Cara Menanggapi Penguji (Orang Yang Suka Mencobai Anda)

Cara Menanggapi Penguji (Orang Yang Suka Mencobai Anda)

Bila kita menyaksikan film-film zaman dulu yang mengkisahkan tentang cerita cinta antara dua sejoli: sungguh aduhai nikmat rasanya. Solah cerita tersebut begitu sempurna, keduanya saling memadu kasih dalam balutan emosi yang indah. Semua yang mereka lakukan sepertinya benar sedang orang lain yang ada di sekitarnya kebanyakan jahat adanya. Tidak ada yang buruk di antara keduanya sebab yang buruk itu ada di luar diri mereka. Padahal kenyataan hidup sebagai manusia biasa adalah adanya dualisme dalam diri manusia itu sendiri. Artinya, disadari atau tidak manusia memiliki sifat-sifat baik dan buruk di dalam dirinya dimana yang diekspresikan ke luar tergantung dari pilihan hidup dan situasi di lingkungan sekitarnya.

Kenyataan dari dulisme ini menunjukkan bahwa manusia tidaklah benar semua dan tidak juga baik seluruhnya. Melainkan sifat-sifat yang dilakukan seseorang selalu tersuspensi dalam istilah “rata-rata baik” atau “kebanyakan buruk” adanya. Oleh karena itu, dalam hidup ini hindari menuntut seseorang untuk bersikap baik terus-menerus. Bila ada sedikit khilaf dalam berbagai bentuk, maafkan saja sambil tetaplah baik. Hindari upaya membalas dendam karena aktivitas ini beresiko mengacaukan pikiran & membuat hati tidak tenang. Di atas semuanya itu berupayalah konsisten untuk berbuat yang baik. Sekalipun ada sedikit khilaf, pastikan itu terjadi karena tidak disengaja dan tidak direncanakan.

Teknik suci menanggapi orang yang suka menguji kita

Kedekatan kita dengan orang lain ditantang oleh masalah-masalah yang mereka bawakan. Entah perlakuan buruk itu merupakan rekomendasi dari sistem atau dari pemikirannya sendiri, tidak perlu dihadapi dengan panas hati penuh balas dendam. Melainkan tetaplah menjadi orang baik dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun yang ditemui sepanjang kehidupan ini. Berupayalah untuk welcome (ikhlas) menanggapi masalah yang kadang kala datang secara tiba-tiba. Serta kembangkan kedekatan dengan Tuhan agar suasana hati tidak rusak di tengah parahnya tekanan yang menghinggapi berbagai sendi-sendi kehidupan kita. Berikut ini akan kami jelaskan seadanya saja tentang upaya positif yang dapat dilakukan untuk merespon orang yang sering menguji kita.

  1. Fokus kepada Tuhan.

    Tidak ada aktivitas yang bisa mengimbangi manfaat dari fokus kepada Tuhan. Memang beberapa pekerjaan bisa membuat kita sibuk positif dan media hiburan pun bisa membuat hati senang. Namun semuanya itu ada masanya untuk berhenti. Tidak demikian dengan aktivitas bernyanyi-nyanyi memuliakan Tuhan di dalam hati yang bisa kita lakukan kapan saja dan dimana saja nonstop hits! Memang ada waktunya hal ini berhenti, yaitu saat sedang tidur, bekerja dan belajar yang membutuhkan konsentrasi tinggi.

    Bila kemampuan anda bernyanyi kepada Tuhan telah berkembang, akan tercipta rasa senang yang tenang dari waktu ke waktu. Orang yang selalu bahagia menjalani hari lebih siap menghadapi cobaan hidup yang kadang datang tanpa memberi peringatan. Ia tidak lagi terkejut dengan keburukan instan yang menimpanya. Malahan sikapnya seperti biasa-biasa saja sebab segala rasa sakit telah hilang dinetralkan di dalam hati lewat aktivitas memuji-memuliakan Tuhan di dalam hati.

    Manfaat lain dari aktivitas ini adalah membantu kita untuk tidak lupa terhadap hal-hal penting. Anda bisa bernyanyi di hadapan Tuhan sambil membantu diri sendiri mengingat tentang pentingnya meminum air putih, mengonsumsi garam (turunannya) dan menggoyangkan kepala. Seringlah ucapkan apa yang perlu diingat di dalam hati sendiri agar tidak mudah dilupakan.

