Kebebasan Sejati Yang Bisa Anda Raih Kapan Saja

Kebebasan Sejati Yang Bisa Anda Raih Kapan Saja

Mengamati pohon-pohon yang tertanam tegak di sekitar rumah, memperlihatkan beberapa burung hinggap menari dan menciap-ciap terbang ke sana ke mari. Seolah hati terpikat merindukan kebebasan yang secara demikian berlaku untuk diri sendiri. Walau sadar bahwa sebebas-bebasnya burung pasti punya ketakutan sendiri terhadap predator yang bisa menjeratnya kapan saja. Artinya, ini menyadarkan kami bahwa tidak ada kehidupan yang benar-benar sempurna. Saat suatu makhluk diberi kebebasan dalam hal tertentu, pasti dirinya pun diberi keterbatasan dalam hal yang lainnya. Selalu ada kelemahan dibalik kelebihan yang dimiliki oleh makhluk manapun: itulah takdir kehidupan.

Setiap manusia dilahirkan dalam haknya untuk hidup sebagai bagian dari makhluk ciptaan Tuhan. Memiliki hak sebagai warga negara untuk diperlakukan dengan adil dan berhak memiliki keluarga yang merawatnya sampai mampu menjadi pribadi yang mandiri. Hak-hak inilah yang merupakan lingkup kebebasan masing-masing orang. Berhak memperoleh apa yang pantas untuk dimilikinya yang juga dimiliki oleh orang lain. Selama dalam ruang lingkup yang dimaksud, seseorang bebas menjalani hidupnya sebagaimana orang lain pun menjalaninya. Tidak ada yang berhak memaksakan sesuatu kepadanya kecuali kebaikan itu sendiri. Sebab bisa saja ia tidak memahaminya (terutama bagi yang masih kecil) sehingga mau tidak mau diharuskan untuk belajar tentang kebaikan dan kebenaran.

Tidak ada manusia yang bisa bebas sesuka hatinya (mutlak) sebab ada yang namanya aturan hidup. Sesuatu yang kadang tak tertulis dan ada juga yang tertulis jelas. Sekalipun tidak tertulis, lama-kelamaan tiap orang mampu menyadari hal tersebut yang biasanya dipelajari dalam pergaulan sehari-hari. Setiap kebebasan yang kita miliki berbatasan langsung dengan kebebasan orang lain. Artinya, bila kita terlalu berlebihan mengekspresikan hak tersebut, besar kemungkinan akan mengganggu bahkan menyebabkan kerugian dalam hidup orang-orang di sekitar. Batasan-batasan yang kadang begitu kompleks itulah yang menunjukkan bahwa kita adalah makhluk yang hidup bersosial dalam masyarakat yang majemuk.

Satu-satunya tempat tanpa batasan adalah hidup menyendiri jauh dari masyarakat. Dimanapun anda saat sendiri, tidak ada siapa-siapa di sekitar sampai bermil-mil jauhnya: semua bisa dilakukan sesuka hati. Anda tidak butuh tuleransi untuk mengekspresikan diri sebab tidak ada yang protes seputar hal tersebut. Tidak perlu bertenggang rasa terhadap lingkungan sekitar sebab tidak ada manusia yang bisa dipahami/ yang memiliki kebutuhan khusus. Anda benar-benar menjadi raja yang berhak melakukan apa saja selama hal tersebut adalah milik sendiri. Hukum negara tetap membatasi anda tentang hal-hal dalam cakupan besar seputar pemanfaatan sumber daya. Satu-satunya yang membatasi anda saat menyendiri ditempat terpencil adalah hati nurani sendiri.

Kebebasan sejati yang dapat diraih kapan saja dan dimana saja

Seperti yang kami katakan sebelumnya, tidak ada yang namanya kebebasan mutlak dalam berbagai bidang. Melainkan kesejatian yang kami maksudkan di sini adalah sebatas pikiran saja. Tidak mungkin bertindak suka-suka dalam dunia nyata karena ada orang lain yang memiliki prinsip dan kepentingan berbeda. Akan tetapi yang sejati tersebut hanya diperoleh sebatas dalam pikiran saja. Jadi kebebasan sejati berarti merasa tidak ada yang menghimpit dan menekan pikiran selama menjalani hari. Berikut ini akan kami jelaskan berbagai bidang kehidupan yang dapat kita bebaskan dari rupa-rupa himpitan rasa di dalam jiwa.

