7 Alasan Waspada Dan Alibi Iblis

Alasan Waspada Dan Alibi Iblis

Gejolak yang terjadi di sekitar kita, tidak bisa dikendalikan sepenuhnya. Mungkin pernah ada orang yang mencoba mengendalikannya tetapi malah berdampak buruk bagi dirinya sendiri. Mereka menjauhi kontak dari orang banyak demi menyendiri di balik gedung-gedung mewah, tapi malah membuat indranya menjadi sensitif terhadap gangguan. Ada yang mencoba mengendalikan orang-orang di sekitarnya dengan mengeluarkan rupa-rupa peraturan, tapi malah membuat mentalnya menjadi manja. Sekiranya kita bisa memaklumi hentakan kecil yang terjadi di sekeliling, mungkin saja keterdesakan itu mampu melatih kita untuk mencapi peningkatan hidup yang disertai perkembangan otak ke arah positif.

Dunia yang kita tempati ini memang kadang kala menjadi tidak stabil. Kita perlu membiasakan diri dengan semuanya itu, selama masih berada dalam koridor hukum yang benar. Tanpa terbiasa, distorsi yang bisa saja terjadi dari sisi yang satu ke sisi yang lain dapat membuat pikiran kacau. Jika otak mulai memudar, kemampuan fokus hilang dan rasa tenang di dalam hati mulai berguncang. Bila hati sudah jauh dari ketenteraman, mulailah melakukan pelarian dengan mencari hal tersebut lewat sesuatu yang ilegal. Pada akhirnya, semua keadaan ini dapat mengubah sikap seseorang, dari yang awalnya baik menjadi buruk dan dari yang benar menjadi jahat bahkan lebih lagi, yakni menjadi orang yang sangat keji/ kejam.

Ada-ada saja orang yang menciptakan ketidakstabilan di sekitar kita. Masalahnya adalah bukan bagaimana kita mendiamkan para pengacau sebab beberapa di antaranya berada di luar jangkauan sekalipun kejadiannya sangat dekat. Banyak hal yang terjadi yang tidak membutuhkan peran kita atau tidak butuh campur tangan kita. Melainkan yang terbaik yang dapat kita lakukan hanyalah membiarkan hal tersebut terjadi sampai semuanya berakhir pada waktunya. Di dalam beberapa penyimpangan masyarakat, kita bisa turut serta mencampurinya dan ada masanya juga kita hanyalah sebagai seorang penonton. Perhatikan momennya dan pahamilah baik-baik wewenang yang diberikan kepada Anda. Hindari mencampurkan masalah pekerjaan dengan masalah pribadi.

Dalam hidup ini, kita perlu waspada terhadap faktor resiko yang sedang bergulir di sekitar. Gejolak yang terjadi di dalam masyarakat bisa menjadi faktor resiko sehingga membuat kita terancam secara langsung pada hal-hal tertentu. Akan tetapi, jangan terlalu waspada: sikap ini hanya membawa kepada ketakutan berkepanjangan sehingga merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Bacalah baik-baik situasi yang sedang anda hadapi. Bila menurut anda ada ancaman dan hal tersebut sudah mulai menunjukkan efeknya terhadap diri sendiri. Sudah saatnya anda mulai menyusun rencana untuk mengantisipasi hal tersebut di waktu-waktu berikutnya. Akan tetapi, situasi yang tenang sebaiknya jangan dibawa tegang. Melainkan terbiasalah dengan gelombang instabillitas acap kali mengejutkan panca indra. Jangan biarkan hal-hal yang mengganggu tersebut mengubah anda menjadi pribadi yang lain versi terburuk.

Mengapa kita perlu lebih berhati-hati?

Defenisi – Waspada adalah sikap mawas diri manusia yang timbul untuk mencegah dan mengantisipasi sesuatu yang buruk terjadi dalam hidupnya. Biasanya pemikiran semacam ini timbul dalam diri seseorang yang pernah mencicipi pahitnya distorsi kehidupan. Atau sekalipun dia tidak pernah mengalaminya, setidak-tidaknya pernah melihat orang lain mengalami derita yang serupa. Bisa juga pernah mendengar pengakuan pengalaman dari seseorang yang telah mengalaminya. Apapun informasi yang didapatnya, pasti mengejutkan sekaligus menyadarkannya tentang suatu bahaya yang mungkin saja bisa menghampirinya atau menghampiri keluarganya suatu saat nanti. Berikut akan kami jelaskan sedikit tentang faktor yang menyebabkan manusia menjadi sangat berhati-hati.

