7 Dampak Buruk Tinggal Di Luar Negeri (Susah Atau Tidak Mudah)

Menyimak beberapa trend yang beredar di masyarakat, tidak semuanya sesuai dengan kenyataan dilapangan. Terkadang suatu trend hanyalah karya seni belaka dimana efek daya tarik panca indra yang dimilikinya sangat menggugah rasa. Tetapi bila anda mendatangi lokasi aslinya, semua terasa biasa-biasa saja. Artinya, keunikan sebuah tempat dibesar-besarkan seolah melebihi tempat-tempat lain di seluruh dunia namun nyatanya ada plus-minusnya. Memang demikianlah dunia ini berjalan, tidak semua baik melainkan ada juga yang kurang baik. Apa yang kurang baik bukan berarti jahat melainkan kesannya terasa menjadi faktor yang kurang memuaskan. Sehingga pada akhirnya semua jadi biasa saja karena muatan kepuasannya seimbang dan sama untuk semua tempat.

Setiap manusia punya kesusahannya sendiri-sendiri. Tiap-tiap tempat memiliki kerumitan hidup yang berbeda-beda. Demikian juga, tiap-tiap negara memiliki ciri khas dan penekanan sosial yang berbeda satu sama lain. Tidak ada yang namanya hidup yang benar-benar bebas dari tekanan bahkan orang kaya raya yang hartanya bejibun sekalipun, pasti memiliki kesusahan setidaknya dalam hal pekerjaan. Selain dari dunia kerja, tekanan juga kita peroleh dari orang terdekat, lingkungan sekitar dan lingkungan alamiah. Serta salah satu yang paling maju dan paling dekat adalah dari teknologi (misalnya smartphone). Namun kita masih tetap bertahan dalam hal-hal tersebut karena manfaat yang mereka berikan jauh lebih besar dari tekanannya.

Dampak negatif hidup di luar negeri

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa “sesuatu tampak indah dari kejauhan tetapi saat kita mendekat kesannya biasa saja.” Keadaan ini dipengaruhi karena saat posisi kita jauh, sudut pandang yang digunakan terbatas dari satu sisi. Namun setelah mendekat bahkan masuk di dalamnya, sudut pandang yang digunakan diperluas dari berbagai sisi sehingga memahami kebenarannya (segala-sesuatu ada plus-minusnya). Tidak ada negara yang benar-benar sempurna untuk ditempati selain negara dimana rumah dan keluarga kita bernaung. Berikut akan kami sampaikan beberapa alasan mengapa tinggal di negeri asing itu rumit kecuali anda mau repot-repot.

  1. Ongkosnya mahal.

    Ngomong-ngomong antara kita saja: “anda perlu menjadi miliader di Indonesia agar bisa tinggal di negara maju.” Mengapa kami katakan demikian? Sebab nilai rupiah sangatlah rendah dibandingkan dengan nilai mata uang di negara yang lebih maju. Masih permulaan saja, yaitu ongkos pindah membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk bergerak dari satu benua ke benua lainnya. Dari mana anda memperoleh uang sebanyak itu? Sadarilah bahwa tidak ada uang gratis zaman sekarang. Semua rupiah yang kita peroleh harus diraih dengan kerja keras atau siap-siap menjadi korban konspirasi kapitalis yang tidak tulus pemberi racun terstruktur (resikonya angker secara fisik & mental) sekaligus memberikan anda biaya pindah-pindah gratis sebanyak yang dibutuhkan.

  2. Mengurus visa lama.

    Suatu negara yang tidak populer, kemungkinan tidak banyak orang yang mengunjungi tempat tersebut. Akan tetapi, negara-negara tertentu yang lebih populer memiliki jumlah kunjungan yang tinggi setiap tahunnya. Akibatnya, negara tersebut perlu mengatur jumlah warga asing yang datang agar tidak overload atau kelebihan kapasitas. Mereka perlu memikirkan matang-matang tentang penginapan yang tersedia dan fasilitas properti lainnya bagi pengunjung yang ingin tinggal di negaranya. Mereka perlu mempersiapkan sumber daya yang ada untuk menyambut peningkatan jumlah penduduk sehingga tidak berakhir buruk melainkan memberi kenyamanan yang layak bagi setiap pengunjungnya. Ada negara tertentu yang pengurusan visanya cepat tetapi negara lain membutuhkan waktu lebih lama. Bahkan sampai ada yang antri bertahun-tahun sebelum mereka mendapatkan visa agar bisa berkunjung ke suatu negara.

  3. Menjadi warga nomor dua.

    Warga negara dan warga asing pada umumnya sama saja asalkan sikapnya baik pasti dimana-mana mendapat perlakuan yang baik pula. Akan tetapi, ada beberapa perbedaan hak dalam hal kenegaraan. Memang ini tidak berpengaruh besar dalam kehidupan seorang traveler melainkan lebih bersifat birokrasi dan pengurusan izin dalam hal-hal tertentu. Anda jelas-jelas butuh lebih banyak berlapang dada agar bisa tabah menghadapi semua itu.

  4. Sebatang kara diperantauan.

    Kami pernah tinggal di perantauan di suatu masa yang telah berlalu. Apa-apa keperluan materi bisa saja terpenuhi bahkan sampai berlebihan (sebagian bisa ditabung). Namun rasa-rasanya ada yang kurang saat kita tidak melalui hari bersama-sama dengan keluarga dekat. Memang hal semacam ini bisa kita tepis lewat kesibukan positif yang dilakukan. Namun ketika imajinasi membawa kita ke masa lalu, mengingat kebersamaan yang dulu hangat, hati jadi merindu. Mungkin salah satu cara mengatasi hal ini adalah dengan menikah dan membentuk keluarga baru.

