Sandiwara Pemerintah Dan Keadilan Sosial

Sandiwara Pemerintah Dan Keadilan Sosial

Manusia tidak bisa dilepaskan dari aktivitas sandiwara, baik sebagai subjek maupun sebagai objek. Untuk lebih jelasnya, sandiwara adalah adegan yang dipersiapkan untuk menggambarkan suatu kisah, entah itu sesuai dengan realita, maupun sebagai suatu hasil imajinatif. Tidak ada yang mempersoalkan hal ini sampai menyentuh dunia kerja manusia. Keadaan ini erat kaitannya dengan masalah yang secara halus bisa dibuat-buat dalam adegan yang sederhana (apa adanya tanpa teknologi) maupun yang lebih rumit (dengan bantuan teknologi). Contoh adegan sederhana adalah pura-pura sakit: siapa saja bisa datang ke dokter lalu ngaku-ngaku sedang sakit, butuh obat, anti gelisah, butuh penenang.

Contoh lain dari adegan sandiwara yang membutuhkan sentuhan teknologi adalah komik, sinetron, film dan lain sebagainya. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia perlu bekerja, melakukan sesuatu, menggunakan otot dan otaknya untuk menyelesaikan masalah. Jadi, sesungguhnya yang dimaksud dengan “pekerjaan sejati adalah menyelesaikan masalah.” Defenisi dari bekerja, bukan sekedar mencangkul berkeringat di ladang atau duduk karatan di bangku kantor dari pagi sampai sore. Melainkan setiap orang yang mencoba menyelesaikan masalah dimana pun berada, orang tersebut sudah beradalam dalam status “bekerja.” Hanya saja, masalahnya sekarang adalah ada pekerjaan yang dilakukan dengan sukarela dan ada pula pekerjaan yang dilakukan mendapat imbalan.

Menelisik aktivitas pemerintah sebagai pengatur utama dan pengelola sumber daya dalam sebuah negara, tidak pernah lepas dari aktivitas sandiwara. Kenyataannya, hampir tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diselesaikan di antara masyarakat modern. Sebab semua orang percaya pada kebenaran hakiki, masing-masing sudah sejahtera dan memiliki kecerdasan pribadi untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Lantas tidak ada lagi masalah yang perlu diselesaikan selain dari memenuhi tanggung jawab membantu orang lain mencapai, memiliki, menguasai hal-hal kecil yang menjadi haknya. Sementara itu, sistem yang berteknologi canggih telah meningkatkan efisiensi untuk membantu manusia mencapai, memiliki dan menguasai hal-hal kecil dalam hidupnya.

Bisa dikatakan bahwa hampir tidak ada pekerjaan nyata di zaman modern ini dikarenakan oleh efisiensi dan efektifitas yang dilakukan oleh sistem. Jadi tidak perlu heran bila manusia mulai menjejaki pekerjaan yang disandiwarakan demi membuat dirinya tetap sibuk. Misalnya saja, pekerjaan di kantor bisa ditambah dengan memperbanyak dokumen yang diketik, menambah daftar cheklist dan meningkatkan kunjungan konsumen. Sedang di sisi lain, manusia berusaha untuk tidak melakukan dosa dihadapan Tuhan selama hidupnya. Padahal membuat-buat masalah di antara sesama beresiko mengalami persinggungan emosional yang berujung pada perselisihan dan regangnya kedekatan antar manusia. Oleh karena itu, banyak pekerjaan sandiwara yang tidak mencoba menciptakan masalah antar manusia melainkan antar manusia dan teknologi.

Sadar atau tidak, sandiwara antar manusia rentan terhadap penyelewengan makna yang berujung pada ketidakadilan. Sejarah nusantara telah membuktikan hal tersebut! dimana orang-orang tertentu dengan sengaja mempahlawankan dirinya. Lalu membuat keberadaannya lebih bernilai dari orang lain kemudian menetapkan sendiri pendapatan yang harus diterimanya dan koleganya dengan jumlah fantastis di atas rata-rata. Bila anda mengerti apa yang dilakukan oleh para pemimpin negeri ketika mereka menata ulang sejarah menurut versi sendiri. Menetapkan musuh entah berantah sebagai dalang yang pertarungannya secara ajaib dimenangkan oleh mereka. Lantas menyebut dirinya sebagai pahlawan dan menganggap musuhnya sebagai penjajah.

Mari kesampingkan segala hal yang tidak masuk akal dari sejarah Indonesia lalu pahamilah betapa rentannya kehidupan ketika manusia dengan manusia terlibat dalam aktivitas sandiwara yang masif. Munculnya keadaan yang tidak terkendali tidak dapat dikontrol oleh karena hanya kalangan tertentu saja yang berpura-pura. Sedang orang lain yang melihatnya sebagai peristiwa nyata, termangu-mangu dan terheran-heran serta tidak bisa berbuat apa-apa karena kejadian tersebut. Seoalah kejadian tersebut terlalu tinggi dan terlalu besar sehingga tak terjangkau oleh pihak manapun. Ketika ada orang lain yang berupaya memahami dan membongkarnya malah terjebak dalam ketakutan saking ngerinya peristiwa yang digembar-gemborkan itu. Simak juga, Sandiwara pemerintah dalam berbagai zaman.

