Kecintaan Terhadap Dunia Membuat Manusia Semakin Berdosa Sampai Mati

Kecintaan Terhadap Dunia Membuat Manusia Semakin Berdosa Sampai Mati

Gegap gempita dunia adalah pertanda kuatnya ledakan hasrat manusia terhadap bumi ini. Dalam banyak pesona yang bertaburan di sana-sini menghasilkan kegirangan yang hampir terdengar dimana-mana. Jangan katakan anda tidak pernah menyaksikan kegirangan yang menyenangkan tersebut. Bahkan mungkin anda sendiri telah, sedang dan akan terus mengalaminya. Sayang kemilau yang menggiurkan indra itu membuat beberapa orang terbuai sampai mabuk kepayang. Parahnya lagi adalah Saat itu membuat mereka lupa diri, seperti orang yang hilang ingatan. Sampai-sampai tidak lagi mengenal keluarga, saudara, sahabat, teman-teman sendiri dengan bertindak semena-mena terhadap mereka. Terlebih lagi Tuhan, tak pernah lagi dipuja-puji di dalam hati karena hatinya milik dunia ini.

Bila kita teliti dengan baik ajaran Tuhan Yesus selama hadir di tengah-tengah bangsa Israel, inti dari semua ajaran tersebut adalah. “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. (bnd. Markus 12:30)” Serta, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (bnd. Markus 12:31)” Inilah kebenaran sejati dan yang masih saja di sangkali oleh manusia yang belum bertobat. Karena cinta terhadap kemuliaan duniawi, Tuhan tidak lagi ada di dalam hati dan jiwanya. Demikian juga karena kecintaan manusia terhadap materi duniawi, orang-orang sudah tidak lagi mengasihi sesama seperti diri sendiri (tidak mengasihi orang lain dengan adil).

Akibatnya, ada orang yang memiliki agama hanya di KTP-nya saja namun di tempat-tempat sepi melakukan aksi kejahatan yang perlahan-lahan merugikan dirinya sendiri. Jika kejahatan ini terus berkembang maka kerugian yang dialami akan meluas kepada orang lain di sekitarnya. Penipuan dalam berbagai bentuk menjalar dimana-mana. Kemunafikan menguasai manusia karena alimnya hanya dari luar saja atau hanya di bibir saja namun hatinya penuh rampasan karena berbagai rencana jahat ada di dalam dirinya. Sedang kekayaan yang diperolehnya dari kejahatan yang terorganisir digunakan untuk meningkatkan kemewahan dan kemegahan hidupnya dan hidup keluarganya.

Kebenarannya adalah manusia yang hatinya belum terpuaskan cenderung merindukan gemerlapan duniawi yang tinggi-tinggi. Mereka telah menjauhkan Allah dalam hati dan jiwanya. Sedang keadilan di antara manusia tidak lagi ada: orang yang memiliki kelebihan mencolok semakin serakah, kaya dan berkuasa. Namun mereka yang memiliki kelemahan semakin terhimpit, tertindas dan terbelakang. Lantas para penguasa membela diri, bahwa semuanya itu karena kesalahan mereka. Padahal kenyataannya adalah sistem bermasyarakatlah yang sengaja membuat mereka kalah dan terpuruk. Sistem (yang dikendalikan para petinggi negeri) diaturkian untuk menjerumuskan masyarakat kecil sehingga kehidupan mereka semakin terpuruk. Orang kecil belum diajari bertahan dari cobaan sehingga hari-hari mereka beresiko terus merosot terpinggirkan.

Kebenarannya adalah dosa tidak hanya merugikan manusia tetapi turut pula merugikan alam sekitar kita. Memang proses ini tidak secepat yang kita bayangkan, butuh bertahun-tahun sampai alam menjadi rusak akibat ulah manusia. Perebutan lahan pekerjaan membuat manusia banting stir untuk mencari uang. Keadaan diperparah karena besarnya keinginan terhadap keduniawiaan yang wow dan berkelas. Lantas, lahan pertanian dibuka seluas-luasnya, ternak dipelihara sebanyak-banyaknya dan manipulasi di antara manusia diperbanyak demi uang yang diidam-idamkan. Semua usaha tersebut dilakukan oleh para kapitalis kelas menengah dan kelas atas. Akibatnya, alam sekitar mengamuk menimbulkan kerugian jiwa dan materi yang sangat besar. Sedang mereka yang terbelakang pengetahuan dan ekonominya semakin tersingkirkan bahkan lenyap ditelan oleh orang kuat (yang berkuasa & kaya raya).

