Konspirasi Pemerikasaan Laboratorium Di Rumah Sakit

Konspirasi Pemerikasaan Laboratorium Di Rumah Sakit

Rumah sakit adalah instalasi kesehatan yang bermanfaat untuk melakukan tindakakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif terhadap masyarakat yang terbukti sedang dalam keadaan kurang sehat. Merupakan instalasi kesehatan yang wajib dimiliki oleh tiap-tiap daerah. Di samping perannya sebagai penolong manusia sakit, instalasi ini juga menjadi sarang bisnis yang sangat subur di tengah masyarakat. Jadi tidak heran jika perusahaan semacam ini dijadikan perusahaan daerah yang memiliki pengelolaan anggaran yang tersendiri. Di samping banyaknya pertolongan yang diberikan dan kemajuan yang di datangkannya, ada juga sisi gelap yang bisa dieksploitasi secara ekstrim oleh lembaga tersebut.

Pada bagian ini kami tidak membahas tentang kemungkinan membengkaknya pasien akibat sandiwara yang dibuat-buat. Sebab poin ini memang bisa menjadi sisi gelap yang biasanya dieksploitasi secara sembunyi-sembunyi dan tersistem. Akan tetapi, kami berbicara tentang segi pemeriksaan pasien yang dilakukan di tiap-tiap laboratorium rumah sakit maupun laboratorium daerah. Ada celah yang memberikan kewenangan terhadap manajemen untuk melipatgandakan pemerikasaan sebelum melakukan tindakan medis. Padahal kenyataannya, prinsip dasar dari tiap-tiap pemeriksaan tersebut sama saja, yakni menentukan apakah cairan tubuh pasien berada pada taraf normal atau tidak.

Banyaknya pemeriksaan lab adalah pemborosan. Padahal satu saja sudah cukup untuk menentukan kesehatan seseorang. Apa yang kami maksud di sini adalah tingkat keasaman tubuh manusia. Ketika bahan-bahan organik semakin memadat tanpa disuspensi oleh cairan (H2O) maka timbullah peningkatan keasaman. Sedang organ-organ tertentu menjadi rapuh dan lekang akibat kekurangan air. Bahkan mungkin saja mulai ada sel-sel yang terlepas secara terus-menerus karena keberadaannya tidak mampu dipertahankan oleh tubuh. Kekurangan cairan adalah awal mula yang menyebabkan seseorang menjadi sakit-sakitan. Dimana bisa dikatakan bahwa semua penyakit pasti menunjukkan peningkatan keasaman cairan tubuh.

Berdasarkan masalah utama yang menyebabkan seorang pasien sakit dan efek sampingnya terhadap cairan tubuh maka hanya ada dua kesimpulan. Pada hakekatnya, orang sehat memiliki tingkat keasaman cairan tubuh normal, sedangkan pada umumnya orang sakit memiliki kadar asam tubuh yang tinggi. Keadaan ini terutama berlaku untuk penyakit-penyakit yang telah mengalami masa inkubasi (dialami selama berhari-hari) dan bukan disebabkan karena kecelakaan atau keracunan mendadak. Bila anda pernah belajar tentang asam-basa dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam (smp) khususnya kimia dan biologi (sma). Akan menemukan bahwa larutan yang memiliki tingkat keasaman tinggi akan mengubah “lakmus merah” menjadi biru sedangkan “lakmus biru” tetap biru. Bila larutan basa berpapasan dengan “lakmus merah” akan tetap merah sedangkan “lakmus biru” akan menjadi merah.

Coba perhatikan rapid test pemeriksaan pada berbagai penyakit, bukankah hanya ada dua kesimpulan: munculnya dua garis merah atau munculnya dua garis biru. Untuk rapid test yang menunjukkan garis merah, bahan dasar yang digunakan adalah lakmus merah. Sedangkan rapid test yang menunjukkan garis biru menggunakan lakmus biru. Jadi, pada dasarnya semua rapid test yang digunakan untuk mendeteksi suatu penyakit memiliki prinsip kerja yang sama, yaitu mendeteksi tingkat keasaman pada serum pasien. Akan tetapi, pintarnya orang ekonomi-medik, membuat rapid test tersebut seolah-olah berbeda untuk tiap penyakit. Semua ini bertujuan demi menggandakan prosedur pemeriksaan yang dilakukan terhadap pasien. Dimana perbanyakan pemeriksaan tersebut pada akhirnya memperbanyak pemasukan/ memperbesar gaji tenaga kesehatan.

