7 Alasan Setiap Kata Bukanlah Doa

Alasan Setiap Kata Bukanlah Doa

Manusia adalah makhluk yang suka lari dari kenyataan. Memang tindakan ini tidak sepenuhnya salah dan tidak sepenuhnya benar. Sebab di satu sisi aktivitas tersebut menghasilkan karya imajinatif yang memukau panca indra. Namun di sisi lain, keadaan ini membuat manusia kehilangan pencitraan dirinya sendiri. Artinya, berada di luar kenyataan cenderung membuatnya tidak mengenal dirinya sendiri. Padahal sebaik-baiknya manusia adalah pribadi yang mampu menjaga keseimbangan pola pikiran sendiri. Dibutuhkan juga yang namanya fantasi untuk mendorong keluar rasa senang walau hanya sesaat. Sedang kitapun perlu mengenal nilai-nilai umum yang berlaku selama hidup di dunia ini.

Seburuk-buruknya keadaan, manusia selalu berusaha untuk menjadi lebih baik. Semua tindakan yang dilakukan adalah yang terbaik agar memberi hasil memuaskan. Ini menunjukkan bahwa hasrat di dalam hatinya selalu ingin mencapai titik sempurna yang real. Padahal kenyataannya, manusia tidaklah sempurna sekalipun usaha yang ditorehkannya adalah yang paling bagus dalam berbagai sisi. Ketidaksempurnaan inilah yang kadang tidak dipahami oleh beberapa orang sehingga mereka salah mempersepsikan sesuatu. Misalnya saja tentang ungkapan bahwa “setiap kata adalah doa.” Ungkapan ini menyiratkan sisi kesempurnaan manusia, seolah-olah setiap kata yang terucap olehnya harus benar adanya. Padahal mustahil menuntut kesempurnaan dari makhluk yang tidak sempurna.

Mustahil menuntut kesempurnaan pada makhluk yang tidak sempurna seperti manusia

Faktor penyebab bahwa setiap kata bukanlah doa; benarkah setiap kata adalah doa?

Pandangan yang berkembang di dalam masyarakat lebih banyak didominasi oleh  ungkapan yang sering terucap dalam informasi elektronik. Ada banyak sumber kuat dari informasi tersebut, misalnya adalah televisi, radio dan smartphone. Sebagai jaringan utama informasi, internet juga berperan penting dalam hal penyebarluasan trend yang rancu tersebut dalam bentuk media sosial, blog, forum dan berbagai media entertainment lainnya. Itu bukanlah masalah sebab teknologi dapat memberi yang baik dan kurang baik kepada penggunanya sebagai perbandingan agar para user menjadi lebih cerdas dan dewasa menjalani hidupnya. Berikut ini akan kami sampaikan beberapa alasan mengapa setiap kata tidak selalu menjadi doa.

  1. Manusia bukan Tuhan yang bisa mewujudkan segala sesuatu.

    Hendaknya kita tidak selalu berpikir seperti superman. Marilah sederhanakan diri sendiri untuk memandang kehidupan ini agar hari-hari dapat dilalui dengan tenang sekalipun situasinya berubah-ubah. Kita tidak mampu mewujudkan segala sesuatu yang kita perkatakan, secara sengaja maupun tidak sengaja. Bila kita beranggapan bahwa setiap bahasa yang terucap oleh bibir adalah doa maka hal tersebut semestinya akan terwujud, cepat atau lambat. Padahal tidak semua yang kita inginkan benar adanya, demikian juga keterwujudannya tidak semuanya. Keadaan ini tidak lain disebabkan oleh karena kita bukanlah Tuhan yang mampu menggenapi setiap kata yang difirmankan-Nya.