  1. Kesadaran pribadi.

    Orang yang sudah dewasa lambat laun akan menyadari bahwa ada hal-hal tertentu yang bisa memperburuk kehidupannya. Oleh karena itu, beberapa orang mulai berpikir untuk melakukan sesuatu agar potensial negatif tersebut tidak sampai merusak hari-harinya. Di satu sisi, ini merupakan perkembangan yang baik dalam kehidupan seseorang. Akan tetapi di sisi lain, hal tersebut bisa dilakukan secara berlebihan karena terlalu over protektif sehingga orang tersebut terkesan memiliki fobia dan menjadi paranoid.

  2. Merasa diawasi.

    Pada tulisan ini, kami menyamakan antara kewaspadaan yang setara dengan kehati-hatian. Mengapa seseorang merasa perlu waspada? Salah satu alasannya adalah karena dia merasa diawasi oleh pihak tertentu. Tidak perlu berprasangka buruk terhadap pengawasan yang dilakukan terhadap anda sebab Tuhan sendiri selalu mengawas-awasi setiap ciptaan-Nya. Orang yang takut diawasi hanyalah orang yang merencanakan dan hendak melakukan (mewujudkan) niat jahatnya. Bila anda benar dan hendak melakukan hal-hal yang baik, mengapa takut diawas-awasi?

  3. Telah mencicipi dampak nyata dari bahaya tersebut secara langsung.

    Apa lagi yang membuat kita mewaspadai sesuatu selain karena telah mengalami hal tersebut secara langsung. Mungkin beberapa orang tidak mempedulikannya karena mereka belum pernah terpuruk setelah terpapar sesuatu. Artinya, pengalaman hidup yang dialami seseorang bisa membuatnya bahkan mendorongnya untuk lebih hati-hati dalam hal-hal tertentu. Hal tersebut sebaiknya diekspresikan dengan cara-cara yang tepat dan benar.

  4. Mendengar infomasi dari orang lain atau dari media yang eksis (mencicipi dampak bahaya secara tidak langsung).

    Perputaran informasi di sekitar kita berubah menjadi sangat cepat saat internet telah mencapai seluruh pelosok negeri. Tidak peduli darimanapun anda memperoleh informasi tersebut, selalu saja ada potensi kebohongan di dalamnya. Segala kepura-puraan yang menjebak terdapat di dalam internet. Selektif dan kritislah menanggapi informasi apapun. Sebab ada banyak ancaman dan ketakutan palsu yang bisa saja diciptakan oleh pihak-pihak tertentu namun sesungguhnya itu hanyalah hoax adanya. Namun jangan menghakimi orang-orang yang melakukannya tetapi cukuplah itu untuk diri sendiri saja. Sebab zaman sekarang, sandiwara dimana-mana, ekonomipun bersandiwara. Bahkan mitos yang dibicarakan terus-menerus oleh orang banyak bisa saja dianggap seolah-olah benar. Sedang kita yang kritis, tahu “apa yang sesungguhnya terjadi” namun simpan dalam hati saja sambil berkata: “wah… betapa indahnya dunia ini bila para pemimpin kita mau bersikap adil, terimakasih Tuhan semuanya ini membuat saya tambah kuat.”

  5. Menyadari ada pihak yang tidak senang dengan kita.

    Orang yang cukup waspada selama menjalani hidupnya adalah mereka yang merasa punya musuh. Permusuhan yang tidak sengaja atau sengaja terjadi membuat kita menjadi pihak yang selalu digangguin oleh pihak lain. Terlebih ketika ketidaksepahaman itu berkaitan erat dengan power di antara manusia. Banyak orang selalu berusaha mempertahankan kekuatannya sekalipun itu sama-sekali tidak adil. Mereka yang berpegang pada kebenaran dan keadilan adalah pribadi yang hidup tenteram sekalipun ada berbagai macam kecau balau yang menghiasi hari-harinya

    Saat anda menyadari ada pihak yang tidak senang dengan anda, tidak perlu dibawa serius. Anggap saja mereka sebagai kerikil kecil di jalanan yang mau tidak mau harus anda lewati dengan mengedepankan kebaikan dan keramahan. Tidak perlu memusuhi orang sampai memikirkan mereka di atas tempat tidur.

