Hitung-Hitungan Dosa – Hindari Bermain-Main Dengan Dosa

Hitung-Hitungan Dosa – Hindari Bermain-Main Dengan Dosa

Tidak ada satupun dalam kehidupan kita yang benar-benar bebas dari aktivitas menghitung. Anda, kami dan kebanyakan orang di luar sana, tidak memiliki title matematika tetapi wajib tahu tentang dasar-dasar perhitungan. Ini berhubungan erat saat kita memasuki pasar sumber daya dengan alat tukar uang. Aktivitas belanja yang dilakukan berdasarkan kebutuhan yang diperlukan. Lebih baik semua pengeluaran sudah sesuai dengan rencana anggaran yang telah ditetapkan. Menahan nafsu untuk sementara dari pengeluaran yang tidak penting. Atau siap-siap mengalami tunggakan besar yang melebihi pendapatan, membawa pada hutang piutang yang menyesakkan kantong sampai habis berbunga-bunga.

Kecenderungan untuk hitung-menghitung ini juga terbawa-bawa dalam berbagai bidang kehidupan kita, termasuk dalam hal ini adalah “menghitung dosa.” Kita berpikir bahwa bisa mengakali Tuhan sehingga sekalipun melakukan kejahatan kepada banyak orang, tetap merasa aman-aman saja. Menjadikan dasar ujian kehidupan sebagai alat untuk melakukan keburukan kepada orang lain. Padahal sesungguhnya kita melakukannya semata-mata untuk melampiaskan balas dendam terhadap orang tertentu. Lalu dengan mudahnya kita melakukan kebaikan kepadanya sehingga menganggap hal tersebut impas adanya. Seolah tidak ada lagi dosa di antara kalian sebab telah melakukan keburukan dan kebaikan.

Tampaknya kesalahan anda tidak ada sebab telah mengganti apa-apa kerugian orang lain dengan sejumlah uang. Seakan-akan uang andalah yang membuat anda selamat. Ketika melakukan dosa, mudah saja: bagi-bagikan sembako kepada banyak orang sehingga kejahatan anda tertutupi. Hanya orang kaya yang bisa memiliki dosa sebab mereka memiliki uang yang sangat banyak: itulah yang membebaskan mereka dari penghakiman di akhirat. Mereka bisa mengulang-ngulang dosanya dan dengan mudahnya menganggap hal tersebut dapat diampuni Tuhan lewat sedekah mereka yang menjamur dimana-mana. Bukankah dengan demikian hanya orang kaya rayalah yang bisa masuk sorga? Padahal Tuhan Yesus Kristus telah mengecam para konglomerat tersebut demikian.

(Markus 10:25) Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”

Tuhan telah memperingatkan orang-orang kaya dan mengecam hitung-hitungan dosa yang mereka lakukan. Sebab dengan berlaku demikian, mereka menjadikan uang sebagai penebus hidupnya. Akibatnya, uang akan dicari dengan sekuat tenaga sampai menghalalkan segala cara. Lalu mereka mengobati cara-cara yang salah yang ditempuhnya dengan membagi-bagikan sedekah kepada banyak orang. Seorang koruptor bebas mencuri uang negara sebanyak-banyaknya kemudian sebagian uangnya di sumbangkan ke panti asuhan, panti jompo, gereja dan lembaga nonprofit lainnya. Lantas orang tersebut & konco-konconya bisa berfoya-foya dengan sisa uang lainnya yang nyatanya berjumlah lebih besar daripada yang disumbangkan. Lewat aksi manipulatif tersebut, dengan bangganya mereka merasa akan masuk sorga pula.

Ketahui baik-baik saudara sekalian, dosa bukanlah permainan antar manusia melainkan masalah antar manusia dan Tuhan. Jelaslah bahwa Tuhan tidak menggunakan hitung-hitungan kita yang fana untuk menimbang segala sesuatu. Melainkan Ia menggunakan sudut pandang-Nya sendiri dalam menilai kehidupan umat manusia. Adalah mustahil Tuhan mengukur kehidupan manusia sebagaimana manusia menilai dirinya sendiri sebab penilaian yang seperti itu tidaklah adil. Tetapi Tuhan menilai kehidupan kita secara keseluruhan, Ia tidak menghitung detail kekayaan yang kita miliki sebab uang dan harta benda tidak ada arti dihadapan-Nya. Bukankah semua harta itu adalah milik-Nya juga beserta seluruh isi bumi ini?

(Markus 12: 43-44) Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Setiap manusia, harta bendanya bernilai satu (100%) di hadapan Tuhan, entah orang tersebut kaya atau miskin. Sebab semua manusia sama dihadapan Allah! Saat seseorang memberikan sesuatu sebagai persembahan, Ia menilai hal tersebut sebagian dari total harta orang tersebut. Artinya, orang yang memberi seluruh hartanya (seperti janda miskin) di hadapan Tuhan bernilai satu (1) sedangkan yang memberi sebagian (seperti semua orang dalam ayat di atas), bernilai nol koma sekian-sekian (0,….). Demikian juga saat seseorang melakukan kebaikan kepada sesama: Ia menilainya satu kebaikan jika orang tersebut memberikan seluruh hartanya. Namun jika orang tersebut hanya memberikan sebagian kepada orang lain maka Tuhan menilainya nol koma sekian (0,….).