  2. Baik kepada semua orang (mencintai semua orang).

    Kelemahan beberapa orang saat menyayangi sesamanya adalah terlalu mencintai orang tertentu namun mengabaikan yang lainnya. Akibatnya, saat orang yang dicintai tidak berlaku sesuai inginnya, rasa kecewanya sangatlah besar. Bahkan sikap bisa saja berubah melakukan kekerasan karena “sebesar aku mencintaimu demikianlah rasa benciku akibat sakit hati yang kau timbulkan.” Keadaan ini membuat hubungan dengan orang lain mudah retak oleh berbagai masalah yang timbul. Oleh karena itu, setarakan rasa sayang anda dengan mencintai semua orang dan berbuat baiklah kepada semua orang.

    Kita pun perlu baik termasuk kepada orang yang sepertinya kurang suka dengan diri ini. Dimana kebaikan yang paling sederhana dan mudah dilakukan adalah sikap yang selalu ramah kepada sesama. Sekalipun lawan terus-menerus menghimpit anda, hindari balas dendam terhadap sikap mereka yang jahat tetapi berusahalah untuk selalu berbuat baik. Hanya saja, perhatikan jugalah waktu dan situasi yang dihadapi agar apa yang dilakukan tepat sasaran. Di atas semuanya itu, bersiaplah menghadapi resiko terburuk: diabaikan. Sebab kebaikan yang kita lakukan untuk Tuhan, kiranya Dia melayakkan niat kita yang tulus sebagai pahala yang bisa dituai kelak dalam kekekalan.

    Mulailah berbuat baik dari dalam keluarga sendiri agar kita dilatih untuk melakukannya di area yang lebih besar. Demikian juga, walaupun orang tua suka menguji anda, tetaplah baik agar keburukan tidak sampai meluap menjadi upaya pembalasan dendam. Sebab satu-satunya cara untuk menekan sifat negatif di dalam hati adalah dengan memunculkan sikap-sikap yang positif adanya.

  3. Waspada dalam menjalani hidup dan menghindari persoalan yang bisa dihindari.

    Waspada itu relatif. Anda bisa melakukannya kapan saja asalkan merasa adanya suatu ancaman. Sedang yang namanya “merasa” sangatlah subjektif, anda bisa merasakannya namun orang lain mungkin saja tidak. Oleh karena itu, kewaspadaan kita kiranya tidak berlebihan dan tidak terlalu mencolok. Jika ada suatu perubahan sikap yang tidak biasa, berikanlah alasan yang logis untuk hal tersebut. Berhati-hatilah, sebab waspada yang mengedepankan prasangka bisa benar dan bisa tidak. Jadi, tidak perlu mengungkapkan kecuriagaan anda kepada orang lain. Melainkan biarlah hal tersebut diketahui oleh diri sendiri saja.

    Tindakan menghindar diawali oleh sikap yang mewaspadai sesuatu. Hindarilah ujian hidup yang menurut anda bisa dilompati. Namun bila anda sudah terbiasa menghadapinya, jalani saja sekalipun sedikit menyebabkan gangguan ketenangan/ rasa sakit. Di atas semuanya itu, sadarilah bahwa ada beberapa cobaan hidup yang mau tidak mau harus dihadapi. Oleh karena itu, tidak perlu terlalu memaksakan upaya menghindari keadaan. Melainkan fleksibel sajalah, kalau ada yang bisa dihindari: baguslah; kalau tidak terhindarkan: jalani sajalah itu! Pengalaman dan pengetahuan anda sangat menentukan tindakan yang akan dilakukan selanjutnya.

    Pihak yang memberi sumber daya mungkin saja melontarkan masalah ke hadapan anda. Biasanya hal tersebut bukan sesuatu yang berat dan pasti bisa ditanggung oleh tiap-tiap orang. Akan tetapi, bila cobaannya agak berat, membuat badan lemas, kedinginan, kurang konsentrasi, mengantuk dan terus-menerus terjadi. Sebaiknya perlu menghindari menerima sejumlah uang yang diberikan (tolak pemberiannya maka ujiannya tertunda). Bisa jadi pekerjaan yang ditekuni terbengkalai karena teracuni oleh sesuatu dari pihak yang memberi anda sumber daya.

