Keuangan Global Yang Terintegrasi Dan Berkeadilan Sosial

Keuangan Global Yang Terintegrasi Dan Berkeadilan Sosial

Manusia adalah penggila uang yang sangat kronis. Orang rela banting tulang seharian melakukan apa yang dia bisa lakukan demi meraihnya. Tidak ada satupun orang yang tidak mengejarnya sampai mati kecuali orang tersebut tidak sadar dengan manfaat uang (misalnya bayi kecil). Ini bagaikan penyakit sekaligus penyembuh di dalam masyarakat yang sudah terpatri dengan baik dalam kehidupan tiap-tiap warga negara. Tidak ada seorangpun yang dapat menyangkalnya, bahkan sangking intimnya keberadaan duit di dalam diri manusia, mampu menggeser kepercayaan (iman) seseorang pada masa-masa kelaliman. Itu terjadi di zaman dulu, sekarang ini kita harapkan tiap-tiap orang bisa mengendalikan dirinya agar tidak menjadi sesat pikir karena menjadikan keduniawian sebagai yang utama (segala-galanya).

Uang seharusnya tidak berarti dalam penderitaan, satu-satunya sandaran adalah Tuhan

Fulus dapat membangun hal-hal baik di negeri tetapi bisa juga menjadi penghancur yang masif. Semua keterpurukan terhadap uang berawal dari kemudahan saat mendapatkannya. Bila ini diperoleh dengan cepat maka orang-orang akan menggunakannya dengan boros (foya-foya), termasuk memakainya untuk mewujudkan tujuan hati yang salah. Duit yang diperoleh dengan menghalalkan segala cara akan cenderung digunakan untuk mewujudkan keinginan dengan menghalalkan segala cara. Ujung-ujungnya manusia secara diam-diam mendewakannya sehingga secara langsung dan/ atau tidak langsung menimbulkan kerugian terhadap orang lain, lingkungan sekitar, pelakunya (orang itu sendiri) dan sistem bermasyarakat.

Jangan biarkan manusia memperoleh uang dengan mudah melainkan iringi kehidupannya dengan tekanan, kekecewaan dan penderitaan. Agar menyadari bahwa sekalipun dirinya memiliki segepok duit, kertas itu takkan bisa mengobati rasa sakitnya. Agar lewat kesukaran hidup yang ditemuinya, bersandar hanya kepada Tuhan untuk menemukan penghiburan dan kelegaan di tengah kesulitan. Bahkan dalam suatu masa, adalah baik bagi seseorang untuk berada di bawah titik nadir kehidupan dimana tidak ada orang lain yang menolongnya dan uangpun tidak menolongnya. Pada masa-masa seperti inilah manusia menemukan Tuhannya sehingga ia belajar untuk bisa menolong dirinya sendiri.

Cara membebaskan manusia dalam perspektif negatif uang adalah mempertemukannya dengan tekanan, kekecewaan dan penderitaan. Karena hal-hal tersebut tidak bisa diobati atau ditebus dengan duit melainkan hanya dengan cara bersandar kepada Tuhan saja (fokus kepada Tuhan).

Berapapun kekayaannya tidak dibatasi tetapi yang dibatasi adalah kuantitas belanja yang dilakukan

Pemberian kertas ajaib kepada tiap-tiap orang yang disertai dengan kesulitan hidup memampukannya untuk belajar memanfaatkan itu pada hal yang tepat guna. Dengan diberlakukannya keadilan sosial, pemerataan pendapatan membuat kemakmuran dapat dicicip oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun titik balik dari keadaan ini adalah ketika duit semakin bertambah-tambah seiring dengan pertambahan usia, belanja yang dilakukan seseorang bisa-bisa over kapasitas. Uang yang dikumpulkan dan menumpuk-numpuk di tangan bisa digunakan untuk membeli apa saja sehingga ada kemungkinan aktivitas tersebut cenderung merusak lingkungan. Apalagi saat yang melakukannya bukan hanya satu orang melainkan ada ribuan atau jutaan orang yang belanjaannya sangat boros.

Lebih-lebih jika manusia sudah bisa hidup seribu tahun di bumi. Bisakah anda membayangkan seberapa banyak dan seberapa kaya orang yang hidup panjang umur? Ada kemungkinan, orang ini bisa membeli satu pulau beserta sumber daya di dalamnya. Oleh karena itu, mau tidak mau sistim perlu menetapkan batas penarikan/ penggunaan uang per hari/ per bulan yang bisa dilakukan oleh tiap-tiap orang. Pembatasan penarikan uang dari bank akan diberlakukan sama untuk semua warga di semua profesi. Jadi, sekalipun seorang penduduk memiliki sangat banyak angka diperbendaharaannya, tidak bisa dibelanjakan sekaligus. Tetapi yang bisa dicairkan dalam bentuk uang tunai adalah sejumlah bagian saja. Jumlah yang tidak seberapa dibandingkan dengan total fulus yang masih tersimpan dalam rekening bank.

Lewat peraturan yang membatasi uang yang dapat dibelanjakan manusia secara tunai/ online, sistem (pemerintah) bisa mengendalikan aktivitas konsumsi masyarakat sekaligus menyesuaikannya dengan aktivitas produksi yang dilaksanakan oleh pabrik-pabrik biosintetik. Termasuk aktivitas produksi pabrik-pabrik kebutuhan manusia lainnya (Non makanan & minuman). Tentu saja pelaksanaan pembatasan ini adalah pihak bank dan para pedagang yang ada di tengah-tengah masyarakat. Bank bertugas membatasi pencairan tabungan ke uang tunai sedangkan pedagang mengontrol pembatasan jumlah pembelian barang tertentu yang boleh dilakukan oleh seorang konsumen. Tentu saja aktivitas yang terpantau semacam ini membutuhkan sistem informasi keuangan yang terintegrasi dengan baik.

