Kejahatan Karya Seni – Mengurangi Dosa Karya Yang Kita Buat

Kejahatan Karya Seni - Mengurangi Dosa Karya Yang Kita Buat

Sejenak berpikir tentang seorang seniman, ada banyak kebanggaan di dalam hati karena karya-karya besar yang dihasilkan selama hidup. Terlebih jika karya tersebut menghasilkan banyak uang yang nilainya diambil dari angka popularitasnya. Artinya, semakin populer suatu karya makin banyak rupiah yang dihasilkannya. Keadaan ini tentu membuat bangganya hati semakin bertambah-tambah. Semuanya ini sudah pasti membuat tertawa tanpa henti selama yang dia inginkan. Tentulah kehidupannya menjadi sangat baik secara penalaran panca indera manusia, namun belum tentu hal tersebut berbuah baik bila kita mengamati hari-harinya dari dekat.

Memang aktivitas berkarya  selama kita hidup adalah sebuah tindakan fantastis ketika hal tersebut memiliki pengaruh yang besar. Suatu kekuatan yang bisa saja dijadikan sebagai alat untuk menuai pujian dari orang lain. Membuat dirinya merasa perlu lebih dihargai dan dihormati oleh sesama manusia lainnya. Seakan-akan dirinya adalah tuhan  yang menjadi panutan di antara semua manusia. Yang mungkin saja bisa dijadikan pedoman percontohan dalam kehidupan bermasyarakat. Lewat berbagai-bagai gelombang karya penuh gejolak tersebutlah, membuat mereka hampir lupa diri. Bahwa sehebat apapun itu, dirinya masih saja sebagai salah satu dari sekian banyak manusia biasa yang memiliki kelemahan dan juga memiliki sisi yang berkelebihan.

Tidak ada manusia yang lebih hebat dari manusia lainnya, karena itulah kami memperjuangkan kesetaraan antar profesi. Sebab seberat-beratnya suatu profesi, kalau dikerjakan bersama-sama pasti bebannya lebih ringan. Jika seseorang merasa profesinya terlalu banyak bekerja maka baiklah mereka mengundang lebih banyak orang lewat penerimaan lowongan kerja. Dengan demikian beban mereka lebih ringan hampir mirip dengan profesi lainnnya. Sebab zaman sekarang memperberat suatu pekerjaan semudah membalikkan telapak tangan. Artinya, jangan sampai seseorang ngaku-ngaku kerjanya paling sulit gai paling tinggi padahal semuanya itu yang ditambah-tambahi agar dirinya terkesan hebat. Bukankah dengan demikian, mereka menyamakan dirinya dengan seorang superman/ supergirl bergaji tinggi?

Bila anda adalah seorang seniman handal yang telah menghasilkan karya besar, jangan buru-buru bangga. Sebab dalam berkarya sama seperti saat bermain dadu keberuntungan atau roda keberuntungan, tidak selamanya anda dapat perburuan tertinggi. Melainkan jackpot itu hanya terjadi sesekali saja alias tidak diperoleh setiap waktu/ tiap-tiap hari. Bila hati keburu berbanggaria hanya karena satu karya saja, ada kemungkinan karya-karya lainnya tidak lagi bermunculan karena terpaku menikmati yang satu itu dan terlalu takut membuat karya lainnya yang belum tentu sama bagusnya dengan karya sebelumnya.  Keadaan ini cenderung memicu stagnasi akibat buntunya pola pikir yang tertekan oleh tuntutan hasil yang sempurna.

Senyatanya, tidak ada karya yang selalu sempurna karena manusia itu sendiri makhluk fana saja. Biar bagaimanapun, kehidupan tidak bisa melepaskan diri dari zona fluktuasi yang juga berlaku dalam pembentukan ide. Tidak selamanya ide yang diperoleh layak untuk dikategorikan bagus. Ada kemungkinan terdapat pula yang dapat dikategorikan sebagai suatu hal yang terkesan biasa-biasa saja. Atau istilahnya adalah lumrah karena telah diketahui oleh sebagian besar masyarakat. Mungkin yang dilakukan sekedar upaya untuk mengingatkan kembali agar hal tersebut tidak menjadi pajangan yang tidak pernah dilakukan. Datangnya hal-hal bagus dan baru kadang-kadang saja, sedang kebanyakan yang dihasilkan adalah karya biasa yang sudah duluan ada namun dibagus-baguskan.

Sebaik-baiknya suatu karya, mungkin saja ada orang lain yang memandangnya dengan cara yang miring. Mereka melihanya sebagai suatu upaya yang mengajak hati untuk berpaling keluar dalam zona negatif kehidupan. Bisa saja mereka tidak dapat menangkap bahasa positifnya melainkan lebih condong mengambil ungkapan-ungkapan negatif yang tersirat maupun tersurat. Keadaan ini bisa saja membuatnya sesat parsial sebelum dirinya menyimak karya tersebut secara berulang-ulang dan membandingkannya dengan tulisan selanjutnya/ sebelumnya sampai di dapatkan makna positif. Atau bisa jadi, pencerahan positif dapat diperoleh dari karya orang lain yang menegaskan sisi baik yang bisa dituai dari karya yang disalahartikan tersebut.

