Penderitaan Mempertemukan Kita Dengan Tuhan

Penderitaan Mempertemukan Kita Dengan Tuhan

Menapaki kaki di antara rongga-rongga bumi, memberi banyak pelajaran bagi kehidupan kita. Menjalani hari yang serba tidak menentu, membuat kita memahami bahwa “tidak sanggup diri ini menjalani hidup seorang diri.” Kita terus bertahan dan tanpa ragu mencicipi berbagai rasa yang terkadang membuat hati bersuka dan juga bersedih. Ada pula saat-saat dimana kita tidak lagi mampu membedakan rasa yang timbul karena semuanya campur aduk hingga meluapkan emosi positif maupun negatif. Apapun yang terjadi, camkanlah bahwa semua fragmen kehidupan yang mencoba merajut pengetahuan, dapat membawa hidup dalam lagu-lagu yang mengajarkan hikmat tanpa batas.

Manusia hidup, tidak ada yang mengejar duka dalam hari-harinya. Semua yang ada dalam benaknya adalah bagaimana dirinya selalu bersuka. Bukan cuma dia saja, bila perlu orang-orang yang dikasihinya pun turut merasakan hal yang sama. Tetapi, sesungguhnya mereka tidak menyadari bahwa kesukaan materi hanya semakin membuatnya cinta terhadap dunia ini. Seandainya manusia mau memberi sedikit perhatian dari hari-hari penuh luka yang pernah terjadi, maka ia akan menemukan segudang pengalaman positif dari kejadian tersebut. Seseorang akan diperhadapkan dengan sisi emosionalnya yang buruk dan menendang kasar. Orang yang bijak akan belajar mengendalikan diri dari situasi yang kurang mendukung.

Tidak ada seorang pun yang perlu diajari, bagaimana rasanya dan apa yang akan dilakukan saat hari-hari baik tiba. Sewaktu kesukaan memenuhi hidup, kita tidak perlu belajar “apa yang harus dilakukan saat menghadapinya?” Di masa-masa ini, sebagian besar sikap kita akan diterima oleh orang lain. Sebagian kecilnya lagi tetap diterima oleh sesama sekalipun memberi respon yang agak berlebihan. Kecuali untuk mereka yang sudah dewasa tidak lagi mengekspresikan kesenangan yang lebay saat dirinya bersuka. Mungkin saja bagi anak-anak dan pemuda, akan berteriak dan berputar-putar lalu mengabarkan hal tersebut kepada teman-teman di sekitarnya. Intinya, hampir tidak ada yang mempersalahkan ekspresi apapun yang dilakukan saat keberuntungan datang.

Anda tidak butuh kesabaran saat kesenangan hati memuncak. Bahkan beberapa orang akan bersemangat menghadapi tantangan yang menghadang di depan. Hari-hari orang yang hidupnya senang terus akan terasa ringan dan tidak ada keraguan atas semua hal yang dilakukannya. Mereka tidak pernah mengeluh dan menggerutu karena situasi yang menghampirinya sangat disukai dan tidak ada komentar untuk itu. Orang tidak perlu lagi menenangkan diri sebab panca indranya dipenuhi oleh hal-hal menawan yang mendatangkan kenyamanan duniawi. Rasa puasnya penuh sebab segala yang diinginkannya telah tersedia. Hampir tidak ada sikap buruk yang diekspresikan untuk sementara waktu sebab mata pikiran terbuka lebar penuh semangat mengawasi sikap yang ditempuhnya.

Sayang, lain ceritanya ketika kesenangan tersebut dikotori oleh kesombongan. Semua yang awalnya baik bisa berubah haluan menjadi buruk tanpa sepengetahuan orang banyak. Kesenangan asyik yang berlebihan berubah jadi ejekan terhadap kalangan tertentu. Rasa bangga yang diumbar-umbar menjadi penyesat yang melenyapkan kemurnian hati. Pencapaian yang diraih menjadi pesona yang memancing kedengkian. Pamer kehidupan yang berkelimpahan menjadi hinaan bagi mereka yang hidupnya kurang beruntung. Hari-hari yang menggembirakan telah banyak menghilangkan Tuhan dari hati manusia sehingga yang cenderung terjadi adalah pengagungan terhadap diri sendiri.

Begitulah manusia, saat posisinya enak yang diurusnya adalah dirinya sendiri dan keunggulan hidupnya sebab hal-hal itu membuatnya senang, nyaman dan tenang. Lantas, bagaimana jadinya ketika semua gemerlapan tersebut diambil daripadanya? Dapatkah ia bertahan ketika gangguan yang bergejolak datang bertubi-tubi? Dapatkah anda menebak apa yang terjadi ketika hal-hal yang membuat indranya tenang sudah berubah menjadi gangguan yang memuakkan hati. Pada titik inilah manusia akan diperhadapkan dengan dirinya yang tidak stabil, jahat dan kejam. Mampukah ia bertahan dari autosistem kedagingan yang ingin menghancurkan diri sendiri dan ingin menghantam kehidupan orang lain? Atau ia pada akhirnya menemukan ketenangan di tengah kesederhanaan yang memilukan panca indra.

Kesakitan yang didatangkan orang lain ke dalam kehidupan anda, sudah pasti mengguncangkan rasa di panca indra. Terlebih ketika hal tersebut terjadi secara berulang-ulang. Akibatnya, saat mencicipi sesuatu tidak ada lagi rasa nikmat yang dulu pernah ada. Seolah dunia dengan segala gemerlapan di dalamnya tidak lagi berasa asyik. Pesonanya yang mekar semerbak telah layu sebelum dibaui. Nikmat yang hilang secara mendalam membuat hebatnya kemuliaan berakhir sepi. Kecewa yang tak terhentikan membuat hari-hari berkah malah dipenuhi sesal. Anda tidak akan mampu menemukan kekuatan nikmat materi di tengah gencarnya perbantahan. Tidak ada orang lain yang mau membantu ketika teriak minta tolong diperdengarkan.

