Masalah Yang Tidak Bisa Dihindari (Ujian Yang Tak Terelakkan)

Racun Yang Tidak Bisa Dihindari (Ujian Yang Tak Terelakkan)

Menurut anda mana yang duluan, “manusia meniru hewan” atau “hewan meniru manusia”? Menurut kami, pada dasarnya tidak ada yang meniru ini atau itu, sebab sifat bawaan manusia memang serupa dengan binatang. Sifat-sifat tersebut populer dengan nama sifat kebinatangan yang sudah tertanam dalam benak tiap-tiap orang sejak dilahirkan di bumi. Kebanyakan manusia bisa menyembunyikan sifat buasnya dibalik gaya hidup duniawi yang gemerlapan. Seolah-olah mereka sangat manusiawi, yang ekspresinya hampir-hampir sama dengan kebanyakan manusia lainnya. Sayang, semuanya itu berubah drastis ketika mereka diperhadapkan dengan tekanan kehidupan, lebih-lebih dengan kepahitan yang datang bertubi-tubi.

Saat anda melirik ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang: bagaimana anda tahu bahwa orang-orang yang anda temui adalah murni berhati baik? Kami sendiri tidak tahu apa-apa tentang hal ini sebab yang namanya hati, cuma orang itu sendiri yang tahu dan Tuhannya. Tetapi, jangan khawatir tentang kendala tersebut karena kita hidup dalam sistem yang penuh tantangan. Ada proses-proses tertentu yang perlu dilalui oleh seseorang bila hendak menginginkan sesuatu. Sebuah rangkaian umum yang tidak hanya berlaku untuk satu orang saja tetapi cepat atau lambat pasti dialami oleh tiap-tiap pribadi yang hidup dalam masyarakat yang majemuk. Kami menyebutnya sebagai “ujian dari sistem,” mungkin orang lain menyebutnya berbeda, adaptasikanlah….

Masyarakat hidup bersama dalam sistem yang baik bila ada keadilan sosial. Menghasilkan sejumlah aturan yang mudah dipahami dan dilakukan oleh siapapun yang terlibat di dalamnya. Aturan yang rasanya tetap lembut tetapi beresiko mengacak-acak sisi emosional manusia yang menjalaninya. Kami yakin bahwa ini lembut karena tidak menyebabkan luka dan kecacatan fisik kecuali ada binatang buas yang bangkit dari kedalaman hati yang suram. Tidak ada kerugian materi sebab tidak ada yang butuh dibayarkan tanpa alasan yang jelas kecuali ada tukang manipulatif yang tergila-gila dan menghalalkan segala cara dengan uang. Sistem yang cerdas dapat menyibak dan meredakan berbagai keburukan manusia yang belum dikontrol dengan baik.

Sitem yang tidak adil memperlakukan orang yang satu begitu namun memperlakukan orang yang lain begini. Biasanya orang yang diperlakukan berbeda adalah mereka yang dekat/ intim dengan sistem itu sendiri. Mereka semacam kaum keluarga dan kenalan dari orang-orang yang bekerja dalam sistem itu sendiri. Perlakuan khusus yang tidak adil tersebut juga bisa dinikmati oleh orang-orang terpandang yang memiliki nama besar kapitalis (penguasa/ kaya raya). Sedang mereka yang mau tidak mau harus ditantang kehidupannya adalah rakyat biasa yang jelata. Akibatnya, masyarakat biasa lebih kuat hatinya daripada mereka yang dimanjakan oleh organisasi. Sehingga kejahatan di dalam masyarakat tidak berkembang dari bawah melainkan dari atas karena mereka lebih mengutamakan hasil dan menolak proses yang menantang kecerdasan emosional.

Salah satu yang kami rasakan sendiri adalah racun-racun yang datangnya dari entah berantah. Berupaya baik dan tulus kepada siapa saja yang ditemui dari waktu ke waktu namun ada-ada saja yang mencoba mengotori makanan & minuman yang dimiliki. Menggunakan kecerdasan yang terbatas untuk sedapat-dapatnya menghindari situasi yang memahitkan ini namun kemungkinan berhasil hanya 1% sedang 99% lainnya gagal (teracuni). Ini adalah momok yang beresiko memancing emosi yang sewaktu-waktu bisa meledak menjadi amarah. Bisa-bisa berujung pada kekerasan verbal (kata-kata kotor, ejekan, penghinaan) dan/ atau kekerasan fisik (menampar, memukul, membanting, melempar). Menghindari ujian dari sistem adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk dilakukan.

Gagal menghindari toksin sebanyak 99% menunjukkan bahwa tidak ada gunanya kecerdasan yang dimiliki. Padahal sudah cukup banyak teori-teori yang dibuat sendiri dan dibaca dari berbagai media namun semuanya itu sia-sia saja. Bagaimana menyikapi sesuatu yang tidak menyenangkan dan secara diam-diam dipaksakan kepada anda? Situasinya sungguh-sungguh membuat kepala mendidih yang rasa-rasanya mau meledak tetapi tidak tahu harus mengarahkan amarah tersebut, kemana? Berbagai prasangkan mulai bergulir yang menyudutkan orang-orang yang dekatnya semeja makan. Suasana yang diam-diam memanas bisa mengacau-balaukan suatu rumah tangga. Atau berujung pada pelampiasan yang berupa penyimpangan sikap yang gila-gilaan: menghancurkan diri sendiri bahkan orang-orang di sekitar. Lihat juga, Kegilaan yang ada dalam diri manusia.