  4. Rendah hati dan hidup sederhana.

    Sikap yang rendah hati sangat dibutuhkan karena kebanyakan pergumulan hidup merendahkan harga diri kita. Sikap ini disertai dengan kebiasaan menginjak diri sendiri saat berbagai-bagai keunggulan pribadi mulai mencuat ke permukaan. Berupaya untuk tidak menyombongkan diri kepada para penguji anda sekalipun perbuatan mereka terkesan aneh dan menjijikkan. Hindari ejekan yang bernada kasar sebab hal tersebut menyamakan diri dengan mereka sehingga penderitaan yang anda alami tidak ada pahalanya. Berusaha untuk tidak mencari kesenangan dengan membanggakan kualitas yang dimiliki, melainkan carilah kebahagiaan dengan memuji-muji Tuhan di dalam hati. Abaikan kata-kata yang tidak senonoh dengan tetap tenang dalam diam. Namun aktiflah melakukan apa yang perlu segera diselesaikan: mengusahakan hal-hal positif hari lepas hari.

    Pada waktu tertentu, kita akan diperhadapkan dengan ujian yang agak berat. Dimana mau tidak mau, sejumlah makanan tidak dapat lagi dikonsumsi. Kebiasaan berpuasa dan hidup sederhana sangat dibutuhkan dalam keadaan ini. Hindari apa yang menjadi pantangan dan dengan rendah hati mau mengonsumsi makanan yang cukup sederhana demi badan yang sehat bebas dari rasa sakit sehingga bisa terus beraktivitas seperti biasa.

    Ada satu kebiasaan yang tidak sederhana saat seseorang diuji, yakni merasa bahwa setelah ujian hidup berlalu maka akan ada hadiah yang diterimanya. Sadarilah teman, bahwa hidup di dunia nyata tidak sama dengan dunia game. Memang semua tantangan yang kita selesaikan dalam dunia game pasti ada imbalannya. Tidak demikian di dunia nyata, justru kalau terlalu berharap dengan hadiah setelah ujian: bisa-bisa terjebak dalam tangan kapitalis yang tidak tulus. Orang-orang ini memang sangat murah hati tetapi masalah yang mereka datangkan sangat berat dan sifatnya bertubi-tubi. Tuluslah saat anda dicobai orang karena hadiah materi justru bisa memperberat dan membuat rumit masalah yang akan dihadapi. Seperti kata pepatah: “keberuntungan kecil, sialnya juga kecil; semakin besar keberuntungan, makin besar pula kesialannya karena hidup selalu seimbang.”

  5. Ikhlas terhadap situasi yang kurang nice.

    Bagaimana anda menerima kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan pribadi? Situasi yang bertolak belakang ini merupakan latihan untuk bersikap ikhlas. Mudah menerima kenyataan saat apa yang terjadi baik adanya. Tetapi, kebanyakan dari ujian hidup yang ada mengganggu kenyamanan, keamanan dan kedamaian hati. Bila tidak belajar ikhlas terhadap gangguan-gangguan kecil yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari: kita tidak akan mampu menanggung perkara yang lebih besar dan lebih kompleks dalam berbagai bidang.

    Orang yang ikhlas tidak melakukan perlawanan dalam berbagai bentuk. Tetapi bersikap tenang, tidak emosional dan sibuk dengan aktivitas seperti biasanya. Tidak mengurus hal-hal yang tidak penting namun tetap menjaga sikap selalu baik seolah tidak terjadi apa-apa. Mungkin pada awalnya ujian yang dihadapi mampu menimbulkan guncangan pendek namun lama-kelamaan sikap bisa dinormalkan kembali.

  6. Sabar menghadapi cobaan yang datang.

    Kesabaran layaknya menunggu proses kehidupan yang sedang berlangsung. Ini bisa jadi lama atau singkat adanya. Tergantung dari apa yang sedang dihadapi. Tidak ada yang betah melakukannya bila tidak mengisinya dengan aktivitas positif. Hindari sikap berdiam diri saja, tetapi fokuslah kepada Tuhan, kerjakan bakat yang dimiiki dan pelajarilah sesuatu yang positif agar waktu yang ada dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

    Bersabarlah jika memang hal tersebut diperlukan. Tetapi katakan dengan jelas bila tidak mampu melakukannya karena urusan yang mendesak sehingga butuh cepat-cepat. Apapun kelanjutannya terimalah dengan ikhlas hati. Sikap yang berlapang dada perlu di latih agar semakin lama semakin panjang sabar. Ini bisa berhubungan erat dengan menunggu sesuatu dalam waktu yang lama tanpa memicu gelombang stres dan keputusasaan dalam diri sendiri.

