Sejarah Pemberian Racun Kepada Manusia

Sejarah Pemberian Racun Kepada Manusia

Kapitalis tidak semuanya baik. Ada zamannya dahulu kala dimana beberapa di antaranya adalah sampah yang hanya tahu mewujudkan keinginannya dengan menghalalkan segala cara. Apa lagi cara-cara yang mereka tempuh, jika tidak melakukan kejahatan secara diam-diam agar namanya tetap bersih namun keinginannya juga terwujud. Sebab nama baik bagi seorang kapitalis adalah kebanggaan yang membuat harga diri dan penghormatan yang diberikan orang lain kepadanya semakin bertambah-tambah besar. Tidak puas sampai di situ saja, mereka pun ingin menguasai segala sesuatu agar hanya dirinyalah yang terhebat dan dipuja-puji oleh semua orang. Para pejuang yang berusaha menyadarkannya akan ditekan dan disingkirkan dengan cara-cara halus tanpa bukti yang jelas.

Biar bagaimanapun penguasaan terhadap segala sesuatu yang sedang mereka galakkan pasti akan gagal. Sebab secara hierarki di dalam suatu negara ada segmen keadilan yang tertuang dalam aturan tertinggi pada tiap-tiap negara. Bukan hanya itu saja, dalam ajaran kekristenan itu sendiri sudah termuat dasar keadilan sosial ketika Tuhan berfirman: “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (bnd. Markus 12:31). Dalam dua hal ini saja, kaum berjuis tidak dapat lagi bertekak dari kekuasaan mereka yang telah merajalela. Mau tidak mau, sebagai anak dari Ibu Pertiwi dan sebagai anak dari suatu bangsa, para konglomerat kelas atas ini perlu berbagi dengan semua orang.

Orang yang berjuang terhadap pembagian pengetahuan, kekuasaan dan sumber daya yang adil menamakan dirinya sebagai kaum sosialis. Mereka tidak berusaha menggoyahkan tahta para borjuis dengan melakukan kekerasan. Melainkan yang diperjuangkan oleh seorang sosialis sejati adalah keadilan dari sisi konstitusi, suatu perkara yang bisa diperjuangkan melalui jalur mahkamah konstitusi. Cara ini lebih masuk akal dan lebih memberikan kepastian hukum sehingga semuanya menjadi jelas. Tentu saja, tindakan mempersoalkan keadilan ke muka hukum adalah ancaman besar yang beresiko menggoyahkan tampuk kemahabesaran kapital dalam suatu negara.

Sumber daya besar yang biasanya mereka peroleh dari negara bisa tidak ada lagi. Keadaan ini beresiko membuat kemewahan dan foya-foya rutin yang mereka lakukan bersama rekan-rekannya terancam hilang. Oleh karena itu, berbagai macam usaha yang dilakukan oleh kapitalis untuk menyingkirkan orang-orang sosialis secara diam-diam. Mereka hendak melakukannya dengan cara rapi sehingga tidak ada bukti dan saksi dari aksi kejahatan tersebut. Biar bagaimanapun, para kapital ini pun tetap memegang kepercayaan yang dimilikinya alias masih takut dengan hukum-hukum yang dititahkan Tuhan. Mereka tidak ingin membunuh karena tidak mau menanggung darah siapapun di akhirat. Akhirnya, mereka memutuskan untuk meracuni korbannya karena menurutnya itu tidak membunuh siapa pun. Memang racun tidak membunuh jiwa tetapi beresiko membunuh sifat-sifat baik dalam diri manusia. Jangankan membunuh secara nyata, kata-kata yang menyakiti hati saja sudah termasuk dosa, apalagi kalau sampai menyakiti tubuh. Seperti ada tertulis;

(Matius 5:21-22) Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Apa itu racun?

Banyak hal bisa dikategorikan sebagai toksin bahkan makanan dan minuman juga bisa menjadi seperti itu jika dikonsumsi secara berlebihan. Mulai dari tanah, pasir, batu dan kerikil bisa menjadi pengotor yang bisa merusak badan. Lantas, para berjuis yang tidak sopan ini memanfaatkan zat-zat tertentu untuk mengotori kehidupan seseorang agar hari-harinya kacau. Racun yang membunuh sebenarnya hanyalah mitos sebab semakin tinggi efek letal suatu zat, makin peka panca indera manusia mengenalinya sebelum dikonsumsi. Lagipula para konglomerat sempit ini bukan hendak merusakkan raga seseorang melainkan hendak merusakkan pikiran dan jiwa musuh-musuhnya. Berikut ini akan kami jelaskan beberapa hal penggunaan toksin dari zaman ke zaman.