Pemberian seseorang = Jumlah yang diberikan : Total harta yang dimiliki

Pemberian seseorang (dalam persen) = Jumlah yang diberikan : Total harta yang dimiliki x 100%

Mari menghubungkan total pemberian seseorang dengan dosa yang dilakukannya. Misalnya saja, seseorang telah melakukan dosa yang membuat orang lain terluka yang nilainya satu ditambah lagi kata-kata yang terucap memaki korbannya. Jadi, total dosa orang tersebut adalah dua. Kemudian pikiran liciknya berupaya untuk mencari pembenaran dengan memberi banyak hadiah kepada orang-orang. Dia memberi hadiah kepada lima orang, seratus ribu per orang yang totalnya adalah lima ratus ribu rupiah. Lantas hatinya bersenang-senang karena merasa telah membayar lunas bahkan lebih dari kesalahan yang diperbuatnya. Untuk diketahui, orang tersebut memiliki harta kekayaan sejumlah sepuluh juta rupiah. Namun sesungguhnya Tuhan tidak menilainya demikian, melainkan seperti ini.

Pemberian seseorang = Rp. 100.000,-/10.000.000,- = 0,01

Berdasarkan perhitungan manusia sedekah orang kaya tersebut lebih banyak daripada kejahatannya. Sayangnya, berdasarkan perhitungan Tuhan kebaikan orang tersebut tidak dapat membayar kesalahannya. Sebab kejahatannya berjumlah dua bagian sedangkan kebaikan yang dilakukan hanyalah nol koma nol satu bagian saja. Jadi, perhitungan ini tidak saja membuktikan bahwa konglomerat yang angkuh tersebut salah adanya. Melainkan turut pula menegaskan bahwa dihadapan Tuhan, seberapa besarnya uang dan seberapa banyaknya harta, tidak akan melayakkan siapapun. Sebab materi dunia tidak dapat menyelamatkan manusia. Satu-satunya penyelamat kita yang agung dan sejati adalah Yesus Kristus saja!

Mulai saat ini, belajarlah untuk tidak menyepelekan dosa! Ingatlah bahwa kejahatan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan. Memang kita tidak bisa menyangkal kenyataan hidup yang menunjukkan bahwa manusia penuh dualisme. Bahwa manusia adalah makhluk yang inkonsisten karena kerap kali melakukan kekhilafan. Harap dipahami bahwa inkonsistensi karena khilaf tidak disengaja, yang terjadi tanpa disadari oleh pelakunya. Suatu ketelodoran yang belum direncanakan sama sekali di waktu-waktu sebelumnya. Oleh karena itu, berhenti mencari-cari alasan untuk menyakiti sesama demi membalas dendam atau demi tujuan-tujuan yang salah lainnya. Sebab kebaikan yang kita lakukan demi mengimbangi keburukan: tidak ada pahalanya. Justru kita nombok karena aksi akal-akalan tersebut (perhatikan contoh di atas).

Dari sini kita pahami betapa Adilnya Tuhan dalam menilai umat-Nya. Bisakah anda bayangkan bila seandainya Tuhan itu tidak adil kepada kita? Orang-orang super kaya yang menguasai sumber daya berjalan ke sana – ke mari, menyakiti masyarakat tertentu yang tidak disukainya. Masyarakat kecil juga tidak bisa berbuat apa-apa sebab konglomerat tajir ini memiliki kendaraan dari baja dan senjatanya besar. Kalau ada yang macam-macam, mudah saja baginya untuk melenyapkan orang lain. Lantas dia akan berusaha membenarkan diri dengan membagikan sembako kepada sebanyak-banyaknya rakyat jelata yang lain. Seolah harta bendanya yang sangat banyak itu bisa mengimbangi kejahatannya. Padahal dengan berbuat demikian dia menyangkal Allah dan tidak mencari selamat dengan cara yang benar serta tidak mengikuti jalan hidup Kristus.

Kesimpulan

Betapa angkuhnya orang yang menganggap bahwa kejahatan yang dilakukannya terhadap orang lain dapat dibayarkan dengan memberi sejumlah uang? Seolah melakukan dosa itu mudah sekali: asalkan punya uang siapa saja bebas berdosa karena dapat diselesaikan dengan pemberian-pemberian besar kepada sebanyak-banyaknya orang. Sadarlah manusia kaya nan sombong bahwa “Tuhan menilai pemberian anda berdasarkan total harta anda!

Bila ingin menebus kesalahan anda kepada Tuhan dan kepada sesama dengan cara “tangan di atas” untuk memberi: bagi-bagikanlah seluruh harta anda. Dengan demikian Allah yang di sorga menilainya impas [benar tambah jahat = 1+{-1} = 0]. Akan tetapi, jika anda mau merendahkan hati “tangan di bawah” maka mohon ampunlah kepada Allah dan minta maaf kepada orang yang anda jahatin: pasti diperhatikan Tuhan (soal pengampunan, itu urusan Tuhan yang penting anda sudah berusaha semaksimal mungkin). Sadarilah bahwa kepunyaan kita tidak bisa menebus dosa yang telah diperbuat sebab harta benda tersebut tidak berarti di mata Tuhan. Melainkan hati yang hancur, penyesalan dan kerendahan hati di bawah kaki salib Kristus bisa menyelamatkan dan melayakkan manusia di hadapan Allah. Hindarilah mempermainkan kemurahan hati-Nya karena suka mengulang-ngulang dosa yang sama!

Salam, Perhitungan ini
hanyalah perhitungan sederhana.
Sedang Tuhan menghitung
dengan sempurna
di akhir zaman kelak
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.