7 Hal Yang Mengendalikan Manusia

Hal Yang Mengendalikan Manusia

Manusia tidak benar-benar bebas di bumi ini. Sebab kebebasan tanpa arah justru bersifat toksik terhadap orang itu sendiri, orang lain di sekitarnya dan lingkungan alamiah. Kita bukan pemilik sejati dari tanah yang dipijak dan bukan pula penjaga udara yang dihirup-hembuskan. Semuanya itu diwariskan secara tertulis oleh organisasi raksasa yang disebut negara. Bila belajar lebih dalam lagi, maka kita akan mengetahui sekaligus menyadari bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang memberikan segala sesuatu yang ada pada kita. Sekalipun demikian, kita bukanlah pewaris selamanya di bumi sebab jika waktunya sudah tiba maka kita seolah-olah ditendang keluar dan diusir dari tanah kelahiran sendiri. Artinya, kebebasan kita terbatas dan ada masanya dimana sura izin melalang buana di bumi kadaluarsa (mati).

Dari keterangan di atas, terlalu bebas ternyata tidak baik. Demikian juga bila terlalu terikat maka hidup menjadi tidak luwes: tidak ada perkembangan dan penyakit mulai bermunculan. Jadi, horizon terbaiknya adalah yang sedang-sedang saja: tidak terlalu semena-mena namun tidak pula terlalu dikekang sehingga perkembangan hidup kita mengarah pada hal-hal positif. Oleh karena itu, kita perlu mengendalikan rasa bebas tersebut agar hubungan dengan sesama dan lingkungan sekitar terjalin baik. Dengan demikian umat manusia dapat berjalan santai dari satu masa kepada masa berikutnya sambil beraktualisasi positif menurut bakat dan kemampuan masing-masing.

Apa-apa saja yang mengendalikan kita selama hidup di bumi?

Hidup ini butuh kendali, tanpanya masing-masing orang berjalan acak menurut pemahaman pribadi sehingga resiko terjadinya tabrakan kepentingan sangat riskan. Kecelakaan semacam ini sangat melelahkan dan menyita banyak waktu, selain itu turut pula beresiko menyebabkan kerugian materi serta bukan tidak mungkin sampai kehilangan nyawa. Jadi, sesungguhnya pengalaman buruk di masa-masa yang telah berlalu turut pula mempengaruhi kehidupan kita sekalipun tidak banyak. Tanpa kita sadari pun, masa depan turut mengontrol kehidupan ini. Kalau tidak percaya, bacalah tulisan ini sampai paragraf terakhir. Berikut penjelasan yang kami jadikan sebagai tolak ukur.

  1. Kebutuhan diri.

    Ada dua kebutuhan manusia: rohani dan jasmani. Kita terus fokus pada Tuhan karena aktivitas tersebut membuat jiwa tenang di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak bisa selalu dikendalikan secara pribadi. Jalan-jalan Tuhan dapat kita pelajar lewat firman yang telah diberikan-Nya. Ini menyadarkan kita bahwa ternyata pengalaman rohani orang-orang di masa lampau masih berlaku sampai sekarang. Hanya saja, yang perlu kita waspadai saat memiliki Tuhan adalah rasa sombong dan kebanggaan diri sendiri.

    Kalau tidak ada kebutuhan, tidak ada yang mau banting tulang untuk kehidupannya dan kehidupan keluarganya. Bila tidak ada kebutuhan untuk memiliki uang di waktu mendatang, tidak ada yang mau sekolah. Ada hal-hal yang secara badani otomatis mengontrol aktivitas kita karena hampir tidak disadari. Biasanya hal ini berupa rutinitas sehari-hari, tanpa disuruh sekalipun pasti akan dilakukan karena memang itu merupakan sebuah kewajiban yang diulang-ulang. Ambil beberapa contoh lain tentang membersihkan diri sendiri, pakaian, rumah, pekarangan dan lain-lain; yang mana semuanya itu dibutuhkan.