Fakta yang berseberangan dilapangan membuat kami banting stir. Buat apa menghindari sesuatu yang tidak bisa dihindari? Semisalnya hendak pergi menuju suatu kota, mau tidak mau harus lewat jalan raya, kecuali anda bisa terbang bak superman. Demikian juga dengan toksin ini, mau tidak mau tetap dan harus dialami sehingga segala usaha untuk mengelakkannya tidak ada yang berhasil. Akhirnya, kami memilih jalan rendah hati untuk mengalah terhadap situasi yang memang tidak bisa dikendalikan sepenuhnya secara pribadi. Berupaya menjalani kondisi yang awalnya ditolak hati namun lama-kelamaan bisa diterima seadanya dengan keikhlasan yang besar. Berusaha untuk mengedepankan kesabaran menanggung rasa sakit yang kadang-kadang mengguncang badan yang entah sampai kapan.

Sudah berjuang semaksimal mungkin menurut versi sendiri. Menggunakan analisis logika yang memadai untuk menanggulangi dan mengendalikan situasi namun hampir semua usaha tersebut tidak manjur. Ini adalah pertanda bahwa seseorang tidak paham “siapa yang sedang dihadapinya?” Namun seiring berjalannya waktu, kami pun paham bahwa tidak sedang berhadapan antara orang per orang, melainkan antara orang dengan sistem. Menyadari bahwa sedang berhadapan dengan sistem yang lebih besar daripada diri sendiri, membuat pikiran terbayang dengan masa lalu. Mengorek masa-masa dimana orang-orang seolah mengeroyok diri ini. Beruntunglah dalam kesesakan tersebut bukan keburukan yang keluar tetapi kebaikan hati karena terbiasa mengasihi musuh. Memang ada beberapa ketelodoran miring yang kecil-kecil namun masih terkontrol.

Percayalah kepada sistem karena ada banyak orang cerdas lagi bijak yang berada di balik semuanya itu. Sendiri saja tidak akan mampu menangkis seluruhnya ujian yang dibangun dari kebersamaan dalam sistem. Daripada dipaksa menerima keadaan karena tersudut dalam tingginya kewaspadaan yang selalu gagal. Seolah-olah sudah waspada mati-matian tetap masih terjebak juga, lebih baik hadapi (jalani) saja desakan ujian dengan mengedepankan kerendahan hati, keikhlasan dan kesabaran. Sebab situasi yang tidak diiklaskan namun terpaksa diterima akan menimbulkan penolakan yang besar dari dalam hati. Suasana hati semacam ini dapat melunturkan kesabaran dan memicu keangkuhan yang bisa menyebabkan pertengkaran alot yang melelahkan dan berkepanjangan.

Sehebat-hebatnya kita, bukanlah manusia yang dapat mengendalikan segala sesuatu. Pada satu titik saat diperhadapkan dengan ujian dari sistem, kebanyakan tidak bisa dihindari. Sebab kita telah terikat rapi dalam struktur bermasyarakat dan terikat sangat kuat di dalam kehidupan berkeluarga. Tidak mungkin menghindari apalagi memusuhi mereka yang selama bertahun-tahun dekat dengan kita. Jika ada ujian yang datang, percayalah bahwa hal tersebut bertujuan baik dan tidak untuk melukai apalagi melenyapkan nyawa. Bersandarlah kepada Tuhan, berusahalah untuk bertahan tetap baik dan lakukanlah puasa yang sepadan. Mohonkan hikmat Tuhan dan belajar dari pengalaman agar anda dapat memilih dengan tepat momen puasa seperti apa yang diperlukan. Sadari betul-betul bahwa ada hal-hal esensial dalam hidup yang tidak bisa dikurangi sama sekali seperti meminum air, mengonsumsi garam dan beraktivitas.

Kesimpulan

Cobaan hidup selalu terjadi selama nafas masih bisa berhembus dari badan ini. Biasanya bersumber dari diri sendiri (yang terbesar), sistem, orang lain dan lingkungan alamiah. Sikapilah semuanya dengan bijak: tidak ada suatu pola general (umum) dalam menghadapi permasalahan tersebut. Melainkan masing-masing masalah butuh penanganan khusus yang berbeda satu sama lain: belajarlah dari pengalaman!

Salah satu masalah yang kerap kali diujikan sistem kepada kita adalah kesabaran MENUNGGU.

Sistem bisa menguji anda dengan alasan yang jelas sekalipun anda belum membaca aturan tersebut. Terkadang ini diketahui oleh subjek (orang yang diuji) tetapi kadang juga ada subjek yang tidak menyadari sumber tantangan yang sedang dihadapinya. Bila sebagai masyarakat biasa, kita hanya bisa menguji seseorang secara sengaja sebanyak tiga kali saja. Lain halnya dengan sistem, biasanya ujian tersebut terjadi berulang kali dalam jangka waktu tertentu. Tidak banyak yang dapat kita lakukan selain ikhlas menerima masalah dengan rendah hati. Jangan sampai nilai-nilai positif dalam hidup anda tergerus tetapi pertahankan untuk tetap baik dan benar dalam bersikap. Tidak perlu memusuhi orang ini atau itu karena mereka hanya direkomendasikan oleh peraturan. Lebih baik belajar mengasihi musuh agar pikiran tetap jernih dan tetap semangat menjalani aktivitas bersama hari lepas hari.

Salam, Bila hati panas
menghadapi ujian
katakanlah

pencobaan ini
datangnya dari Tuhan
atau
tantangan ini
datangnya dari sistem
.”
Moga-moga
hati lebih ikhlas
menghadapi buruknya
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.