    Ingatlah bahwa zaman sekarang tidak ada musuh yang terlalu jahat selain diri kita sendiri. Sebab orang lain dibatasi oleh peraturan untuk menyakiti kita, tetapi kita dimungkinkan melukai diri sendiri karena stres yang tak tertahankan.

  6. Terus-menerus mengalami penderitaan.

    Apabila rasa sakit yang menghampiri anda datangnya sekali sebulan atau dua kali sebulan atau lebih jarang lagi: tidak perlu diwaspadai! Gangguan kecil yang merecoki kehidupan tidak perlu dipedulikan. Biarlah itu berterbangan pada masanya, toh efeknya tidak sampai menimbulkan kegemparan satu kota. Cobaan yang hadirnya sesekali, tidak perlu ditanggapi secara berlebihan karena tidak dibutuhkan reaksi ekstra ketat. Yang terjadi biarlah terjadi lalu tabah dan ikhlaslah bersamanya sehingga menjadi pribadi yang dewasa di tengah ujian yang sepadan.

    Meracuni orang bukanlah suatu kesalahan kecil yang bisa diabaikan. Sikap acuh tak acuh merupakan kesalahan kecil karena hal tersebut tidak mempengaruhi fisik seseorang secara langsung. Namun saat anda memberikan racun kepada orang lain, hal tersebut bisa mempengaruhi fisiknya secara nyata. Mungkin saja pengaruhnya baru bisa hilang setelah berhari-hari. Apalagi kalau hal tersebut sampai menimbulkan gangguan terhadap kinerja organ tertentu. Ini sama saja dengan kejahatan menusuk orang lain dari belakang, sesuatu yang kadang tidak disadari oleh korban. Lain halnya dengan pengabaian dimana hal tersebut berlangsung seketika itu juga dan efeknya minimal terhadap korban.

    Berhati-hatilah, siapa tahu anda terjebak dengan kapitalis yang tidak tulus memberi madu dan racun. Daripada diracuni terus-menerus, tolaklah madunya. Memang tidak semua kapitalis jahat, jadi waspadalah!

    Anda tidak perlu waspada berlebihan terhadap sikap abai orang lain. Sebab hal tersebut membuat keramahan anda memudar bahkan hilang. Akan tetapi, orang yang jahil meracuni anda terus-menerus sebaiknya meningkatkan kewaspadaan anda. Pastikan bahwa air minum dan makanan yang dikonsumsi selalu diletakkan dalam tempat yang disegel (terkunci). Dimanapun anda berada, milikilah lemari dengan kunci yang tersendiri. Selanjutnya, belajarlah dari pengalaman sendiri seputar cara melindungi diri dari pendosa kejam yang suka meracuni makanan.

    Waspadai dengan sungguh-sungguh orang yang meracuni anda terus-menerus kecuali anda bisa mengantisipasi efek keracunan yang timbul. Tetapi jangan memusuhinya hingga menjadi paranoid terhadap orang tersebut. Melainkan tetap kasihi musuhmu dan ramahlah kepada mereka. Lakukan apa yang baik kepadanya sebab siapa tahu ia hanya melaksanakan tugas dari sistem untuk menguji anda. Sadarilah bahwa ujian dari sistem ada awalnya dan pasti ada akhirnya. Bertahanlah dan jadilah penunggu yang benar hingga semuanya itu berakhir.

  7. Demi melindungi sesuatu yang dianggapnya berharga.

    Ada begitu banyak hal yang menimbulkan ketakutan di dalam hati. Hal tersebut bisa seputar masa depan atau tentang sesuatu yang berharga di dalam kehiduapan kita. Sifat alamiah manusia yang selalu berusaha melindungi apa yang berharga di dalam dirinya menjadi alasan kuat untuk mewaspadai berbagai kemungkinan. Semakin banyak hal yang berharga di dalam hidup kita maka semakin banyak pula tindakan hati-hati yang kita lakukan. Misalnya saja, orang dengan kekayaan melimpah ruah, memiliki ketakutan yang tergolong cukup banyak. Hal tersebut membuat mereka lebay dalam beberapa hal termasuk dalam hal penggunaan sumber daya yang berlebihan (melakukan pemborosan untuk melindungi diri). Simak juga, Akibat kekuatiran setelah menonton film.

