Tidak Takut Bukan Berarti Berani Mati

Tidak Takut Bukan Berarti Berani Mati

Melayangkan pandangan di antara pepohonan dalam gelapnya malam. Ada rupa-rupa bayangan hitam yang lain-lain bentuknya, tersembunyi di balik kelam. Tidak ada orang yang berani masuk ke dalamnya dengan tangan kosong (tanpa membawa penunjuk). Hutan penuh misteri yang mengerikan ketika anda tidak melihat apapun. Namun cahaya redup-terang membuat penglihatan lebih baik, menatap jauh ke dalam sampai titik buta, membuat hati tenang. Tidak ada yang mau berjalan maju ke depan bila tidak dapat menyaksikan apa yang ditujunya. Bahkan seorang buta sekalipun membutuhkan tongkat untuk mengenali apa yang dihadapinya di depan. Sebab apa yang kita tuju sangat menentukan nasib kita selanjutnya.

Ada ketakutan yang timbul karena kita tidak tahu apa yang akan dihadapi. Seperti siswa/ siswi yang hendak mengikuti ujian, mereka tidak pernah tahu sebelumnya, “apa-apa saja pertanyaan yang akan keluar dalam ujian nanti?” Ada yang mulai merasa khawatir tetapi ada juga yang menghadapinya dengan santai. Persiapan yang matang mengusir kecemasan tetapi tanpa persiapan kekuatiran mulai meradang. Masa depan memang penuh rahasia namun kita dianugerahi logika untuk berpikir dan menimbang, “kira-kira apa-apa saja yang akan kita hadapi kelak?” Perkiraan memang tidak selalu tepat, walaupun demikian setidaknya ada antisipasi yang bisa memperkecil resiko terburuk di hari esok.

Ada ketakutan akibat dari pelanggaran/ kesalahan/ dosa yang kita lakukan. Suatu rupa-rupa instabilitas yang datangnya menggetarkan hati. Tekanan semacam ini tidak bisa dihindari karena pangkal kejadiannya ada di masa lalu. Kita bisa menyaksikan masa lalu dalam bingkai dua dimensi tetapi tidak dapat kembali ke masa tersebut untuk memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. Satu dan dua hal yang melegakan hati adalah dengan mengakui hal tersebut. Kita perlu terbuka di hadapan Allah untuk mengakui kesalahan dengan penuh kerendahan hati. Perlu juga meminta maaf kepada sesama atas ketelodoran yang pernah dilakukan bila memang ada kesadaran dan dorongan dari dalam hati. Memohon ampun adalah bentuk kerendahan hati yang dapat mendatangkan kedamaian secara psikis maupun secara sosial.

Ada rasa takut yang dialami oleh orang yang satu tetapi tidak dialami oleh orang lain. Ketakutan khusus semacam ini sering disebut sebagai “fobia.” Setiap orang punya fobia tersendiri. Pada dasarnya, manusia yang selalu berusaha untuk menjauhi fobianya justru semakin histeris saat menyaksikan hal tersebut. Ada oerang yang mau berkembang, berusaha membiasakan diri dengan fobianya agar dampaknya kecil. Mereka bisa mengendalikan diri dan tidak lebay saat hal-hal yang menakutkan muncul dihadapannya. Jika memang dimungkinkan berupaya menghindarinya dan menerima/ menjalaninya dengan ikhlas bila memang hal tersebut harus terjadi. Mereka berusaha fokus pada hal-hal positif agar fobia tersebut tidak menghantuinya terus-menerus.

Ada ketakutan lain yang timbul akibat cobaan yang dialami dari waktu ke waktu. Bisa jadi, seseorang terlalu sering mengalami tekanan sehingga timbullah trauma. Itu pasti, sebab setiap rasa sakit memang menyebabkan trauma. Biasanya, setelah trauma, orang-orang cenderung menghindari terjadinya kejadian yang sama. Sayang, beberapa yang lainnya mempraktekkan cara menghindar yang berlebihan dan terkesan tidak alami. Anda perlu terlebih dahulu sembuh dari trauma dan rasa sakit agar tidak terkesan takut menghadapi kejadian yang sama dengan resiko over protektif atau menjadi paranoid. Semakin cepat sembuh dari trauma dan semakin cepat hati terbebas dari rasa sakit: maka anda akan semakin percaya diri untuk menghadapi ujian kehidupan yang serupa.

Lain lagi kalau yang kita hadapi adalah seputar masalah keracunan. Mungkin itu datangnya dari orang tetapi bisa jadi hal tersebut juga terjadi karena rekomendasi dari sistem berdasarkan aturan tertentu. Darimanapun asalnya, itu tidak penting! Yang terpenting adalah “berusahalah untuk menghindarinya!” Tetapi bila sudah berusaha namun masih saja menelan racun walau sedikit bingung, “bagaimana cara masuknya?” Hadapilah tendangan salto yang membuat organ-organ dalam gemetaran dengan kepala dingin. Berupayalah untuk ikhlas menerimanya dengan berlapang dada (sabar). Tidak perlu berusaha memenangkan situasi dengan memicu perbantahan atau pertengkaran, melainkan mengalahlah dalam diam dengan penuh kerendahan hati. Lanjutkan hidup, lanjutkan aktivitas positif anda agar prasangka tidak mengacaukan fokus/ memusingkan kepala.

