Tidak Meniru Sistem Yang Menguji Manusia

Tidak Meniru Sistem Yang Menguji Manusia

Pernah tidak, anda berpikir sejenak setelah menonton televisi? Seolah mereka menawarkan hal yang tinggi-tinggi dan jelas tidak bisa kita capai? Beberapa orang pun terpengaruh melakukannya tetapi nyatanya cuma bohongan. Apa yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang juga. Atau setelah memainkan beberapa aplikasi di smartphone, anda mulai berpikir untuk mengobrak-abrik semuanya karena menemukan banyak kebohongan yang dibesar-besarkan. Kejadiannya tetap sama dengan televisi, yaitu mereka menawarkan sesuatu yang tinggi-besar yang sepertinya tidak mampu kita capai. Orang yang sadar akan hal-hal semacam ini berpotensi mengecap teknologi sebagai alat penipuan masal.

Sebagai manusia biasa, hampir tidak mungkin bagi kita untuk menghindari kontak indra dengan berbagai situasi yang melibatkan orang lain. Inilah hakekat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Sedang kita tahu sendiri bahwa kebiasaan meniru sesuatu telah tertanam dalam benak tiap-tiap insan sejak kecil. Ketika melihat sesuatu, entah apapun itu, bisa langsung saja ditiru. Sikap inilah yang membuat seorang anak mampu berkembang pesat, yaitu karena memiliki kemampuan untuk meniru yang tinggi. Semakin banyak hal yang ditirunya maka semakin cepat anak tersebut mandiri dalam hal-hal sederhana. Misalnya, untuk makan, minum, berjalan, mengenakan pakaian dan lain sebagainya.

Mampukah anda membaca berbagai gejolak yang berputar di sekeliling? Apakah anda sadar bahwa tidak semua yang terjadi benar adanya? Jika anda adalah orang yang mampu memahami kehidupan maka besar kemungkinan mampu melihat sesuatu di balik tabir peristiwa. Sebab beberapa peristiwa yang terjadi dihadapan kita, tidak seperti kelihatannya. Kita perlu mengambil keputusan segera dengan tidak mengikuti berbagai hasutan amarah dari dalam hati sendiri. Tidak pula terbawa-bawa pengaruh populis masa kini yang menggoda indra. Melainkan lebih memilih untuk mengambil keputusan yang menenangkan hati dengan mengabaikan beberapa hal yang tidak penting demi kebenaran & kepentingan bersama.

Ketika anda lebih tenang menyaksikan sesuatu, akan dimampukan untuk membedakan peristiwa yang bergulir di sekitar. Tidak mudah hanyut dalam suasana yang syarat unsur-unsur negatif. Melainkan jeli memilah-milah peristiwa: manakah yang baiknya dan mana pula yang buruknya. Melakukan upaya antisipasi sederhana ketika yang kurang baik lewat di depan mata. Tidak iri hati dengan situasi yang seolah membesar-besarkan sesuatu. Tidak ikut-ikutan dalam pesta kebanggaan diri yang dilakukan oleh orang-orang berkelas. Serta menjauhkan diri dari praktek pembalasan – pelampiasan amarah karena rasa sakit di masa lalu. Dan masih banyak lagi hal-hal yang mencoba mempengaruhi dan mengubah hidup kita menjadi lebih buruk.

Muka kita bagusnya polos menyambut sesama dengan ramah. Tetapi hati tidak boleh polos – apa adanya menghadapi dunia. Masing-masing dari kita telah belajar tentang kebenaran, baik di rumah, di tempat ibadah, di sekolah, di tempat kerja, di lingkungan sekitar dan dimanapun kita berada. Sepatutnya, hampir semua pengalaman tentang pembelajaran yang benar itu sudah tersimpan dalam benak masing-masing. Masalahnya sekarang adalah, apakah kita ingat untuk mengungkit semuanya itu sehingga diperoleh perbandingan yang menentukan keputusan selanjutnya? Apakah kita hendak meniru hal-hal tersebut atau melupakannya saja sebagai sejarah masa lalu yang tertinggal?

Biasanya, apa yang suka ditiru oleh manusia adalah, apa yang ada di dekatnya dan apa yang sering disaksikannya. Hal tersebut bisa saja kaum keluarga sendiri, orang di lingkungan sekitar, di sekolah, di rumah ibadah dan di tempat kerja. Di atas semuanya itu, masih ada hal-hal yang lebih dekat dengan kita secara pribadi, yaitu teknologi pertelevisian, radio dan internet. Dimana semua teknologi ini bisa tergabung menjadi satu dalam sebuah alat canggih sederhana yang dinamakan smartphone. Alat multimedia inilah yang tidak kalah hebatnya mempengaruhi kehidupan seseorang. Mereka yang kurang mampu membedakan antara apa yang dibutuhkan dan apa yang diinginkannya akan terseret oleh kebiasan populis yang kebanyakan kurang baik untuk dijadikan contoh.

