10 Ajaran Budaya Televisi/ Film/ Sinetron Yang Tidak Untuk Ditiru Pemirsa

Ajaran Budaya Televisi-Film-Sinetron Yang Tidak Untuk Ditiru Penonton

Semua orang suka bersenang-senang menikmati hidup yang dianugerahkan kepada mereka apa adanya. Sesederhana apa pun nikmat yang dianugerahkan Tuhan melalui orang-orang di sekitar, itu sudah bisa membuat kita bahagia asal disertai dengan syukur. Sudah cukup apa yang kita miliki saat ini sebab hal tersebut merupakan jatah berjenjang yang adil dari pemerintah untuk dinikmati oleh tiap-tiap keluarga. Tidak perlu mencari yang lebih sebab yang tinggi-tinggi hanya ada dalam film dan yang mewah-mewah hanya ada dalam layar kaca belaka. Seberapapun yang kita miliki, kalau dinikmati sambil memuliakan Tuhan di dalam hati, pasti sukacita juga.

Salah satu kesenangan yang cukup berkembang di zaman sekarang adalah hiburan sandiwara dalam satu dimensi (cerpen, novel), dua dimensi (sinetron, film, kartun) dan tiga dimensi (ukiran patung, drama, pagelaran). Semua jenis sandiwara ini bisa disaksikan secara langsung (tatap muka) atau bisa juga disaksikan secara tidak langsung (online). Sedang berdasarkan urutan waktu, ada juga karya seni yang dapat disaksikan secara langsung (siaran langsung, konser) dan tidak langsung (rekaman, dokumentasi). Karya yang berupa rekaman (berhasil direkam) selalu otentik dan tidak berubah oleh waktu selama berkas-berkas datanya tidak dihapus. Siapa saja bisa menyaksikan berkas-berkas tersebut di berbagai penjuru negeri asal mereka terhubung dengan jaringan internet yang memadai.

Dari sekian banyak hal yang ditampilkan dalam suatu karya seni, satu hal yang banyak diperbincangkan adalah konflik. Semakin panjang alur suatu kisah, semakin banyak pula masalah yang perlu diselesaikan. Biasanya, orang yang banyak bermasalah memiliki kebiasaan yang kurang baik dalam menjalani harinya. Soal-soal yang dihadapipun semakin rumit saja dan dalam berbagai peran yang ditampilkan. Tidak ada aktor/ aktris yang benar-benar sempurna dan dapat dicontoh oleh semua orang. Sebab pada dasarnya ada perubahan hidup yang dialami para tokoh dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Demikian juga dengan sikap-sikap yang diekspresikan ada yang akan berubah dari negatif menjadi sikap yang lebih positif tetapi ada juga tokoh yang perannya selalu kurang positif sampai akhiir cerita. Anda mungkin bisa meniru ekspresi yang positif tetapi terlalu mengidolakan tokoh tertentu bisa membuat penonton beresiko meniru sikap positif dan juga sikap negatif yang dilakonkan sang idola.

Ajaran budaya dalam cerpen/ novel/ film/ sinetron yang tidak baik untuk ditiru.

Ada pola-pola tertentu dalam sebuah cerita yang secara monoton ditampilkan sama. Memang perlu diakui bahwa tidak semua budaya yang kurang baik tersebut ditampilkan oleh setiap kisah. Melainkan hanya beberapa karya seni saja yang menampilkannya. Biasanya cerita tersebut keluar di tahun-tahun yang telah lama berlalu. Anda pasti bisa menemukannya jika rutin menyaksikan karya bergenre film atau serial sinetron atau film pendek. Di atas semuanya itu, kita tidak bisa menyalahkan karya seni tertentu karena telah menghasut masyarakat untuk menjadi sesat. Melainkan pola-pola sikap yang buruk tersebut menjadi ujian yang melatih sikap kritis bagi setiap pemirsa/ penonton/ masyarakat. Berikut akan kami tampilkan beberapa ajaran sesat yang kami maksudkan.

  1. Cara mengakhiri penderitaan adalah bunuh diri.

    Biasanya keputusan yang kurang baik ini terjadi dalam adegan peperangan. Dimana salah satu pihak yang terkena serangan yang parah sudah hampir mati. Lantas teman-temannya yang menyaksikan bahwa hidup rekan mereka sudah diujung tanduk, memutuskan untuk mengakhiri deritanya dengan ditembak mati.

    Keputusan ini sama saja dengan membunuh sesama manusia. Seolah mati itu lebih baik daripada menderita kesakitan. Akibatnya budaya semacam ini bisa ditiru serongkan oleh orang muda yang masih belia pemikiran. Ketika mereka menghadapi rasa sakit berulang yang berlarut-larut, bisa memilih jalan yang salah dengan membunuh diri sendiri demi mengakhiri penderitaan. Padahal dengan berlaku demikian, besar dosanya di hadapan Tuhan.

