Karya Seni Abstrak – Sadar & Belajar Menyaring Suatu Kisah

Karya Seni Abstrak – Sadar & Belajar Menyaring Suatu Kisah

Seniman butuh ide dari awal sampai akhir karyanya. Dari sekian banyak sumber ide, salah satu yang paling dominan didapatkan dari kehidupan sehari-hari. Ini berkaitan erat dengan kehidupan manusia senyatanya (realistis). Suatu karya yang dibangun dalam sikap-sikap manusia pada umumnya tanpa dikotori oleh unsur imajinatif (berada di luar hal-hal yang nyata). Karya semacam ini banyak diproduksi oleh seniman dalam berbagai zaman. Sekalipun demikian tidak ada karya seni yang murni realita. Sebab serealistis apapun suatu karya, pasti ada unsur yang secara sengaja dibesar-besarkan atau direndah-rendahkan agar dapat menarik minat para penikmatnya. Ada juga yang memperkecil atau memperhalus sesuatu atau menjadikannya seolah-olah seperti binatang/ tanaman dan berbagai majas lainnya.

Serealistis apapun suatu karya, bila dikisahkan apa adanya maka akan tampak seperti narasi biasa yang kurang menarik bagi kebanyakan orang. Bila unsur tertentu dirangkai dengan kata-kata berbeda yang berani dan tekanan yang pas akan terasa bewarna di indra penikmat. Barulah tampak bahwa kisah yang diceritakan merupakan seni yang lebih garing dari kehidupan sehari-hari. Sebab tidak ada penoton yang betah menyaksikan kisah biasa-biasa saja seperti yang dialaminya sehari-hari. Jadi, karya seni realistis yang murni hampir tidak ada kecuali buku pelajaran sekolah dan kuliah, juga dimasukkan sebagai salah satu hasil karya seorang seniman. Sebab karya yang menggunakan majas cenderung mengarah kepada karya abstrak atau semi abstrak. Biasanya kisah tersebut tidak ditujukan untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, baik seluruhnya maupun sebagian.

Hampir tidak ada lagi seniman yang menghasilkan karya seni realistis karena segala sesuatu dalam masyarakat telah diikat oleh peraturan yang jelas. Terkecuali jika hal-hal yang terjadi dalam masyarakat masih berada di luar kebenaran dan keadilan yang sepantasnya. Pada momen semacam inilah karya nyata tersebut akan dipaparkan. Yang mungkin saja akan digemari oleh orang-orang yang merasa bahwa hal yang dipaparkan masuk akal (logis), dapat dirasakan dan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Sayang sekali, karya realistis akan mulai menipis ketika masyarakat telah hidup dalam keadilan, kedamaian dan kemakmuran hidup bersama tanpa henti. Sebab tidak ada suatu masalah besar yang bisa diumbar dan diatraksikan dalam bentuk seni.

Sudah saatnya seniman menghasilkan karya seni abstrak dengan melakukan penalaran di luar fenomena yang berlangsung di dalam masyarakat. Jika karya tersebut hanya berkisah tentang realita maka kisah tersebut terasa hambar tanpa warna. Namun seniman yang mulai mengembangkan idenya di luar hal-hal yang lazim terjadi akan dibantu oleh wawasan imajinatif yang lebih luas. Menceritakan sesuatu yang sedikit saja hubungannya dengan dunia nyata karena kebanyakan yang diulas adalah penyimpangan tertentu berupa perkara unik yang sedikit ngeyel namun masih logis. Sekalipun demikian, penyimpangan gejolak yang bergulir dari awal sampai akhir tidak berlawanan dengan realita dalam masyarakat kecuali untuk tokoh antagonis. Penyimpangan ini bisa jadi sebagai sebuah perkembangan kemanusiaan yang fenomenal dan eksentrik namun dilebih-lebihkan.

