Fokus Kepada Tuhan Dengan Intonasi Kaku Dan Kurang Keren Karena Menurunnya Kemampuan Otak

Fokus Kepada Tuhan Dalam Intonasi Lagu Yang Tidak Asik Dan Kurang Keren Karena Menurunnya Kemampuan Otak

Tidak ada manusia yang sama sekali tidak beraktivitas. Tanpa hari-hari yang aktif, hidup tenggelam hanyut dalam kendali alam bawah sadar. Layaknya saat kita sedang tertidur pulas, kesadaran menurun drastis namun otak masih aktif mengatur metabolisme tubuh senormal mungkin. Demikian juga saat seseorang duduk diam dan termenung: dia bukannya sedang tak bergerak sama sekali. Setidaknya kelopak matanya tetap berkedip untuk menjaga mata dari kering kerontong yang memedihkan. Aliran fluida masih bergerak lancar mensuplai fungsi-fungsi tubuh dalam unit-unit mikro yang disebut sel. Bahkan mungkin saja pikiran sedang berputar-putar untuk membuat dirinya senang walau posisi tampak tegang.

Mungkin ada yang setuju dengan pendapat ini: “aktivitas orang lain yang tampak serulah yang menghibur hati kita.” Semisalnya saat kita menyaksikan orang lain sedang mengumbar beberapa lelucon yang memicu senyuman bahkan gelak tawa. Sama halnya saat menikmati sebuah lagu favorit yang turut dinyanyikan bersama, seperti artis yang melantunkannya. Seperti saat menonton film telenovela atau sinema aksi lainnya, ada momen dimana hati yang penasaran terjawab oleh suatu plot sampai terkejut senang. Demikian pula saat ada orang lain yang baik kepada kita, pasti direspon dengan riang sambil berterimakasih. Contoh-contoh yang kami berikan ini menunjukkan bahwa senang-bahagianya hati hanya didapatkan dari peran orang-orang di sekitar kita.

Banyak yang setuju dengan pendapat ini: “kebebasan memiliki dan menggunakan materilah yang membuat hati bersukacita.” Waktu belanja ke mal adalah saat-saat paling menyenangkan yang hampir tak terbayangkan betapa menyenangkannya itu. Karena pada akhirnya, apa yang kita iming-imingi dapat diperoleh seketika itu juga. Layaknya seorang pasangan yang berbahagia karena mampu mewujudkan hal-hal yang diinginkan oleh pujaan hatinya. Sama halnya dengan rasa bahagia saat seorang pemuda berhasil mencapai apa yang dicita-citakan sejak dulu.  Sayang, semua bala bantuan materi yang menyenangkan ini hanya sesekali saja dapat dinikmati.

Di atas semua spekulasi yang bisa hilang timbul tanpa bisa kita kendalikan sepenuhnya. Perlu kita sadari bahwa kekuatan yang menyenangkan hati dari dunia tidak dapat terus-menerus dinikmati sepanjang waktu. Sebab tubuh kita punya batas toleransi maksimum yang dapat ditanggung dari paparan materi. Bila tubuh kehilangan batas yang dipicu oleh aktivitas konsumsi yang terus-menerus meninggi, kelainan metabolisme akan merong-rong setiap manusia yang serakah menikmati hidup. Lagi pula, salah satu ciri khas panca indera adalah kemampuan yang menurun ketika terus-menerus digunakan. Akibatnya, seseorang yang terus-menerus mengonsumsi sesuatu membuat lidahnya kaku terhadap rasa sampai semuanya terasa hambar. Efek semacam ini membuat siapa saja menginginkan lebih karena pikirnya nilai yang lebih tinggi dapat memberikan rasa terbaik namun hasilnya sama saja.

Perhatikan baik-baik temanku, kemampuan panca indera untuk mencerna, mengekspresikan dan mengirimkan rasa ke otak sangatlah terbatas. Ketika organ tersebut berada diujung kemampuan terbaiknya maka setelah itu, manusia tidak dapat lagi merasakan apa-apa. Batas beku rasa inilah yang membuat orang yang makan secara berlebihan tidak mampu lagi menikmati rasa dari materi apa pun yang dikonsumsinya. Oleh karena itu, sebelum beku rasa menghinggapi indera, mulailah buat batasan agar diri sendiri tidak terlanjur mengonsumsi oleh-oleh duniawi dalam jumlah banyak. Selain itu, terapkanlah rasa yang berubah-ubah dengan bolak-balik dari menu yang berkelas ke menu yang sederhana. Tentu saja, di atas semuanya itu hindari fokus bahagia pada hal-hal duniawi tetapi utamakan dan perbanyaklah mencarinya dalam mode sorgawi.

