Berhenti Cari Pacar (Istri) Kalau Belum Mandiri (Tidak Kerja)

Seumur-umur hidup di bumi, kami banyak dipermain-mainkan perempuan. Awalnya kami pikir ini hal biasa sebab sebagai pecandu televisi, penonton seolah-olah diarahkan dan dididik untuk mengagung-agungkan cinta dan perempuan. Seolah-olah mereka adalah dewa dari cinta yang harus di sembah puji. Seorang pria sepertinya harus rela dipermain-mainkan wanitanya barulah dapat dianggap sebagai pria sejati agar layak bersanding dengan ratu cinta yang sesungguhnya. Budaya cinta yang dikembangkan sinetron-sinetron pendek terasa membius logika sehingga kami tidak begitu peduli saat dipermain-mainkan calon pacar.

Budaya cinta yang dikembangkan sinetron-sinetron pendek terasa membius logika sehingga kami tidak begitu peduli: mengapa kami dipermain-mainkan calon pacar.

Hati berkata, “muka tembok ajalah,” hajar terus sampai dapat. Gema cinta yang digaungkan media-media dan karya seni yang bertebaran dimana-mana membuat kami tidak bertanya lebih dalam, lebih rinci dan lebih detail tentang “mengapa rasa cinta ini tidak ditanggapi?” Sekalipun demikian, kami tidak menyalahkan televisi dan media-media lainnya karena membius penonton lewat budaya yang tidak realistis. Sebab itulah pekerjaan seorang seniman, mendramatisir sesuatu agar yang tidak ada seolah-olah ada dan yang tidak penting seolah-olah penting. Semuanya itu hanyalah sandiwara semata-mata untuk menghibur diri sendiri di tengah perputaran hidup yang stagnan.

Kami belajar banyak hal dari televisi sekalipun perlu diakui bahwa pada masa itu media mengarahkan penonton pada yang besar-besar. Jangan tanya apa cita-cita orang di dekat dan di sekitarmu: mereka pasti ingin jadi artis, polisi, pilot, anggota dewan, presiden dan pekerjaan populer lainnya. Demikian juga dalam hal percintaan, kita diarahkan untuk mencintai yang besar-besar: seorang putri dari istana nan megah. Atau mencintai orang-orang hebat dan terkenal lainnya dengan melalui ribuan tantangan: berjuang secara materi dan moril serta banyak hal lainnya yang harus dikorbankan. Ini jelas-jelas megalomania yang hanya ada dalam karya seni dan tidak akan pernah kita temukan di dunia nyata.

Dasar pemahaman kami adalah, “segala sesuatu pasti ada penyebabnya.” Rasa cinta kami yang dipermain-mainkan wanita juga pasti memiliki dasar. Bukan hanya karena pengaruh media yang sengaja mendramatisir kehidupan percintaan. Sesuatu yang sebenarnya sederhana, ditata ulang oleh seniman sehingga menjadi sangat kompleks yang perlu diselesaikan dengan bahasa yang rumit dan cenderung membingunkan. Apa yang kami alami seolah-olah sama dengan apa yang ditampilkan oleh banyak karya seni, yang intinya adalah “cinta harus diperjuangkan mati-matian.” Masa bodoh dengan apa yang akan dialami, seseorang harus babak belur untuk mendapatkan cinta suci seorang perawan muda.

Semangat sepertinya menggebu-gebu, suhu di ruang-ruang jiwa mencapai seratus derajat celcius hingga mau meledak karena cinta yang menggebu-gebu. Pada akhirnya, semua antusiasme yang begitu membara kempes dalam apesnya rasa sakit yang ditimbulkan oleh pengejaran terhadap cinta. Artinya, kepahitan hidup akibat pengabaian yang kami alami setelah menyatakan cinta kepada seseorang membuat hati tersadar dari nina bobo kehidupan. Rasa sakit menghancurkan imajinasi yang mengada-ngada agar logika berpikir kembali lurus ke depan. Cinta yang datang dan pergi harus diiklaskan karena si dia belum benar-benar menjaminkan kehidupannya kepada kita.