    Selalu sadari bahwa ada dua jenis penderitaan: ada yang bisa langsung sembuh (biasanya sembuh dengan meminum obat farmasi atau herbal alami atau melakukan aktivitas). Tetapi ada juga derita yang tidak sembuh-sembuh selama beberapa waktu. Ini berkaitan dengan ujian kehidupan yang mungkin di jalani seseorang dalam masa waktu tertentu. Tetapi hadapilah semua dengan ikhlas, sabar dan rendah hati sampai tiba waktunya dimana ujian tersebut berakhir.

  2. Pacaran adalah segalanya.

    Film telenovela klasik seolah-olah mengajarkan kepada kita bahwa memiliki pacar adalah segalanya. Pemirsa di rumah diajak untuk menikmati pesona jalinan cinta kasih antara dua sejoli yang sedang bermesraan. Seolah dunia ini hanyalah milik mereka berdua, sampai-sampai segala sesuatu dikorbankan demi keinginan pasangannya masing-masing. Sepertinya semua masalah yang dialami dapat terlupakan saat kekasih hati ada di depan mata. Bahkan sampai keduanya tidak butuh apa-apa lagi asalkan keduanya bisa terus bersama sampai kapan pun.

    Padahal sepatutnya, sebelum memiliki pacar/ istri/ suami setiap orang harus terlebih dahulu memiliki Tuhan di dalam hati masing-masing. Tuhanlah yang membantu kita menyelesaikan berbagai masalah, termasuk perkara-perkara kecil yang timbul di antara pasangan. Tuhan juga yang membuat hati dua sejoli bisa tetap bahagia meskipun hidup dalam keterbatasan. Tidak perlu terburu-buru mencari dan memiliki pacar, melainkan tunggulah dahulu sampai anda mandiri agar bisa berdikari membangun rumah tangga yang bebas dari intervensi/ interupsi pihak manapun (termasuk orang tua/ mertua). Anda tidak maukan, rumah tangga anda malah dikuasai oleh orang tua atau mertua anda?

  3. Perjuangkan cintamu mati-matian.

    Biasanya pola kehidupan artis semacam ini terdapat dalam beberapa sinetron telenovela klasik. Seolah seorang pria harus dikejar-kejar oleh berbagai masalah sebelum akhirnya memiliki pujaan hatinya. Ada banyak rintangan yang menyesakkan hidupnya dan ia terpaksa harus menjalaninya demi mendapatkan cinta sejati. Bahkan sampai pernah ada film yang menunjukkan betapa seseorang harus rela mati mengorbankan diri untuk cintanya.

    Drama yang hipersensasional semacam ini, memang terlihat seru dan bisa membuat hati pilu/ menangis tersedu-sedu. Akan tetapi, percayalah bahwa pengejaran cinta semacam ini hanya melelahkan badan dan menyiksa hati. Padahal laki-laki dan perempuan saling mencintai untuk membuat beban hidup masing-masing menjadi lebih ringan. Artinya, membentuk keluarga baru seharusnya bukan untuk memberatkan beban hidup tetapi untuk meringankannya.

  4. Orang yang mencintaimu adalah orang yang jahat padamu.

    Ini film tentang anak sekolahan yang mencoba menjalin cinta. Dimana pada awalnya kedua anak muda ini, perempuan dan laki-laki, merupakan pribadi yang saling berseteru satu sama lain. Saking parahnya, konflik di antara mereka lebih besar daripada konflik yang dialami teman-teman yang lain.

    Keadaan ini jelas bertentangan dengan dunia nyata. Tidak ada hubungan baik yang diawali dengan peristiwa buruk. Sebab biar bagaimana pun, sebagai manusia memiliki hati yang sudah tersakiti menjadi sulit untuk menjadi baik. Apalagi sampai sakit hati tersebut berubah jadi cinta, adalah suatu logika yang kekanak-kanakan. Sadarilah bahwa kehidupan percintaan yang dibangun dengan dasar yang tidak jujur dan tidak tulus akan cepat menggonggong dalam perpisahan.

    Salah satu slogan anyar karya seni yang banyak sekali diperdengarkan adalah “benci, benar-benar cinta” dan “benci bilang cinta.” Seolah-olah ini menunjukkan bahwa apa yang kamu benci juga kamu sukai. Ini jelas sebuah slogan “anti konsistensi” yang menciptakan kebingungan baru. Orang yang kurang pemikiran bisa terjebak untuk turut melegalkan hal-hal jahat secara diam-diam, layaknya seorang munafik. Seperti orang yang baik di antara orang banyak tetapi jahat di lorong-lorong sempit kehidupan.