  1. Bebas dari keinginan itu sendiri.

    Apa lagi yang mengekang kehidupan kita selain dari hawa nafsu yang dimiliki? Semakin banyak yang diinginkan, semakin banyak pula beban yang dibawa-bawa. Sebab hati cenderung suka membahas-bahas apa-apa saja yang menjadi hasrat utama dalam hidup. Pemikiran ini memang awalnya menyenangkan tetapi lama kelamaan menimbulkan kekecewaan terlebih jika belum terwujud. Oleh karena itu bebaskan hidup dari tekanan hawa nafsu dengan cara cintai Tuhan fokuslah kepada-Nya dan fokus pada hal-hal positif lainnya yang dilakukan hari demi hari. Terbiasalah melihat apa yang anda inginkan sehingga hati tidak lagi menggebu-gebu karena menyaksikan hal tersebut. Nyatakan perasaanmu kepada orang lain, terserah bagaimana respon mereka. Tetapi jangan mengulang-ngulang sesuatu yang anda sudah tahu jawabannya.

  2. Bebas dari prasangka buruk.

    Tekanan lainnya yang mungkin anda alami adalah prasangka terhadap orang lain. Hasrat untuk suudzon awalnya muncul secara tiba-tiba. Akan tetapi hati cenderung meneruskan pembahasan secara mendalam ketika kita benci, dengki dan dendam terhadapnya. Bila seseorang dianggap sebagai musuh yang sedang sial maka hati bersenang-senang melihatnya bahkan sampai mengutukinya agar masalah/ deritanya bertambah. Oleh karena itu, hindari membenci, mendengki dan mendendam terhadap siapa pun agar prasangka yang tiba-tiba muncul menjadi peringatan untuk lebih hati-hati bahkan bila perlu doakanlah masalahnya dilancarkan Tuhan. Doa-doa hati yang spontanitas saat menyaksikan keburukan yang terjadi membantu membebaskan hati dari prasangka negatif.

  3. Bebas dari rasa takut (informasi).

    Ketakutan adalah sebuah tekanan yang bisa mengacaukan pikiran. Bila ini terus terjadi, bisa membuat hidup penuh dengan ketidaktenangan. Biasanya, ketakutan yang paling lumrah ditimbulkan oleh informasi yang datang dari berbagai media. Kita bisa merasa tertekan oleh desas-desus yang terdengar dari cerita tentang pencurian, pembegalan, pemerasan, penyiksaan dan pembunuhan. Seolah-olah semua kejahatan ini akan mendekati kehidupan kita. Tetapi orang yang cerdik tahu mengantisipasi berbagai berita jelak yang mendatanginya. Semuanya itu baiknya dilupakan saja, tidak perlu dimasukkan di dalam hati.

  4. Bebas dari tekanan masa depan.

    Bagaimana dengan masa depan? Tidakkah anda khawatir tentang hari esok? Terlebih lagi karena saat melihat diri sendiri dan kondisi lingkungan sekitar yang tampaknya kurang bersahabat. Belum lagi masalah lingkungan yang seolah-olah semakin hari semakin panas membakar. Seolah-olah di masa depan tidak ada harapan karena lahan pekerjaan sedikit sedangkan jumlah “manusia siap kerja” (lulusan baru) bertambah tiap tahun. Semakin susah hati ini kalau memikirkan nasib hidup kita kelak. Akan tetapi orang yang berpengalaman tahu menimbang-nimbang dengan benar. Sebab ada Tuhan yang bertanggung jawab atas masa depannya. Lagipula ada negara yang telah menjamin keadilan sosial bagi semua umat tanpa terkecuali. Jika anda tetap menjadi orang baik dan melakukan hal-hal yang benar: cepat atau lambat pasti diperhatikan pemerintah. Yang terpenting adalah jangan lupa berusaha.

