Semakin Pintar Manusia Makin Kapitalis – Membuat Sistem Yang Mengarahkan Manusia Kepada Tuhan Bukan Kepada Materi Dan Kemuliaan

Semakin Pintar Manusia Makin Kapitalis – Membuat Sistem Yang Mengarahkan Manusia Kepada Tuhan Bukan Kepada Materi Dan Kemuliaan

Sadar atau tidak, hawa nafsu yang kita miliki berbanding lurus dengan tingkat kepintaran masing-masing orang. Kekuatan manusia sangat bergantung dengan tingkat penguasaannya terhadap hal-hal tertentu yang berhubungan langsung dengan kehidupannya. Tentu saja dibutuhkan tingkat kecerdasan yang baik untuk mengenali, memahami dan menguasai suatu aktivitas akademik maupun non akademik. Semakin baik penguasaan terhadap kedua hal tersebut, semakin terarah kita pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Masalahnya sekarang adalah apakah kita mau diseret untuk berjalan dalam kedagingan sendiri atau maukah kita berjalan  menaklukkan diri kepada kebenaran?

Tidak ada manusia yang tidak memiliki keinginan. Selama indra seseorang terpapar dengan keduniawian yang gemerlapan, selama itulah berbagai godaan menggelitik hatinya. Godaan terhadap hasrat yang tinggi atau menggebu-gebu, sudah pasti akan menarik dan mempengaruhi beberapa orang yang belum mampu mengendalikan nafsunya. Mereka tidak akan berhenti mengejar apa yang mereka inginkan sebelum dirinya merasakan akibat langsung dari keinginan tersebut. Semakin banyak seseorang mencicipi rasa sakit, semakin besar kemungkinan untuk membuatnya mengubah arah haluan hidupnya, makin jelas baginya untuk mengubah “apa yang diinginkannya.” Terkecuali bila apa yang diinginkannya sudah sejalan dengan kebenaran yang diyakininya.

Panca indra yang dimiliki oleh manusia sangat tertarik menyaksikan hal-hal yang tinggi dan besar. Saat seseorang melihat yang tinggi, apalagi hal tersebut belum dimiliki pasti hasrat akan menguat mengharapkannya. Terlebih ketika pengendalian diri masih belum matang maka dorongan untuk memilikinya semakin tajam sekalipun dengan menghalalkan segala cara. Bukankah semua kebesaran dan yang tertinggi tersebut langsung terhubung dengan kepemilikan uang? Ada uang ada barang: ada uang ada kebesaran dan kemewahan hidup yang menjadi tawaran menggiurkan terhadap orang pintar. Orang yang kurang cerdas bukan tidak menginginkan hal tersebut tetapi dia tahu batas kemampuannya. Sedangkan mereka yang merasa pintar akan melakukan usaha terbesar dengan sedikit kelicikan sampai tujuannya tercapai.

Memang patut dimengerti tentang tingginya hasrat manusia terhadap uang. Sebab sejak dari kecil, kertas ajaib itu telah diperkenalkan kepada kita. Bahkan kami pernah melihat seorang balita yang bisa berhenti menangis karena diberi uang oleh ortunya. Hasrat ini terus membesar tatkala seseorang menyadari bahwa dengan kertas-kertas kecil itu, ia bisa memperoleh segala yang diinginkannya. Saat sudah dewasa sekalipun, fokus kita tidak pernah teralihkan dari duit, sebab hampir segala hal yang kita kerjakan selalu berhubungan dengan penerimaan atau pemberian duit. Bahkan orang cerdas sampai mengagung-agungkan duit karena lewat semuanya itu, mereka bisa membeli jutaan kenyamanan duniawi yang menggiurkan untuk dinikmati. Mereka bangga luar biasa dengan apa yang diraihnya sekalipun semua itu diperoleh secara tidak adil.

Penyimpangan tentang fulus yang paling jelas terjadi di antara orang-orang yang dapat memperoleh uang dengan mudah dan cepat. Mereka cenderung mendewakan uang dan segala hal yang dapat dibelinya. Tidak mau mengambil rasa sakit dari sekitarnya dengan membayar lebih tinggi untuk terbebas dari tekanan hidup. Padahal masalah adalah bagian penting dalam kehidupan untuk menciptakan keseimbangan rasa dengan sukacita yang dialami. Tanpa keseimbangan, kepribadian manusia cenderung angkuh, temperamen, semena-mena dan cenderung melanggar aturan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Bukankah semuanya itu dilakukan demi meraih lebih banyak fulus dan merampok pundi-pundinya yang terpusat pada tampuk kekuasaan tertinggi?

Orang-orang yang merasa dirinya pintar akan berusaha meraih kelimpahan materi luar biasa lalu bersaing sengit menjadi penguasa tersohor. Sebab sistem yang ada memang mengharuskan yang demikian: menyeleksi mereka yang kaya raya menjadi orang yang memperoleh hak khusus yang lebih baik dari masyarakat pada umumnya. Jadi, kecintaan terhadap materi dan kemuliaan bukan saja dipicu oleh budaya masyarakat yang dibawa turun-temurun. Melainkan turut pula didorong kuat-kuat oleh sistem yang menawarkan hal-hal tinggi yang dapat diraih oleh siapa saja. Jadi, bisa dikatakan bahwa hampir mustahil untuk menemukan orang yang pintarnya tidak mendewakan duit dan kehormatan, sebab sistem dan budaya di dalam masyarakat mengarahkan manusia kepada hal-hal tersebut.