  2. Manusia bisa khilaf.

    Kita adalah pendosa sejak masa nenek moyang Adam & Hawa diciptakan di bumi ini. Tetapi bukan berarti kita bisa terus-menerus berdosa sampai saat ini. Melainkan setidaknya ada masa-masa dimana kita melakukannya secar tidak sadar, misalnya ketika masih kanak-kanak. Juga ada masanya dimana kita telodor melakukan yang salah karena tidak disengaja. Kekhilafan semacam ini juga terjadi saat bertutur, baik dihadapan orang lain (lisan) maupun secara tidak langsung (tertulis). Sedang tidak ada manusia beriman di dunia ini yang mau mendoakan hal-hal yang salah.

  3. Manusia tidak selalu serius saat berkata-kata.

    Pada banyak kesempatan, kita serius saat berucap dengan sesama terutama ketika menjadi seorang pembicara di depan banyak orang (misalnya saat berpidato). Tetapi pada kesempatan tertentu, kita sering bercanda kepada yang lainnya sekedar menghangatkan suasana. Bahkan kadang-kala seorang pembicara sekalipun, terkadang menuturkan humor untuk melunakkan situasi yang tegang. Tidak mungkin seseorang mendoakan hal-hal yang kurang pas dihadapan Tuhan. Sebab kata-katanya saat itu tidak ditujukan kepada Tuhan melainkan untuk sekedar menghibur khalayak.

  4. Manusia biasa mengatakan hal-hal negatif dan hal-hal positif saat berkarya.

    Bila semua kata yang terucap adalah doa maka semua seniman yang ada di dunia ini telah melakukan kesalahan. Bagaimana tidak? Suatu karya pasti dibangun di atas konflik yang melibatkan hal-hal yang baik dan kurang baik. Pertarungan antara kebaikan dan keburukan inilah yang tidak boleh disamakan dengan doa. Mungkin saja yang positifnya bisa turut dijadikan bahan-bahan doa tetapi yang negatifnya tentu lebih bagus dilupakan saja.

  5. Apa ada ayat Firman Tuhan yang menunjukkan hal tersebut?

    Menurut anda apakah ada ayat firman yang menunjukkan keadaan ini? Menurut kami, hal ini mustahil sebab firman itu sendiri mengandung kebaikan dan keburukan. Ini berguna untuk memancing reaksi pembaca untuk menemukan teka-teki dari kehendak-Nya. Artinya, setiap pembaca membutuhkan tuntunan Roh Kudus untuk memahami isi dari firman itu sendiri. Jadi, bisa saja teori tentang “setiap kata adalah doa” berlaku untuk aliran kepercayaan lainnya namun tidak berlaku bagi para pengikut Kristus.

  6. Tidak semua perkataan yang terucap ditujukan untuk berdoa.

    Kita adalah manusia dan kita masih hidup di dunia ini. Artinya sebesar apapun usaha yang dilakukan, tidak mungkin sama sekali menghentikan aktivitas duniawi demi mengejar hal sorgawi. Melainkan ada momen tertentu dimana kita memberi diri untuk tertuju kepada Tuhan (salah satunya berdoa) tetapi ada juga waktu lainnya dimana kita melaluinya dengan hal-hal duniawi. Jadi tidak mungkin menyamakan aktivitas sorgawi dengan aktivitas duniawi, misalnya bercakap-cakap dengan sesama sambil berdoa menutup mata kepada Tuhan. Terkecuali jika kita ahli multitasking sehingga bisa beraktivitas sambil berdoa di dalam hati. Sebab selama hidup di bumi kadang-kala tujuan manusia berkata-kata hanya demi tuntutan pekerjaan dimana perkataan yang terucap tidak semuanya berhubungan dengan kebenaran yang rutin didoakan di hadapan Tuhan.

  7. Pada akhirnya semua itu relatif.

    Tidak ada manusia yang mutlak tutur katanya ditujukan untuk Tuhan. Sebab kebanyakan perkataan yang kita ucapkan berhubungan dengan situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari. Sekalipun kehidupan kita terlibat dalam siklus yang stagnan namun dalam beberapa momen kita bisa mengubah diri ke arah duniawi yang tidak mesti benar. Misalnya di dunia kerja, kita kebanyakan membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan materi ini dan itu yang tidak ada hubungannya dengan hal-hal sorgawi. Sekalipun secara umum hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan kebenaran yang diyakini.

