Manusia Sampah – Merendahkan Hati Di Tengah Gencarnya Keangkuhan

Manusia Sampah – Merendahkan Hati Di Tengah Gencarnya Keangkuhan

Kita tidak pernah bisa lari dari sifat-sifat bawaan yang sudah ada di dalam hati masing-masing. Sifat yang sudah ada sebagai bagian dari bumi yang adalah ibu kita sama seperti semua binatang. Jadi tidak perlu dipertanyakan lagi, mengapa sifat alamiah manusia sama seperti hewan. Memiliki hasrat kebinatangan merupakan salah satu ciri khas identik manusia yang sangat mencintai materi duniawi yang fana . Sekuat apapun latihan dan segencar apapun pembelajaran yang diusahakan: tidak bisa menghilangkannya sama sekali. Apa yang kita lakukan hanyalah upaya-upaya pencegahan agar kedagingan yang jahat tidak meluas di dalam pikiran. Salah satu yang sangat mencolok dari sifat-sifat tersebut adalah arogansi.

Manusia menjadi angkuh karena terlalu mencintai keduniawian yang dikuasainya. Ada banyak sekali bentuk kesombongan, ada orang yang terlihat sombong namun sesungguhnya karena kurang pengetahuan, Ada yang pura-pura angkuh demi memperoleh sanjungan dari sesama. Terdapat yang sengaja melakukaknnya demi mempertahankan harga diri tetap tinggi. Juga tidak dapat dipungkiri bahwa ada yang bersikap demikian demi melampiaskan kebencian merendahkan sesamanya. Dan salah satu yang paling lumrah terjadi adalah “menyombongkan diri demi merasa senang.” Apapun bentuk-bentuk rasa tersebut bisa berpotensi menjungkirbalikkan kehidupan sendiri, mengganggu orang lain dan merusak lingkungan sekitar. Oleh karena itu, bila anda mampu mengatasinya maka sebagian besar dari persoalan hidup yang dialami dapat teratasi dengan baik.

Ada kecenderungan yang terulang-ulang dalam praktek negatif ini. Biasanya semakin bertambah umur/ materi/ jabatan/ pengetahuan manusia makin besar pula potensi angkuhnya. Jadi, semakin berumur seseorang, semakin banyak hal yang bisa memicunya untuk bersikap sombong. Tetapi bisa jadi hal tersebut tidak kelihatan dari luar karena dirinya masih mahir mengendalikan diri. Selama pikiran tetap fokus dan situasinya aman-aman saja: mudah sekali mengendalikan sifat tinggi hati. Cukup diabaikan saja hati yang meninggi maka sifat tersebut akan mereda bahkan hilang selama beberapa waktu. Sayang, semuanya itu bisa berubah seratus delapan puluh derajat ketika situasi di sekitar mulai bergejolak.

Dalam banyak kesempatan, mudah sekali sifat sombong ini mendominasi pikiran. Sebab gaungan sifat-sifat itu di dalam pikiran memicu rasa yang sangat disukai oleh semua manusia (tanpa terkecuali). Bukan karena rasa tersebut menjengkelkan melainkan karena rasa tersebut memicu kesenangan yang aduhai. Bila rasa senang ini terus-menerus bergelora di dalam hati, maka kesombongan pun ikut-ikutan melunjak. Akibatnya, orang yang awalnya terlihat baik-baik saja berubah sikap menjadi buruk hanya karena tekanan hidup yang lumrah terjadi, bergulir di sekitarnya. Oleh karena itu, sebelum sifat-sifat tinggi hati ini membuat kita rapuh dan mudah sekali terjatuh karena soal-soal sepele: hinakanlah kebanggaan tersebut.

Semakin banyak kita bersenang hati, artinya semakin banyak pula rasa bangga yang menguasai diri ini. Kelebihan-kelebihan yang kita miliki sangat riskan dibanggakan terlebih ketika hal-hal tersebut dimanfaatkan/ dipakai oleh orang lain. Masa-masa sukar dahulu yang bisa kita lalui dengan selamat: sangat menyenangkan & membanggakan bila diingat-ingat. Bahkan aktivitas menikmati hidup yang kita umbar dengan sombongnya selalu diikuti dengan kesenangan yang tinggi walau hanya sesaat saja. Bahkan bisa saja dalam penderitaan sekalipun, kita membanggakan diri demi memungkiri dan meredakan rasa sakit yang timbul. Seolah dengan membanggakan diri kepahitan hati terobati. Sayangnya, semangat itu hanya sementara saja setelah menyadari ada orang yang lebih hebat dari diri ini. Terlebih lagi ketika masalah yang menghampiri datang bertubi-tubi membuat kebanggaan hancur lebur membuat sikap memburuk.