Semakin pintar manusia makin besar keinginannya untuk menjadi seorang kapitalis. Selain di dorong oleh sistem dan kebiasaan dalam masyarakat, keadaan ini juga disebabkan oleh pengalaman hidup yang bersangkutan. Mungkin saja di dalam lubuk hati kecilnya, ia sangat mengagumi mereka yang memiliki banyak harta. Ini bisa juga terjadi karena dialah yang iri hati terhadap orang-orang kaya sehingga berjanji dengan sungguh-sungguh bahwa suatu saat nanti dirinyapun akan menjadi salah satu yang terkaya sejagad. Hasrat ini juga bisa di dorong karena seseorang pernah disakiti oleh seseorang yang berlatar-belakang kaya. Derita yang dialaminya membuatnya berjanji akan lebih kaya raya lagi dari orang yang dulu pernah menyakitinya.

Di sisi lain, peran kecerdasan dalam perkembangan kehidupan sangatlah kental. Ini membuat orang pintar menjadi pusat perhatian dengan cepat. Mereka dieksploitasi oleh sistem dalam pekerjaan yang menyita waktu dan tenaga yang banyak. Sistem seolah-olah mempekerjakan mereka lebih banyak ketimbang masyarakat biasa. Padahal apa yang mereka kerjakan pasti bisa dikerjakan oleh orang lain seandainya sistem mau berbagi pengetahuan yang diikuti dengan pelatihan. Akibatnya, mereka merasa diri lebih banyak berbuat sehingga menginginkan reward (bayaran) lebih tinggi dari yang lain. Dan sistem merestui keinginan tersebut dengan memberi mereka kekayaan dan kekuasaan lebih. Padahal dengan bersikap demikian, pekerjaan terkesan dilakukan tanpa ketulusan hati. Dan masih banyak lagi contoh kasus lainnya yang mendorong orang-orang pintar ini cenderung hobi menjadi orang kaya yang berkuasa.

Satu-satunya cara membuat manusia tidak mendewakan materi dan kemuliaan adalah dengan merintangi mereka untuk memperoleh hal-hal tersebut. ini merupakan upaya terbaik untuk membuat manusia tidak menuhankan kekayaan dan kebesaran hidupnya. Sebab ada hal lain yang lebih berharga dari semuanya itu, yakni memiliki Tuhan di dalam hati sendiri. Memperoleh materi membutuhkan kerendahan hati, kesabaran dan keikhlasan dimana semuanya itu diperoleh lewat pengalaman pribadi menghadapi pahitnya derita bersama Sang Pencipta. Sehingga seorang manusia tidak mungkin memiliki kekayaan dan kebesaran yang adil tanpa memiliki Tuhan. Sebab pengenalan akan Tuhanlah yang membuat kita mampu kuat menghadapi bahkan mangatasi berbagai masalah yang datang selama mencari kebutuhan duniawi.

Kesimpulan

Tidak semua orang pintar maunya jadi kapitalis kaya raya yang berkuasa. Dulu hati pernah menginginkan yang tinggi-besar tetapi hidup jadi tidak damai karena visi bertentangan dengan logika. Dalam pemahaman pribadi, budaya kapitalisme sebagian besar tidak logis dan sosialisme yang sederhana adalah kehidupan yang dibangun dalam akal sehat.

Seharusnya kecerdasan yang mumpuni tidak menjadi jaminan untuk memperoleh hal-hal duniawi dengan mudah dan cepat. Melainkan rintangi manusia dengan berbagai perkara yang mau tidak mau mengarahkannya untuk merendahkan hati, bersabar dan menjadi ikhlas. Dengan demikian seluruh dedikasi hidupnya akan tertuju kepada Tuhan dan ajaran-Nya agar beroleh inspirasi hikmat untuk menghadapi dan mengatasi masalah yang menghadang. Pergumulan hidup melatih mental manusia untuk bertahan dan tetap positif dalam badai yang kuat sehingga tidak mudah tepengaruh oleh godaan jahat dari dalam hati sendiri dan dari sekitarnya. Ini adalah cara terbaik untuk mengarahkan orang-orang pintar agar mereka tidak bersandar pada materi dan berhenti mendewakan kemuliaan. Melainkan lebih mendedikasikan hidup pada pengejaran akan kebenaran dan keadilan bagi seluruh umat manusia. Karena pada akhirnya, orang-orang yang mengabaikan Penciptanya akan terjebak dalam teriakan dingin yang menakutkan akibat hawa nafsunya yang sesat.

Salam, Sistem bisa menggunakan duit
untuk mendewakan duit
dan memuja orang-orang
yang menguasai duit.
Atau sistem dapat
merintangi masyarakat
betapa sakitnya mencari duit.
Agar mereka hanya bersandar
pada Tuhan semata
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.