  5. Bebas dari tekanan masa lalu (rasa bersalah).

    Masa lalu tiap-tiap orang pasti dipadati dengan kesalahan sebab kita masih kanak-kanak/ masih muda dan masih berada dalam proses pembelajaran hidup. Jika anda masih muda dan kerap kali khilaf: jangan terlalu disusahkan karena hal tersebut lumrah di awal-awal kehidupan. Sebaliknya bebaskan diri dari rasa bersalah dengan meminta maaf kepada Tuhan. Bila telah melakukan kesalahan kepada seseorang: bersegeralah untuk meminta maaf. Serta berupayalah untuk membayar ganti rugi jika tindakan kita memang menyebabkan kerugian secara materil.

  6. Bebas dari keraguan.

    Mengapa masih ragu-ragu untuk melakukan sesuatu? Biasanya, kita ragu melakukan sesuatu karena pengetahuan yang terbatas tentang sesuatu. Kita seolah masih bingung, apakah hendak memilih jalan yang ini atau jalan yang itu. Akibatnya, keraguan membuat jalannya hidup menjadi stagnan karena belum membuat pilihan sehingga tidak tahu harus membuat apa. Oleh karena itu, jadilah cerdas dengan belajar dari nasehat orang tua, guru, buku dan media-media positif di sekitar kita.

  7. Bebas dari rasa sakit.

    Ini adalah kebebasan yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua orang. Bagaimana agar saat orang lain mengerjainya: tidak membuat hati sakit dan jauh dari pusing yang mengacaukan pikiran. Sebab kepedihan hati yang seolah-olah berasa teriris-iris, dapat membuat seseorang menjadi putus asa lalu melukai diri sendiri atau merusak/ mencampakkan barang-barang tertentu yang ada di dekatnya. Tidak ada jalan singkat untuk membebaskan anda dari rasa ini, melainkan dibutuhkan keikhlasan, kesabaran dan kerendahan hati yang perlu terus dipelajari dari waktu ke waktu. Semakin cepat anda mengikhlaskan kejadian buruk tersebut, makin lega perasaan ini. Semakin sabar anda menghadapinya, semakin tenang sikap yang diekspresikan untuk meresponnya. Semakin segera anda berendah hati, semakin dimampukan untuk membalas keburukan dengan kebaikan.

  8. Bebas dari rasa jengkel oleh gangguan alami.

    Orang yang mudah sekali terganggu, tidak cocok hidup dalam masyarakat yang saling berdekat-dekatan (bertetangga). Sebab biar bagaimanapun tiap-tiap orang memiliki kepentingan sendiri-sendiri. Masing-masing sibuk dengan urusannya yang mungkin berbeda dari aktivitas orang lain. Perbedaan inilah yang kerap menimbulkan gangguan yang secara alami tidak disengaja. Orang yang tidak terbiasa dengan perbedaan tersebut mudah sekali jengkel/ kesal hatinya sehingga memicu kemarahan nyata (kekerasan verbal) baik secara langsung (kepada lawannya) maupun tidak langsung (lewat benda-benda di sekitarnya atau di media sosial). Bebas dari rasa jengkel karena gangguan diperoleh karena sudah terbiasa. Suasana hati tetap stabil sekalipun gejolak berputar kencang di sekitarnya.

  9. Bebas dari tekanan materi.

    Materi adalah beban yang selalu ada seumur kehidupan kita. Selama masih menginjakkan kaki di dunia fana ini, selama itulah kita butuh materi. Tekanan materi bisa berupa belum bekerja, uang kurang untuk membeli apa yang diinginkan dan tidak ada stok uang (tabungan) di masa pensiun. Keadaan ini bisa membuat seseorang terpuruk hingga menjadi stres. Sedang ada juga yang terpuruk oleh materi mengusahakan jalan yang salah untuk memperolehnya, semisalnya mencuri kecil-kecil hingga korupsi berjamaah. Tetapi orang yang cerdik memilih jalan yang lurus untuk membebaskan diri dari himpitan uang dengan berhemat, menghentikan pengeluran “demi gengsi,” hidup sederhana dan rajin menabung. Bagi yang belum punya pekerjaan, silahkan cari pekerjaan online lewat aplikasi smartphone menurut bakat/ hobi/ ketertarikan masing-masing.

