Korupsi Dan Sedekah (Koruptor Yang Suka Bagi-Bagi Uang)

Korupsi Dan Sedekah (Koruptor Yang Suka Bagi-Bagi Uang)

Ada sebuah plesetan yang berbunyi: seorang karyawan mencuri Rp. 50.000,- dari (a) bendahara di kantor lalu sepulangnya ke rumah membagi-bagi uang tersebut untuk disumbang ke (1) Gereja, (2) Mesjid, (3) panti asuhan dan (4) panti jompo masing-masing Rp. 5.000,-. Sedangkan Rp. 30.000,- yang lainnya digunakannya untuk berfoya-foya beli ini dan itu di mall dekat tempat kerjanya. Lantas malamnya dipembaringan ia tidak bisa tidur karena memikir-mikirkan aksi heroik yang dilakukannya siang tadi. Merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah benar bahkan dirinya beruntung karena kesalahannya hanya kepada satu orang (bendahara) sedangkan kebaikannya kepada empat pihak (Gereja, mesjid, panti asuhan dan panti jompo).

Secara sederhana, mungkin ada beberapa dari pembaca yang merasa bahwa apa yang dilakukan oleh orang tersebut tampaknya benar. Sebab kejahatannya hanya diperhitungkan kepada satu orang namun kebaikannya diperhitungkan kepada empat orang. Bila secara penalaran logika manusia, dia beruntung melakukan korupsi tersebut bahkan bisa berbuat baik lebih banyak. Namun benarkah Tuhan juga menilai manusia sesederhana itu? Jika memang Tuhan menilai manusia seperti itu, maka koruptor akan semakin merajalela di negeri. Sebab mereka tidak merasa bersalah dengan apa yang mereka lakukan. Justru mereka merasa telah berbuat amal menabung untuk hidupnya esok di sorga.

Sepenggal cerita di atas bila ditangkap oleh penalaran instan akan membuat semangat untuk melakukan kejahatan dan semangat juga untuk melakukan kebaikan. Siapa yang menyukai kejahatan? Tentu tidak ada tetapi orang bisa melakukannya secara diam-diam di tempat tersembunyi. Mereka bisa meraih sesuatu yang bukan miliknya tanpa diketahui oleh orang banyak. Dengan demikian rasa takutnya lebih kecil karena tidak ada mata yang memandang ke arahnya. Kemudian untuk mengobati sisi rasa bersalah kepada Tuhannya, dia melakukan apa yang disebut sebagai sedekah kepada lembaga keagamaan dan lembaga sosial di dalam masyarakat. Sempitnya pemahaman tentang firman dan dosalah yang mengkerdilkan sikapnya.

Cerita ini juga secara logika dualisme dunia sangatlah masuk akal. Suatu teori tentang kehidupan yang menyatakan bahwa manusia secara eksistensi membutuhkan kebaikan dan keburukan dalam sepanjang umur hidupnya. Seperti halnya yang dilakukan koruptor tersebut: di satu sisi dia berbuat yang jahat tetapi di sisi lain dia berbuat yang baik. Menurutnya semua itu bagus dan seimbang adanya. Padahal secara perhitungan manusia hasil korupsi yang digunakannya lebih besar nilainya dari yang disumbangkannya kepada lembaga non profit. Total yang disumbangkannya hanya Rp. 20.000,- sedangkan yang digunakannya untuk berfoya-foya sebanyak Rp. 30.000,-. Artinya, dualisme yang digunakannya tidak seimbang dan cenderung menguntungkan diri sendiri (nilai kejahatannya lebih besar daripada amal yang dilakukan).

Jika pemahaman ini yang berkembang di tengah masyarakat maka bisa dipastikan bahwa perilaku korupsi semakin merajalela. Orang yang pemahaman spiritualismenya rendah tidak akan mampu membuat keputusan yang baik dihadapan Tuhan. Sebab sudut pandang yang digunakannya adalah sudut pandang duniawi. Jika saja ia membuka wawasan tentang dosa maka akan disadarinya bahwa kesalahan yang dilakukan terhadap bendahara bukanlah kesalahan secara pribadi. Sebab bendahara tersebut tidak mengelola uangnya sendiri melainkan uang organisasi yang menyangkut kebutuhan banyak karyawan. Jadi karyawan yang melakukan korupsi itu tidak hanya berdosa kepada bendaharanya melainkan turut pula berdosa kepada seluruh karyawan lainnya dalam lembaga tersebut.