Berdasarkan semua penjelasan di atas, bisa dikatakan bahwa dalam suatu karya ada orang yang dapat menuai sisi positifnya dan ada pula orang yang justru menuai sisi negatifnya. Jelaslah bahwa kedua hal ini turut menimbulkan berkat dan dosa bagi seniman yang membuatnya. Tidak perlu menghitung berkat yang diperoleh sebab pekerjaan tersebut bukan urusan kita, melainkan itu adalah urusan Tuhan. Namun baiklah kita mengambil jalan tengahnya saja, yaitu ada berkat dan ada dosa sehingga hasilnya impas. Artinya, kita tidak beroleh sesuatu yang lebih dari setiap karya yang dihasilkan sebagus apapun itu. Sebab masing-masing karya ada baik-buruknya. Seandainya itu adalah film, ada konflik yang melibatkan kejahatan dan kebenaran di dalamnya. Dimana semuanya itu hanyalah bagian dari rutinitas belaka yang juga dikerjakan oleh kebanyakan orang dewasa lainnya.

Alangkah lebih baik lagi bila kita melakukan upaya-upaya pencegahan agar karya yang dihasilkan tidak menendang balik (kickback) kehidupan sendiri. Ini adalah upaya untuk meredam potensi negatif dari setiap ide yang dilontarkan dalam berbagai karya. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ada sisi positifnya yang bisa menuai pujian dan popularitas. Sayangnya adalah tidak setiap hari karya besar dapat dihasilkan; pas menghasilkan karya biasa atau kurang berkualitas, ejekan dan hinaan yang didapatkan juga sekuat pujian dan popularitas yang mereka berikan. Oleh karena itu lebih baik tidak mengambil apa-apa dengan cara menjadi seniman tanpa identitas yang jelas. Bila terlalu dipuji maka ada saatnya menjadi sangat terhina karena demikianlah hidup selalu mencapai titik keseimbangan.

Lagi pula, bila kita hanya menulis berdasarkan pujian berarti kita hanya terbawa-bawa oleh arus zaman ini, entah itu ke kanan atau ke kiri: hanyut terbawa arus. Lebih baik hindari mengikuti pola popularitas yang dikembangkan oleh orang terkenal melainkan buatlah ide sendiri yang berhubungan dengan hal-hal lain yang tidak kalah pentingnya, misalnya tentang kebenaran dan keadilan. Menjadi seniman tanpa identitas yang jelas membuat kita lebih luwes menjalani hidup sebab kita tidak berkaitan secara emosional dengan apa yang dibuat. Misalnya saja, dalam berkarya kita mengatakan “hindari melakukan ini dan itu,” tetapi dalam kehidupan sehari-hari, biasa-biasa saja dan tidak mencoba untuk mengontrol orang lain. Sebab hanya peraturan yang mengendalikan manusia dan ada orang-orang tertentu dalam masyarakat yang tugasnya untuk mengingatkan/ memperingatkan yang lainnya.

Bagian lainnya yang tidak kalah penting untuk disampaikan kepada para penikmat seni adalah penegasan dualisme sebuah karya. Itu bisa saja membawa mereka ke sisi positif dan bisa juga ke sisi negatif kehidupan. Layaknya suatu perumpamaan yang mengandung konflik di dalamnya. Suatu pertempuran sejati antara apa yang menurut sudut pandang tertentu jahat dan yang menurut sudut pandang tertentu benar. Menimbulkan pertengkaran yang sengit sehingga membuat hati merasakan suasana keseruan yang masif. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa dan/ atau siapa yang akan diikuti oleh para penikmat? Ada baiknya untuk membantu menyadarkan pembaca atas situasi tersebut, perlu diingatkan bahwa apa yang dihasilkan dalam suatu karya hanyalah perumpamaan antara kebaikan dan keburukan. Baiklah mereka selektif dalam menentukan apa yang hendak dipilih dan diambil untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesimpulan

Sehebat-hebatnya suatu karya pasti bisa digunakan orang untuk melakukan suatu keburukan atau malah dipakai untuk berbuat baik. Kita tidak tahu sejauh apa seseorang memahami sebuah seni dan apa tindakan yang diambil olehnya. Sudah sepantasnya bagi seorang seniman untuk mengingatkan dan menyadarkan para penggemarnya bahwa “apa yang anda saksikan bisa mendorong anda ke jalan yang salah tetapi bisa juga mengarahkan anda ke jalan yang benar.” Demikianlah hakekat sebuah perumpamaan yang mengandung konflik dramatis sekedar menggelitik hati yang tertidur dalam rasa penasaran yang dalam. Ada bagusnya bila kita tidak perlu menuai popularitas saat berkarya sebab tidak selamanya karya besar itu dihasilkan. Pas menghasilkan sesuatu yang biasa, ejekan yang diterima sedahsyat pujian yang diberikan. Oleh karena itu, lebih baik menjadi seniman tak bernama yang menjalani hidup dengan santai, sama seperti masyarakat pada umumnya, tanpa terpengaruh oleh fluktuasi popularitas.

Salam, Semua karya seni
ada jahatnya.
Selektif & kritislah
menyimaknya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.