Keselamatan Oleh Kekayaan (Harta Benda & Uang)

Keselamatan Oleh Kekayaan (Harta Benda & Uang)

Perkembangan pemahaman manusia tentang kehidupan sangat tergantung dari akal pikiran dan pengalaman yang dimiliki. Tidak dapat dipungkiri bahwa selain hari-hari hidup yang penuh dengan beragam aktivitas, sisi kerohanian yang dimiliki pun turut mengalami pergerakan. Ada zamannya dahulu kala dimana manusia suka menuhankan hal-hal yang lebih besar dari dirinya. Sesuatu yang lebih kuat dan bermanfaat tersebut dapat berupa benda-benda langit, makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), benda-benda berharga dan tempat tertentu yang menghasilkan sumber daya. Semua hal yang terkesan hebat tersebut menjadi pujaan hati yang disembah puji oleh masyarakat pada zamannya.

Emas dan logam mulia lainnya (tembaga, perak) merupakan sesuatu yang sangat berharga sampai saat ini. Dahulu kala, logam yang bernilai tinggi tersebut dijadikan sebagai simbol & tolak ukur kedudukan seseorang di dalam masyarakat. Artinya, hanya para pemuka adat yang memilikinya dan semakin tinggi posisinya dalam hierarki kultural, semakin banyak pula logam mulia yang dimiliki orang tersebut. Benda ini bisa menjadi satu hal yang dipuja-puji karena dapat ditukar dengan bahan pangan yang banyak dan ladang yang luas. Serta salah satu manfaat lain yang sangat penting adalah benda tersebut bisa ditukar dengan nyawanya yang tertawan oleh musuh/ penjahat. Jadi di masa lalu kekayaan seseorang bisa jadi penyelamat hidupnya dari tangan pihak yang ingin membinasakannya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa di zaman sekarang hal tersebut pun masih saja terjadi. Kita akan menemukan keselamatan lewat harta benda di dalam dunia game (permainan) yang disukai. Jelaslah bahwa semua permainan, termasuk yang kami mainkan menjadikan kekayaan sebagai salah satu cara untuk selamat dari kematian (game over). Ini sama sekali tidak salah karena terjadi sebatas di dunia digital belaka. Sayangnya, kebiasaan menyelamatkan diri atau memohon ampun dengan uang yang dimiliki terbawa-bawa dalam kehidupan sehari-hari. Seakan-akan kebiasaan yang sudah terjadi sejak dahulu kala sampai sekarang terpolakan dalam diri manusia sehingga diadopsi dalam segala aspek kehidupan.

Sadar atau tidak, keadaan ini juga terbawa dalam dunia kesehatan. Seperti yang terjadi di zaman sebelum pemerintah membagikan asuransi kesehatan secara gratis. Mereka yang memiliki dana rendah dan tidak memiliki asuransi, tidak akan bisa berobat ke rumah sakit sehingga tidak pernah sembuh (meninggal). Seolah hanya orang-orang kaya yang bisa diselamatkan dari penyakitnya dan dari kematian. Bahkan beberapa praktek medis yang ekstrim (melibatkan operasi) membuat siapa saja bisa panjang umur walau tidak seberapa lama tapi cukup berkelas (memakan biaya mahal). Yang lebih ngeri adalah dalam praktek transplantasi dimana siapa saja bisa membeli organ orang lain untuk dicangkokkan kepadanya. Semuanya itu butuh uang yang sangat banyak sekalipun hanya mampu diselamatkan beberapa tahun saja.

Praktek keselamatan yang coba diperoleh dari kekayaan juga terjadi di dalam Alkitab. Pada zaman dimana bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, mereka diperhadapkan oleh ketiadaan pemimpin selama berhari-hari. Sebab nabi Musa telah pergi menemui Allah di gunung Horeb untuk menerima Hukum Taurat. Hanya karena menunggu lama, pikiran mereka kacau dan langsung menyimpang dari jalan Tuhan dengan membuat anak lembu tuangan. Mereka berpikir bahwa benda-benda berharga semacam emas dapat menuntun mereka kembali ke kampung halamannya dengan selamat. Mereka kuatir dan bimbang tentang keberlanjutan perjalanan hidupnya lalu mengandalkan kekayaannya untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan.

(Keluaran 32:3-4) Lalu seluruh bangsa itu menanggalkan anting-anting emas yang ada pada telinga mereka dan membawanya kepada Harun. Diterimanyalah itu dari tangan mereka, dibentuknya dengan pahat, dan dibuatnyalah dari padanya anak lembu tuangan. Kemudian berkatalah mereka: “Hai Israel, inilah Allahmu, yang telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir!”

Kejadian serupa juga pernah ditentang oleh Tuhan Yesus Kristus pada zamannya. Pengaruh kekayaan memang sangat besar dalam kehidupan manusia. Saat seseorang berjibun hartanya, apapun bisa dibeli olehnya dan siapapun bisa dinafkahinya termasuk orang tua sendiri. Di zaman dulu manusia kalau sudah berumur tinggi, fisiknya renta dan tidak dapat lagi bekerja. Keadaan ini membuat para lansia mau tidak mau butuh pemeliharaan dari anak-anaknya. Lantas salah satu anaknya yang konglomerat menganggap bahwa harta benda yang digunakan untuk memelihara hidup orang tuanya sudah digunakan untuk menghormati mereka. Jadi konglomerat tersebut tidak perlu lagi menghormati ibu-bapaknya karena dianggap lunas dengan uang yang digunakan untuk merawat orang tuanya. Dan ini berlaku sebagai ketetapan dalam adat istiadat orang Yahudi di zaman dahulu. Seolah kaya ranyanya bisa melegalkannya untuk melangkahi perintah Tuhan (khususnya Hukum Taurat).