    Jangan terlalu mencintai dunia ini agar kita tidak over protektif terhadap hal-hal tertentu. Sikap over protektif membuat kewaspadaan kita tidak tepat sasaran. Melainkan cintailah Tuhan maka hidup anda terjamin di dalam-Nya. Tidak ada yang perlu anda takutkan sebab Tuhanlah yang menjadi juru mudi kehidupan anda. Pahami lalu lakukanlah firman-Nya dengan setia dan tulus hati maka Ia akan menyelamatkan anda!

  8. Salahkanlah si iblis.

    Siapa lagi pihak yang membuat kita meningkatkan kewaspadaan jika bukan raja segala yang jahat? Antek-antek kejahatan memang sangat banyak, itu bisa siapa saja. Orang yang melakukan yang buruk bisa kita antisipasi jika mereka menampakkan dirinya. Akan tetapi, bagaimana jadinya reaksi kita saat tidak melihat siapa-siapa saat keburukan terjadi di dalam hidup kita? Bagaimana anda mengantisipasi sesuatu yang bahkan tidak dapat diketahui siapa orangnya? Saat kita tidak menyaksikan secara langsung siapa yang telah berbuat jahat, sebaiknya kita menyalahkan iblis yang adalah sumber kejahatan itu. Tidak perlu membawa-bawa nama orang/ nama kelompok tertentu dalam aksi kewaspadaan yang sedang digalakkan, tetapi cukup tegaskan “kehadiran iblislah yang sedang anda waspadai!” Ini adalah alibi terkuat yang membebaskan kita dari prasangka buruk dan orang lain pun tidak dapat mempersalahkan sikap yang kita tempuh.

Kesimpulan

Tuhan Yesus Kristus berkata:

(Matius 5:43)  Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.

Ada inkonsistensi di dalam Alkitab soal musuh. Namun perlu diingat bahwa kita tidak bisa menghilangkan salah satunya. Dan Tuhan Yesus sendiri bersaksi bahwa Dia datang bukan untuk meniadakan Kitab Suci melainkan untuk menggenapinya. Musuh yang pantas kita benci seperti yang termuat dalam sebagian besar Perjanjian Lama adalah si Iblis. Dialah musuh tunggal dalam hidup kita sampai sekarang. Oleh karena itu, saat menyaksikan kejahatan orang lain tidak perlu memusuhinya tetapi tetap baik dan doakanlah agar iblis undur dari orang tersebut.

Semakin sadar seorang manusia, makin banyak hal yang diwaspadainya di dunia ini. Terutama hal-hal buruk yang pernah dialami secara langsung di masa lalu, maka di masa depan akan diantisipasi dengan sikap yang lebih hati-hati. Kewaspadaan juga bisa meningkat karena pengaruh informasi yang berputar di sekitar kita, baik yang berasal dari televisi, radio maupun internet. Tetapi tidak perlu takut berlebihan menanggapi info dari berbagai media karena kebanyakan itu hanyalah sandiwara. Sekalipun kehati-hatian ini sudah berkembang baik namun kadang pelaksanaannya kurang tepat sasaran karena faktor lupa atau lebay. Inilah penyakit utama yang mengganggu sikap waspada orang per orang. Tetapi jangan khawatir, di zaman sekarang yang dipenuhi teknologi pintar, kepikunan dapat diantisipasi. Anda dapat memohonkan hikmat Tuhan agar tidak menjadi pribadi yang paranoid atau lebay mewaspadai sesuatu. Serta gunakanlah smartphone untuk mengingatkan diri sendiri tentang banyak hal yang perlu diantisipasi.

Salam, Kedewasaan menggiring
manusia untuk berhati-hati
!
Utamakanlah untuk mewaspadai
hal-hal buruk yang
pernah anda alami langsung
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.