  5. Orang bandel lebih di sukai cewek daripada orang alim (bad boys lebih laku daripada goog boys).

    Benarkah demikian? Seolah slogan ini kami peroleh ketika sedang duduk di bangku sekolah sampai kuliah. Dan memang kenyataannya dilapangan pada masa itu juga demikian. Beberapa orang yang dianggap bandel, suka bolos dan ranking jelek sudah punya pacar dan daftar mantan yang cukup banyak. Kami tidak begitu menggubris slogan miring tersebut kala itu, Karena kami sedang fokus-giatkan belajar agar berprestasi walau tak pernah meraih prestasi apa pun. Lagi pula pacaran lama dengan status yang tidak jelas beresiko tinggi menjadi ajang seks bebas dan mengacaukan pikiran yang tenang.

  6. Berkelahi adalah adu kejantanan.

    Film-film klasik yang pernah ditonton memang menyajikan aksi laga yang tampaknya sangat berani. Seolah-olah saat berkelahi mengalahkan seseorang, hati bisa berbangga ria karena hal tersebut. Padahal aksi pukul bisa tidak berujung akibat upaya balas dendam. Pada akhirnya, yang terkuatlah yang menang sehingga dendam ditekan oleh rasa takut. Bahkan beberapa aktor dalam filmnya langsung menyatakan bahwa “untuk menunjukkan kekuatannya, laki-laki harus berani adu otot.”

    Budaya film semacam ini bisa saja menghasut seseorang untuk membuktikan kehebatannya dengan memukul orang lain. Padahal aksi tersebut bisa sangat membekas dalam pikiran sehingga terus-menerus dikenang dalam beratnya rasa bersalah. Lagi pula, zaman sekarang tidak perlu lagi membuktikan keberanian diri dengan berantem. Melainkan coba saja ramah pada momen yang cerdas kepada semua orang dan hadapi dengan lapang dada jika ada yang lupa menjawab anda. Ini baru namanya berani karena berbuat baik.

  7. Sahabatmu adalah orang yang jahat padamu.

    Jelaslah bahwa ajaran semacam ini mencoba mengajak anda untuk tetap bersahabat dengan orang yang moralitanya jongkok. Memang memaafkan lawan itu baik tetapi berkawan dan turut melakukan kejahatannya, jelas sangat tidak dianjurkan. Bahkan kami menganjurkan anda untuk melaporkan setiap kejahatan orang lain kepada pihak yang berwajib. Untuk yang masih anak-anak (belum mandiri), laporkan dahulu kepada orang tua.

    Sahabat bisa saja melakukan kesalahan karena diapun manusia biasa. Tetapi bukan dalam arti bahwa anda dapat memaafkannya dengan demikian seolah melegalkan kejahatannya. Berhati-hatilah dengan paham yang anda yakini sebab hal-hal tersebut bisa menjadi kenyataan yang merugikan kehidupan.

  8. Curhat adalah segalanya, ceritakan masalahmu.

    Ada film atau sinetron tertentu yang sangat menonjolkan topik-topik ini. Orang yang bermasalah diarahkan untuk curhat kepada orang-orang di sekitarnya sehingga bebannya seolah mereda. Perhatikanlah baik-baik, bahwa tidak semua masalah bisa kita adukan/ bicarakan di hadapan orang lain. Justru beberapa masalah pribadi, perlu dan bisa diselesaikan sendiri. Anda hanya perlu membantu mengingatkan diri untuk tidak fokus memikirkan yang buruk-buruk melainkan penuhi pikiran dengan hal-hal positif saja. Beberapa masalah pribadi, tidak segera terselesaikan sehingga perlu sabar menunggu proses. Namun jangan terpaku pada situasi yang kurang mendukung melainkan tetaplah sibukkan diri melakukan hal-hal baik, menyelesaikan tanggung jawab, menekuni hobi, belajar positif dan lain sebagainya.

    Pada satu titik, ada saat dimana kita tidak bisa menanggung rasa sakit yang dialami. Pada saat itulah, waktu yang tepat untuk membicarakannya kepada kaum dalam keluarga. Anda sudah berusaha mengatasi sesuatu tetapi tidak ada penyelesaiannya, malah rasa sakit yang diderita semakin besar: inilah saat yang tepat untuk curhat. Tetapi ada juga masalah yang berkepanjangan dan selalu ada dalam hidup kita, yaitu: gangguan indera dan distorsi komunikasi. Anda tidak akan pernah bisa menyelesaikan dua recehan ini kecuali membangun rumah di tempat yang jauh yang dikelilingi hutan atau taman yang luas tanpa orang-orang.