Wawasan kekristenan juga menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan karyawan tersebut sama sekali tidak benar. Sebab Tuhan menilai sedekah yang dilakukan manusia berdasarkan jumlah total harta kekayaan orang yang bersedekah. Dengan demikian matematika pemberian tiap-tiap orang di mata-Nya hanyalah berjumlah nol koma sekian-sekian (0,….). Berdasarkan pemahaman tersebut bisa dikatakan bahwa kebaikan kita semakin kecil nilainya tatkala harta kekayaan yang dimiliki berjumlah sangat besar. Keadaan ini juga sangat sesuai dengan perasaan orang-orang kaya yang bisa lebih mudah bersedekah kepada orang lain. Sebab harta kekayaannya juga banyak sehingga mudah baginya untuk memberi yang kecil-kecil.

Allah tidak memandang bulu dan semua manusia adalah sama dimata-Nya. Tiap-tiap manusia dipercayakannya dengan satu bagian materi: yang dalam pemandangan duniawi ada yang kaya dan ada yang miskin. Di mata-Nya tidak ada istilah kaya dan miskin sebab semua manusia setara. Bila Tuhan memandang orang-orang kaya lebih baik daripada orang miskin, tentulah Dia tidak akan mengatakan bahwa “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Bnd. Lukas 18:25). Tuhan menilai manusia dengan adil, yang kaya memberi banyak karena hartanya banyak tetapi yang miskin memberi sedikit karena hartanya sedikit yang mana persembahan keduanya adalah setara.

Misalnya saja kita ambil beberapa contoh. Orang kaya hartanya Rp. 5.000.000.000,- dan pemberiannya adalah Rp. 500.000,-. Sedangkan orang miskin hartanya Rp. 50.000.000,- dimana pemberiannya hanya Rp. 5000,- saja. Lantas di mata manusia sumbuangan kedua orang tersebut sangat jauh berbeda dan orang kaya itulah yang akan lebih diberkati. Akan tetapi, di mata Tuhan Yang Maha Adil kedua pemberian orang tersebut setara. Sebab jika jumlah pemberian mereka dibandingkan dengan total harta yang dimiliki, sama-sama bernilai 0,0001 bagian.

Berhenti bersikap naif terhadap dosa. Kalau nilai kebaikan materi bisa lebih besar dari nilai dosa maka orang-orang akan lebih mudah dan lebih banyak melakukan kejahatan di muka bumi ini. Sebab mudah bagi mereka untuk mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya dalam hebatnya aksi manipulatif yang ilegal. Lalu kekayaan yang sangat banyak tersebut bisa saja mereka bagi-bagikan sebagian kepada sekian banyak orang sehingga bisa merasa bahwa semua dosanya telah tertutupi oleh kebaikannya. Bila prinsip yang salah ini terus berlanjut maka eksploitasi terhadap sumber daya alam dan sumber daya manusia semakin gencar dilakukan hingga bumi geger oleh bencana alam & bencana kemanusiaan.

Kesimpulan

Bila kebaikan materi setara dengan satu dosa maka orang akan merasa bebas melakukan korupsi lalu berpikir bahwa hal tersebut bisa ditebus dengan membagi-bagikan sedekah kepada orang miskin, anak yatim, panti asuhan dan panti jompo. Beruntunglah Tuhan itu adil, matematika-Nya luar biasa sehingga tidak ada manusia yang dapat semena-mena melakukan kejahatan di bumi ini.

Berhenti berpikir bahwa sedekah anda bisa mengobati dosa korupsi. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padahal jumlah yang anda sumbangkan lebih kecil daripada jumlah yang anda gunakan untuk diri sendiri? Bagaimana mungkin perkara ini dibenarkan padahal nilai amalan materi lebih kecil dibandingkan dengan kejahatan yang dilakukan?

Seorang yang mencuri di satu rumah, berdosa kepada orang-orang yang berada di rumah tersebut. Demikian juga saat seseorang mencuri di dalam satu organisasi, berdosa kepada orang-orang yang bernaung di bawah organisasi tersebut. Jadi anda tidak hanya berdosa kepada satu orang saat melakukan korupsi di suatu lembaga melainkan berdosa kepada seluruh masyarakat yang bernaung di dalam lembaga tersebut. Lagipula nilai kebaikan materi tidak sebanding dengan nilai dosa yang dilakukan sebab kebaikan materi hanya berada pada kisaran nol koma sekian-sekian. Oleh karena itu, daripada melakukan aksi korup lebih baik belajar membawa diri untuk hidup sesederhana mungkin. Dengan hidup sederhana, itu artinya kesenangan kita hanya fluktuatif-sesaat di dunia ini sedangkan kebahagiaan kita di dalam Tuhan sampai seterusnya untuk selamanya.

Salam, Bersedekah tidak bisa
menutupi dosa korupsi.
Dualisme ini bukanlah
sesuatu yang bisa dilegalkan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.