  5. Mau pulang-pergi kampung halaman hampir mustahil.

    Namanya juga di negeri orang yang jauh di sana, bukan sebuah ide yang baik untuk pulang-pergi sekalipun hanya tiap-tiap tahun. Perlu ada komitmen untuk stay terus di sana akibat tingginya akomodasi. Bila sudah dapat pekerjaan yang layak maka membentuk keluarga baru salah satu pilihan terbaik. Sebab tidak mungkin lagi untuk balik ke kampung halaman hanya sekedar berkata “halo apa kabar?” Lebih baik memanfaatkan teknologi agar bisa tetap terhubung daripada menghabiskan satu tahun gaji hanya demi mengunjungi keluarga lama.

  6. Butuh kerja keras & kecerdasan ekstra untuk mempelajari lingkungan dan budaya yang baru.

    Bila kita di kampung halaman, mau pergi-pergi sejauh apapun tidak ada istilahnya tersesat sebab kita telah menguasai medan tempur. Kalau mau jalan-jalan ke pasar beli ini-itu, beli di tempat yang asyik, beli di tempat yang enak dan beli di tempat yang murah: kita pasti tahu tanpa diberitahu. Akan tetapi, di negeri orang kita sama sekali buta tentang penguasaan wilayah. Sekalipun sudah ada Google Maps, perlu juga bertanya-tanya tentang tempat khusus yang memiliki daya tarik yang khas seperti yang kita butuhkan. Tidak cukup sampai di situ saja pelajaran yang perlu kita kuasai, melainkan turut pula mencari tahu hal-hal eksentrik di tempat tersebut. Bagaimana cara bergaul dengan orang-orang baru, seperti apa orang yang perlu diwaspadai. Apa tempat-tempat yang tidak baik untuk dikunjungi, logat bahasa yang dianjurkan dan peraturan apa saja yang berlaku umum dalam masyarakat. Ini akan semakin rumit ketika anda langsung tinggal di lingkungan orang-orang lokal dan bukannya di lingkungan yang umumnya ditinggali oleh para perantau. Semuanya ini butuh waktu, kerja keras dan kecerdasan yang mumpuni agar bisa dikuasai secara perlahan-lahan.

  7. Kehidupan masyarakatnya punya kesusahan sendiri.

    Seperti kami katakan sebelum-sebelumnya bahwa “suatu tempat bisa memiliki daya tarik yang unik tetapi juga memiliki tantangan hidup yang berbeda.” Inilah dunia yang penuh dengan dualisme kehidupan yang mau tidak mau harus dihadapi oleh siapa pun. Memang yang namanya tantangan hidup selalu bisa diatasi oleh tiap-tiap manusia. Hanya saja, terkadang jumpa pertama dalam pengalaman baru bisa memicu kejutan yang kuat. Ada semacam gejolak dalam diri kita karena baru pertama kali mengalami hal tersebut. Mereka yang bisa bersikap dewasa mengantisipasi situasi dengan tenang dan tetap bersikap positif. Akan tetapi orang yang temperamen segera stres lalu melampiaskan sikap buruknya terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar.

  8. Pemasukan dan pengeluaran hampir seimbang.

    Inilah yang sering disalahartikan oleh banyak kalangan. Mereka berpikir “gaji di luar negeri besar-besar maka saya bisa kaya raya dengan cepat.” Padahal nyatanya tidaklah demikian! Sebab sekalipun gajinya besar, pengeluarannya juga besar. Informasi yang kita dengar dari berbagai media kadang kala kurang seimbang. Mereka hanya memberitahu anda gajinya tetapi pengeluarannya dilupakan. Semestinya kedua hal tersebut imbang-imbangan. Sekalipun gajinya berlebih, itu akan ditabung untuk hari tua dan kebutuhan darurat. Tidak ada yang namanya cepat kaya: kalau demikian jadinya maka orang-orang tidak mau lagi bekerja. Hanya saja bila anda mengirimkan kelebihan gaji yang biasanya ditabung, ke kampung halaman maka nilainya bisa berasa berjuta-juta. Padahal uang segitu hanya bisa untuk bertahan hidup memenuhi kebutuhan selama beberapa hari.

Kesimpulan

Kami tidak suka menjelek-jelekkan orang asing apalagi negeri mereka. Melainkan yang kami lakukan hanyalah menegaskan bahwa pindah ke luar negeri adalah perubah besar selama hidup di bumi. Sebab biaya yang dibutuhkan tinggi dan proses adaptasinya lama dimana semuanya itu menguras banyak energi fisik dan psikhis.  Pertanyaannya adalah apakah anda sudah siap dengan perubahan tersebut? dan apakah anda sudah siap dengan biaya & tekanan yang menyertainya? Jika memang demikian seharusnya, maka yang terjadi biarlah terjadi! Selama anda yang memilihnya berarti anda sudah siap untuk menanggung segala resikonya. Hanya saja, jangan lupakan negeri sendiri dimana anda pernah dilahirkan sebagai seorang anak dan memiliki keluarga yang harmonis.

Salam, Pindah-pindah itu sukar,
Pindah ke luar negeri lebih ekstrim lagi
!
Hidup di dalam negeri aja sudah ngos-ngosan,
terlebih lagi yang mau hidup di negeri orang!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.