Semangat yang timbul karena tingginya rasa senang bisa menguasai hidup seseorang. Biasanya keadaan ini turut disertai dengan sikap & ekspresi yang agak lebay (berlebihan). Bila keadaannya tidak terkontrol, lama kelamaan apa yang berlebihan ini beresiko merugikan orang lain dan diri sendiri. Keadaan bisa semakin buruk ketika tidak ada orang yang mau ambil pusing untuk mengingatkan dan memperingatkannya. Jika mampu berhenti sejenak, menyangkal diri dan menenangkan diri untuk merasakan ada sesuatu yang janggal di dalam hidupnya. Pasti ada suara dalam hati yang berupaya menyadarkannya bahwa apa yang dilakukan sudah di luar batas. Menyadari sikap yang berlebihan setelah diperingatkan oleh suara hati jauh lebih baik ketimbang baru menyadarinya setelah kehancuran besar terjadi (kejadian yang merugikan diri sendiri atau orang lain).

Berhati-hatilah dengan rasa senang yang anda temui dari waktu ke waktu. Ini adalah jalur paling eksklusif untuk ditunggangi oleh kesombongan sehingga hati mulai cenderung berbangga diri terhadap apa yang dimiliki. Akibat yang langsung dirasakan adalah “merasa hebat, tak tersaingi, tak tertandingi” yang membuat seseorang mudah sekali menghinakan orang lain. Semakin banyak orang yang direndahkan di dalam hati, semakin hebat rasanya diri sendiri dan semakin besar rasa senang, kemudian mulailah timbul tawa yang lebar dan menggelegar. Bila hati belum merasa puas, maka tindakan yang selanjutnya terjadi cenderung mengarah pada pelarian hidup yang lambat laun merugikan diri sendiri. Satu-satunya cara untuk mengatasi kecanduan terhadap “hati yang merasa hebat” adalah dengan menyangkal diri.

Ada baiknya setiap kali kita merasa senang langsung saja menyangkal diri di hadapan Tuhan. Kata-kata merendahkan diri ini tidak perlu kita ungkapkan kepada orang lain tetapi cukup di dalam hati saja. Ini adalah upaya agar kesenangan yang dialami tidak mengkristal menjadi kebanggaan. Jika hati suka berbangga-bangga mulailah merasa hebat yang membuat sikap cenderung mengabaikan bahkan menyepelekan orang lain. Untuk sesaat saja, hati yang merasa hebat membuat kita merasa aman. Namun rasa senang dan semangat yang diperoleh dari candu membanggakan diri akan hangus karena masalah/ rasa sakit yang tidak mampu diatasi dengan segera. Oleh karena itu, lebih baik menyangkal diri agar tidak ketergantungan dengan kebanggaan hidup yang sifatnya sementara saja.

Kesimpulan

Berhati-hatilah dengan kebanggaan anda sebab ada pihak yang berwenang mengambil-letakkan apa yang anda banggakan. Pihak-pihak tersebut bisa mempermainkan dan menghilangkan apa yang disombongkan agar seseorang menjadi emosional dan melakukan hal-hal yang menyimpang.

Hidup butuh keseimbangan: jika anda merasa rendah diri, katakanlah “hidupku berharga di mata Tuhan.” Akan tetapi jika anda mulai merasa angkuh, katakan dalam hati: “aku hanyalah sampah saja.” Berhati-hatilah karena emosi yang terlalu rendah membuat kita tidak berkembang namun emosi yang terlalu tinggi juga beresiko membuat kita berani melanggar batas (bertindak di luar aturan).

Saat hati senang, ingin rasanya tertawa terbahak-bahak namun kami langsung mengatakan: “semuanya ini sampah, terimakasih Tuhan telah menguatkan kami sampai sekarang.” Semakin banyak kesenangan yang muncul dalam hati karena segala yang dimiliki: semakin banyak kata-kata “ini sampah, itu sampah, semuanya sampah” yang diperkatakan di dalam hati. Sebab kecenderungan manusia untuk menjadi pribadi yang sombong sangatlah besar, itu sudah melekat di dalam daging ini. Menyampahi semua keunggulan yang dilakukan bukan berarti tidak menghargai diri sendiri melainkan mencegah kecanduan terhadap rasa yang suka berbangga-bangga. Sebab hal tersebut tidak bisa kita pertahankan agar selalu ada dan lagi pula ada waktu habisnya. Menekan diri sendiri membuat kita lebih siap ditekan oleh situasi sehingga sikap tetap tenang, tidak lebay dan tetap baik sekalipun orang lain kurang baik.

Salam, Kita boleh unggul dalam kehidupan
tetapi hina di dalam diri sendiri
perlu dipelihara
semata-mata untuk
menciptakan keseimbangan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.