Sekalipun kami mengatakan bahwa fokuskan bahagiamu dari atas, bukan berarti apa yang ada di bawah dilupakan sama sekali. Sebab biar bagaimana pun, kita tidak dapat memungkiri bahwa kita adalah manusia biasa yang secara awam membutuhkan kekuatan materi. Oleh karena itu, tempatkanlah kenikmatan duniawi dan sorgawi di ke dua sisi anda. Hanya saja, yang lebih banyak dinikmati adalah aktivitas sorgawi memuji-muji Tuhan di dalam hati. Aktivitas praktis, kreatif dan bisa dibawakan multitasking ini menjadi andalan mayoritas kebahagiaan di dalam kehidupan manusia. Sesuatu yang mungkin tidak disadari oleh mereka yang ada di sekitar kita namun sangat dekat dalam relung hati. Itulah sebabnya orang yang menekuninya merasakan kebahagiaan tanpa batas.

Menikmati materi memang penting, hanya saja sebaiknya diselaraskan dengan kebutuhan agar konsumsi yang dilakukan tidak menyebabkan beku rasa. Apa yang berlebihan tidak dapat lagi dinikmati tetapi malah yang timbul adalah hambar yang memuakkan. Suatu keadaan yang mendorong seseorang untuk rela mati-matian membayar lebih untuk memperoleh materi yang lebih mahal dari segi harga. Sayang, ujung-ujungnya kembali beku rasa akibat konsumsi berlebih terutama terjadi dikala stres menghantam dari berbagai arah. Akan tetapi jika hati bisa terpaut untuk memuji-muji Allah maka yang menjadi obat pikiran stres adalah fokus memuliakan Tuhan. Niscaya masalah berlalu dan aktivitas konsumsi pun biasa saja dalam taraf normal.

Lantas, bagaimana kalau ceritanya lain? Bagaimana kalau ada sesuatu yang salah bukan di panca indera melainkan otak sendiri seolah sedang terganggu. Seperti pikiran yang sedang kehilangan pondasi, mudah goyah dan membuat konsentrasi sering terganggu. Lagu-lagu indah yang biasanya mampu kita lantunkan sepertinya raib tak bersisa. Musik-musik populer, rap, dangdut, rock dan lain-lain telah meninggalkan hati, entah sejak kapan. Situasi ini membuat kondisi kita rapuh dimana satu-satunya yang membuat kita bertahan adalah konsistensi yang membentuk kebiasaan bersikap. Bila selama ini kita terbiasa sabar, tenang, berpikiran baik, mendoakan yang baik-baik maka aktivitas tersebutlah yang mengisi hati walau fokus Tuhan agak labil.

Kurangnya kemampuan otak untuk melantunkan lagu-lagu gembira seolah tidak bisa dikembalikan selama beberapa waktu. Bagaimana pun usaha kita untuk menyanyikan senandung keren yang asyik digaungkan bersama pekerjaan-pekerjaan recehan yang ditekuni tidak membuahkan hasil. Bila kita memaksakan diri dengan berusaha melantunkan intonasi lagu yang keren maka hasilnya adalah pembiasan. Turunnya kemampuan mengadaptasikan lagu-lagu populer duniawi menjadi nyanyian pujian sepertinya tidak bisa lagi dihindari. Ikhlaskan saja keadaan yang janggal tersebut agar tidak menekan diri sendiri karena mengharuskan dan memaksakan sebuah situasi yang tidak mungkin dicapai untuk sementara waktu. Bila sudah dibiasakan, anda tetap mampu bersikap rendah hati sekalipun konsentrasi sedang rumit.