Jika anda berkunjung ke laboratorium rumah sakit, akan menemukan banyak sekali pemeriksaan dengan harga fantastis. Ada untuk penyakit ini dan itu, ada untuk organ ini dan itu yang jumlahnya mencapai belasan hingga puluhan item. Ini adalah praktek pemborosan sumber daya dan pemborosan APBD/ APBN. Penggelembungan dana pemeriksaan laboratorium yang tujuannya itu-itu saja, sekalipun menurut brosurnya berbeda satu sama lain. Ketika kami mempelajari beberapa prinsip kerja pemeriksaan tersebut menyebutkan bahwa pembentukan dua garis merah atau biru terjadi karena adanya ikatan antara antibodi ini dan antigen itu. Mereka menjelaskannya panjang lebar padahal mereka tidak pernah melihat secara langsung aktivitas suatu antibodi mengikat antigen. Semua gambar reaksi yang ditampilkan hanyalah ilustrasi belaka.

Praktek tipu muslihat terbesar yang terjadi di laboratorium rumah sakit perlu dihentikan. Pantas saja mereka yang bekerja di bidang kesehatan bergaji lebih besar daripada kebanyakan profesi dalam masyarakat. Ternyata mereka hanya menggandakan hal-hal yang biasa dilakukannya dengan membuat nama/ alat/ bahan/ obat baru terhadap hal tersebut. Namun pada dasarnya, semua itu memiliki prinsip kerja yang serupa, hanya saja telah ditutupi dengan banyak cerita tahayul untuk meyakinkan masyarakat awam bahwa pekerjaan mereka sangat banyak ragamnya. Padahal sesungguhnya simpel saja untuk memeriksa keadaan seseorang apakah dia sedang sakit atau tidak, yaitu dengan mencari tahu tingkat keasaman tubuhnya.

Termasuk dalam hal ini adalah rapid test pemeriksaan corona (inveksi virus covid 19) yang bisa jadi merupakan “general assesment” untuk semua penyakit. Ada kemungkinan rapid test tersebut akan memberikan hasil positif terhadap pasien ISPA, TB, gagal ginjal, diabetes, kanker, tumor, penyakit hati dan lain sebagainya. Artinya, apapun penyakit orang tersebut, asalkan sudah berlangsung selama tiga hari atau lebih dapat mempengaruhi keasaman cairan tubuh pasien. Darah yang dikoleksi lalu diekstrak menjadi serum akan selalu menunjukkan dua garis merah/ biru, sekalipun pasien memiliki tanda dan gejala penyakit yang beragam. Jadi, semua pemeriksaan laboratorium yang banyak itu bisa disisihkan dan hanya tinggal rapid tes saja: sudah cukup untuk menegaskan keadaan pasien.

Kesimpulan

Laboratorium rumah sakit/ kesehatan biasanya menyediakan rapid test spesifik untuk penyakit tertentu, misalnya penyakit hati dan AIDS. Pada dasarnya, pasien yang menderita penyakit demikian memiliki kebiasaan minum air putih yang sangat buruk. Akibatnya, tingkat keasaman tubuhnya cukup tinggi dari penyakit pada umumnya. Jadi, kemampuan RT sp. diperoleh dengan mengurangi butiran lakmus pada stik agar hanya menunjukkan perubahan warna ketika terpapar dengan serum dengan derajat keasaman tinggi.

Bagaimana dengan rapid test virus Corona:? Jangan-jangan semua orang yang menderita penyakit apa saja pasti positif? Kita berharap tidak sesederhana itu. Besar kemungkinan RT tersebut serupa dengan RT HbsAg dan AIDS yang hanya positif terhadap pasien dengan derajat keasaman tubuh yang tinggi saja: agar terkesan spesifik.

Apakah orang kesehatan lebih kaya raya dari masyarakat awam karena pandai menggandakan pekerjaan yang mereka lakukan? Mereka hanya perlu menambah label baru, alat baru dan reagensia baru padahal prinsip dasar semua pekerjaan tersebut sama. Lalu mereka mengarang mitos-mitos medis untuk membutakan masyarakat awam dari tipu muslihat tersebut. Agar seolah-olah mereka lebih banyak bekerja dan lebih layak digaji tinggi daripada semua orang? Aktivitas ini jelas sangat tidak baik bagi perkembangan kepribadian manusia: untuk apa belasan/ puluhan pemeriksaan kalau satu pemeriksaan laboratorium saja sudah bisa memastikan apakah seseorang itu sakit atau tidak? Sebab pada hakekatnya, orang yang sedang dalam keadaan sakit memilikit tingkat keasaman cairan tubuh yang tinggi, sedang orang yang sehat tingkat pH tubuhnya berada dalam taraf normal.

Salam, Hidup ini simple
tapi disulit-sulitkan
agar untung besar.
Semata-mata
demi mencapai
kemampuan kapital
yang lebih tinggi
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.