  7. Tidak meniru inkonsistensi para penguji anda.

    Apa yang bisa kita lakukan dalam hidup ini? Yaitu melakukan apa yang baik selama kita mampu melakukannya. Hindari niat hati yang berusaha untuk menang dari orang yang mencobai anda. Seolah ingin meniru-balaskan keburukan yang mereka lakukan dengan keburukan yang lain. Upaya ini biasanya ditempuh dengan sikap acuh tak acuh sehingga hasilnya impas. Ketahuilah bahwa bila kita mengimbangi penderitaan yang dialami dengan sikap yang buruk, tidak ada pahala yang dicatatkan oleh sorga. Tetaplah konsisten berbuat baik sekalipun orang lain kurang baik, dengan demikian kita belajar mengasihi musuh. Bukankah ini adalah perintah dari Tuhan sendiri? Tidak perlu mempertahankan sikap yang arogan melainkan belajarlah mengalahkan diri sendiri (menyangkal diri). Bila mampu bertahan tetap positif selama menanggung tekanan hidup maka Tuhan akan mentranformasikan keburukan yang kita terima menjadi benih-benih kedewasaan dan kebijaksanaan.

Negara tidak menguji manusia dengan jalan meracuni tubuh untuk mendapatkan uang yang disebut dengan gaji. Tetapi manusia yang memberi uang dan juga meracuni orang yang sama berarti melakukan hal tersebut berdasarkan keinginannya sendiri. Sebab sehebat-hebatnya ujian yang didatangkan negara hanya berupa “ujian komunikasi, menunggu dan informasi hoax.” Negara tidak pernah meracuni tubuh/ fisik masyarakat manapun: artinya, orang yang meracuni sesamanya sekalipun memberinya uang sifatnya inkonstitusional. Praktek racun-meracuni hanya terjadi dalam ekonomi sandiwara rumah sakit. Sekalipun demikian, hal tersebut ditanda-tangani dan korbannya tahu (menyadari) bahwa dirinya akan meminum sejumlah racun untuk kemudian di sembuhkan setelah sampai di rumah sakit. Jadi, meracuni orang tanpa sepengatahuannya jelas merupakan tindakan kejahatan yang hukumannya berat baik di dunia ini maupun di akhirat. Baca juga, Meracuni orang lain tindakan jahat yang ilegal.

Kesimpulan

Para penguasa sumber daya perlu aturan yang jelas dan adil dalam menguji agar penderitaan yang mereka datangkan kepada orang yang menerima uang tidak dimanfaatkan untuk mendewakan dirinya atau mengarahkan korban pada hal-hal yang jahat dan keji.

Hidup ini penuh dengan dualisme: ini adalah kenyataan yang kadang tidak bisa diterima oleh beberapa orang yang menuntut kesempurnaan. Orang yang memberi anda hal baik bisa juga memberi yang buruk, layaknya televisi dan smartphone. Hanya saja yang kita ragukan adalah sampai dimana batas-batasnya ujian itu? Seperti yang kami alami sendiri, diuji dengan memberikan racun yang mengganggu kesibukan dalam bekerja. Apakah yang seperti ini masih diperbolehkan? Di sinilah dibutuhkan keadilan sosial agar orang-orang yang menguasai sumber daya tidak bersikap semena-mena. Sebab praktek ini bisa saja digunakan untuk menekan orang lain secara diam-diam. Selain itu, dibutuhkan juga yang namanya kejelasan terhadap aturan tersebut agar siapapun yang akan mengalaminya dapat mempersiapkan diri untuk menanggung cobaan yang datang.

Salam, Hidup memang
penuh dengan dualisme.
Tetapi resikonya
apa yang kita lakukan
tidak ada pahalanya
!
Kebaikan + Keburukan
1 + (-1) = 0

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.