(Matius 15: 5-6) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri.

Bila upaya selamat dengan menggunakan harta terus dipelihara oleh umat manusia maka kecintaan akan materi semakin tinggi. Saat orang sudah merasa super tajir, bisa semena-mena melalang buana untuk melakukan apa saja, sekalipun hal tersebut menyimpang dari kebenaran. Sebab pikirnya semua kejahatan yang telah dilakukan bisa ditebus dengan membagi-bagikan sebagian kecil asetnya kepada orang banyak. Misalnya saja, ia melakukan kesalahan kepada satu-dua orang maka untuk menebusnya ia bersedekah kepada lima orang dan berlaku kelipatannya. Artinya, orang ini bisa bergerak sesuka hati dan bila terjadi kesalahan, mudah baginya untuk mencari jalan selamat sehingga selalu merasa benar dalam segala hal.

Manusia akan mencari kekayaan sebanyak-banyaknya dengan kekuatan penuh. Tanpa lagi memandang pengaruh akibat usaha kerasnya terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Lambat laun usahanya menyebabkan kerusakan lingkungan yang nyata hingga mulai memicu serangkaian bencana alam. Keadaan ini turut diperparah dengan adanya lawan saing dari perusahaan berbeda yang sama-sama berlomba memanen dan mengkonversi sumber daya menjadi produk yang dapat diperjualbelikan di tengah masyarakat. Konspirasi manipulatif berkembang luas secara diam-diam di dalam masyarakat yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa (bencana kemanusiaan). Lantas para kapitalis tersebut menganggap remeh dosanya sebab sudah membenarkan dirinya lewat bersedekah kepada lebih banyak orang lainnya.

Bisakah anda bayangkan bagaimana jadinya dunia ini bila semua manusia berburu harta agar bisa selamat? Tentulah hanya orang-orang cerdas yang licik dan berduit tebal saja yang boleh merasa lega karena terselamatkan hidupnya di akhirat. Mereka akan berusaha mencari uang sekalipun dengan menggunakan cara-cara kotor yang merusak. Mereka tidak akan pernah peduli berapa orang yang lenyap dan seberapa besar kerusakan lingkungan yang terjadi, sebab menurutnya semua itu akan terbayarkan jika sudah menguasai segundukan uang. Situasi dalam masyarakat hanya dipenuhi oleh penyimpangan, penipuan, kekerasan dan kejahatan lainnya. Tidak ada lagi damai dan rasa aman serta yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin terbelakang.

Sebagai orang kristen, kita sangatlah beruntung karena memiliki Allah yang berkeadilan dalam memandang manusia. Di hadapan-Nya semua manusia sama, tidak ada yang kaya dan tidak ada yang miskin. Harta benda dan kekayaan tidak ada artinya sebab segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah milik-Nya. Jalan keselamatan tunggal telah ditetapkan-Nya untuk umat manusia melalui Yesus Kristus. Baiklah kita percaya sepenuh hati pada Yesus, melakukan ajaran-Nya dan mengikuti gaya hidup Kristus yang sederhana. Sebab kebaikan kita sekalipun tidak mampu menyelamatkan kita. Namun bukan dalam arti orang percaya tidak perlu berbuat baik sebab pada hakekatnya kasih yang ditunjukkan Yesus adalah kebaikan sejati. Hindari membanggakan dan bersandar pada kebaikan yang kita perbuat. Melainkan kasihilah Allah seutuhnya, kasihi sesama dengan adil, sangkallah diri sendiri dan pikullah salib yang ditanggungkan kepada kita selama hidup di dunia ini.

Kesimpulan

Hidup ini bukanlah dunia game yang bisa selamat berulang-ulang menggunakan harta online yang dimiliki. Berhati-hatilah, sebab sudah tertanam di dalam kedagingan manusia untuk melegalkan harta sebagai pengobat dosa. Seorang yang berbuat salah, bisa saja mengganti kerugian yang diderita korbannya bahkan bisa lebih dilipatgandakan saking tajirnya. Namun janganlah sampai ia menganggap sepele harga dosanya di hadapan Allah. Terlebih lagi kalau ia berpikir bisa semena-mena berbuat jahat lalu menambalnya dengan pemberian yang indah-indah kepada orang lain. Keadaan ini hanya membuat manusia semakin cinta dengan materi  yang menggiring masyarakat dalam bencana alam dan bencana kemanusiaan. Tidak henti-hentinya kita merasa beruntung memiliki Allah yang menilai kehidupan dengan adil. Sehingga kaya-raya sekalipun bukan jaminan untuk layak dihadapan-Nya. Melainkan ikutilah jalan kebenaran hakiki, sangkal diri dan pikul salib agar layak disebut sebagai murid-murid Yesus yang adalah jalan menuju sorga kekal.

Salam, Manusia lebih berharga
daripada materi duniawi.
Bagaimana mungkin kita
bisa diselamatkan oleh
sesuatu yang fana
dan lebih rendah
dari kita
?

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.