Bila anda adalah seorang pengguna aplikasi smartphone yang bertujuan khusus untuk mencari penghasilan sampingan akan menemukan berbagai kejanggalan di dalamnya. Mungkin di awal-awal anda akan sangat tergila-gila menyaksikan penawaran tinggi yang diiklankan. Seolah bisa kaya dengan cepat hanya dengan menggunakan aplikasi atau memainkan game tertentu. Sayangnya, ketika anda mulai terjun habis-habisan menggunakannya, apa yang dinanti-nantikan tidak kunjung datang. Lantas, anda mulai bosan dan agak muak menggunakan aplikasi tersebut bahkan sampai mengecapnya sebagai aplikasi bohongan. Dalam pikiran pendek, kita merasa dibohongi oleh sistem dan sebagai balasannya kitapun membohongi orang di sekitar.

Harap di pahami bahwa tidak ada iklan di smartphone yang benar-benar berbohong. Sebab memang apa yang mereka tawarkan dimungkinkan untuk dicapai oleh siapa saja. Hanya permasalahannya adalah, “adakah orang yang setia bertahan menanggung segala ujian yang hadir lewat aplikasi atau game tersebut?” Hanya waktulah yang memampukan kita untuk mencapai semuanya itu asalkan sanggup menunggu sambil memainkan/ menggunakannya dengan sukacita. Sudah pasti ini tidak hanya butuh waktu berhari-hari atau berminggu-minggu atau berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Artinya, kamipun tidak tahu kapan waktunya hal tersebut terwujud, silahkan coba dan cicipi sendiri agar bisa menceritakannya kepada orang lain.

Orang malas dikalahkan oleh orang cerdas. Orang cerdas dikalahkan oleh orang yang tekun. Berusahalah dengan tekun agar jerih-lelahmu nyata indah pada waktunya.

Dalam bersikap, kita perlu bebas dari pengaruh smartphone (iblis kecil itu). Apa yang kita temukan di dalam sana, tidak patut bila semuanya diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai ujian yang dirasakan tidak perlu dilampiaskan kepada orang-orang di sekitar. Harap dipahami bahwa sistem yang memuat aplikasi atau game tersebut sengaja dibuat oleh orang-orang bijaksana agar bisa memurnikan hati manusia. Demi memurnikan pikiran user dari nafsu yang besar terhadap hal-hal yang tinggi-tinggi maka cobaan semacam itu telah disisipkan dalam tiap aplikasi. Diharapkan dengan semua cobaan tersebut, tiap-tiap pengguna berhenti mengejar duit dan mulai fokus pada bakat atau hal-hal yang disukainya (hobi).

Apapun yang diujikan orang-orang kepada anda, jangan langsung membalasnya dengan melakukan hal yang sama. Sebab siapa tahu mereka melakukan hal tersebut atas rekomendasi dari sistem. Artinya, sistem sedang menguji anda dan orang-orang tersebut hanyalah pelaksan. Melainkan tetaplah menjadi orang baik, kapanpun dan dimanapun berada. Sebab sikap yang konsisten terbawa-bawa menjadi kebiasaan yang membentuk kepribadian manusia. Namun, orang yang plin-plan bersikap, dimana-mana jadi kurang damai dan kurang dipercayai. Mulailah sadari bahwa Tuhan adalah ahli transformasi yang mampu mengubah keburukan yang dilakukan orang lain menjadi kebaikan anda. Misalnya saja, anda bisa belajar nilai hidup positif dari hal tersebut (ikhlas, sabar, rendah hati).

Kesimpulan

Sebelum meng-copi paste sesuatu, bandingkan dulu dengan parameter kehidupan yang dimiliki.

Sistem diciptakan oleh orang-orang bijak untuk menguji manusia. Kita tidak perlu ikut-ikutan mencobai orang lain karena kita belum mendapat rekomendasi dan kita bukanlah sistem. Sekalipun kita bagian dari sistem namun posisi kita tidak dikhususkan untuk menguji. Justru sikap yang tidak konsisten (kadang baik, kadang buruk-mencobai) bisa terbawa-bawa dalam keseharian kita sehingga beresiko membuat hambar kedekatan dengan sesama.

Kedekatan kita dengan orang lain ditantang oleh masalah-masalah yang mereka bawakan. Entah perlakuan buruk itu merupakan rekomendasi dari sistem atau dari pemikirannya sendiri, tidak perlu dihadapi dengan panas hati penuh balas dendam. Melainkan tetaplah menjadi orang baik dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun yang ditemui sepanjang kehidupan ini. Berhati-hatilah terhadap sikap yang suka meniru sebab tidak semua hal yang kita saksikan dan alami: adalah baik untuk diterapkan ulang. Gunakanlah pikiran yang selalu sadar agar kritis menimbang setiap peristiwa. Menyaringnya dengan parameter kehidupan (standar kebenaran Tuhan dan peraturan dalam masyarakat) sehingga diperolehlah sari-sari baik yang murni & bisa diaplikasikan dalam keseharian kita.

Salam, Ada kemampuan
copi-paste dalam diri manusia.
Gunakan dengan bijaksana!
Jangan sampai yang buruk
terbawa-bawa,
sedang yang baiknya
terbuang dilupakan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.