Tampaknya Luar Negeri Sebenarnya Indonesia

Kelihatannya Luar Negeri Sebenarnya Indonesia

Kebohongan yang disembunyikan dengan rapi suatu saat pasti terungkap. Mungkin bukan saat hal tersebut dilancarkan kepada orang-orang namun seiring berjalannya waktu manusia menjadi cerdas sehingga menyadari keadaan. Bila dipikirkan berulang-ulang, “mengapa sesuatu disembunyikan atau dibelokkan dari yang sebenarnya?” Bukan karena itu baik makanya disembunyikan melainkan karena ada tujuan-tujuan tertentu yang sengaja dipersiapkan untuk suatu keadaan yang bisa saja mengarahkan orang pada kesesatan berpikir. Tetapi semua tindakan ini tidaklah berarti jika anda adalah orang yang selalu berupaya mempertahankan sikap hidup dalam ranah yang positif.

Tampaknya produk luar namun sesungguhnya buatan Indonesia (made in Indonesia)

Ada suatu paham di dunia ini yang mengajak penganutnya untuk mengedepankan kekerasan demi mencapai tujuan bersama. Bila kekerasan itu dapat meluas di antara masyarakat maka akan berujung pada percobaan pemberontakan. Paham ini sangat populer dengan nama eksentrik yaitu “komunis.” Sekalipun demikian, paham semacam ini telah banyak ditinggalkan oleh negara-negara di zaman modern. Negara yang menggagas paham tersebut pun telah runtuh dan digantikan dengan paham baru beraliran republik. Artinya, aliran politik yang mengedepankan kekerasan sudah tidak dipakai lagi di zaman sekarang. Namun masih banyak pihak yang gencar mempopulerkannya demi tujuan sempit yang tidak mendidik.

Sekalipun paham komunis tidak lagi digunakan selain di Korea Utara namun negara yang pernah mengadopsinya terus dibicarakan di dalam masyarakat, misalnya RRC dan Rusia. Pemahaman masyarakat sepertinya masih menganggap bahwa dua negara tersebut masih mempertahankan paham kekerasan. Namun sebenarnya negara-negara tersebut telah lama meninggalkannya. Hanya saja, pola pikir masyarakat sengaja dihubung-hubungkan agar sepakat dengan praktek kekerasan demi mencapai tujuan bersama yang diidam-idamkan. Padahal melakukan kekerasan sama saja dengan memaksakan kehendak yang jelas-jelas ditentang oleh undang-undang yang berlaku di negeri.

Semua produk yang ada dalam masyarakat adalah buatan dalam negeri. Hanya saja ide awal dan lisensi produk tersebut mungkin berasal dari luar negeri sehingga tidak salah kalau ada bahasa asing pada boxnya.

Salah satu praktek mengarahkan manusia pada komunisme yang cukup mencolok adalah dengan memasarkan produk yang bertuliskan “made in China.” Bagi yang tidak paham, mereka menganggap hal tersebut biasa saja sebab banyak produk juga yang digunakan berasal dari berbagai negara (misalnya Malaysia). Akan tetapi bagi orang cerdas yang masih berkembang, Cina bisa menjadi sumber kekaguman dan di idolakan. Karena produk-produknya bisa mendunia sampai kemana-mana termasuk di Indonesia. Lantas bila tanpa pertimbangan yang matang, orang dengan pemahaman tanggung tersebut bisa menghubungkan keadaan ini pada praktek komunisme. Seolah-olah Cina menjadi negara yang sukses karena mereka mengedepankan kekerasan dalam mencapai tujuannya. Logika sempit ini turut pula di dukung oleh beredar luasnya film-film yang bernuansa kungfu dari negeri Panda.

Berhati-hati menghubung-hubungkan segala sesuatu. Ada hal-hal tertentu yang bila dihubungkan dapat mengarahkan kita pada keburukan. Gunakanlah kepintaran anda untuk kebaikan bukan untuk kejahatan.

Menurut pemahaman kami, tidak semua produk yang bertuliskan “made ini Cina” merupakan buatan Tiongkok. Kebanyakan produk recehan yang beredar di masyarakat hanyalah sebuah panggilan agar orang cerdas yang menyadari keadaan dapat terjebak dalam kekaguman terhadap komunisme. Bila manusia sudah mulai memuji sesuatu maka dirinya secara tidak langsung mengikuti perkembangan informasi tentang hal tersebut. Dimana kebetulan yang didapatnya adalah tentang komunisme yang mengedepankan legalitas kekerasan demi mencapai suatu tujuan. Lalu pemikiran terus berkembang ke arah yang kurang tepat karena menganggap bahwa negara tersebut bisa maju karena mereka melakukan kekerasan untuk menggenjot modernisasi.

Ada lagi trend yang beredar di zaman sebelumnya tentang negara Malaysia. Seakan-akan banyak penduduk kita yang pergi bekerja sebagai buruh rumahan di luar sana. Sedang di dalam negeri antek-antek Malaysia melakukan teror dan pemboman di berbagai wilayah di Indonesia. Keadaan ini menggambarkan bahwa di satu sisi negara tersebut sangatlah makmur tetapi di sisi lain mereka adalah teroris. Pandangan semacam ini bisa saja membuat kita berpikir bahwa dengan menjadi teroris itu maka kita otomatis menjadi kaya raya. Orang yang tidak jeli menilai informasi yang berkembang bisa saja menganggap bahwa dengan melakukan kekerasan maka kesejahteraan hidup berubah positif.

Kekerasan sama sekali tidak mensejahterahkan manusia tetapi menyiksa dirinya sendiri dan menyiksa orang lain dan lingkungan sekitar.