    Contoh lainnya adalah saat seseorang bernyanyi menghibur diri sendiri. Tidak mungkin semua yang diucapkannya adalah doa sebab dalam suatu lagu pasti mengandung konflik yang melibatkan hal yang kurang baik. Masakan hal tersebut juga dikategorikan sebagai komunikasi kepada Tuhan? Misalnya lagi saat kita sedang menceritakan pengalaman pribadi kepada seseorang, pasti yang dituturkan adalah masa lalu yang baik dan buruk sehingga orang lain bisa mengambil makna positif dari kehidupan kita.

  8. (Hubungan Sebab-Akibat) Orang yang mewujudkan perkataan sesamanya yang salah adalah kesalahan orang tersebut (pelakunya) bukan korbannya (yang salah berkata-kata).

    Misalnya saja si B mengatakan hal-hal yang kurang tepat lalu si C dan D mewujudkan hal tersebut dalam kehidupan si B. Kemudian keduanya beranggapan bahwa kejahatan tersebut bukan salah mereka melainkan si B sendiri yang mengucapkannya (mendoakannya). Dalam kasus ini, jika memang si B mengatakan hal yang salah: dia pasti akan menanggung ganjaran dari Tuhan (setidak-tidaknya di akhirat). Namun bukan berarti bahwa si C & D bisa semena-mena menghakimi si B karena kesalahannya, sebab penghakiman yang adil datangnya dari Tuhan di akhir zaman. Sedang si C & D pasti akan menerima hukuman juga karena berlaku jahat kepada orang lain. Tidak mungkin orang yang di sini merencanakan dan melakukan kejahatan tetapi yang disalahkan malah orang yang lain. Yang lebih tidak mungkin lagi adalah saat hukuman bagi pelaku kejahatan yang berbuat salah malah ditanggungkan kepada korbannya.

Kesimpulan

Kita masih di bumi dan terikat oleh materi. Jadi wajar saja kalau bibir masih belum benar-benar bersih dari keduniawian.

Sekalipun demikian, sadarilah selalu bahwa Tuhan akan menghakimi kita kelak karena semua hal yang terucap oleh bibir sendiri. Dalam hierarki dimensi kehidupan, tutur kata adalah potensi kedua yang paling banyak salah setelah pikiran (nomor satu).

Pandangan yang menganggap bahwa setiap kata adalah doa hanyalah sebuah ajakan agar kita menjauhi bibir dari yang salah. Sebab manusia pada hakekatnya tidaklah sempurna, demikian juga bibirnya tidak selalu sempurna. Bila ada manusia lain yang memanfaatkan ketidaksempurnaan tersebut untuk melakukan kejahatan: itu adalah kesalahannya sendiri karena kurang selektif dengan memercayai bahkan melakukan kekhilafan orang lain.

Suatu pandangan yang tidak logis jika kita mengatakan bahwa “setiap kata yang terucap adalah doa.” Sebab sebagai manusia yang tidak sempurna, kita tidak selalu bermaksud untuk berdoa saat berkata-kata kepada siapapun. Adakalanya saat tutur kata ditujukan untuk santai dan melucu. Serta ada kalanya dimana perkataan kita ditujukan untuk merangkai karya seni yang berisi konflik antara yang baik dan buruk demi memaknai kehidupan. Satu-satunya jalur perkataan yang kemungkinan bisa kita tetap arahkan kepada Yang Maha Kuasa adalah “suara hati sendiri.” Suatu suara yang selalu bertutur untuk memuliakan Tuhan di dalam hati merupakan perkataan yang sekaligus menjadi doa kita kepada Sang Khalik. Artinya, “kata hati” lebih banyak berdoa kepada Tuhan dibandingkan dengan perkataan yang terucap oleh bibir ini.

Salam, Jika setiap perkataan kita
adalah doa: kita lebay
merasa seperti Tuhan
yang bisa mewujudkan
setiap firman
yang terucap oleh-Nya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.