  2. Tuhan dan Kebenaran-Nya.

    Ada jalan benar yang lain dengan menjadi ateis tetapi tidak ada manusia zaman sekarang yang menempuhnya karena tanpa Pegangan membuat hidup mudah terjatuh. Orang-orang sebelum kita telah mencapai suksesi kehidupan yang luar biasa karena Tuhanlah yang menuntun-Nya kepada hal tersebut. Hanya satu kelemahan saat bertuhan, rasa angkuh setelah mencicipi berkat. Ada juga rasa angkuh yang lain, yakni rasa angkuh dengan membuat diri sendiri menjadi terkesan sangat hebat dan sangat terhormat melampaui siapa pun. Ketika kelebihan yang dianugerahkan Allah disombongkan maka kejahatan yang membayangi sikap sudah di depan mata bahkan resikonya sampai berhadapan dengan hukum.

  3. Peraturan bernegara dan bermasyarakat,

    Masyarakat tidak perlu dikawal, dimana-mana harus ada keamanan, karena masing-masing orang bisa mengamankan diri sendiri. Saking dekatnya dengan peraturan, kita tidak merasa dikendalikan olehnya sebab hal-hal yang termuat di dalamnya memang logis dan dibutuhkan selama hidup. Lagi pula jika ada peraturan yang menurut kita belum sesuai, bukankah bisa mengkonsultasikannya ke Mahkamah Konstitusi? Ada dua jenis aturan di dalam masyarakat: yang tertulis disebut sebagai hukum baku dan yang tidak tertulis (bersifat kedaerahan) disebut hukum tidak baku.

  4. Keinginan yang lain,

    Manusia selalu berkutat pada keinginannya karena itulah yang membuatnya tetap sadar dan merasa hidup. Ada satu lagi keinginan dalam diri kita yang disebut dengan hasrat untuk berkembang. Hasrat ini mengendalikan kita dengan mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki agar bermanfaat, baik bagi diri sendiri dan syukur-syukur bagi orang lain juga. Keinginan lain untuk berkembang adalah membentuk keluarga baru walau ada pula yang memilih untuk jadi jomble awetan. Kita juga bisa merawat tanaman atau hewan peliharaan yang disukai agar bisa berkembang bersama.

    Hanya saja, ada sisi buruk dari keinginan ini, terutama soal keinginan untuk mengembangkan materi yang ada. Bila perlu uang semakin banyak, rumah semakin besar, kendaraan semakin mewah, aksesoris semakin banyak dan lain sebagainya. Berhati-hatilah dengan pengembangan materi yang sedang kita giatkan agar hal tersebut sedapat-dapatnya tidak merusak lingkungan yang menopang kehidupan ini. Bila hendak bereksplorasi lebih luas mengembangkan kekayaan, lakukanlah di dunia digital yaitu dalam game. Anda bisa membangun apa saja dengan bermain game; bisa mencari apa saja, bisa menguasai apa saja, termasuk memiliki harta kekayaan sebanyak-banyaknya.

    Sisi duniawi lain dari keinginan yang bisa mengendalikan seseorang adalah pengakuan, penghargaan dan penghormatan. Tiga jalur kemuliaan ini, bisa saja diinginkan oleh orang-orang di sekitar kita. Hanya saja ketiga hal ini bisa membuat seseorang ketergantungan sehingga sangat menginginkannya. Kecanduan akan kemuliaan inilah yang akan menimbulkan efek negatif dalam kehidupan manusia sebab rasa candu syarat dengan hilang akal sehat. Manusia akan mengejar kemuliaan ketika dia merasa bahwa hanya hal-hal itulah yang mampu membuatnya senang. Padahal yang namanya kebahagiaan sesungguhnya sangat sederhana. Anda bisa memperjuangkan kemuliaan yang berjenjang di dunia game, tidak perlu terlalu menuntut kemuliaan di dunia nyata sebab kita masih bisa bahagia sekalipun tidak mulia di bumi.