Keadaan ini bisa terus berlanjut bila orang tersebut menemukan ketidakadilan dalam berbagai bidang dan dirinya sendiri pun merasakannya. Hidupnya di tekan oleh situasi yang tidak bisa dimenangkannya. Perubahan yang diteriakkannya seolah tidak didengarkan oleh siapapun dimana menurutnya perubahan semacam itulah yang paling adil dan paling benar. Di tengah sesaknya kehidupan dan acuhnya orang-orang di sekitarnya, ia mulai berpikir untuk mewujudkan tujuan hatinya dengan melakukan kekerasan yang dimulai dengan mengumpulkan rekan-rekan yang sejalan dengan prinsipnya. Mereka yang diajak masuk akan melakukan pengrusakan, kerusuhan dan percobaan pemberontakan terhadap pemerintah (secara diam-diam maupun terang-terangan). Padahal dengan berlaku demikian, dia tidak ubahnya seperti teroris yang akan diburu oleh aparat penegak hukum.

Tampaknya orang luar negeri tetapi sebenarnya orang Indonesia

Jika anda online menggunakan smartphone atau laptop akan menemukan berbagai produk yang menawarkan keuntungan bagi pembelinya. Anda akan mendapatkan berbagai produk luar negeri yang fungsi dan bentuknya fantastis. Bukan sampai disitu saja, nyatanya harga produk yang diperjual-belikan sangatlah ringan/ murah. Orang yang baru menyaksikan hal ini akan sangat terpesona sampai tergiur membelinya pula. Lalu mulai timbullah pikiran tentang betapa mudahnya hidup di luar negeri. Seolah negeri kita lebih buruk dari negara lain di luar sana karena memperjual-belikan produk yang tidak terbeli (harga mahal). Kemudian anda mulai berpikir untuk tinggal di luar negeri karena biaya hidup yang lebih ringan dengan masyarakat yang sudah sangat maju (negara maju).

Bisa jadi, anda menemukan aplikasi smartphone yang menawarkan penghasilan gratis bermodalkan usaha yang sangat mudah. Mungkinkah itu aplikasi seputar survei, olahraga, belanja, media sharing dan lain-lain yang berbahasa asing. Seolah-olah aplikasi tersebut sangat welcome dengan user sekalipun tantangan dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan tetap ada. Kemudian muncullah pikiran untuk membandingkan negeri sendiri dengan negeri asing di luar sana. Dalam pikiran pendek, bisa saja mengira bahwa orang luar negeri lebih murah hati dibandingkan dengan orang yang ada di negeri sendiri. Akibat spekulasi tanpa dasar yang kuat seperti ini, siapa saja bisa terjebak merindukan untuk tinggal di luar negeri yang kelihatannya lebih menjanjikan kehidupan yang layak.

Aplikasi yang kita mainkan berbahasa asing dan iklannya pun buatan luar negeri tetapi sesungguhnya yang mengelola aplikasi tersebut adalah orang dalam negeri (orang Indonesia). Hanya saja pengelolaan oleh pemerintah tidak mencakup seluruhnya melainkan sekian persen saja untuk menjaga kebebasan dan keleluasaan user/ pengguna selama memanfaatkannya.

Apapun pandangan positif yang anda pikirkan tentang luar negeri, sebenarnya itu hanya dibesar-besarkan saja. Sebab pada kenyataannya tiap-tiap negara di bumi ini memiliki sisi baik dan sisi buruk yang khas. Dimana terkadang apa yang baik di negeri yang satu berbeda dengan negeri yang lain. Perbedaan inilah yang dibuat sangat mencolok oleh seniman tertentu sehingga setiap mata yang menyaksikannya akan terpukau oleh keadaan tersebut. Padahal semua keuntungan yang anda dapatkan dari sebuah aplikasi smartphone diberikan secara langsung atau tidak langsung oleh pemerintah dalam negeri. Sekalipun ada barang yang anda dapatkan dari luar, tetap saja itu diperoleh dengan bantuan pemerintah (memanfaatkan fasilitas negara). Adalah tidak mungkin orang luar ikut campur dalam menafkahi kita sebab mereka juga punya urusannya sendiri-sendiri. Simaklah kawan, Kerugian hidup di luar negeri.

Kesimpulan

Luar negeri tidak lebih baik dari dalam negeri. Kehidupan di luar negeri yang kelihatannya baik tidak berarti bahwa mereka tidak mengalami masalah apapun. Melainkan ini hanyalah usaha untuk mengotak-atik kedengkian hati agar kita bersyukur hidup makmur apa adanya di negeri sendiri.

Rumput tetangga memang selalu kelihatan lebih hijau dari milik sendiri. Bila terlalu terpaku dengan kehidupan masyarakat asing, kita bisa terbawa-bawa dengan rumor negatif yang beredar tentang bangsa tersebut. Seperti Cina adalah komunis, Malaysia adalah teroris yang cenderung mengarahkan kita untuk melegalkan kekerasan demi mewujudkan kemakmuran yang dikehendaki. Sadarilah bahwa sebaik-baiknya orang luar negeri, lebih baik lagi orang dalam negeri sebab mereka adalah saudara sebangsa setanah air. Kita berada dalam satu payung yang disebut Indonesia dan dipersatukan oleh Pancasila yang memberikan tiap-tiap manusia di dalamnya hak dan kewajiban yang setara. Kritislah menanggapi informasi agar tidak terseret oleh aura negatif karena penalaran yang kurang cerdas.

Salam, Jangan salah kaprah,
hidup di luar negeri lebih mahal
ketimbang hidup di Indonesia.
Sebab mata uang mereka
lebih mahal dari rupiah.
Kecuali anda dapat
pekerjaan di luar sana!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.