dengan aturan negara dan aturan iman.

  7. Cari aman saja.

    Pusing dengan berbagai kemelut yang menghantuinya, seorang idealis cerdas yang tidak berkembang sisi emosionalnya tidak mau lagi dihantui oleh banyak orang. Dia memilih untuk banting stir, memutar ke arah sebaliknya untuk berlibur dari tekanan sosial. Merasa bosan harus menghadapi cobaan yang itu-itu saja. Lalu mengambil keputusan untuk berhenti memperjuangkan pilihan/ keputusannya di masa lalu, dimana imannya masih berapi-api terhadap cita-cita sejati. Padahal dengan berlaku demikian, ia telah menyimpang dari sesuatu yang menjadi passionnya (panggilan hidupnya). Bagaimana seseorang bisa bahagia jika tidak melewati jalan yang seharusnya menjadi jalan hidupnya? Memilih untuk berhenti memperjuangkan apa yang adil, sama saja dengan membiarkan diri memanen bersama para kapital sehingga dirinya pun turut berkonspirasi memanipulasi masyarakat agar tetap bodoh dan terus hidup dalam keterbelakangan ekonomi.

  8. Upaya balas dendam (pamer) terhadap lawan.

    Orang-orang menakutimu dengan memberitakan kabar bohong (fitnah). Ada yang berkata bahwa di sini ada pembunuhan, di sana ada pencopetan, di situ ada aniaya, Orang ini tidak baik, orang itu koruptor, si itu mesum dan si ini bukan orangnya. Ada banyak hal-hal buruk yang mungkin di sampaikan ke ruang dengar anda oleh berbagai pihak. Berhati-hatilah sebab tidak semua yang anda dengar dan anda lihat adalah kebenaran. Bisa saja itu hanyalah praktek sandiwara sekedar permainan antar manusia. Jika salah persepsi terhadap situasi tersebut bisa membuat tindakan kita seolah-olah mempermalukan diri sendiri. Mengumbar fakta hoax adalah tipuan yang bisa membuat orang terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan. Mereka yang mengalami kesenjangan sikap ini bisa berikhtiar untuk melakukan hal yang sama kepada lawannya. Selanjutnya sifat yang ingin menjatuhkan orang lain tersebut ditempuh dengan meraih kelimpahan/ kemuliaan hidup hidup yang lebih tinggi dari yang lain.

    Ada lagi situasi dimana orang-orang dekat anda seolah-olah jahat. Dari informasi yang anda terima, mereka seperti menunjukkan gelagat aneh yang sangat mencurigakan. Akan tetapi, jangan terlalu dipikirkan sebab mungkin saja itu hanyalah aktivitas biasa yang secara tidak sengaja disalah artikan oleh pikiran negatif di dalam hati. Semua aksi yang penuh fitnah ini bisa membuat anda marah lalu mengambil keputusan yang terburu-buru sehingga salah bertingkah. Lantas orang lain menertawainya dan hati bertekat untuk membalas ejekan tersebut dengan mencapai kesuksesan hidup setianggi-tingginya yang jauh di atas para pengejek anda.

  9. Dan lain-lain, silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Orang idealis naturalnya sederhana. Tetapi berbagai ujian yang merintangi hari-harinya bisa membuatnya hilang arah. Seperti kehilangan kompas di tengah samudera yang luas dan tidak tahu jalan untuk pulang. Ketakutan bisa menyebabkan kebingungan yang mendorong seseorang untuk mengikuti hal-hal populis belaka yang mendewakan materi dan pengakuan duniawi. Ada baiknya bila cobaan yang didatangkan orang lain, bukannya malah ditakuti melainkan dijalani dalam sikap yang ikhlas, sabar dan rendah hati. Saat masih bersama orang tua, memang banyak cobaannya tetapi begitu anda mandiri, kehidupan yang bergejolak pasti mereda. Oleh karena itu, sabarlah di tengah ujian: abaikan masalah yang timbul namun tetaplah ramah dan berlaku benar kepada orang-orang di sekitar. Berusaha untuk tidak takut terhadap apa pun tanpa mengabaikan sikap hati-hati sebab kehidupan kita berada di bawah aturan Tuhan dan aturan negara.

Salam, Cobaan hidup awalnya
menggetarkan jiwa.
Namun biasakanlah diri
dengan getarannya
agar tidak terasa sakit lagi.
Tidak perlu khawatir
pasrahlah kepada Tuhan
dan percayalah terhadap
sistem yang berlaku
di dalam masyarakat
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.