    Bisa dikatakan bahwa keinginan lain adalah tujuan-tujuan kita selama hidup. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain tidak berharga tetapi bagi kita hal tersebut diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Kekurangannya adalah bila seseorang ketergantungan dengan nafsunya yang besar, seolah tidak bisa ditinggalkan namun tidak bisa juga diperoleh terus-menerus. Akibatnya orang tersebut mulai mewujudkan hawa nafsunya dengan menghalalkan segala cara sehingga orang lain di rugikan bahkan sampai lingkungan abstrak maupun alamiah dikorbankan.

  5. Masa lalu,

    Waktu yang terlewatkan ternyata bisa mengendalikan kita. Ambil saja contoh saat merasa gatal setelah memegang ulat bulu membuat kita waspada untuk tidak melakukannya lagi. Ada orang-orang yang pernah mengalami celaka di siatu tempat sehingga tidak datang lagi ke tempat tersebut di masa mendatang. Trauma terutama yang menjadi kontrol diri yang baik karena merangsang kita berpikir keras agar hal sama tidak terjadi di masa depan. Kita belajar banyak hal dari rasa sakit yang secara berangsur-angsur membuat diri ini menjadi dewasa dan lebih dekat dengan kebenaran.

  6. Masa depan,

    Bagaimana mungkin masa depan bisa mengendalikan kita, padahal semuanya itu belum kita saksikan? Karena Tuhan mampu membuat kita percaya bahwa ada yang namanya sorga, maka kita patuh terhadap firman-Nya. Sesungguhnya sorga itupun sudah kita rasakan saat hidup dalam hadirat-Nya dengan hati yang penuh nyanyian. Di saat seperti ini, semua yang kita butuhkan rasa-rasanya sudah lengkap. Kita tidak perlu lagi yang lebih sebab orang terhormat, orang tajir, orang sukses dan pemenang sama bahagianya dengan orang yang fokus memuliakan Tuhan di dalam hati.

    Mengharapkan suatu baran atau jasa untuk dimiliki kelak. Semua orang yang punya tujuan khusus untuk dimiliki di waktu mendatang, pasti menyusun rencana matang demi mewujudkan asanya. Tentu saja hal ini berlaku juga bagi orang yang punya cita-cita untuk dicapai. Kita dengan tekun bekerja keras dan mengatur-ngatur diri sendiri agar apa yang diinginkan di masa depan bisa diraih.

    Tanpa sadar, manusia turut pula dikendalikan oleh kredit atau cicilan dan utang lainnya. Ada orang yang membuat dirinya sangat hemat, tiap-tiap hari makannya sedikit, jarang jalan-jalan dan tidak suka berpesta demi melunasi utang kredit. Coba bayangkan bagaimana kalau orang-orang tersebut tidak punya cicilan, pasti lebih banyak waktu yang dihabiskan untuk menikmati hidup dalam berbagai bentuk.

    Lotere juga turut mengendalikan kebiasaan konsumsi yang kita lakukan. Selama beberapa bulan mengkondisikan diri untuk hidup lebih sederhana agar bisa disihkan ikut lotre. Dimana suatu saat, bila memanangkannya kita pun bisa belanja lebih tentang apa-apa saja yang dianggap perlu.

  7. Rasa sakit akibat dosa dan kejahatan sendiri,

    Sadar atau tidak dosa turut mengontrol kehidupan ini. Tentu saja ini hanya berlaku bagi mereka yang melakukan kejahatan sedang bagi yang sikapnya tetap baik, hidupnya tidak lagi dibawah pengaruh dosa. Contoh konkritnya adalah saat melakukan kejahatan, seseorang terpaksa harus tunduk pada hukum pidana atau perdata, ditahan di balik jeruji besi. Ada juga tipe dosa yang ketahuan oleh orang lain sehingga seseorang merasa terancam dan terpaksa tunduk di bawah pengaruh orang yang mengetahui dosa besar yang diperbuatnya. Oleh sebab itu, bebaskan diri dari kendali dosa yang syarat paksaan dengan menjauhinya dan tidak tergoda untuk melakukannya di masa depan.