Sekali lagi kami katakan tentang sandiwara di antara manusia yang rentan dengan penyimpangan, penyelewengan dan korupsi. Contoh lainnya yang tidak kalah menarik adalah sandiwara di lingkungan rumah sakit. Jumlah kunjungan pasien bisa saja ditingkatkan demi mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi. Lantas pihak lain tidak bisa melakukan kontrol penuh apakah pasien yang datang adalah asli atau bukan. Apa yang terdeteksi hanyalah pembengkakan jumlah kunjungan, banyaknya pemeriksaan dan meningkatnya tindakan medis yang ditempuh. Dimana semua ini menunjukkan bahwa penghasilan rumah sakit menjadi sangat fantastis. Sedang pihak lain tidak bisa membongkar atau membuktikan kepura-puraan yang syarat dengan korupsi tersebut.

Sementara di sisi lain kehidupan, semua orang berhak mendapatkan pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang memadai. Mereka terlibat dalam ekonomi sandiwara yang dikendalikan penuh oleh sistem lewat teknologi smartphone. Bekerja dari rumah memang banyak manfaatnya bagi diri sendiri dan keluarga. Selain itu pekerjaan menonton iklan, memainkan game, membaca berita, berolahraga dan membuat karya pribadi tidak mengonsumsi banyak energi. Keadaan ini dikarenakan oleh efisiensi biaya transportasi yang hampir nol karena semuanya dikirim dan diterima dalam jaringan internet yang selalu online 24/7. Tidak ada kemungkinan penyelewengan dalam sandiwara ini sebab segala sesuatu telah terpantau dan terkalibrasi oleh sistem.

Dalam keterlibatan manusia pada ekonomi sandiwara, perlu ada keadilan. Bila memang harus, sandiwara antar manusia yang biasanya tidak dapat dikendalikan sepenuhnya perlu dibatasi. Sebab siapa pun bisa disuruh berpura-pura memiliki masalah lalu datang membuat laporan palsu, melakukan pemeriksaan palsu dan mendapatkan solusi palsu dimana semuanya itu meningkatkan penghasilan para pejabat lapangan maupun pejabat manajemen. Jelaslah bahwa jika keadaan ini terus terjadi maka bukan mustahil jika keluarga yang satu lebih kaya raya dari keluarga yang lain. Tentu saja keadaan ini sama sekali tidak mendukung prinsip keadilan sosial yang diamanatkan oleh hukum puncak di negeri kita.

Satu hal yang mungkin bisa digalakkan sebagai alat tolak ukur yang adil dalam pekerjaan yang melibatkan pelanggan sandiwara adalah pendapatan yang tidak ada hubungannya dengan jumlah konsumen. Artinya, banyak sedikitnya jumlah pelanggan tidak berpengaruh terhadap penghasilan seseorang. Keadaan ini membuat tidak ada lagi oknum yang bisa mengotak-atik jumlah pelanggan sandiwara sebab tidak banyak sumber daya dari sana. Ide lainnya adalah dengan memperkecil jumlah jasa per usaha yang dilakukan pegawai demi memperkecil nafsu mereka untuk meretasnya/ menyelewengkannya/ membengkakkannya. Agar sekalipun ada yang mencoba menambah-nambah pelanggannya, pengaruhnya tidak banyak dan beresiko terdeteksi oleh sistem. Lagi pula membayar manusia berdasarkan usahanya rentan memicu kesombongan dalam diri seseorang.

Dengan memperkecil jumlah “jasa per usaha.” Diharapkan dapat memperkecil nafsu karyawan untuk meretasnya/ menyelewengkannya/ membengkakkan pelanggannya.

Sistem sebaiknya tidak melakukan perhitungan gaji berdasarkan apa yang dilakukan oleh seorang karyawan. Sebab bisa saja ada momen sombong yang memicu seseorang untuk membanggakan dirinya karena bekerja lebih banyak dari orang lain dan mendapatkan pelanggan yang lebih ramai dari pedagang manapun. Sesuatu yang sesungguhnya tidak pantas untuk dibanggakan karena karyawan tersebut tidak bisa melakukan apa pun tanpa fasilitas memadai dan kerja sama tim dalam sebuah organisasi. Oleh karena itu, sekali pun ada perhitungan “jasa per usaha” jumlahnya minimum untuk menepis arogansi manusia. Sedangkan gaji lebih banyak diperoleh dari pemberian sistem (gaji pokok) dan dari anugerah kesabaran (gaji pangkat).

Kesimpulan

Sumber daya adalah hak semua orang dan secara konstitusi, hukum puncak di Indonesia telah mengadilkannya (Pancasila). Masyarakat yang telah mencapai suksesi kehidupan telah mencapai peningkatan efisiensi dan efektifitas sistem yang meminimalkan pekerjaan nyata. Artinya, sekalipun ada pekerjaan yang melibatkan aktivitas fisik, jumlahnya tidak seberapa. Kebanyakan pekerjaan sandiwara melibatkan aktivitas otak yang menghubungkan manusia dengan jaringan internet. Keadaan ini memungkinkan terwujudnya paham keadilan sosial terutama dalam hal pendapatan. Sebaiknya sistem tidak membesar-besarkan “jasa per usaha” yang dilakukan pekerja agar merasa segan untuk menyombongkan usahanya. Sebaiknya pendapatan seseorang diperhitungkan sebagai anugaerah dari sistem dan anugerah dari kesabaran pekerja itu sendiri. Seperti ada tertulis:

(Efesus 2:8-9) Sebab, oleh anugerah kamu diselamatkan melalui iman dan ini bukan dari dirimu sendiri, tetapi karunia Allah, bukan hasil usahamu, supaya tidak ada seorang pun yang menyombongkan diri.

Salam, Persandiwaraan itu rumit
karena bisa dibuat-buat.
Tetapi kalau sudah tersistem
semuanya bisa dipantau
apakah sudah adil atau belum
?

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.