Apabila bencana alam dan bencana kemanusiaan terus berlanjut, kehidupan akan semakin berat jadinya. Hanya orang yang punya uang besar dan kuasa tinggilah yang akan lolos darinya. Sedang kesombongan dan kesewenang-wenangan orang tersebut berangsur-angsur mengundang orang lain untuk menentangnya. Sikapnya yang buruk membuat dengki penguasa lain (kapitalis lainnya) sehingga melakukan perlawanan secara diam-diam. Tindakan ini lebih dikenal sebagai pemberontakan yang pada akhirnya menghancurkan seluruh tatanan dalam masyarakat. Inilah kebenarannya: ketika dosa terus merambat dan membesar maka kehancuran sistem sudah di depan mata dan hanya menunggu waktu.

Refleksi

Kebenaran itu logis karena kita bisa tahu dengan pasti, seperti apa pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Kita tahu bahwa orang yang terlalu mencintai hal-hal duniawi cenderung merasa selalu kehausan. Mereka tidak akan berhenti melakukan eksploitasi sampai bumi menjadi padang gurun tandus. Hatinya tidak akan pernah terpuaskan karena telah kehilangan fokus kepada Tuhan. Kesalahan yang dilakukannya merugikan dan mengganggu keseimbangan alam. Dosa yang mereka lama-kelamaan mendorong terjadinya bencana alam dan bencana kemanusiaan. Pada akhirnya bencana, perang dan pemberontakan akan menghancurkan sistem bermasyarakat (meruntuhkan organisasi). Bahkan bisa saja manusia di dalamnya pun turut lenyap sama sekali.

Lantas, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara kita mencintai dunia tanpa mengesampingkan Tuhan? Jalan keluarnya tidak lain adalah dengan hidup seturut kebenaran hakiki. Apalagi yang benar itu selain dua dasar seluruh Kitab Suci seperti yang Tuhan nyatakan kepada kita lewat firman-Nya? Sistem tidak perlu membuat kekayaan dan kekuasaan sangat tinggi tetapi menyerahkan kekuasaan pada peraturan dan kekayaan di masa depan. Artinya, tidak ada orang yang berkuasa atas sesamanya, hanya peraturanlah yang bisa menekan manusia. Seseorang bisa saja miskin di masa mudanya, hanya saja seiring waktu berlalu lama-kelamaan iapun bisa menjadi kaya sama seperti orang kaya lainnya dalam masyarakat. Keadilan alias kesetaraan berlaku disegala profesi namun berbeda dari segi umur.

Penguasa tidak lagi bisa menakut-nakuti bawahannya karena setiap keputusan harus sesuai dengan aturan yang masuk akal. Mereka tidak dapat menggunakan jabatannya untuk mengancam siapapun, termasuk terhadap orang-orang di bawahnya. Sedang perlu ada jaminan bahwa setiap orang bisa menjadi kaya saat umurnya terus bertambah-tambah matangnya. Agar tiap-tiap orang tidak lagi menempuh cara-cara ilegal demi meraih harta duniawi. Dengan menjanjikan setiap keluarga pasti menjadi kaya sama seperti rakyat lainnya: masyarakat menjadi tenang dan fokus manusia terhadap materi menurun. Di sisi lain, tantangan hidup yang diberikan oleh sistem merangsang tiap-tiap manusia untuk lebih dekat kepada Tuhan. Mereka akan giat berfokus kepada Tuhan demi memperoleh nilai-nilai kedewasaan bahkan kebijaksanaan selama menjalani hidup.

Kesimpulan

Kebenaran itu logis karena kita bisa mengukur pengaruhnya kepada manusia, baik secara individu maupun secara kelompok. Sesuatu yang berhubungan langsung dengan aktivitas manusia sehari-hari. Kuat-lemahnya pengaruh tersebut turut berimbas pada kerugian yang dialami lingkungan. Akibatnya, kehidupan manusia menjadi semakin berat: yang kuat semakin merajalela dan yang lemah semakin terpinggirkan. Pada akhirnya ketidakseimbangan sistem dan lingkungan mengundang terjadinya bencana alam, pemberontakan dan peperangan yang memusnahkan manusia itu sendiri. Seperti halnya kata firman: “upah dosa adalah maut. (bnd. Roma 6:23)” Jadi sebelum maut itu menjadi nyata akibat dosa yang menumpuk-numpuk, baiklah mulai dari sekarang kita bergiat untuk mengusahakan keadilan sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Salam, Dunia ini
semakin dicintai
semakin menghancurkan
orang-orang yang mencintainya.
Cintailah Tuhan
maka kehidupan
akan semakin
bertumbuh di dalam-Nya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.