Racun Dalam Keluarga Ilegal Atau Termasuk Dalam Tindakan Kejahatan

 

Racun Dalam Keluarga Ilegal Atau Termasuk Dalam Tindakan Kejahatan

Toksin adalah hasutan untuk berlaku jahat

Racun adalah cara paling jitu untuk memanipulasi orang lain menjadi pribadi yang negatif. Mengapa kami mengatakan hal demikian? Karena orang yang mengalaminya tidak tahu apa-apa lalu tiba-tiba badannya seperti dilibas dari dalam. Pikirannya bisa menuduh siapa saja yang melakukan itu terhadapnya namun tidak ada dasarnya sebab tidak ada bukti apa-apa. Ketidaktahuan yang membingungkan inilah yang beresiko membuat korban menjadi penuh prasangka buruk hingga menjadi stres (beresiko melukai diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar). Tetapi mereka yang bisa menghadapinya dengan sabar hati pasti mampu menemukan jalan keluar sebab meracuni orang adalah dosa besar.

Apakah menyeduh kotoran ke dalam makanan atau minuman seseorang adalah kekerasan?

Sebelum bergerak lebih jauh dan lebih dalam perihal tentang meracuni anak di dalam keluarga, lebih baik kita putuskan terlebih dahulu: “apakah meracuni orang lain termasuk kekerasan atau tidak?” Sesuatu yang disebut sebagai kekerasan pasti menimbulkan luka, memar, merah dan kerusakan lainnya pada kulit. Contoh kekerasan adalah memukul, menampar dan melukai dengan senjata tajam/ tumpul dimana semuanya ini dapat dibuktikan dengan pemeriksaan langsung pada bagian yang sakit. Sedangkan orang yang diracuni merasakan sakit yang dalam tetapi tidak ada bukti di bagian luar tubuh sebab yang terkena racun adalah organ dalam. Tetapi jangan khawatir karena hal tersebut bisa dibuktikan dengan memeriksa urine korban. Jadi jelas bahwa meracuni seseorang termasuk dalam kekerasan yang dilarang secara hukum.

Dosa besar bila menenangkan anak dengan meracuninya

Pernah ada kejadian dimana seorang pembantu rumah tangga meracuni anak tuannya agar tidak rewel. Pembantu tersebut menggunakan semacam obat batuk kepada si anak sehingga tertidur pulas di siang bolong. Kejadian ini telah dilaporkan kepada pihak berwajib dan pembantu tersebut dihukum berat. Lantas bagaimana bisa meracuni anak di dalam keluarga adalah sah? Sedangkan bayi diberi obat tidur saja bisa dipidanakan, apa lagi kalau dilakukan berulang-ulang selama berhari-hari? Bila secara hukum manusia saja hal tersebut salah apalagi secara hukum agama terlebih-lebih di mata Tuhan. Ini bukan lagi gangguan sepele yang bisa ditoleransi tetapi kekerasan secara langsung namun dilakukan secara tersembunyi.

Di sekolah saja anak tidak boleh dipukul, mengapa merasa sah memukuli bagian dalam tubuh anak?

Mari sedikit melihat aktivitas para guru di sekolah dan bagaimana cara mereka menghukum anak anda. Anak yang bandel tidak mendengarkan setelah ditegur satu-dua kali oleh guru. Jika guru agresif lalu memukul anak tersebut dengan lidi saja dan si anak mengadukan hal tersebut kepada orang tuanya. Maka guru tersebut bisa saja diperhadapkan dengan pihak berwajib oleh orang tua siswa. Mari lihat keadaan orang yang diracuni, memang dari luar tidak tampak bekas luka atau memar tetapi sakit yang dialami melebihi dari libasan lidi atau libasan sekumpulan lidi. Bahkan rasa sakitnya bisa lebih panjang lagi, bukan hanya sesaat saja melainkan berjam-jam dan mungkin berhari-hari untuk racun dengan dosis tinggi.

Di dunia kerja tidak ada yang namanya ujian dengan diracuni

Ada mitos yang beredar di masyarakat yang gaungannya merdu bahwa diracun itu baik: membuat seseorang menjadi manusia super layaknya di televisi dan bioskop layar lebar. Kalau memang diracun itu baik? Mengapa hal tersebut tidak dilegalkan di dunia kerja? Coba tanyakan atau sekaligus saja usulkan kepada pimpinan di tempat kerja anda agar melegalkan toksin. Dimana aturannya adalah orang yang super hebat dan tahan racun akan digaji lebih tinggi oleh organisasi atau lembaga tempat anda bekerja. Kenyataannya bahwa hal ini tidak pernah ada karena efek toksin cenderung mengganggu konsentrasi sampai-sampai mengurangi efektifitas dan efisiensi pekerjaan. Jadi, sehebat apa orang-orang di keluarga anda sampai sanggup dan mau diracuni terus-menerus?