Sesukat rasa penasaran menggumam di dalam dada. Rasanya terlalu mudah seorang perempuan mempermain-mainkan seorang laki-laki. Ini sepertinya tindakan yang terlalu berani atau mungkin dia diperkuat oleh orang yang lebih dewasa. Bahkan bisa jadi, orang tua sendiri pun turut ambil bagian untuk meyakinkan cewek tersebut agar memberanikan diri. Ini jelas sudah masuk dalam ranah orang tua yang hendak memberi pelajaran penting tentang kehidupan. Kami hanya belum menyadari bahwa nafsu besar yang terburu-buru menunjukkan kepribadian yang belum dewasa. Dipermain-mainkan adalah perlakuan yang pantas walau menyakitkan namun akhirnya itu membuat kami sadar bahwa “ada yang salah.” Masalah membuat mata melihat dengan terang, apa titik lemah diri sendiri.

Dipermain-mainkan adalah perlakuan yang pantas walau menyakitkan namun akhirnya menyadarkan kami dari khayalan telenovela dan membuat kami sadar bahwa “ada yang salah.”

Satu-satunya cara terbaik agar mampu untuk menjamin dan dipercayai orang lain adalah dengan memiliki kehidupan yang mandiri. Inilah yang menjadi bahan utama dari keberanian seseorang untuk mencari pacar bahkan istri. Kemandirian hidup seorang laki-laki merupakan kekuatan yang memungkinkannya untuk tidak hanya merawat diri sendiri tetapi turut pula dimampukan untuk mengayomi sebuah keluarga dengan anggota-anggotanya. Jika anda sudah mandiri, tidak akan ada yang mempermainkan anda bahkan pacar demikian juga dengan calon istri sekalipun. Sebab pada saatnya nanti, dialah yang akan bersandar kepada anda karena menafkahi hidupnya. Jadi, tidak ada wanita yang tega mempermain-mainkan imamnya kecuali perempuan tersebut dengan sengaja diatur untuk menjebak anda.

Tinggalkan pacar atau calon istri yang dengan sengaja mengobok-obok kehidupan anda. Sebab wanita yang demikian tidak akan pernah mampu menghargai anda sampai kapan pun. Besar kemungkinan, si cewek tersebut memang disumpal dusta untuk mempermainkan anda, membuat anda stres bahkan menggila: melakukan kekerasan kepada orang lain. Sebab akar permasalahannya bukan pada kepribadian anda, atau pada penampilan anda; melainkan masalah utamanya karena hidup belum mandiri. Kita masih cecunguk yang bergantung kepada orang lain lalu bermimpi untuk merawat cecunguk lain. Pantas saja orang yang berkuasa atasmu keblinger sehingga mengatur wanita-wanita muda untuk menjebakmu: karena kamu belum mendapat pekerjaan tetap!

Kesimpulan

Mencari pacar tapi belum dapat pekerjaan tetap resiko terburuknya ditolak mentah-mentah dan dipermain-mainkan oleh orang yang anda sukai. Dimana bisa jadi, orang tua anda pun berperan dalam hal tersebut (anda belum mandiri dan masih dibawah asuhan ortu). Tulisan ini khusus kami dedikasikan bagi laki-laki yang sedang mencari belahan jiwanya di saat yang kurang tepat.

Ngapain manusia berjuang mencari cinta sejati? Udah hidup di dunia ini susah dan banyak rintangan yang harus dilalui, baik saat dalam pendidikan maupun dalam dunia kerja. Malah mau pulak repot-repot berjuang demi cinta sejati. Buang saja pacar yang kamu perjuangkan itu karena hanya bagian dari kepura-puraan hidup. Sebab sejatinya, manusia mencari pasangan untuk menemukan kenyamanan dan ketenangan dalam hari-harinya yang memilukan bukannya malah menambah kepiluan itu dengan mengejar cinta yang penuh imajinatif. Terlebih dahulu bereskanlah kehidupan dengan mendapatkan gaji yang cukup untuk diri sendiri. Jika telah bebas (mandiri) dari masalah finansial maka barulah mulai berpikir untuk mencari pasangan hidup yang sejati.

Salam, Mencari cinta
kok menyusahkan
diri sendiri?
Harusnya cintamu sejati
cintamu benar
bila hadirnya meringankan
bukannya malah menambah
beban yang ada
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.