Penggunaan racun dalam zaman kerajaan

Suatu kerajaan tampaknya sangat mempesona dilihat dari luar namun sesungguhnya merupakan sarang iri hati dan kesombongan. Bagaimana tidak, kelas sosial dalam masyarakat menciptakan perbedaan pendapatan yang sangat kontras. Apa yang bisa dibeli dan dimiliki oleh kalangan atas, tidak terbeli bahkan tidak lagi tersentuh oleh kalangan bawah. Gaya hidup yang bermewah-mewahan dan hari-hari yang penuh dengan pesta pora merupakan ciri khas raja-raja masa lalu. Mereka melakukannya sebagai upaya menikmati hidup dan membanggakan diri dari kaum sosial kelas menengah atau bawah. Akibatnya, bukan masyarakat luas yang bermasalah dengan mereka tetapi kerabat dan pejabat kerajaan lainnya. Namun mereka tidak mungkin membalas dendam dengki tersebut secara langsung sehingga melakukannya secara diam-diam. Mereka bisa meracuni makanan dan/atau minuman yang disajikan kepada seorang raja atau para petingginya secara sembunyi-sembunyi. Semua tindakan manipulatif ini  untuk merebut kedudukan tertentu dalam hierarki kerajaan.

Penggunaan racun oleh kaum bangsawan

Zaman dahulu, ada oknum bangsawan yang memperoleh kekayaan dengan cara merampas hak milik rakyat kecil. Mereka melakukannya dengan cara kasar sampai halus demi hidup yang lebih kaya raya. Sebab usaha baik-baik yang mereka lakukan memberi hasil yang lambat tetapi dengan menunggangi kejahatan, mereka bisa panen cepat dengan hasil berlipat ganda dari yang normal. Mereka bisa saja memanfaatkan racun dosis rendah untuk melenyapkan pemilik sah suatu royalti secara perlahan-lahan. Atau bisa juga dengan cara cepat dalam dosis yang lebih tinggi sehingga langsung melenyapkan pemilik warisan yang dincarnya. Bila pemilik warisan sudah tidak ada lagi maka ia dapat mengklaim langsung kekayaan tersebut atau perlu membelinya dengan harga murah dari pewaris berikutnya/ pewaris lainnya yang lemah. Dengan demikian kekayaan yang dimilikinya semakin bertambah-tambah banyaknya.

Penggunaan racun dalam rumah sakit zaman sekarang

Tingginya ilmu pengetahuan zaman sekarang membuat tindakan promotif dan preventif terhadap penyakit sangat memadai. Akibatnya, jumlah orang sakit dalam suatu daerah semakin sedikit. Padahal kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa upaya rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah sangat hebat dengan mega proyek yang fantastis. Bagaimana tidak, semua tindakan tersebut menciptakan lapangan kerja yang lebih besar di bidang kesehatan. Apa hendak di kata: keberuntungan masyarakat yang terbebas dari penyakit malah membuat nasib malang pekerja kesehatan. Rumah sakit bisa-bisa menjadi kosong karena semua warga sehat namun para pejabat enggan membatalkan anggaran daerah/ anggaran negara yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah.

Sesungguhnya sebuah prestasi pemerintah ketika tidak ada lagi orang yang sakit di suatu wilayah. Akan tetapi, itu berarti kehilangan penghasilan jutaan rupiah dari pejabat dalam jajaran kementrian kesehatan dan rumah sakit pemerintah maupun swasta. Oleh karena itulah, otak manipulatif bekerja memberi ide brilian dalam hati para pejabat. Mereka bisa memproduksi racun-racun tertentu melalui perusahaan farmasi yang dikuasainya untuk membuat manusia seolah-olah sakit. Jadi, masyarakat di daerah memang merasakan kesakitan saat ke rumah sakit namun semuanya itu bukan disebabkan oleh kuman yang lazim menyerang orang normal. Melainkan semuanya itu disebabkan oleh karena racun yang sengaja mereka konsumsi agar muncullah tanda dan gejala penyakit pada badannya.

Ekonomi sandiwara rumah sakit ini mungkin sudah berlangsung selama bertahun-tahun silam namun tidak ada yang menyadarinya. Semuanya ini dianggap sebagai pekerjaan yang layak digaji dengan bayaran tinggi melebihi rata-rata masyarakat pada umumnya. Padahal omong kosong ini rawan dengan praktek korupsi tingkat tinggi. Bisa saja pasien pura-pura yang datang diberi obat lalu dikembalikan lagi lewat pintu belakang. Mereka yang rawat inap bisa orang sehat yang jadwal obatnya banyak namun tidak pernah diminum dan tidak pernah diinjeksikan ke pasien. Artinya, pengeluaran rumah sakit bisa dilaporkan membludak tetapi sesungguhnya sangat ramping sehingga para pejabatnya semakin bertambah-tambah kaya.

