Pengertian Dosa Turunan – Benarkah Dosa Ditularkan Melalui Daging & Darah?

Pengertian Dosa Turununan – Benarkah Dosa Ditularkan Melalui Daging & Darah.png

Seperti burung-burung yang berterbangan di langit dan di antara pepohonan yang rimbun, demikianlah manusia terus beraktivitas di bawah kaki langit yang kadang sejuk – kadang panas. Dalam hiruk-pikuk ramainya aktivitas, kita menyibukkan diri untuk mengisi waktu-waktu kosong agar menjadi berarti. Berusaha memanfaatkan waktu yang ada untuk kebaikan diri sendiri, orang-orang di sekitar dan lingkungan alamiah. Berusaha untuk menjadi positif walau tak dipungkiri ada-ada saja yang negatif di dalam diri kita. Ini bukan terjadi sekarang, melainkian diketahui sudah ada turun-temurun. Jadi selama ini, suatu aura yang salah ternyata ada di sisi kita tanpa disadari. Itulah yang hendak kami bahas sedikit pada tulisan berikut.

Kesalahan yang sudah ada dan telah ada, jauh sebelum kita ada: bagaimana pula itu bisa terjadi? Sepatutnya kesalahan seorang pendosa hanya akan ditanggung oleh orang itu saja. Lantas mengapa orang lain turut pula dibawa-bawa? Inilah dosa turunan yang dibawa turun-temurun dari generasi ke generasi. Alkitab menyatakan bahwa kesalahan tersebut ada dan terus-menerus dituntut dalam kehidupan tiap-tiap manusia. Masalahnya sekarang adalah, bagaimanakah hal tersebut bisa masuk dalam hidup kita? Dimanakah jalur penularannya. Apakah itu melalui darah, sama seperti penyakit keturunan? Mungkinkah itu tertular lewat benda-benda tertentu yang kita gunakan bersama? Atau mungkin juga itu ditularkan secara otomatis tanpa suatu dasar yang pasti.

Defenisi awal – Dosa turunan adalah kesalahan yang sudah (telah) ada jauh sebelum kita ada yang biasaya berasal dari orang-orang yang ada sebelum kita hadir di dunia ini.

Dosa turun-temurun tidak ditularkan lewat benda-benda yang kita gunakan

Dalam Perjanjian Lama dikenal istilah najis dan halal. Peraturan tentang hal ini bisa dianggap sebagai suatu kemungkinan yang membuat pelanggaran menjalar dari satu orang ke orang lain. Sebuah sisi yang menitik-beratkan sesuatu dari segi kebersihan dari segala bentuk kotoran. Bisa juga dianggap sebagai suatu keadaan yang menandakan kebebasan dari berbagai macam penyakit. Artinya, ketika anda menggunakan barang-barang seorang pendosa maka dosanya menular pada anda. Sayang teori semacam ini tergolong lemah sebab bila suatu pelanggaran melekat melalui benda-benda tertentu maka seluruh isi bumi inipun najis seketika. Sebab biar bagaimanapun tiap-tiap manusia terhubung lewat udara, air dan tanah yang membuat pelanggaran tersebut semakin mudah menjalar dari orang per orang sehingga seluruh isi bumi najis dan bersalah dimana-mana.

Lagipula, Tuhan Yesus telah turut menjelaskan bahwa tidak ada yang namanya benda suci dan najis. Keadaan berbagai barang yang ada di sekeliling kita tidak menularkan dosa. Kejam juga kalau kita tidak bisa bersentuhan apalagi salaman dengan seseorang yang dianggap pendosa. Rasanya aneh kalau kita tidak bisa menerima barang apa saja dari orang yang kita anggap menyalahi aturan yang benar. Kita patut bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah menjelaskan persoalan tersebut, yakni “apa yang kita gunakan sehari-hari tidak menajiskan atau tidak membuat seseorang berdosa sebab ada waktunya dimana hal-hal tersebut akan terlepas/ terbuang dari tubuh kita.” Tetapi yang tidak akan terlepas dari tubuh kita sekalipun dicuci berkali-kali adalah kata-kata dan perbuatan jahat yang dilakukan. Bukankah semua sikap itu asalnya dari dalam hati masing-masing orang?