Sadar atau tidak, kebanyakan karya yang dihasilkan zaman sekarang mengarah kepada hal-hal abstrak. Karya yang hanya enak untuk dinikmati panca indra namun sesungguhnya tidak untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang dapat menyetrum selera karena garing didengar dan manis untuk dilihat. Rata-rata yang ditingkatkan efek dominonya adalah sisi emosional dengan membuat kesan manjanya sangat cas. Hal-hal semacam ini memang begitu seru untuk dinikmati sampai menggelitik ulu hati karena tidak ditemukan atau berlawanan dengan kehidupan nyata. Namun biar bagaimanapun, penikmat sejati tidak akan terjerumus oleh indranya sendiri. Mereka akan menggunakan nalarnya yang penuh pertimbangan sebelum mempraktekkan apapun.

Seorang seniman perlu lihai membesar-besarkan perkembangan masyarakat yang fenomenal. Sudah saatnya mengembangkan karya yang tidak hanya membesar-besarkan sisi emosional manusia belaka. Agar karya seni abstrak yang dihasilkan jauh dari biasa-biasa saja. Sebab apa yang biasa dialami orang tidak mungkin ditontonnya pula sebab sudah awam dengan cerita tersebut. Melainkan mulailah kembangkan karya yang mencakup imajinasi yang lebih luas sekalipun tidak selalu bertentangan dengan kenyataan. Kisah yang tidak ditemukan di antara banyak kehidupan yang lebih mengarah kepada hal-hal imajinatif tanpa sama sekali mengabaikan kebenaran Tuhan dan hukum negara. Tidak ada orang yang akan protes karena hal-hal tersebut terlalu mengada-ngada sebab mereka tetap bisa menikmati gejolaknya yang mendebarkan. Itulah kreativitas “out of box”  yang sedikit lari dari kenyataan dan indahnya di indra belaka.

Seorang penikmat seni yang kritis dan selektif perlu menyadari keadaan ini. Mereka tidak perlu menyeret dirinya sendiri untuk langsung mempercayai suatu karya tanpa melakukan pertimbangan. Tidak perlu memberi kritikan realistis sebab biar bagaimanapun hal tersebut tidak ada hubungannya dengan karya seni abstrak. Melainkan menikmati apa yang tersaji dihadapannya sehingga menimbulkan gonjang-ganjing emosional yang menyenangkan hati. Sambil-sambil mencuri makna positif secara keseluruhan dari seni yang ditampilkan. Tidak selalu mempraktekkan suatu bagian hanya karena hal-hal tersebut tersohor dan populer. Melainkan mempraktekkan sesuatu karena hal tersebut sesuai dengan standar-standar kehidupan yang dimiliki dan diyakini.

Kesimpulan

Sesuatu yang abstrak enak dinikmati panca indera sampai membuat hati terpesona tetapi tidak untuk dipraktekkan. Mungkin ada yang bisa diterapkan tetapi ada juga yang tidak: pelajari baik-baik!

Abstraksi dari semua karya seni perlu disadari oleh tiap-tiap penikmat atau oleh seluruh elemen masyarakat. Sesuatu yang hanya enak dicicipi panca indra karena menimbulkan warna-warni rasa yang bergejolak, namun tidak untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka bisa menikmatinya berulang-ulang dan terhibur karena hal-hal tersebut. Orang yang pengetahuannya telah berkembang tidak terkecoh meniru segala sesuatu dengan mudah. Melainkan perlu terlebih dahulu menimbang-nimbang sebelum memutuskan, apakah memanfaatkan hal tersebut secara berkelanjutan. Agar hal-hal yang disaksikan tidak sampai membuatnya menjadi orang yang lebay, norak dan manja. Melainkan berupaya mengambil titik terang dari hasil perenungan secara keseluruhan terhadap suatu seni agar diperolehlah kemaknaan yang membangun kehidupan ke arah yang lebih baik.

Salam, Kebanyakan karya seni
abstrak adanya
.
Penonton jangan
menirunya sama sekali
.
Sebab yang disajikan
hanya memanjakan
mata dan telinga
namun bukan
untuk dibawa-bawa
di dalam hati
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.