Seandainya kita punya sistem informasi keuangan yang terintegrasi secara nasional, mereka yang melakukan korupsi pasti ketahuan. Sebab pengeluaran yang mereka lakukan akan tercatat seluruhnya oleh sistem yang menunjukkan nilai yang lebih tinggi daripada pendapatannya. Daripada membuang-buang waktu duduk di rumah sakit sandiwara, lebih baik orang-orang kesehatan bekerja dari rumah. Tidak susah pekerjaan memainkan game dan melihat iklan, membaca berita juga melihat video: semuanya itu bisa dilakukan oleh siapa saja. Sangat beruntung bisa bersama dengan keluarga sendiri seharian. Tetapi tentu saja perumahan karyawan ini tidak dilakukan seluruhnya, sebaiknya tetap ada yang berjaga di ruang derita gawat darurat (IGD) namun jumlahnya lebih sedikit. Sebab zaman sekarang, bencana yang tidak terduga merupakan fenomena langka karena manusia cerdas lebih hati-hati.

Racun informasi dimana-mana.

Salah satu hal yang membuat racun dilegalkan karena berpedoman kepada informasi yang berada di sekitar kita juga mengandung racun-racun yang mengintimidasi. Semua karya seni bahkan Alkitab itu sendiri pun mengandung sisi negatif yang bisa meracuni kehidupan pembaca/ penonton/ penikmatnya. Lantas orang cerdas nakal berpikir: “kalau informasi beracun saja dilegalkan di dalam masyarakat, mengapa toksin dalam makanan tidak dilegalkan?” Pemikiran semacam ini jelas salah kaprah, sebab sisi negatif dalam suatu karya seni tidak selalu dapat mengubah seseorang menjadi berkelakuan buruk. Ketiadaan pengaruh buruk dari toksin informasi bisa disadari dan dicegah sepenuhnya oleh konsumen lewat cara berpikir kritis dan selektif. Artinya, sekalipun ada potensi racun dalam suatu informasi, penikmatnya selalu bisa memilih untuk tidak mengikutinya atau malah mengikutinya. Akan tetapi, racun dalam makanan efek rasa sakitnya tidak bisa ditolak oleh konsumen karena tidak ada pilihan dan dirinya pun tidak menyadari hal tersebut.

Toksin informasi bisa saja timbul karena pemirsa yang menghubung-hubungkan sesuatu dengan hal-hal buruk yang terjadi. Logika negatif semacam ini sebaiknya dihindari agar karya seni yang dinikmati bisa membuat hati senang. Bila kita menyaksikan informasi lalu menghubung-hubungkannya dengan hal-hal negatif niscaya kita tidak dapat menikmati keindahannya. Tidak perlu memperdalam pembahasan suatu karya di dalam hati, melainkan pujilah Tuhan dan lakukan aktivitas positif untuk mengisi hari-hari. Akan tetapi, racun pada makanan sehari-hari tidak mungkin dihindari karena lidah dan hidung juga mata bukanlah detektor racun yang terstandarisasi. Hanya orang-orang jahat yang menyakiti orang lain secara pengecut karena orang jahat tersebut tidak berani melakukan dosa secara langsung.

Keracunan yang dialami oleh kaum sosialis

Sesungguhnya meracuni orang lain adalah dosa. Akan tetapi, fenomena pelegalan racun dalam sandiwara rumah sakit terbawa-bawa dalam kehidupan masyarakat. Padahal pasien sandiwara meminum racun tersebut dalam keadaan sadar dengan menandatangani persetujuan khusus di atas selembar kertas bermaterai. Mungkin saja isinya adalah pernyataan bahwa mereka tidak akan membocorkan informasi yang sebenarnya dan mengikuti prosedur rumah sakit dengan sebaik-baiknya. Orang-orang ini pasti diberikan benefit yang pantas karena hal tersebut, belum lagi dapat izin libur dari perusahaan yang bersangkutan. Kemudian perjanjian yang menguntungkan ini dibawakan secara diam-diam dalam kehidupan seorang sosialis-idealis yang jelas-jelas merugikannya.