Teknik menghindar yang kita terapkan biasanya memberikan hasil yang relatif. Sebab dalam berbagai kapasitas, orang yang menguji kita bisa jadi merupakan orang yang selama ini dipercayai. Ini membuat tingkat kewaspadaan menurun sehingga keracunan lagi dan lagi. Dalam kondisi yang lain, keracunan tidak bisa dihindari sebab kita tidak memiliki pengaruh dan sumber daya yang cukup untuk mengubah sesuatu. Apapun latar belakangnya, lebih baik menerimanya dengan ikhlas sambil berkata dalam hati: “ujian ini datangnya dari Tuhan, mohon Tuhan kuatkan hatiku menjalaninya” atau “ujian ini datangnya dari sistem, mohon buat aku sabar menghadapinya ya Tuhan.” Jika hati tidak ikhlas maka rasa sakit yang lebih berat dan lebih kompleks akan memaksa kita untuk mengikhlaskan persoalan tersebut.

Keberanian kita menghadapi pergumulan hidup yang berat bukan karena kita tidak takut mati. Melainkan hal tersebut timbul karena memiliki tujuan hidup yang benar di hadapan Tuhan, memiliki persiapan dan mampu menghindar secara relatif dari masalah. Bisa saja ada orang yang sudah sering teracuni menganggap diri sudah kebal dengan toksin-toksin kehidupan. Merasa sepele karena kecilnya rasa sakit yang ditimbulkan oleh pengotor dalam makanan & minuman tersebut. Tidak menghindari apa yang bisa dihindari lalu terlanjur mengonsumsi produk yang teracuni dalam jumlah banyak sehingga membuat terkapar di rumah sakit selama beberapa hari. Lazimnya, air putih adalah hal mendasar yang tidak perlu dihindari karena tidak diracuni, sekalipun ada pengotor, itu hanya aroma tempatnya saja. Garam juga tidak diberi toksin atau setidak-tidaknya turunan garamlah (bumbu meja) yang bersih dari pengotor.

(1) Benar di hadapan Tuhan berarti hatinya tertuju kepada Tuhan dalam doa, firman dan puji-pujian. Mereka yang benar dihadapan Tuhan mestinya dapat bersikap baik dihadapan manusia sehingga tidak ada ketakutan karena ancaman dosa dari waktu ke waktu. (2) Orang yang penuh persiapan mencukupi kebutuhan jasmani tanpa melupakan yang penting sehingga tubuh selalu bugar dan sehat. Sedang persiapan rohani dilakukan dengan taat beribadah kepada Tuhan, baik secara pribadi maupun kelompok. Persiapannya juga termasuk siap menderita dan memiliki pengalaman yang baik menghadapi gejolak sosial. (3) Sedangkan kemampuan untuk menghindar tidak berlaku untuk semua permasalahan sebab ada hal-hal yang yak dapat dihindari di dunia ini. Ketiga hal ini adalah aset penting keberanian anda!

Biasanya orang yang terlalu berani telah mencampur pengalaman ujian hidupnya dengan bumbu kesombongan. Mereka mengumbar kesuksesannya menahan racun dan godaan lainnya dengan penuh rasa bangga. Seolah hanya dialah yang mampu melakukan hal tersebut sedangkan orang lain disalahkan dan dituding ini-itu yang jelek-jelek. Orang yang mengaku berani mati, semata-mata agar terkesan hebat dihadapan orang banyak. Semua tindakan tersebut hanyalah demi membuat hati yang hampa menjadi lebih senang walau sesaat. Alangkah baiknya jika keberanian tersebut tidak diumbar dalam angkuhnya kata-kata melainkan diwujudkan lewat sikap yang tetap baik sekalipun orang lain tidak baik. Teriakan “berani mati” mungkin pernah populer di zaman perang dalam dunia yang keras tetapi tidak di zaman damai seperti sekarang ini.

Orang yang beraninya positif contohnya: tetap bersikap baik sekalipun orang tersebut tidak bersikap baik kepada kita.

Kesimpulan

Cobaan hidup yang mau tidak mau harus dihadapi adalah yang datangnya dari sistem. Biasanya, anda sudah melakukan upaya standar untuk menghindarinya namun tetap saja kena. Jalani sajalah dulu sebab hal tersebut lazimnya tidak membahayakan nyawa. Upayakan tindakan puasa (tidak mengonsumsi sesuatu atau mengonsumsinya sedikit saja) tetapi jangan kurangi konsumsi air putih, garam (turunannya) dan teruslah beraktivitas (menggoyangkan kepala dan olahraga lainnya).

Sekalipun nikmatnya hidup yang dirasakan terbatas dan tidak semua hal yang diinginkan dapat dimiliki: tetap saja tidak ada orang yang mau buru-buru mati. Kita berani menghadapi cobaan bukan karena tidak takut mati tetapi karena maksud hati yang benar, persiapan yang matang dan mampu menghindar secara relatif dari situasi yang penuh kekusutan. Sikap menghindar sifatnya relatif karena adaptif; artinya ada pergumulan hidup yang bisa dihindari tetapi ada juga cobaan yang tidak bisa dielakkan. Hadapilah apa yang harus dihadapi, bukankah kita telah melakukan persiapan yang memadai sedari awal? Selama berada di jalur yang benar: bersandar kepada Tuhan dan mengikuti aturan umum dalam masyarakat, tidak ada badai yang dapat menghancurkan kita. Justru semua badai kehidupan yang datang dapat mematangkan kedewasaan bahkan hikmat pun bertunas dalam pikiran masing-masing.

Salam, beraninya dikontrol!
Jangan berlebihan
tetapi jangan juga kekurangan
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.