Kebenaran Manusia Tidak Mutlak – Benarnya Kita Tidak Semuanya

Kebenaran Manusia Tidak Mutlak – Benarnya Kita Tidak Semuanya

Apa yang lebih baik selain kebenaran? Sepanjang umur, itulah yang kita cari dari waktu ke waktu. Tidak ada yang tidak mencarinya sebab tanpanya maka yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu kejahatan yang berujung pada celaka. Merupakan sesuatu yang berseberangan makna dan nilai dari apa yang benar. Banyak yang mengatakan apa yang buruk mudah untuk dilakukan tetapi setelah itu, mempertanggungjawabkannya membuat kita dijebloskan dalam kesengsaraan batin dan badani. Oleh karena itu, setiap orang yang pernah merasakan betapa tidak enaknya hati setelah melakukan dosa akan berusaha untuk menjauhi pola-pola tingkah laku negatif tersebut. Artinya, benarnya seseorang membuat hatinya lebih nyaman ketimbang orang yang sering melakukan apa yang salah.

Bila secara tidak sengaja kita beradu argumen dengan orang lain, tentang kebenaran hidup yang di tempuh. Besar kemungkinan tidak ada yang paling benar dibanding yang lainnya. Sebab orang yang satu bisa unggul di sisi yang ini tapi lemah di sisi yang itu, demikian sebaliknya. Bila keadaan ini bisa diterima akan ada perdamaian untuk menempuh jalan tengah demi hidup bersama yang lebih baik. Akan tetapi, bila perdebatan terus berlanjut tidak ada habisnya hal untuk diperbantahkan mulai dari A sampai Z. Waktu hanya terbuang sia-sia yang malah merugikan diri sendiri karena tidak ada hasil. Perdebatan yang baik adalah perdebatan yang sah/resmi di lembaga terpercaya yang diakui oleh pemerintah seperti pengadilan, mahkamah konstitusi, mahkamah agung dan lainnya.

Lagi pula dalam zaman keadilan sosial dimana semua profesi adalah setara, tidak ada pekerjaan yang lebih mulia dari pekerjaan yang lain. Kecil-besar siapapun orangnya pasti terlibat dalam ekonomi sandiwara yang diulang-ulang. Bukti bahwa apa yang anda kerjakan mengandung unsur sandiwara adalah rutinitas yang dilakukan. Artinya, tidak ada pengerjaan yang benar-benar baru: semuanya sudah ada, telah ada dan akan terus ada. Jikalau pekerjaan anda spesial berarti menciptakan sesuatu yang baru dan lain dari yang lain. Namun sekalipun yang semacam itu ada, tidak setiap hari, tidak setiap bulan dan tidak setiap tahun adanya. Mencipta bagi para ilmuan hanyalah fenomena langka yang baru terjadi setelah usaha keras selama berbulan-bulan/ bertahun-tahun bekerja di lab. Kebanyakan dari kita hanya memodifikasi apa yang sudah ada sehingga kelihatan baru. Jadi tidak benar bila ada yang mengatakan bahwa kerjanya lebih mulia dan lebih layak digaji tinggi melebihi profesi yang lain.

Maka semua manusia sama adanya. Masing-masing pasti pernah berbuat jahat, hanya saja itu mungkin terjadi bukan saat ini melainkan di masa lalu. Siapa orang yang tidak pernah salah di masa kanak-kanak atau masa mudanya? Sekalipun demikian, kejahatan yang dilakukan masih terkontrol (tidak membabi-buta sampai bunuh-bunuhan) karena masih diawasi oleh lingkungan yang kondusif. Semua pasti sudah pernah melanggar sesuatu sebab di masa-masa tersebut belum terlalu paham tentang peraturan dan kemampuan mengendalikan diri masih kurang kuat. Jadi, tidak ada orang yang seluruhnya suci. Satu-satunya manusia Allah yang murni luar dalam di dunia ini adalah Tuhan Yesus Kristus itu sendiri. Tidak perlu berbangga hati dengan jalan hidup yang kita tempuh sebab Allah kita jauh lebih suci.

Coba perhatikan teknologi yang kita miliki. Bukankah ada yang kurang pas di dalamnya? Berbagai teknologi tersebut mengandung karya seni yang memadukan kekuatan positif dan negatif. Ada karya yang disajikan untuk melemahkan sifat negatif tertentu di satu sisi namun di sisi lain ada pula upaya-upaya untuk memperkuat kepribadian positif penikmatnya. Semua karya seni mengandung kebaikan dan keburukan yang bersatu padu bahkan saing-saingan sampai tarung-tarungan sehingga terasa lebih seru untuk disaksikan oleh para pemirsa. Jadi, dari sudut teknologilah ada yang kurang bagus, dimana untuk mengenalinya dibutuhkan kepekaan yang kritis agar tidak terjerumus dalam pusaran negatif yang tidak diperlukan.