Toksin yang adil tidaklah benar

Mengapa anda sangat bernafsu “ingin menyakiti orang lain?” Ada orang mengatakan bahwa “oh… saya mau mempersiapkan anak saya agar bisa kebal!” Benarkah demikian? Emang siapa musuhnya sehingga harus kebal racun? Bukankah sekarang adalah zaman damai, mengapa malah menyakiti orang lain tanpa sebab? Lagipula tidak ada yang namanya kebal racun karena toksin bukanlah kuman yang bisa memicu pembentukan antibodi agar tubuh bisa melawannya di waktu yang akan datang. Ingatlah bahwa “Tubuhmu adalah bait Roh Kudus” (bnd. 1 Korintus 6:19). Mentato tubuh saja tidak diperbolehkan terlebih lagi tindakan melukai organ dalam tubuh dengan alasan apapun. Dimana akal sehat anda sampai-sampai membenarkan tindakan yang mengotori bait Roh Kudus?

Pemberian racun yang adil adalah benar” merupakan salah satu tulisan kami yang salah kaprah. Meracuni orang adalah kejahatan, lantas apa hubungan kejahatan dengan mengasihi sesama seperti diri sendiri? Kasih ya kasih, kejahatan ya kejahatan dan tidak ada hubungan baik antara kedua hal tersebut. Kami agak berlebihan dan terburu-buru karena menghubungkan kebaikan dengan keburukan sehingga keburukan itu seolah-olah dilegalkan. Padahal kebenaran dan kejahatan adalah dua hal yang sama sekali bertentangan dan mustahil untuk dipersatukan. Jadi sekalipun anda meracuni sesama dengan adil bukan berarti bebas dari dosa sebab efek samping toksin cenderung menyebabkan komplikasi yang gejalanya berbeda-beda untuk setiap orang. Si ini mengonsumsinya banyak dan si itu sedikit maka jelas berbeda efek sampingnya. Bahkan sekalipun jumlah yang dikonsumsi sama (adil) derajat kesakitannya bisa lebih lama atau lebih cepat dan menjadi lebih parah atau lebih ringan untuk tiap-tiap orang. Jadi tidak ada yang namanya racun yang adil karena pada kenyataannya efek samping tiap-tiap toksin berbeda untuk setiap orang sekalipun jumlah yang diberikan sama.

Toksin tidak mendidik tetapi bicaralah maka semuanya jelas atau arahkan untuk memukul diri sendiri

Bila orang tua hendak mendidik anak agar menjauhi jalan-jalan orang bebal dan jahat: tidak dengan diracun. Sebab keadaan ini justru membuatnya kebingungan, menangis atau terdiam tidak mau bicara kepada siapa pun. Pada posisi ini anak yang masih rapuh tidak lagi jernih pikirannya sehingga susah diomongin. Kalau sudah begini ceritanya, menasihati anak malah semakin sulit untuk dilakukan. Apa yang anda sampaikan justru tidak ditangkap dan diingatnya sebab badannya sedang meriang kesakitan. Rasa sakit membuat konsentrasinya pecah karena pikirannya belum secerdas orang dewasa yang mampu memilah-milah situasi yang dihadapi. Justru nasihat yang bagus itu diberikan pada saat dirinya senang atau dalam keadaan emosionalnya stabil.

Ayah dan bunda yang baik hatinya mendidik anak dengan cara-cara yang lebih manusiawi dan jauh dari kekerasan. Meracuni bukanlah suatu teguran sebab anak bisa kebingungan menghadapi situasi tersebut dan tidak tahu harus melakukan apa. Bagusnya menasihati dilakukan secara baik-baik dari hati ke hati dan bila perlu disaksikan oleh seluruh anggota keluarga lainnya. Berikan pengetahuan dan kembangkan wawasannya tentang apa yang boleh dan tidak boleh dikatakan atau diperbuatnya. Bila perlu sebagai orang tua yang baik: ulangi mengatakan yang sama pada hari berikutnya untuk mengingatkan anak. Jika memang dirinya melakukan kesalahan, arahkan untuk memukul diri sendiri. Jangan orang tua yang melakukannya sebab itu adalah kekerasan melainkan kalau dirinya sendiri yang melakukannya, anak tahu batas rasa sakit yang dapat ditanggungnya, menyadari hal tersebut dan tidak mengulangi perbuatan yang sama. Simak juga, Cara menegur anak yang baik. Sebab ada tertulis.

(Matius 18:8-9) Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.

Kesimpulan

Tahukah anda bahwa oknum kapitalis secara diam-diam membayar mahal orang sosialis sebelum mereka mengerjainya? Ratusan juta bahkan miliaran rupiah sampai si korban menjadi salah satu orang yang kaya raya. Ini semacam mahar (kebaikan ganti dosa) karena oknum kapitalis paham bahwa meracuni orang adalah dosa besar (padahal kekayaan tidak bisa menebus dosa manusia). Lantas anda sebagai orang tua, mengapa tega-teganya melakukan dosa besar tersebut, berulang-ulang selama berhari-hari? Sedangkan anak kecil saja, tidak diperbolehkan dipukuli gurunya pakek lidi dan juga tidak boleh diberikan obat tidur untuk membuatnya tenang. Menghukum anak dengan diracun adalah cara yang salah tetapi hukum anak dengan teknik berlapis memukul dirinya sendiri sambil menambah pengetahuannya tentang kebaikan dan kebenaran. Sebab sebagian besar kesalahan anak dilakukan karena kurangnya kesadaran dan kurangnya pengetahuan.

Salam, Meracuni anak
adalah bentuk kekerasan
yang membuat anak menangis
atau terdiam ketakutan
karena tidak tahu
harus berbuat apa.
Ini adalah dosa besar
di dalam keluarga
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.