Situasi semacam ini, lebih bersifat kelainan fisik yang berkontribusi langsung dengan rendahnya aktivitas otak. Akibatnya, kemampuan kita untuk bernyanyi tidak sepenuhnya bersemangat. Adaptasi bahkan improvisasi yang biasanya dilakukan dengan lancar menjadi terhambat dan tertahan pada titik statis yang tarasa kaku. Syair yang biasanya variatif yang diserap dari lingkungan sekitar sudah tidak ada lagi, seperti kehabisan kosa kata. Namun setidaknya kebiasaan baik membuat sikap tidak menyimpang dari yang benar. Kebiasaan yang membuat hati ikhlas menghadapi keadaan yang kurang sesuai dengan harapan, tetap sabar menjalani hari-hari yang layak dan selalu rendah hati bersikap kepada siapapun. Kemampuan fokus kepada Tuhan yang menurun drastis tidak membuat hati tertekan karena situsi yang kurang mendukung sudah diterima apa adanya dan tetap melanjutkan aktivitas senormalnya, seperti pada hari-hari sebelumnya.

Sekalipun demikian, bukan berarti tidak bisa sama sekali fokus memuliakan nama Tuhan di dalam hati. Di saat seperti ini yang kita alami adalah menurunnya kemampuan otak untuk melakukan kerja multitasking dan menurunnya kemampuan transfer informasi instan. Keadaan terparahnya adalah pekerjaan kecil yang biasanya dilakukan sambil memuji Tuhan di dalam hati: tidak dapat lagi diselesaikan di dalam nyanyiam tetapi di dalam diam. Keadaan ini mungkin masih bisa sedikit diperbaiki dengan melantunkan nyanyian kaku syair terbatas. Taraf kemajemukan intonasinya rendah dan lebih dekat seperti doa-doa yang berisi kata-kata yang sama. Misalnya syair terbatasnya: “puji Tuhan, sembah Tuhan, Haleluya” Kata-kata semacam ini pun terus diulang-ulang tanpa variasi sambil menyelesaikan tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita.

Kesimpulan

Memuliakan Tuhan di dalam hati terkadang mengalami masalah fisik yang tidak bisa dikendalikan. Suasana hati yang biasanya sangat dinamis bergerak terbagi-bagi mengikuti alunan nada yang diadaptasikan sambil melakukan aktivitas lainnya. Bisa berubah menjadi kekakuan yang sulit dijelaskan: terjadinya pembatasan kosa kata, langkanya penemuan nada-nada keren dan tidak ada lagi variasi saat memuliakan Tuhan. Akan tetapi, suasana hati yang statis tidak kreatif tersebut tidak bisa merenggut rasa bahagia yang bermula dari ketenangan hati. Bukankah selama kita berbuat baik, melakukan yang benar dan berjalan dalam keadilan maka hati pun tetap tenang sekaligus bahagia karena puas dengan pilihan yang kita tempuh.

Pada satu masa kehidupan mungkin kita akan mengalami penurunan kemampuan berpikir, dari yang biasanya kreatif, adaptatif dan penuh improvisasi. Menjadi kaku, stagnan dan mati akal: seolah isi kepala anda menjadi sesuatu yang lain yang tidak pernah anda inginkan sebelumnya. Bila hati cemas menghadapi situasi internal yang kurang baik ini, bisa memicu stres internal. Terlebih kalau ada niat kuat yang memaksakan diri agar menghasilkan intonasi lagu pujian yang asik, yang seperti biasanya. Resikonya dapat memicu depresi akut yang diikuti oleh memburuknya sikap. Keadaan akan semakin parah bila ada pula tekanan sosial yang turut menggerayangi kehidupan kita. Dua dan tiga hal yang membuat kita mampu bertahan tetap benar adalah kebiasaan positif yang ditekuni sebelum-sebelumnya. Tetaplah ikhlas, sabar dan rendah hati merespon kemampuan otak yang berada jauh di bawah keadaan normal. Serta berusahalah untuk tetap memuliakan Tuhan di dalam hati walau dengan intonasi yang kaku terbata-bata dan kosa-kata yang juga sangat terbatas.

Salam, Saat konsentrasi berpikir merapuh,
Kemampuan fokus yang biasanya indah,
membeku statis dan melambat.
Tetapi tidak mengurangi sukacita
karena jalan hidup kita
masih terjaga selalu dalam
kebaikan dan kebenaran
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.