Jika diselami lebih dalam tentang kehidupan maka kita hanyalah orang yang berwajah kurang benar karena ada khilafnya. Entah khilafnya sengaja atau tidak sengaja: itu urusan manusia dengan Tuhannya. Bisa jadi khilaf itu juga merupakan permainan diri yang disengaja untuk mendatangkan sesuatu yang mengundang canda-tawa. Semuanya adalah sandiwara kehidupan yang memiliki sisi buruk yang kadang kurang sejalan dengan apa yang diyakini. Akan tetapi tidak berarti hal-hal tersebut berbahaya, asal kita menyadari dan menyaringnya dengan kritis. Sikap semacam ini bila diumpamakan “seperti orang yang melihat kejadian banjir dari jauh namun dirinya tetap aman karena menyadari dan memahami peristiwa tersebut serta melakukan upaya pencegahan agar tidak ikut dalam bencana tersebut.”

Tapi tunggu dulu, tidak perlu terlalu jauh membicarakan buruknya teknologi sebab keburukan itupun sudah ada di dalam hati manusia itu sendiri. Dalam beberapa momen kehidupan, kita sering diperhadapkan dengan pilihan-pilihan yang jelas dan kurang jelas. Ada suara hati yang menuntun kita agar mengikuti apa yang salah tetapi ada juga suara hati yang menggiring kita untuk mengikuti apa yang benar. Bahkan ketika tingkat kesadaran berkurang dan pikiran mulai kosong: hal-hal yang buruk itu mulai muncul dari alam bawah sadar manusia. Sifat ini lebih dikenal sebagai kedagingan dan orang yang kurang mampu menekannya lambat-laun akan mengekspresikan sifat-sifat jahat yang tidak disukai siapapun.

Sekalipun kita sadar betul bahwa kebenaran hidup kita tidaklah sempurna bukan berarti bisa berbuat keji sebebas-bebasnya. Sebab manusia pada dasarnya bisa mengendalikan sisi jahat dalam dirinya walau sesekali teledor dalam sikap yang sedikit buruk layaknya dalam komunikasi dan aktivitas sosial. Orang zaman sekarang menyebut keadaan ini sebagai salib yang harus kita pikul. Hal-hal itu bukanlah sesuatu yang terlalu besar dan berat untuk ditanggung sebab semuanya terkendali dalam zona positif. Manusia perlu ketidaknyamanan dan perlu belajar bertahan sambil mempertahankan sifat-sifat positif yang dimilikinya. Hanya mereka yang tidak kuatlah yang terseret arus emosi negatif sehingga berkelakuan buruk karena berbagai cobaan ringan tersebut.

Bila kita menilai diri dari sudut pandang Allah maka secara otomatis manusia tidak suci adanya. Sebab hati tidak sepenuhnya tertuju pada-Nya dalam segala waktu karena banyak hal yang kita kerjakan yang membutuhkan konsentrasi tinggi sehingga pikiran sejenak melupakan Sang Pencipta. Sebagian besar tujuan kita menginginkan keduniawian yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari. Keadaan ini juga bukanlah sepenuhnya kesalahan kita, sebab secara badaniah kita membutuhkan materi untuk terus dapat menyambung hidup. Lagi pula setiap waktu yang didedikasikan demi kebaikan orang lain sama seperti melakukannya kepada Tuhan. Yang terpenting adalah dalam setiap aktivitas yang ditekuni tidak bertentangan dengan kasih yang sepenuhnya kepada Allah dan kasih yang adil kepada sesama. Semoga kesalahan karena tidak full time (semua waktu) ditujukan kepada Allah dapat diampuni.

Kesimpulan

Dualisme bukan alasan untuk tidak melakukan kebenaran hakiki dan bukan pula alasan untuk melanggar hukum yang berlaku dalam masyarakat.

Manusia tidak mutlak menempuh satu jalan sebab kehidupan mengujinya dengan sisi lain di jalan yang berbeda agar hatinya diteguhkan dijalan utama yang benar dan pikirannya dicerdaskan hari lepas hari.

Kehidupan kita tidak sesempurna kehidupan Allah yang maha suci. Memang kita mengejar apa yang benar namun mau tidak mau terus diuji oleh ketidakbenaran. Sebab bila benarnya kita tidak teruji maka mudah sekali bimbang, terhasut oleh kedagingan yang jahat dan terpengaruh oleh kelaliman yang dipertontonkan lingkungan (misal antar binatang). Kita perlu sadar bahwa sumber keburukan tersebut ada dalam diri sendiri dan di luar diri sendiri lalu memilah-milahnya secara kritis. Saat kedagingan menghasut untuk melakukan keburukan, walaupun demikian tetaplah benar. Mungkin saja teknologi, media-media, orang lain dan makhluk hidup lain memperlihatkan yang negatif: jangan terpengaruh dan pertahankan sikap benar yang dimiliki. Biarlah kejelekan recehan yang tidak berada di bawah kendali kita terus terjadi sebab hal-hal tersebut telah dibatasi semanusiawi mungkin oleh peraturan yang berlaku dalam masyarakat. Sekalipun kebenaran kita tidak seutuhnya, berjuanglah menempuhnya dan patuhilah hukum yang ada dalam banyak carut-marut alam semesta!

Salam, Tidak sepenuhnya positif
bukan berarti bisa diabaikan sama sekali.
Melainkan taatilah aturan dan
hargailah kebenaran
dengan berusaha konsisten
sekalipun kadang khilaf
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.