Keracunan yang dilegalkan karena perjanjian yang menguntungkan kedua belah pihak menjadi praktek manipulatif yang diterapkan kepada orang yang tidak faham apa-apa. Tidak terbayangkan bagaimana rasanya diracu-racuni setiap hari oleh orang dekat sendiri semata-mata karena menginginkan sesuatu. Seorang sosialis idealis dijebak lewat keinginannya terhadap barang-barang mewah yang murah-meriah. Barang yang dikatakan gratis atau murah meriah juga pekerjaan bergaji tinggi tanpa bekerja ternyata ada syarat dan ketentuan tersembunyi dibaliknya. Bagaimana bisa penipuan semacam ini dilegalkan oleh sistem: orang-orang mendapatkan hadiah dan pekerjaan mewah tanpa usaha sedikitpun. Dimana karena hal tersebut kehidupan seseorang merana seolah dia mendapatkan gaji dan membeli barang tersebut dengan rasa sakit lewat racun-racun yang dikonsumsinya. Simak juga, Hati-hati dengan kapitalis yang tidak tulus.

Keadaan ini jelas sudah menyalahi aturan yang berlaku. Pelegalan racun di rumah sakit janganlah dibawa-bawa dalam kehidupan masyarakat luas. Bahaya sekali bila orang bisa menyakiti sesamanya secara diam-diam dengan meracuni makanan atau minuman lawan. Sebab pada dasarnya, zat ini tidak terdeteksi oleh panca indera manusia sehingga membuat seseorang dipenuhi oleh prasangka buruk. Pikiran kotor inilah yang bisa mengarah kemana saja menyebabkan efek domino dalam kehidupan penderita. Keadaan yang bisa merusak hubungan dengan sesama bahkan juga dengan Tuhan. Artinya, para promotor penebar racunlah yang menyebabkan orang tersebut stres menjadi jahat bahkan masuk ateis. Di sisi lain, benefit yang seharusnya diperoleh penderita karena telah menanggung rasa sakit tersebut tidak jelas. Atau sekalipun ada, tidak pernah dinikmatinya karena terpojok oleh berbagai persoalan yang timbul dari efek domino toksin.

Kesimpulan

Oknum kapitalis picik mengiming-imingi anda hadiah dan pekerjaan besar tanpa perjuangan agar anda ikut dalam permainannya. Padahal keikutsertaan dalam permainan tanpa usaha tersebut memosisikan anda menjadi pihak yang akan segera diracuni selama berkali-kali, berhari-hari bahkan bertubi-tubi. Simak juga, Pekerjaan bergaji tinggi tanpa melakukan apa-apa.

Kami sendiri mengalami keracunan langka namun dalam taraf ringan dan tidak ada rasa sakit. Tetapi jujur: sebelumnya kami telah merasakan kekejaman kapitalis yaitu orang tua sendiri yang meracuni dengan taraf rasa sakit yang berkepanjangan (berjam-jam). Jangankan anak-anak, orang dewasa pun akan berteriak gila karena rasa sakit berjam-jam atau berhari-hari: aturan keji dari mana ini? Tapi beruntunglah itu sudah tidak ada lagi sekarang.

Jika saat ini anda pun merasa teracuni, santai saja: itu tidak menyebabkan rasa sakit hanya hidup kurang nyaman tapi itu hanya terjadi sesekali. Keracunan yang jelas-jelas menimbulkan dosa adalah bila rasa sakitnya berkepanjangan. Tetapi perhatikan juga pantangan bagi yang keracunan kalium, mungkin kapitalis melakukan ini karena memang ada aturan yang memperbolehkan hal tersebut. Tidak ada rasa sakit selama anda menjauhi pantangannya.

Asal-muasal pemberian racun kepada orang adalah teknik jitu kapitalis untuk membelokkan sosialis-idealis sesuai dengan keinginan hatinya. Sebab tidak ada orang yang selalu mampu menilai dengan tepat: makanan dan minuman mana yang diberi pengotor, kapan diberikan dan siapa yang memberikannya. Ketidaktahuan inilah yang memosisikan seseorang dalam kebingungan: “harus melakukan apa dan menyalahkan siapa?” Sebab hantaman racun pada organ dalam menimbulkan rasa sakit berkepanjangan hingga beberapa waktu lamanya (berjam-jam bahkan berhari-hari). Mereka yang tidak sabar menghadapi keadaan ini akan mengalami stres, menuduh sana-sini (paranoid) dan putus asa (merusak diri sendiri, orang lain dan merusak lingkungan sekitarnya). Momen inilah yang dimanfaatkan oknum kapitalis picik dengan menjadi malaikat penolong agar orang sosialis mau menjadi seperti mereka yang kaya raya. Atau malah dibelokkan sama-sekali menjadi orang gila atau teroris yang kejam. Berhati-hatilah dengan hadiah besar atau pekerjaan gaji tinggi tanpa melakukan usaha apapun.

Salam, Berhenti menyakiti orang lain
secara diam-diam karena
keinginan pribadi yang keji.

Meracuni orang adalah penyiksaan.
Apalagi kalau dilakukan berkali-kali
hari-demi hari berturut-turut
tidak menguntungkan sama sekali
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.