Gemerlapan duniawi yang awalnya bisa menghibur diri sendiri menjadi tidak ada artinya karena hidup terus-menerus di dera pergumulan. Anda perlu mencapai titik derita semacam ini agar tidak terlalu ketergantungan dengan hal-hal duniawi.

Ketika tidak ada apa-apa lagi untuk dipegang, tidak ada lagi tanah yang tidak terguncang karena perang perselisihan. Satu-satunya yang anda miliki adalah hanya Tuhan semata. Tidak ada lagi yang mau mendengarkan anda, satu-satunya teman bicara adalah Tuhan saja. Banyak keadaan yang tidak dipahami, satu-satunya yang membuat jalan keluar adalah berdiam diri di dalam Tuhan. Di tengah situasi yang menyesakkan tiada penenang sejati selain fokus hati tertuju kepada Tuhan. Dalam beragam masa-masa sukar, tiada penyejuk selain firman Tuhan. Saat hari-hari kehilangan harapan, tiada yang pasti selain pasrah kepada kehendak-Nya. Di kala beban hidup semakin berat, tiada penghibur selain nyanyian puji-pujian untuk kemuliaan nama-Nya. Penderitaanlah yang membuat mata hati mampu melihat karya Tuhan yang sederhana (hal-hal kecil) namun melimpah ruah dalam hidup ini.

Sekalipun berteriak minta tolong tidak ada yang datang menolong dengan tulus. Lebih baik curhat kepada Tuhan, bukan dengan mengajukan banyak pertanyaaan tetapi dengan memuliakan-Nya dan mengingat-ingat segala pertolongan-Nya dalam hidup kita. Bila dahulu Ia pernah menolong kita maka sekarang, esok dan yang akan datangpun tetap ditolong Tuhan.

Kita perlu Tuhan setiap waktu: namun kemampuan dan kemandirian pribadi membuat kita terdorong untuk mengagungkan diri sendiri. Beruntunglah ada yang namanya penderitaan yang kebanyakan tidak membutuhkan kemampuan dan kemandirian pribadi untuk menyelesaikannya. Kita hanya perlu Tuhan untuk menyelesaikan rasa sakit dan beberapa masalah pribadi yang dialami. Dalam masa-masa inilah kita memahami pekerjaan Tuhan yang melingkupi hidup. Dia tidak membiarkan kita kehilangan semangat di tengah banyaknya pergumulan. Tidak membiarkan kita kehilangan tujuan di tengah beratnya cobaan. Juga tidak membiarkan kita semakin sesat di jalan yang salah. Melainkan Dia menolong orang yang percaya dalam ide-ide positif yang datang indah pada waktunya.

Kesimpulan

Gemerlapan duniawi yang melimpah ruah membuat manusia lupa dengan hal-hal terpenting dalam hidup ini. Membuat manusia lupa bercengkrama dalam hadirat Tuhan sehingga sikap mulai tidak terkontrol. Sebab panca indranya sedang bersenang-senang dengan banyaknya nikmat duniawi yang membuat hari-hari terasa bebas ingin apa saja. Akan tetapi, semua kesenangan tersebut lenyap tak ada artinya ketika kesulitan hidup mulai melanda. Penderitaan membuat materi ternikmat sekalipun terasa hambar. Di saat seperti inilah kita dipaksa untuk belajar sabar, rendah hati, ikhlas, tenang, damai dan tetap baik di tengah pahitnya hidup. Anda tidak bisa mempelajari semuanya itu sendiri bahkan sekalipun membeli buku tentang kecerdasan emosional dan pengendalian diri: anda tidak bisa mempraktekkannya begitu saja. Akan tetapi, saat anda bersama Tuhan, memanggil nama-Nya dan tinggal dalam hadirat-Nya: di saat itulah Ia akan menuntun dan mengajari anda untuk memiliki semua hal-hal positif tersebut, perlahan tapi pasti!

Tanpa penderitaan, kita hanya melihat dunia ini sebagai sumber kepuasan hidup yang bisa terus diusahakan dan dipanen dengan potensi hebat yang dimiliki. Padahal, mau tidak mau sebagai makhluk sosial kita harus berbagi jatah kenikmatan materi yang adil kepada orang-orang di sekeliling. Bila terlalu serakah, jatah orang lainpun diembat demi memuaskan keinginan pribadi. Sebelum hal-hal buruk itu terjadi, kecaplah pahitnya derita yang datang bertubi-tubi agar candu terhadap nikmat mulia dunia merontok. Lantas hatipun mulai mencari sesuatu yang ada dan selalu ada saat tidak ada apa-apa. Penyertaan-Nya bisa memberi ketenangan dan kesejukan sekalipun tidak ada yang mempesona indra. Sesuatu yang mendatangkan sukacita dan penghiburan sekalipun tidak ada siapa-siapa di sekitar. Yang mengajarkan masa depan dan memberi harapan walau kita belum melihat apa-apa. Dialah yang kita butuhkan dalam segala masa, yang perbuatan-Nya nyata di masa-masa penderitaan. Pujilah Tuhan yang telah menciptakan segalanya.

Salam, Kita butuh Tuhan
dalam segala masa.
Kita butuh penderitaan
untuk mengecap
campur tangan-Nya
secara nyata
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.