  9. Seks itu mudah, pelecehan seks itu gampang.

    Mudahnya bermain cinta, enaknya hanya beberapa detik saja. Anda dapat menemukan betapa gampangnya praktek ini dilakoni oleh orang-orang muda. Bahkan beberapa menganggap bahwa melakukannya dengan orang baru segampang membalikkan telapak tangan. Padahal untuk mencapai titik nikmat seimbang/ sama-sama enak, dibutuhkan saling pengertian dan saling memahami selama berminggu-minggu.

    Satu lagi yang sangat heboh di beberapa berita jadul adalah “memperkosa seseorang itu mudah, bawa lari ke tempat sepi padang rumput lalu preteli dengan cepat.” Padahal kenyataannya seks tidak bisa cepat dan bagaimana barang seseorang “bisa on” jika ada yang meronta-ronta atau jika satu tangan di sana-sini untuk menekan korban? Lantas bagaimana pula kalau korban trauma, maka punya dia pun “tidak kencang?” Nikmatnya dimana? Mending masturbasi (seks pribadi) saja, sudah plonk tuh….

  10. Mudah melakukan kejahatan.

    Menembak orang, memukul orang, menampar orang dan mencelakai orang lain tampaknya mudah sekali di film-film. Beberapa sinetron lokal juga menunjukkan bahwa untuk melakukan aksi kekerasan semudah mengajak orang minum kopi. Padahal ada niat jahat saja di dalam hati kita terhadap orang lain, hati bisa gemetaran menghadapinya. Apalagi semangat turut luntur karena suara hati pun turut mempersalahkan dan menyudutkan kita terus-menerus. Dan satu lagi yang sangat kentara saat kita berlaku jahat secara sengaja kepada sesama adalah kenangan terhadap hal-hal tersebut sangat menyakitkan hati. Sampai tahun berapa pun kita hidup, dosa itu akan terus diungkit-ungkit terlebih kalau kita tidak sengaja menyaksikan hal-hal yang berhubungan dengan tindakan bodoh yang kita sadari tersebut.

  11. Melakukan kesalahan menyenangkan.

    Salah satu ciri khas yang ditunjukkan oleh beberapa sinetron serial di masa kecil kami adalah “menjadi jahat itu menyenangkan.” Orang jahat seolah-olah bisa tertawa lepas setelah melakukan berbagai kemurtadan terhadap sesamanya. Padahal kenyataannya, hati tidak akan pernah tenang setelah kita melakukan kelaliman. Saat melakukan kesalahan kecil saja, kita minta maaf. Apa lagi saat melakukan kejahatan besar, rasa bersalahnya juga besar yang bisa membuat tidur terganggu karena mimpi aneh di malam hari.

  12. Dan masih banyak lagi, silahkan gali dan cari sendiri menurut pengalaman masing-masing.

Kesimpulan

Karya seni tidak membicarakan tentang dunia kita yang penuh kebaikan, kebenaran dan keadilan. Senimannya pasti menceritakan tentang dunia lain yang lebih berapi-api karena tingginya angka perbedaan yang saling menguasai dan menekan satu sama lain. Inilah konflik yang membuat suatu kisah menjadi sangat seru dan membangun rasa penasaran untuk terus disaksikan sampai akhir. Sayangnya tidak untuk ditiru semuanya melainkan selektiflah memilah-milahnya berdasarkan standar kehidupan yang kita miliki.

Logika kebanyakan karya seni sangat berbeda dari kondisi kehidupan kita zaman sekarang yang sepi konflik karena menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat. Beberapa karya diambil dalam posisi dunia yang jauh berbeda: dikuasai kapitalis, masa paceklik, gagal panen, dihadapkan dengan makhluk buas, menghadapi makhluk asing, tidak ada aturan, ditekan mafia, diliputi ketakutan, kerusuhan dimana-mana, diujung bencana berkepanjangan dan menjelang akhir dunia. Ceritanya tentang sesuatu yang sangat berbeda dari kondisi dunia saat ini sehingga sudah sepatunya adegan yang terjadi di dalamnya tidak untuk ditiru. Sekali pun ada cerita yang menampilkan kehidupan orang normal sehari-hari, belum tentu semua ekspresi bisa dicontoh. Sebab di dalam suatu kisah ada tokoh antagonis (buruk) dan protagonis (baik), bahkan sekalipun tokoh tersebut protagonis, belum tentu semua pemikiran dan sikapnya bisa dicontoh. Sebab biar bagaimana pun mereka hanya manusia biasa bahkan super hero sekali pun punya kelemahan.

Salam, Televisi, film, sinetron
penuh dengan dualisme.
Waspadailah agar
tidak sampai meniru buruknya
tetapi mengambil apa yang baik
untuk dijadikan sebagai bagian
dari pengalaman hidup
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.