    Di sisi lain ada juga kesalahan kecil yang lebih mengarah kepada kekhilafan. Biasanya, kekhilafan ini bisa menimbulkan rasa sakit bila terjebak di dalamnya. Rasa sakit inilah yang membuat kita lebih waspada agar di mendatang tidak melakukan kesalahan yang sama. Hanya saja, sadari jugalah bahwa terkadang saat melakukan kebaikan pun, kita tersakiti, baik disengaja maupun tidak disengaja. Jangan biarkan rasa sakit itu mengendalikan, menekan dan menghilangkan kebaikan hatimu. Melainkan tetaplah baik dalam momen yang bijaksana.

    Rasa sakit tidak hanya terjadi saat kita melakukan dosa. Kadang juga kita tersakiti ketika melakukan kebaikan. Jangan biarkan rasa sakit itu mengendalikan, menekan dan menghilangkan kebaikanmu melainkan tetaplah baik pada momen yang tepat.

Semua kendali yang ada di luar diri kita sifatnya semu karena keberadaannya nyata namun kita tidak merasa dikontrol oleh hal-hal tersebut. Sebab secara pribadi, tiap-tiap manusia adalah orang bebas yang bisa melakukan apa saja yang diinginkannya. Namun mau tidak mau, kita perlu tunduk pada kendali yang disebut dengan kebenaran sorgawi demi hati yang lebih tenteram seumur hidup. Demikian juga, kita perlu menaklukkan diri untuk patuh kepada kendali hukum duniawi agar kenyamanan hidup berlangsung terus-menerus. Dan masih banyak hal-hal besar-kecil lainnya yang perlu kita sesuaikan dengan hasrat hati masing-masing agar hari-hari yang dijalani tetap menyenangkan.

Kesimpulan

Energi puncak yang mengendalikan manusia adalah rasa sakit dan rasa nyaman. Ketika kita melakukan hal positif, timbullah rasa nyaman namun ketika kita melakukan hal negatif, timbulah rasa sakit. Kita sakit (fisik dan mental) bila berjalan di luar kebenaran dan berada di luar koridor hukum maka jauhilah hal-hal tersebut. Tubuh sakit bila kebutuhan lazim badani tidak terpenuhi maka bekerjalah untuk memenuhinya. Trauma dari masa lalu bisa menyakiti kita maka berhentilah fokus kepada masa lalu. Masa depan bisa menimbulkan kekuatiran yang membingungkan maka bersandarlah kepada Yang Maha Kuat. Pada akhirnya, kita sadar betul bahwa puncak dari rasa sakit adalah dosa, maka jauhilah hal tersebut mulai dari sekarang.

Pada dasarnya yang mengendalikan kita adalah keinginan yang membuat “nyaman di hati” maupun “nyaman di badan.” Pada keadaan ini, beberapa orang salah persepsi karena apa yang diinginkan badannya bertentangan dengan yang diinginkan hatinya, akibatnya memicu kegelisahan sepanjang waktu. Oleh karena itu, manusia butuh kebenaran & keadilan Allah agar pencarian keinginan badani nyaman di hati. Pengetahuan tentang hukum dan peraturan yang berlaku mengontrol kita agar kenyamanan yang diwujudnyatakan tidak berlebihan. Sadar atau tidak, rasa sakit yang pernah dialami juga mengarahkan kita agar tidak lagi mengulang kesalahan yang sama di waktu mendatang. Demikian pula dengan harapan-harapan di masa depan turut mengarahkan diri untuk menabung atau menghemat sesuatu. Hanya saja, baiklah kita tidak melakukan kejahatan untuk mewujudkan kenyamanan diri sebab sakit sekali rasanya dikendalikan oleh dosa.

Salam, Hidup penuh kendali.
Takluk pada kendali benar
dan hukum logis
memperlancar terwujudnya
hal-hal baik yang kita inginkan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.