Bila peraturan semacam ini dapat dilaksanakan dengan baik akan tercipta keseimbangan antara produksi dan konsumsi. Di sisi lain, siapapun bisa mengumpulkan uang di bank-bank miliknya sebanyak-banyaknya. Kecenderungan hasrat manusia untuk menjadi lebih kaya dan kaya raya lagi akan terlaksana. Gaji yang disetorkan ke bank terus bertambah namun tidak membebani faktor produksi, tidak mengganggu lingkungan dan tetap terpakai dengan adil. Sebab ada pembatasan penarikan uang yang bisa dibelanjakan oleh tiap-tiap orang. Namun untuk kasus tertentu, urusan yang membutuhkan pendanaan dalam jumlah banyak: sebaiknya pengambilannya disertai dengan keterangan-keterangan yang jelas. Sehingga terpantau atau diketahui akan dikemanakan dana tersebut.

Pengawasan yang tersistem terhadap seluruh produksi dan aliran uang meminimalisir kejahatan dan mewujudkan keadilan sosial

Sisi lain untuk mengatur keuangan global adalah dengan mengembalikan seluruh industri hulu kepada pemerintah. Swasta tidak lagi menguasai pengelolaan sumber daya vital, sekalipun ada yang terlanjur mereka jalankan: usaha nasionalisasi akan digalakkan. Sedang perusahaan luar negeri bisa diajak dalam perjanjian dagang yang akan menyerahkan aset kepada negara setelah beberapa tahun memanen. Ini adalah upaya untuk menjaga uang tetap ada di dalam negeri agar tidak ada yang disimpan di bank luar negeri yang menawarkan bunga lebih tinggi. Pemerintah mengelola sumber daya yang ada dengan menghasilkan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat. Orang yang berkepentingan akan membeli barang atau jasa tertentu dari gajinya dimana semuanya itu juga diperoleh dari pemerintah.

Resiko penguasaan produk oleh swasta adalah tidak terpantaunya siapa-siapa saja yang menjadi pelanggan mereka. Ini akan semakin rumit bila mereka pun tidak memiliki sistem informasi yang memadai atau sengaja merahasiakan data pembeli. Swasta seharusnya melaporkan daftar pelanggannya kepada negara. Akibatnya pemerintah tidak bisa memantau aliran uang pegawainya. Masyarakat kaya-raya bisa saja belanja barang mewah tanpa terpantau oleh siapapun padahal apa yang dibelinya lebih besar dari gajinya. Praktek belanja yang tidak logis semacam ini akan dimintai keterangan oleh lembaga pengawas keuangan. Bila penjelasannya tidak berdasar, komisi pemberantasan korupsi akan langasung menyelidik hal tersebut. Sistem informasi keungan yang terintegrasi meminimalisir praktek pencucian uang yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sudah sepatutnya apa yang dibayarkan pemerintah dalam bentuk gaji kepada seluruh masyarakat dapat kembali lagi kepada pemerintah. Bila negara telah mampu menghasilkan produk dan uang yang alirannya terpantau dengan baik: nilai rupiah akan membaik. Seluruh rakyat akan memperoleh kemakmuran yang setara sebab tidak ada lagi yang tersembunyi. Praktek korupsi akan terdeteksi dengan mudah oleh sistem sebab semua belanja yang dilakukan manusia tercatat dalam server pusat. Ekonomi berputar yang tersistem bisa menciptakan keadilan dan menjaga situasi dalam masyarakat agar tidak ada orang yang terlalu kaya yang berpotensi merusak tatanan lingkungan dan tatanan sosial. Kemewahan yang berlebihan adalah pemborosan sumber daya yang mengorbankan lingkungan hayati. Sedang reaksi antara iri hati dan kesombongan berpotensi menimbulkan persaingan yang memetak-metakkan rakyat terlebih ketika ada hal yang hendak diperebutkan (kekuasaan, pengelolaan sumber daya perorangan).

Kesimpulan

Manusia adalah penggila uang yang menyukai agar angka-angka di dalam simpanannya terus bertambah-tambah deretannya. Ada baiknya bila penarikan uang tunai yang bisa dibelanjakan dari bank dibatasi pada jumlah tertentu saja. Dimana pembatasan ini berlaku sama untuk semua penduduk tanpa terkecuali. Bukan masalah bila manusia semakin kaya-raya, belanja yang dilakukannya tidak sampai berpotensi mengganggu sistem. Tentu saja usaha tersebut membutuhkan sistem informasi keuangan yang terintegrasi dengan baik dari hulu ke hilir. Infrastruktur berteknologi tinggi semacam ini membuat pemerintah dapat memantau setiap gaji yang dibayarkannya kepada warga. Semua belanja yang dilakukan masyarakat akan tercatat oleh server yang langsung bisa dibandingkan dengan pendapatan dan simpanannya. Ketidakseimbangan antara belanja dan gaji/ simpanan seseorang bisa tercium oleh komputer pusat sehingga para penjahat munafik yang korup tidak bisa lagi bersembunyi.

Salam, Ada duit tunai.
Ada pula kertas ajaib elektronik.
Dua-duanya kita butuhkan.
Sehingga manusia bisa terus
bertambah tambah kaya
Tanpa menyebabkan
kerusakan nyata
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.