(Matius 15: 17-18) Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam mulut turun ke dalam perut lalu dibuang di jamban? Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

Dosa turun-temurun tidak ditularkan lewat daging dan darah

Kami awalnya kurang yakin dengan pendapat ini, karena tidak ada ayat Alkitab yang menerangkannya secara gamblang (eksplisit). Akan tetapi, setelah dipikirkan berulang-ulang kali, akhirnya kami menyimpulkan bahwa dosa jelas tidak diturunkan melalui daging dan darah. Sebab jika pelanggaran seseorang ditularkan lewat daging dan darah maka Yesus Kristus yang lahir ke dunia tidak suci. Sebab biar bagaimanapun ceritanya, darah Maria sudah menjadi bagian dari diri-Nya. Saluran utama aliran darah ibu yang langsung masuk ke tubuh bayi adalah plasenta. Bayi yang belum lahir sama sekali tidak memiliki organ untuk mencerna makanannya sendiri sehingga hanya mengharapkan darah kaya nutrisi dari Ibundanya. Dimana logikanya: jika darah tertular lewat dosa, apakah Tuhan tidak terlalu kejam kepada bayi yang meninggal setelah lahir, pasti masuk neraka? Karena ada dosa turunan melekat pada darahnya, sedangkan bayi tersebut belum mengenal Tuhan dan belum dibabtis.

(Lukas 1:35)  Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.

Dosa turunan ditularkan lewat harta yang diwariskan

Ada tertulis:

(Keluaran 20: 5) Jangan menyembah atau beribadah kepadanya karena Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, sampai keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku.

Tetapi ada juga ayat Alkitab yang menyatakan hal berbeda.

(Yehezkiel 18:20) Jiwa yang berdosalah yang akan mati. Anak takkan menanggung kesalahan ayahnya, demikian juga ayah takkan menanggung kesalahan anaknya. Kebenaran orang benar akan ditanggungkan ke atasnya sendiri, dan kejahatan orang jahat akan ditanggungkan ke atasnya sendiri.

Perlu diketahui bahwa Alkitab memberikan dua versi tentang kesalahan yang diturunkan. Pada satu sisi ada orang yang memilikinya namun di sisi lain ada juga orang yang tidak memilikinya. Inkonsistensi ini tidak menunjukkan bahwa Alkitab bias melainkan inkonsistensi tersebut berdasarkan kenyataan dalam kehidupan bermasyarakat. Ada dua tipe manusia yang dilahirkan ke dunia. Yakni ada orang yang telah tertular dengan pelanggaran orang tuanya, kakeknya dan buyutnya bahkan generasi yang sebelum-sebelumnya. Tetapi ada juga orang yang bersih dari semuanya itu. Pemahaman ke dua dari inkonsistensi tersebut adalah tidak semuanya dosa orang tua dan generasi sebelumnya ditanggung oleh seorang anak tetapi hanya kesalahan tertentu saja. Seperti apakah pelanggaran itu sampai diturunkan dari generasi ke generasi?

Alkitab menyatakan bahwa ada orang yang memiliki dosa turunan dan ada pula orang yang tidak memilikinya. Apa yang terbesit dalam benak anda? Sebenarnya, dari sisi mana Tuhan memandang perbedaan tersebut?

Spekulasi terkuat kami tentang pelanggaran seperti apa yang akan ditanggung oleh seorang anak yang didapat dari orang tua, kakek dan buyut bahkan generasi sebelumnya. Itulah harta yang diwarikan kepada generasi yang satu ke generasi yang lain. Ada anak yang memilikinya (contoh anak orang super kaya) dan ada pula yang tidak (misal anak panti asuhan, anak orang miskin). Warisan kekayaan adalah sah secara hukum dan dapat dituntut jika suatu saat ditemukan masalah. Sedang kita tahu bersama bahwa Tuhan telah mempercayakan “Kunci Petrus” kepada umat manusia. Artinya, kita bisa membuat hukum dan hukum tersebut terikat dengan sorga. Setiap pelanggaran terhadap hukum tersebut, kelak bisa menjadi ancaman baginya untuk masuk sorga (dituntut di akhir zaman). Seperti ada tertulis.

(Matius 16:19) Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Pemberian warisan kepada seorang anak sah secara hukum. Sayangnya, warisan tersebut disertai dengan dosa. Memang di dalam warisan tersebut tidak disebutkan bahwa si penerima juga turut menanggung dosa karena usaha yang tidak adil saat memperolehnya. Hal tersebut sama seperti utang kepada pihak lain dan pinjaman yang diberikan oleh generasi sebelumnya kepada orang lain. Pasti tidak akan disebutkan di dalam warisannya, namun akan dikatakan oleh pemberi warisan (generasi sebelumnya) saat kekayaannya diserahkan kepada keturunannya (generasi berikutnya/ anak/ cucu). Demikian halnya juga dengan pelanggaran yang menyertai suatu warisan: informasi tersebut akan diperoleh seiring bertambahnya pengetahuan dan wawasan tentang firman Allah.