  10. Bebas dari tekanan musuh.

    Musuh itu sebenarnya fiktif – fantasi yang dibuat oleh pikiran kita sendiri. Sebab seburuk-buruknya keadaan, kita masih satu gereja/ satu negara/ satu provinsi/ satu kabupaten/ satu kota/ satu desa/ satu dusun/ satu kelurahan/ satu RT-RW/ atau satu keluarga. Tidak ada yang bisa memisahkan kita kecuali bila kita menyendiri untuk menjauh dari kehidupan bermasyarakat. Jadi, sampai kapanpun musuh kita itu akan tetap ada. Daripada menganggap seseorang sebagai musuh dan sakit hati setiap kali melihatnya sepanjang kehidupan ini. Lebih baik berbuat baik kepadanya, doakan hari-harinya beruntung dan relakanlah kemenangannya. Katakan dalam hati “kamu menang kawan” agar ikhlas menerima kelebihannya. Hindari menjadikan masalah yang dihadapi sebagai masalah pribadi yang dipendam dalam hati sebagai kebencian, amarah dan dendam. Melainkan anggaplah semua pergumulan hidup yang dialami sebagai ujian yang terjadi atas izin Tuhan dan/ atau menganggapnya sebagai cobaan yang direkomendasikan oleh sistem.

  11. Bebas dari tekanan lingkungan.

    Bukankah anda pernah merasakan tekanan yang dilakukan oleh lingkungan alamiah? Ini berupa kejadian-kejadian langka yang mencakup banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin topan, putting beliung, tsunami, badai panas dan lain sebagainya. Kita perlu terbebas dari semua bencana tersebut dengan bergiat melakukan aktivitas yang ramah lingkungan. Misalnya saja, mengurangi penggunaan kantong plastik, menggunakan fasilitas umum/ kendaraan umum, membuang sampah pada tempatnya, mendaur ulang sampah jadi bermanfaat dan lain-lain. Selain itu yang cukup penting untuk kita lakukan menghadapi iklim yang berubah-ubah adalah belajar beradaptasi dimanapun berada.

  12. Bebas dari tekanan hukum.

    Semua peraturan yang ada jelas menekan kehidupan kita. Itulah yang membuat kita tidak bisa sebebas-bebasnya di seantero negeri. Oleh karena itu, cara terampuh agar merasa terbebas dari himpitan hukum adalah dengan patuh/ taat semampunya. Satu lagi yang bisa membuat kita merasa lega dengan hukum yang ada adalah mengupayakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Sebab sudah dari sononya semua manusia sama di mata hukum seperti termuat dalam Pancasila tepatnya sila ke dua dan kelima.

  13. dan lain sebagainya silahkan cari sendiri.

Kesimpulan

Bebasnya hati dari hal-hal negatif tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semuanya butuh proses pembelajaran yang memakan waktu yang tidak sebentar saja.

Bebas itu tidak mutlak sebab kehidupan kita berbatasan langsung dengan orang lain dan terikat secara langsung oleh hukum negara. Satu-satunya pembebasan yang dapat kita peroleh adalah kebebasan hati dari hal-hal buruk. Sebab suasana hati yang buruk membuat kehidupan kita yang kecil semakin terhimpit dalam keterpurukan. Oleh karena itu, lakukanlah hal-hal positif agar hati tentram sehingga berada di rumah sendiri pun rasanya seperti hidup di istana. Kita bebas melakukan apa saja karena yang kita sukai adalah kebaikan dan kebenaran. Itulah sumber kebahagiaan kita sehingga sekalipun ada rintangan saat melakukannya: tetap bisa dihadapi dengan rendah hati, ikhlas dan sabar. Tidak merasa tertekan dengan situasi yang gonjang-ganjing sebab kita telah belajar menyesuaikan diri dan tetap baik dalam berbagai keadaan. Tidak ada yang bisa mengacaukan dunia kita selama pikiran selalu fokus kepada Tuhan atau fokus pada hal-hal positif lainnya yang dilakukan.

Kebebasan Materi Terbatas Kebebasan Hati Unlimited

Salam, Biar badan
terikat berbagai peraturan.
Tapi hati terbebas
dari berbagai keburukan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.