Sudah pasti semakin besar berjibun suatu warisan tidak pernah diperoleh dengan cara yang adil. Sebab keadilan Tuhan: kasihilah sesamamu seperti diri sendiri: apa yang anda alami, sepatutnya dialami juga oleh orang lain (cepat atau lambat). Belum lagi kalau cara-cara yang digunakan untuk memperoleh harta tersebut dengan menghalalkan segala cara: menekan, menindas, menipu dan melakukan aksi kejahatan lainnya. Tentulah semua dosa selama pengumpulan kekayaan berlangsung akan ditanggungkan juga kepada orang-orang yang kelak akan mewarisi kekayaan tersebut. Bukankah itu sah secara hukum?

Berdasarkan pemahaman di atas, kita bisa mengatakan bahwa semakin banyak harta yang dimiliki, makin besar pula dosa yang harus ditanggung oleh keturunan kita kelak. Bahkan penjalaran atau penularan dosa tersebut tidak hanya berlaku bagi keturunan ketiga dan keempat, melainkan semua generasi yang mendapatkannya. Artinya, jika kekayaan anda sampai tujuh turunan, maka orang-orang yang menanggung dosa yang menyertainya juga sampai keturunan ke tujuh. Jadi, pertanyaannya sekarang adalah, warisan yang anda miliki saat ini, asalnya dari generasi ke berapakah itu? Mungkinkah itu dikumpulkan dari generasi ke tiga, ke empat, ke tujuh atau lebih lagi. Semakin besar jumlahnya semakin banyak generasi yang terlibat maka semakin besarlah kesalahan yang anda tanggung.

Kekayaan manusia pada kadar tertentu bermanfaat mendatangkan kebaikan. Akan tetapi, kekayaan yang sangat-sangat (super) besar jumlahnya adalah toksin berbalut nikmat yang dapat merusak kehidupan seseorang secara perlahan-lahan. Tanpa disadarinya, harta yang terlalu gede tersebut bisa dituhankannya. Sebab bisa saja dia tidak lagi butuh apa-apa bahkan Tuhanpun disepelekan karena uangnya bisa membeli segalanya. Sumber daya yang bisa dipakai untuk memiliki dan melakukan apa saja sesuka hatinya, berpotensi digunakan untuk memelihara kejahatan tumbuh subur di sekitarnya. Orang-orang semacam ini bermental manja dan kejam serta cenderung ateis. Lama kelamaan gemerlapan tersebut akan merusak kepribadiannya, mengganggu hubungan baik dengan sesama dan membuatnya berpaling dari Tuhan dengan mengagungkan keduniawian.

Kesimpulan

Pengertian (final) – Dosa turunan adalah kesalahan yang sudah (telah) ada jauh sebelum kita ada yang biasaya berasal dari orang-orang yang ada sebelum kita (generasi sebelumnya) yang ditularkan melalui warisan yang kita terima.

Kesalahan adalah pelanggaran adalah dosa: tiga kata yang berbeda namun maksudnya sama. Mungkin masih sangat banyak bentuk-bentuk sinonimnya yang akan kita temukan dalam KBBI: silahkan cari sendiri. Sesuatu yang salah secara rohani tidak ditularkan lewat benda-benda yang kita gunakan sehari-hari, misalnya makanan, minuman, pakaian dan lain-lain. Sebab semua materi tersebut pada masanya akan terlepas atau terbuang dari badan ini. Demikian juga dosa tidak ditularkan melalui darah sebab Tuhan Yesus Kristus yang plasentanya disuplai oleh darah Maria, adalah kudus dihadapan Allah. Memang harta benda tidak dibawa sampai mati, tetapi warisan yang sah secara hukumlah yang menularkan dosa. Sebab perolehan warisan tersebut pasti disertai dengan pelanggaran terhadap keadilan yang akan ditanggungkan kepada siapa saja yang menjadi penerimanya.

Salam, Semakin besar warisan
yang anda terima,
makin besar pula
dosa yang menyertainya
.
Sepatutnya tidak ada
kebanggaan karena hal tersebut
!

Mohon Kritik & Saran, ini hanya perumpamaan tanpa editor: Anda mengoreksi tulisan ini artinya lebih cerdas dari kami, Selamat!

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.